Pages

Kamis, 15 November 2012

Goodbye Studinary, Welcome FRENSCOR


Dedicated for all members of  FRENSCOR ^-^
Oke, udah lama banget aku pengen nulis ini, tentang kelas dimana aku menghabiskan duapertiga dari masa SMA-ku. Sebelum semua kenangan itu lenyap dari ingatan, ada baiknya ditulis. Kan nggak ada yang bisa jamin kalo kita bakal ingat setiap detil peristiwa aneh, lucu, sedih, senang yang pernah kita alami. Suatu saat nanti kita pasti bakal kangen banget dengan masa-masa itu. Percaya, deh!
Uhm, sebagai permulaan, aku nulisnya secara umum dulu ya.
Nah, kelasku itu, XI/XII IPA 2 adalah angkatan pertama untuk IPA 2. Kenapa begitu? Ya, karena dari dulunya kelas IPA selalu cuma ada satu kelas. Sedangkan untuk IPS kayaknya sih dari jaman dulu juga udah ada dua kelas. Mungkin IPA senasib dengan IPB, sama-sama hanya ada satu kelas. Kita cukup bangga lah ya, jadi angkatan pertama IPA 2. Bukan apa-apa, IPA 2 adalah identitas dan akan sekaligus menjadi almamaterku dan teman-temanku nanti. :))
Ngomong-ngomong soal judul post ini, aku mau nge-flashback dulu nih. Ceritanya gini, pas kelas sebelas kemaren, kelasku sempat mau bikin kaos lagi. Selain sibuk bikin desain kaosnya, kami juga nggak ketinggalan buat mikirin nama keren buat kelas yang rencananya bakal jadi identitas kebersamaan kita di kaos itu. Tanpa sengaja aku mencetuskan nama Studinary, kependekan dari Science Two Extraordinary. Semuanya pun setuju. Logo dibikin sama Bela. Dalam perjalanannya, rencana bikin kaos itu batal dengan berbagai pertimbangan. Tapi nama Studinary tetap menjadi nama kelas kita, meskipun antara ada dan tiada (dalam artian nggak semua anak IPA 2 ngeh kalo sejatinya kita udah punya nama keren buat kelas).
Seiring berjalannya waktu (ceilah), aku mikir-mikir lagi. Kayaknya Studinary bukan nama yang tepat buat kelas kita. Pelafalannya rada susah, nggak lazim buat lidah orang Indonesia gitu. Studinary dibaca Studaineri, ribet kan? Belum lagi nanti kalo dibilang sok keinggris-inggrisan gara-gara pronounciation kita. Iyuuuh.
Jadilah aku ngajakin anak IPA 2 buat berembuk lagi mikirin nama yang pas bin keren buat kelas kita. Nominasinya banyaaakk. Mulai dari Persada (Persatuan Anak IPA Dua) yang katanya terlalu umum dan mirip nama pabrik, Steron (variasi lain dari Science Two Extraordinary) yang katanya Bela malah jadi kebayang lampu neon sama laron, Himpora (Himpunan Orang-orang Aneh, ini Riza yang ngasih usul wkwkw), ASI: IPA Dua Asli (apa maksudnya coba? *seledepin Noni* :p), Miracle of Science Two yang belum ada singkatannya trus dibikin aneh-aneh sama Riza, sampe usulan nama dari Ian yang entahlah pokoknya ada kata ‘Atomic’-nya gitu. Kata Bela, kita serasa nyari nama buat band aja. -__-
Aku pun kepikiran kata  PARTIKEL dan nyuruh Ian sama Bela buat nyari kepanjangannya yang ada hubungannya sama IPA 2 atau apa pun itu, pokoknya harus nyambung sama kelas kita. Ya, jelas susah lah. Sampe jam pulang sekolah pun kita belum menemukan nama yang pas buat kelas. Saking gregetannya pengen nemu nama yang keren buat kelas, aku jadi kepikiran sampe rumah. Sebelum tidur sempat ngoret-ngoret juga. Susah banget. Akhirnya coba search di Google, nemu beberapa contoh nama kelas keren yang pastinya udah dipake sama empunya. Makin galaaau. Namanya keren-keren semua.
Malemnya, tepat di tanggal 14 November 2012 (cateeet!), setelah ngoret-ngoret lagi, akhirnya nemu nama yang pas: FRENSCOR. FRENSCOR singkatan dari Friendship of Science Two is Extraordinary (Persahabatan dari IPA 2 Luar Biasa) atau First Generation of Science Two is Extraordinary (Angkatan Pertama IPA 2 Luar Biasa). Cukup bangga bisa menemukan nama itu, hehe. Aku pun SMS ke beberapa temen, yang bales cuma Wulan. Dia bilang setuju kalo namanya FRENSCOR. Nyoba-nyoba SMS Ian, dia ngusulin SO4 (sulfat). Jiaaah, mentang-mentang punya gelar Master Kimia deh si Bapak ini! Sebelumnya ada ‘atomic-atomic’-nya, sekarang SO4! :p Tapi sejujurnya SO4 keren juga sih. Kepanjangannyaa, Sains Organisasi Orang-orang Oke. Eaaaah. *brb naikin kerah baju* :p Selain itu pas banget sama kita IPA 2, karena bilangan oksidasi SO4 (sulfat) itu adalah -2.
Karena pengen cepet-cepet nulis di sini tentang IPA 2, paginya aku SMS-in tuh anak IPA 2, nanyain apa mereka punya usulan buat nama. Sumpeh gak ada yang baleees! Anis yang biasanya paling rajin bales esemes tiba-tiba menghilang entah kemana rimbanya. Iihh,  bete bangeeet! *Tri mode on*
Akhirnya esemes mereka semua, nanyain masih ada yang mau usul apa enggak dan sekaligus bilang kalo emang nggak ada usul ya udah langsung pilih salah satu dari dua kandidat yang ada aja: SO4 sama FRENSCOR. Baru deh semua pada bales. Dan hasilnya, semua anak IPA 2 yang aku esemes dan yang sempat ngobrol sama aku (Riza, Nisa, Ria) memilih... FRENSCOR! Mereka yang memilih FRENSCOR, yaitu: Wulan, Hardi, Tri, Rizqi, Elvi, Anis, Ria, Nisa, Riza, Lilik, Rifal, Jenny, Ojan, Humaidi, Fira, dan Aidha. Sementara Noni, Riri, Ova, Ian, Bela, Hilda, Ova, Ana, ada yang nggak bales dan ada yang nggak bisa dihubungi karena kehilangan jejak nomor mereka.
Ya sudah, suara yang ada sudah cukup mewakili yaaa. Berharap yang nggak bisa bales esemes setuju dengan terpilihnya FRENSCOR. Aku sendiri memilih golput aja, masalahnya kan aku yang ngusulin FRENSCOR. Ntar kalo milih FRENSCOR dikira gimanaaa gitu. Heheee.
Then, we have to say goodbye to Studinary. Kita harus ngucapin selamat tinggal buat Studinary. :( Semoga kau tenang di alam sana, Nak! (?) And please welcomeee... FRENSCOR!!! Kita sambut FRENSCOR! Semoga FRENSCOR menjadi sebuah pengaminan bagi kita untuk mewujudkan kelas yang luar biasa dan membuat kita menjadi pribadi-pribadi yang luar biasa pula. Biarkan orang memandang apa, kita adalah kita. Apa peduli gueeeh? Yang penting masih bisa kumpul bareng, rujakan bareng, konser bareng, ngegokil bareng, ketawa ataupun nangis bareng, sama... nyari rongsokan bareng! Wkwkwkwk. Besok bilang ke Daddy yuk, kalo kita udah punya nama baru yang kereeeen! ^o^
PS: Yang kemaren dapet beasiswa prestasi kemaren syukuran nae, sekalian ngerayain nama baru kelas kita. Itung-itung aqiqah gitu eh. Duaribu per orang nggak pa-pa dah. *ngikutin gayanya Ojan* :p 


Sabtu, 10 November 2012

(Bukan) Sekedar Cerita dari Jogja


Suasana acara deklarasi pelajar Jogja

Berawal dari SMS April (sahabat jauh yang saya kenal setelah mengikuti LMI Unmuh Malang 2012) pada suatu siang yang mengabarkan tentang info lomba film pendek, komik, fotografi, dan menulis bebas yang diselenggarakan oleh Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Tentu saja, saya tertarik dengan lomba menulis bebas. Bukan apa-apa, saya nggak bisa bikin film, sekalipun cuma film pendek. Nggak mahir fotografi. Nggak jago gambar. Well, yang paling klop dengan saya adalah cabang lomba menulis bebas. 

Saya dan April pun berencana akan mengikuti lomba tersebut dengan harapan kami bisa lolos tiga besar dan dapat bertemu di UGM nanti. Beberapa hari setelahnya, saya pun menanyakan tentang syarat dan ketentuan lomba tersebut. Sambil menunggu balasan SMS dari April, saya membuka netbook dan online. Saya memutuskan mencari info lomba tersebut sendiri. Saya telah menemukan info lomba tersebut dan menyalinnya ke Ms. Word ketika ternyata April pun telah menyalin semua info lomba tersebut dan mengirimkannya lewat pesan di akun FB saya. Waaah, makasi ya, April :))
Entah selang berapa hari, saya pun bertanya pada guru Bahasa Indonesia sekaligus pembimbing saya dalam menulis tentang apa itu menulis bebas. Karena jujur saja, waktu itu saya kurang paham menulis bebas itu seperti apa dan bagaimana. Apalagi di info lombanya tidak dijelaskan secara spesifik. Guru Bahasa Indonesia saya, Ibu Dra. Mihartini (yang lebih akrab disapa Bunda oleh siswa) pun memberikan penjelasan bahwa menulis bebas berarti tulisan itu bisa dalam bentuk esai, cerpen, puisi, esai, ataupun artikel.
Dari empat tema yang diberikan panitia, saya telah memutuskan untuk mengambil tema “A Letter to Friends”. Entah kenapa saya justru lebih tertarik dengan tema yang satu ini ketimbang tiga tema lainnya meskipun pada saat itu saya belum memiliki gambaran sama sekali akan menulis tentang apa dan untuk siapa, secara khusus. Deadline yang masih panjang membuat saya tak terlalu terburu-buru menulis naskah untuk lomba tersebut. Selain karena tugas-tugas dari sekolah yang tak pernah absen, kadangkala saya pun harus menunggu ide datang dulu sebelum menulis. Yak, maklum yaa masih pemula. :p
Menginjak beberapa hari sebelum deadline barulah saya bingung sendiri. Mau nulis apa belum ada bayangan. Oh my Goooddd! Dan ternyata April pun juga sama, belum dapat ide. Belum lagi waktu itu saya harus mengerjakan naskah LKTI Sejarah untuk Undiksha. Waaakkss. Panic mode on lah pokoknya! Gini nih, akibat suka nunda-nunda pekerjaan!
Emang dasar saya Miss Deadline, ide pun baru muncul di saat-saat terakhir pengumpulan naskah. Baru nulis dua paragraf udah buntu aja. Padahal kalo penulis profesional nulis berlembar-lembar dulu baru kena writer block. Lha saya? Baru dua paragraaaf, Cynnn! Nggak ada pilihan lain, naskah itu pun mengendap begitu saja. Sehari menjelang deadline, tepatnya tanggal 27 September malam, barulah saya kembali menyentuh naskah itu dan sibuk ketak-ketik depan layar. Kejar targeeet!
Sekitar satu setengah jam menjelang tengah malam, naskah tersebut pun berhasil saya selesaikan. Hanya tiga halaman saja. Saya tidak mampu menulis lebih panjang lagi. Syukur banget kalau 3 halaman pun sudah masuk batas minimal karya yang boleh diikutsertakan. Mengeditnya tidak membutuhkan waktu terlalu lama. Saya hanya perlu mengganti beberapa kalimat supaya terdengar lebih pas.
Masalah ada dalam penentuan judul. Bener-bener nggak bisa mikir judul apa yang pas untuk naskah kali ini. Kalau boleh saya bilang sih, kesulitan menentukan judul ini karena… uhm, tidak ada sesuatu yang baru yang saya angkat dalam tulisan tersebut. Cenderung klasik. Tentang kejenuhan dalam belajar, godaan-godaan yang dialami pelajar,  dan semangat untuk bangkit kembali. Yang membuat tulisan tersebut istimewa dan enak dibaca mungkin karena saya lebih banyak menggunakan permainan kata kiasan daripada menggambarkannya secara gamblang. Padahal mah isinya biasa-biasa aja, sekedar cerita yang terinspirasi dari kehidupan nyata.
Nggak ada pilihan lain, saya pun memberi judul “Semangat untuk Temanku”. Sempat bingung juga pas mau nulis kata ‘untuk’. Huruf ‘u’-nya kapital enggak ya? Akhirnya nanya ke grup CK Writing, dijawab sama Kak Nury Purwanti yang alhamdulillah banget masih melek, hihihi. Abis itu cus ke web CPMH UGM, ngisi angket, dapet formulirnya, isi formulirnya, lampirin ke e-mail, dan kiriiimmm… Lega. Tinggal berdoa dan nunggu pengumuman.
Di info lomba, pengumuman pemenang dilaksanakan tanggal 28 Oktober bersamaan dengan penganugerahan serta acara Deklarasi Sekolah Indonesia Sejahtera. Secara otomatis, pengumuman untuk pemenang yang lolos 3 besar pasti dihubungi terlebih dahulu karena nantinya mereka akan diminta datang ke Jogja untuk menghadiri acara tersebut. Saya bolak-balik cek e-mail, tiap pulang sekolah selalu cek HP, tapi tanda-tanda saya lolos 3 besar belum juga ada. Bukannya kabar gembira, saya justru shock parah sewaktu membaca e-mail panitia yang menanyakan apakah saya benar-benar masih duduk di bangku SMA karena katanya kartu pelajar saya menunjukkan saya seharusnya telah duduk di bangku kuliah dan untuk memastikan kebenarannya, saya diminta melampirkan surat keterangan dari sekolah. Dengan gemetar saya mencari kartu pelajar saya di dalam tas sekolah dan memeriksanya dengan teliti.
Alamaaak! Pantes aja panitianya nggak percaya! Ternyata di kartu pelajar saya tertulis saya masuk ke sekolah saya tahun 2009. Dan sekarang 2012, itu artinya saya teah lulus Juni 2012 lalu. Yang tambah bikin panik, panitia membatasi pengiriman surat keterangan dari sekolah itu tanggal 10 Oktober. Sementara ketika saya mengecek e-mail hari itu adalah tanggal… 10 Oktober! Panik tingkat tinggi! Berkali-kali telepon CP panitia nggak diangkat, padahal mau nanya kalau surat keterangan dari sekolahnya apa boleh baru dikirim besok karena saat itu juga sudah sore dan saya telat cek e-mailnya.
Masih dengan tubuh gemetar karena panik, akhirnya saya memilih lebih dulu menelepon Pak Edy, Waka Kesiswaan yang merangkap guru mapel Kinia di kelas saya. Saya ceritakan semuanya dari awal. Belum sempat saya mengatakan bahwa saya ingin meminta surat keterangan dari sekolah, beliau berkata lebih dulu, “Oh, kalau di kartu pelajarnya memang ada kesalahan, berarti nanti pake surat keterangan dari sekolah aja.” Sedikit lega.
Malamnya saya coba hubungi panitia lagi. Berkali-kali, dan tetep gak diangkat. Nyerah, saya pun coba tanya lewat SMS. Lama juga dibalesnya. Saya hampir pasrah karya saya didiskualifikasi karena tidak memenuhi persyaratan. Ya Allah, padahal pengen banget ke Jogja. Keesokan paginya, ketika baru bangun tidur saya mengecek HP. Ternyata ada SMS balasan dari panitia, saya boleh mengirimkan surat keterangannya di tanggal 11 Oktober.
Nggak sampai di situ, masalah juga datang saat saya akan melampirkan scan surat keterangan dari sekolah di e-mail. Lola parah. Berkali-kali dicoba, tetep gak mau terlampir. Ternyata file-nya kegedean, mana udah malem banget. akhirnya saya pun memutuskan mengirimnya keesokannya lagi karena mau nggak mau itu file harus diperkecil dulu. Dan keesokannya, setelah ukurannya diperkecil, e-mail pun sukses dikirim. Kendala-kendala tersebut berhasil menguji kesabaran saya, tapi toh akhirnya berhasil dilewati. Semuanya gak lepas dari kuasa Allah. Thank you, Allah. =))
Saking ingin dan terobsesinya menjadi juara, saya sempat bermimpi menghadiri acara penganugerahan juara lomba tersebut di Jogja sebanyak 3 kali. Parahnya salah satunya saya sempat memimpikannya ketika tidur siang. :DD Doa-doa dipanjatkan tanpa henti, juga dibantu doa orangtua. Rutinitas saya setiap pulang sekolah mengecek HP berlansung setiap hari. Tanda-tanda ada kontak dari panitia yang mengabarkan saya lolos 3 besar belum juga datang. Sampai suatu kali, saat pelajaran Sejarah, teman sebangku saya menunjuk kaver LKS Sejarah yang menampilkan latar Lapangan Serangan Oemoem 1 Maret. Saya tertegun, penganugerahan pemenang lomba kabarnya akan dilaksanakan di tempat itu. Hasrat saya menjadi juara pun semakin tinggi lagi.
“Pengen ke Jogjaaaa!” saya menyuarakan isi hati saya tiba-tiba. “Loh, katanya pengen ke Jepang?” teman saya menanggapi. “Ya pengen dua-duanya! S-1 di Jogja, S-2 di Jepang!” khayal saya. Pun sewaktu teman saya memainkan sepatu saya dan menendangnya ke sana kemari, saya spontan berseru, “Jangaaan, itu sepatunya mau dipake ke Jogja!”  Kata teman saya, “Kuliah masa pake sepatu gini (sepatu sekolah)?”  “Enggaaak, bukan buat kuliah. Kan buat acara sekolah!”
Semua pembicaraan itu terjadi tanpa sengaja. Saya juga tidak tahu kenapa tiba-tiba mengatakan bahwa saya ke Jogja untuk acara sekolah. Faktanya lagi, pembicaraan tersebut terjadi tepat pada hari terakhir sebelum libur Idul Adha atau H-2 acara peenganugerahan pemenang dan Deklarasi Pelajar di Jogja. Ditanya tentang rasa pesimis, tentu ada. Apalagi rasanya tidak mungkin panitia akan menghubungi pemenang di H-2 acara. Namun di sis lain saya pun tetap optimis. Seperti hari-hari sebelumnya, saya selalu mengecek HP ketika baru sampai di rumah. Masih dengan seragam lengkap dan tas di punggung. Lagi-lagi saya kecewa, tidak ada tanda-tanda panitia menghubungi saya dan mengatakan bahwa saya lolos 3 besar. Sebelum tidur siang, tanpa sadar saya menagih janji Allah dalam sebuah ucapan dalam hati, “Tuhan, kapan kabar baik itu datang?”
Antara sadar dan tidak sadar, saya merasa dibangunkan oleh bunyi sesuatu. Dan saya enggan untuk bangun. Tapi ada dorongan kuat yang menyuruh saya untuk bangun. Saya terkaget-kaget ketika mendapati ada 4 panggilan tak terjawab dari nomor asing. Itu artinya bunyi yang tadi sempat membuat tidur saya sedikit terganggu berasal dari lagu Separuh Aku yang saya pakai untuk ringtone HP. Saya gemetar. Kalau boleh dibilang, waktu itu saya merasa cukup yakin bahwa itu nomor panitia SIS CPMH. Entah keyakinan itu datang dari mana. Baru akan menelepon balik ke nomor tersebut, panggilan kelima datang. Dan ternyata benar!
Subhanallaah… Ini sesuatu. Akhirnya kabar baik itu datang. Bapak saya langsung menyuruh saya sujud syukur. Saya lalu mengirim SMS untuk April dan Fiya untuk mengetahui apakah mereka mendapat kabar yang sama. Ternyata tidak. Pengumuman sudah terpampang di web CPMH UGM ketika saya membukanya. Pun di sana tidak ada nama mereka. sayang sekali. Padahal kami sama-sama ingin bertemu, saya dan April. Dan ingin bertemu Fiya (lagi).
Jadi nggak enak hati sekaligus ingin mengucapkan rasa terima kasih yang amat besar buat April. Makasi April, udah ngasi tau info lombanya. Moga suatu saat bisa ketemu yaa. Aaamiin. Setelah itu datang ucapan selamat lewat telepon dari Fiya, it was something when I heard your voice again, Sista. Kemaren pas ketemu di UMM nggak sempat ngobrol banyak. Huhuhu.
Berhubung dihubungi panitianya mendadak, saya cukup panik juga. Mana besoknya sekolah libur. Telepon Pak Edy lagi, beliau meminta saya memberikan semua print out dari file tentang lomba tersebut. Mulai dari info lomba, naskah lomba, serta undangan dari Panitia SIS CPMH. Nantinya beliaulah yang akan membawa semua file itu ke rumah Kepala Sekolah. Pak Edy cukup yakin Kepala Sekolah akan memberikan persetujuan untuk kami berangkat ke Jogja. Dan ternyata benar. Sesuatunya lagi bisa berangkat bareng Bunda, meskipun rada nggak enak juga gara-gara saya acara Bunda sama anak  XII IPB jadi batal. =(( Tapi apa mau dikata, instruksi Kepsek sudah begitu.
Di pagi hari menjelang beberapa jam keberangkatan, saya mendapati akun @monaG_Marpaung bertengger di mention Twitter saya. Sampai bertemu di Jogja juga, katanya. Mona Galatia Marpaung ini adalah siswa SMA N 5 Kota Jambi yang namanya tepat berada di atas nama saya dalam pengumuman 3 nominator lomba Menulis Bebas SIS CMPH dengan judul karya “Kepala Sekolah Harus Seekstrem Ilmuwan”. Dari judulnya aja udah ‘wow’ banget yaaah.
Singkat cerita, sampe Jogja pagi sekitar jam 9 dijemput sama kakak kelas yang kuliah di Jogja, Kak Clarra dan Kak Anis. Sempat envy sama Mona yang bisa jalan-jalan ke kampus UGM. Tapi apa daya kitanya aja baru nyampeee. Padahal katanya kalo Minggu pagi di UGM ada SunMor yaa (Sunday Morning, semacam pasar gitu).
Sesuai instruksi panitia, para pemenang diminta hadir di tempat acara puku 12.30 WIB karena akan ada briefing terlebih dahulu. Dari kos Kak Clarra kita naik taksi, dan wew maceeet. Nggak heran juga sih, macetnya juga karena mau ada Deklarasi Pelajar Jogja di Km. 0 Malioboro. Di dalem mobil sempat SMS-an sama Mona juga yang nanyain saya udah sampe mana. Juga ada telepon dari Unai yang katanya nggak bisa ketemu. Sebelumnya ada SMS juga dari Liliz, tapi saya baru ngeh pas udah di rumah. Fuaaah. Nggak jadi ketemu Liliz sama Unai deh.
Nyampe di tempat acara, rame gilakkk. Panitianya keliatan sibuk. Pas lagi jalan, Mona manggil saya. Saya duduk paling depan, Mona ada di belakang saya. Ciieee, akhirnya ketemu, hahaha. Yang tambah bikin panitia panik tentu saja langit yang tiba-tiba mendung yang beberapa saat kemudian diiringi hujan. Tapi mereka tetp keliatan semangat lho. Saluuut. Acara pun dibuka dengan band SMA N 6 Yogyakarta, Sixteen (semoga gak salah) yang membawakan lagu-lagu yang berisikan semangat untuk pemuda (saya nggak tau judul lagunya :p). Suara vokalisnya bagus banget. kata Bunda kayak suara Vidi Aldiano, menurut saya hampir mirip suara Sammy Simorangkir. Setelah pembukaan, launching Koran Pelajar bareng Indosat, dan sambutan-sambutan, kita disuguhi banyak hiburan. Ada tari Jawa, pantomim dari SMA N 11 Yogyakarta yang asli gokil banget, dan yang sempat membuat airmata saya bercucuran yaitu penampilan dari mereka yang tunarungu dengan dance yang sumpah keerrreeennn banget. Mereka menari tanpa mendengar iringan musik yang sebenarnya ditujukan untuk mengiringi tarian mereka. luar biasa. Salut!
Airmata saya semakin bercucuran saat mendengar cerita dari pelatih mereka tentang salah satu dari mereka. terharu, hiksss. Pertunjukan selesai, semua penonton yang tadinya sibuk mengabadikan aksi mereka mengangkat tangan untuk memberikan tepuk tangan ala mereka. setelah itu para pemenang pun dipanggil untuk menerima hadiah ke pentas. Dimulai dari lomba fotografi, komik, film pendek, dan terakhir lomba menuli bebas. Well, saya cukup beruntung bisa meraih juara ketiga. Apa pun yang dapatkan saya merasa pantas mendapatkannya. Mona memegang juara dua, sementara Aliya (saya baru kenalan sama dia di atas pentas :D) dengan judul karya “Benahi Sekolah Kita, Benahi Indonesia” meraih juara pertama. Selain trofi, uang pembinaan, dan plakat, kami juga mendapat hadiah buku dari Gramedia yang menjadi sponsor.
Kita pun diminta untuk ikut menyebarkan isi “Ekspresi dan Deklarasi Sekolah Indonesia Sejahtera: Dari Pelajar Jogja untuk Indonesia” oleh panitia. Tapi sayangnya nggak ikutan. Saya sama Bunda dan Kak Clarra juga Kak Ismi langsung muter-muter Malioboro buat beli oleh-oleh. Mona juga langsung pulang, katanya mau ke Purwokerto.
Yang saya dengar acara ini diliput oleh berbagai media, seperti TV One, Metro TV, Hai Magazine, dan beberapa radio Jogja. Kereeeennn! Sayang beribu sayang juga nggak sempat mampir ke stand pameran karya dan liat flashmob-nya. Terlepas dari itu semua, saya tetap bersyukur dan bangga bisa menjadi bagian dari acara “Ekspresi dan Deklarasi Sekolah Indonesia Sejahtera: Dari Pelajar Jogja untuk Indonesia”. Ini videonya:

 



Akhir kata, terima kasih untuk Fakultas Psikologi UGM yang telah menyelenggarakan event keren ini, dewan juri lomba Menulis Bebas atas apresiasinya terhadap karya saya, jajaran panitia yang telah bekerja keras, daaan… salam hormat untuk seluruh pelajar Jogja! Kalian luar biasa! Saluuuuttt! ^^


Jumat, 17 Agustus 2012

Detektif Imai dan Teka-Teki Lukisan Berantai: Misteri di Balik Lukisan Kakek





Judul: Detektif Imai dan Teka-Teki Lukisan Berantai
Penulis: Dyah P. Rinni
Penerbit: Buah Hati
Terbit: Cetakan I, Juni 2012
Tebal: 248 halaman
ISBN: 978-602-8663-99-1

Buat Kak Dyah P. Rinni yang udah ngasi kesempatan buat jadi pembaca bab awal novel ini ketika proses penulisan, thanks a lot ya, Kakak~  (: Oke, ini novel kedua Kak Dyah yang saya baca setelah novel pertamanya, Detektif Imai dan Ruangan Separuh Retak. Dari kondisi fisik, novel ini perfect! Kavernya bagus, kertasnya tebel, dan ukuran tulisannya pas. Penjilidannya juga oke, bukunya lentur dan halamannya enak dibolak-balik tanpa harus merasa takut halamannya cepet lepas. Dan ada ilustrasinya  lho di dalamnya!
Nah, dari segi isi di novel ini saya menemukan kematangan Kak Dyah dalam bercerita. Gaya bahasanya asyik banget, ringan, dan mudah dipahami. Meskipun genrenya detektif (atau misteri, ya?), tapi alur ceritanya nggak serumit yang saya bayangkan. Porsi yang sangat tepat mengingat main character novel ini adalah seorang pelajar SMP.
Novel ini membawa kita mengungkap misteri di balik kematian Kakek Imai lewat teka-teki dalam lukisan. Setiap kali Imai dkk berusaha memecahkan teka-teki yang ada dalam lukisan tersebut, saya jadi berpikir kira-kira cara apa lagi yang akan digunakan oleh mereka. Dan selalu ada ‘cara menakjubkan’ yang dituliskan Kak Dyah untuk Imai dkk dalam memecahkan misteri tersebut. Intinya, kamu akan dibikin penasaran dan nggak akan bisa menebak apa dan siapa yang sebenarnya terjadi dan terlibat dalam kasus tersebut sebelum membaca sampai akhir.
Yang belum bisa diberikan novel ini adalah ‘rasa’. Secara keseluruhan, feel-nya kurang dapet. Novel ini belum bisa membawa saya tegang dalam setiap adegannya, cenderung datar meskipun selalu ada rasa penasaran. Well, tentu saja ini subjektif, siapa tahu pendapat kamu berbeda. Supaya tahu, yuuk beli dan baca bukunya~  ;) 


Rabu, 04 April 2012

Sepenggal Cerita dari OSK Kebumian 2012




Well, ini cerita yang super hot, anget banget, kayak baru diangkat dari kompor (?). XD Kenapa? Yah, karena cerita ini ditulis tepat saat saya sedang berpusing-pusing dengan spiral ekman … Eh? Ngg, bukaaaan! Itu kan judul artikel di web-nya TOIKI, yah. :P  Lebih tepatnya sih, kepala saya yang pusing setelah menempuh perjalanan hampir sejam-an. Fuaaahh, padahal baru abis ditraktir mie ayam (?). Tapi okelah, sejak ngedekem di kursi panas ruangan 3 tadi, saya udah niat banget mau nge-review semua yang terjadi hari ini.

Rombongan sekolah saya berangkat jam 6 pagi lewat beberapa menitan. Padahal mah katanya mau berangkat jam 6 pas, tapi emang udah budaya kali ya, orang Indo suka ngaret (termasuk yang nulis ini juga :P *dikeroyok*), jadi ya gitu deh, nyampe di SMAN 4 Singaraja ternyata upacara pembukaan udah dimulai. Abis registrasi kita malah berdiri-duduk gak jelas sampe acara pembukaan selesai. Dan taraaa … saya ketemu Winda, temen saya waktu SMP di sana. Whahah, lama tagh jumpha, kawaaandhz! =)) *semoga yang baca lidahnya gak keseleo*
Saya dan partner saya, Aini, langsung aja nyerobot jalan bareng anak-anak yang baru aja keluar dari aula waktu ada yang bilang kalo mereka anak Kebumian juga. Kami pun dibimbing menuju ruangan. Agak lama saya dan Aini celingak-celinguk nyariin nomor bangku yang pas sama nomor peserta yang ternyata letaknya sama-sama di pojok di samping tembok. Bedanya kalo Aini di pojok depan, saya di pojok belakang. Satu meja dipakai untuk dua orang, dan sebelum saya mengucapkan kata permisi, cowok yang semeja sama saya langsung berdiri ketika melihat saya menghampiri sisi sampingnya. Dia narik bangku panjang yang didudukinya dan memberi saya jalan untuk duduk di posisi saya di sampingnya, nomor 05. Yah, kami berbagi bangku dan meja yang sama karena kebetulan duduknya nggak pake kursi, tapi bangku.
Karena ruangannya agak gelap, saya buka tirai jendelanya. Belum apa-apa, cowok di samping saya udah keringetan. Sampe-sampe dia ngeluarin saputangan dari tasnya, dan yah, saya juga grogi. Tangan saya keringetan, sampe nggak bisa buka tutup pulpen. Konyol banget. Jadilah saya pake pulpen cadangan yang tintanya udah mau sekarat buat nulis identitas. Mana lupa ngisi tanda tangan pula, yang akhirnya malah bikin Pak Pengawas yang baik hati menghampiri meja saya. Perlahan grogi saya ilang, dan saya bisa pake pulpen baru saya yang tadi susah banget dibuka tutupnya. :/
Pak Pengawas yang saya nggak tahu namanya pun berkeliling membagikan lembar soal dan jawaban sambil berkali-kali bilang kalau jawabannya disilang aja. Anak-anak di ruangan saya pada melongo, sebagian cekikikan, dan saya masuk ke golongan anak yang cekikikan. “Loh, apanya yang mau disilang, Pak? Orang lembar jawabannya isinya cuma nomor sama kotak aja kok,” kurang lebih begitulah kalimat yang keluar dari cewek berambut panjang di depan saya dengan pelan. Pak Pengawas yang tadi membagikan soal itu bingung melihat kami pada melongo dan cekikikan, sampe akhirnya Pak Pengawas yang satunya lagi ngasih tahu kalo lembar jawabannnya kita disuruh nulis sendiri opsion-nya. Sementara itu saya dengar cowok di samping saya nyeletuk pelan banget, “Iya, Pak, nomornya disilang!” Wkkk~ XD
Beberapa menit pun berlalu, saya konsen ngerjain soal yang mungkin bisa dibilang seindah soal tahun lalu dan nggak terlalu bikin galau sementara sesekali ngelirik ke sekeliling ruangan. Dan yang paling sering jadi objek lirikan saya adalah cowok di samping saya yang kayaknya kegerahan banget sampe harus berkali-kali ngelap keringat padahal kaca jendela di samping saya agak bergetar karena angin sepoi-sepoi. Saya geli sendiri, padahal udah mantep banget tuh dia pake jaket. Mungkin karena gak tahan, dia sampe ngebuka jaketnya dan ngelapin keringat di lehernya. Hahaaa.
Waktu saya ngeliat dia bolak-balik nutup-buka kotak kue yang dibagikan, saya nebak dia pasti pengen banget makan kue-kue yang ada di dalemnya karena saya ngeliat beberapa kali dia melongok ke dalam kotak kue itu. Entah karena malu jadi satu-satunya orang yang makan sementara yang lain ada yang masih fokus ngebolak-balik lembaran soal, dia akhirnya baru makan setelah ada yang makan juga sementara saya emang nggak lagi pengen makan di ruangan.
“Pak, yang sudah boleh keluar?” tanya seseorang, dari suaranya cowok, bertanay ke Pak Pengawas yang langsung membuat semua mata tertuju ke arahnya. Tapi Pak Pengawas nggak ngizinin, katanya nunggu yang lain dulu. Di sisa waktu saya pake buat ngoreksi jawaban dan mikir-mikir lagi soal yang tadi buat saya ragu sebelum memutuskan menjawab atau mengosongkan lembar jawaban.
Cewek di depan saya asyik ngobrol dengan cowok teman semejanya, saya teteup fokus ke soal dan lembar jawaban, dan cowok di samping saya asyik makan. Nggak ada sedikit obrolan pun, dan nggak ngaruh juga buat saya.
Waktu suara ribut-ribut anak ruangan sebelah keluar, akhirnya Pak Pengawas ngizinin yang udah selesai buat keluar. Dengan sigap, cowok yang duduk di samping saya itu keluar dan meninggalkan kertas coret-coretnya di mejanya, yang akhirnya Pak Pengawas nyuruh saya ngambil kertas itu waktu beliau mau ngambil lembar jawaban dan soal. Saya pun mengambil kertas yang terlipat itu dan pergi menunggu Aini di luar.
Setelah Aini keluar, kita pun sama-sama ke tempat teman-teman yang lainnya ngumpul. Pak Jum berkali-kali nyuruh makan nasi yang ada di mobilnya yang udah dipersiapkan sekolah, tapi kita pada nggak mau dengan berbagai alasan. Sambil nunggu yang Fisika, Astronomi, Matematika, dan Komputer keluar, kami ngobrol nggak jelas sementara beberapa saat kemudian turun hujan. Untung hujannya turun setelah Iqbal berhasil nemuin toilet yang bikin Ian harus nganterin dia keliling-keliling karena nggak tahu toiletnya di mana (?). Dan yaps, mungkin cuaca yang tadi bikin temen semeja saya kegerahan itu emang karena awan yang lagi buang hajat panasnya sebelum turun hujan. Cieee, mentang-mentang nih, saya yaa. x33 Dan, dan, daaan … saya liat kertas coret-coretan temen semeja saya yang tadi saya kantongin ternyata punya jawaban yang sama juga dengan saya sebelum akhirnya saya membuangnya ke tong sampah.
Setelah semua peserta keluar, saya dan rombongan pun pulang. Kami berlari-lari di bawah hujan menuju parkiran dan buru-buru masuk ke mobil. Saya sama Bela, Indah, Ayang, Jenny, Ana, dan Ria, masuk ke mobil Pak Husnan, sementara yang lainnya ada di mobil Pak Edy dan Pak Jum. Saya girang banget waktu Pak Husnan akhirnya setuju kita berenti sejenak di toko Melati, yang bisa bikin saya beli majalah Story karena udah ketinggalan dua edisi dan berhasil menghasut Bela buat ikutan beli juga. sementara saya beli yang edisi 31 bekas (yang baru udah abis), Bela minta dia beli yang baru aja. Gak masalah, yang penting saya tetep bisa baca Story. Dan yaaaa… Bapak saya jadi ikutan baca cerpen Story dan kesemsem sama ceritanya Mbak Arumi Ekowati yang judulnya apaaa gitu (lupa). Tumben beliau antusias, sampe beliau sendiri yang mau baca, bukan rekomendasi dari saya.
Well, saya tahu, saya tahu. Cerita ini gaje banget dari awal sampe akhir, karena itu maafkanlah saya. Dan tolong, doakan saya semoga saya bisa mengulang kesuksesan tahun lalu. :33

Rabu, 14 Maret 2012

Dua Sisi Susi: Kumpulan Kisah Fiksi Bertegangan Tinggi




Judul: Dua Sisi Susi (The Black and White Stories of Susianne van der Kraaft’s Diary)
Penulis: Donatus A, Nugroho, dkk.
Penyunting: Reni Erina, mayokO aikO, Putra Gara, Donatus A. Nugroho
Penerbit: Universal Nikko
Terbit: Cetakan I, Juli 2011
Tebal: 314 halaman
ISBN: 978-602-95476-6-5
Buku Paling Mematikan!!!

Kalimat yang tercetak di kaver buku berwarna hitam yang didominasi putih dan merah ini sejenak membuat saya terhenyak. Ah, masa iya? Saya nyaris tak percaya kala itu.
Tapi ternyata … Tidaaak! Saya harus menelan pahit kenyataan bahwa memang benar adanya. Kavernya saja sudah begitu menakutkan, apalagi … isinya! Enggg, awalnya sih biasa aja. Cerpen pertama yang berjudul Dongeng Putih itu sama sekali nggak berpengaruh buat saya, cuma kadang kalo pas lagi di kamar mandi trus inget cerpen itu jadi rada ngeri sendiri (eh, itu sih namanya berpengaruh yaa? Heuuu … #PLAK ).
Buku ini terdiri dari 21 cerpen yang ditulis oleh para penulis Indonesia berbakat yang disaring dari sebuah kompetisi dan 3 cerpen dari penulis tamu, yakni Donatus A. Nugroho, Erry Sofid, dan Fahri Asiza. 34 kisah nyata behind the script para peserta yang karyanya tidak lolos dalam kompetisi tersebut pun turut serta mewarnai isi buku ini. Well, sangat komplit!
Dari 24 cerpen yang disuguhkan, yang paling saya sukai adalah Lebah Hitam dari Fukushima karya Erry Sofid. Karakter tokoh Susi di cerita ini bener-bener berbeda dari yang lain. Bisa dibayangkan seandainya kamulah korban Susi di cerpen ini. Setelah membunuhmu dengan sadis, mata bornya yang mendesing akan menembus tengkorak kepalamu. Dan dari lubang yang terbentuk itulah dia akan … menghisap otakmu layaknya jus alpukat!
Buku ini bukan kumpulan cerpen biasa. Di dalamnya terdapat cerpen-cerpen kental dengan nuansa mistis dan horor yang setiap saat akan membuat kamu terngiang-ngiang alih-alih menegangkan. Pisau, pembunuhan, dan … darah! Meski aroma kematian tersebar di hampir setiap cerita, tak lantas membuatnya terkesan monoton. Setiap cerita memiliki ciri khas tersendiri yang dikemas secara menarik. Terutama kutipan-kutipan yang disajikan di awal setiap cerita, membuat saya ingin cepat-cepat membacanya dan mengetahui apa yang terjadi di balik dunia hitam-putih Susi, dua sisi kehidupan yang sama-sama menegangkan.
            “Adrian suka suara itu. Suara ketika kepala Susi menggelinding bersama cipratan darah. Jauh lebih indah dari gesekan biola di sore hari.” ─Di Atas Piring Putih, Alvi Syahrin─
            “Susi menyaksikan semua itu dalam ketakutan. Jatuh terduduk di samping Daniel. Hantu Susianne van der Kraaft menelengkan kepala ke arahnya. Tenang dan cantik.”  ─Putih Nada Cinta, Putu Felisia─
            “Saat halaman Hitam habis maka nyawa pemiliknya juga akan habis. Hitam akan menghisap roh-roh pemiliknya untuk dikunci dan menjadi Hitam yang baru. Berbeda denganku, saat halamanku habis, maka aku dengan otomatis baru kembali. Hitam mencari korban dulu untuk memperbarui dirinya.” ─Buku Harian Putih, El Eyra─
Asliii, saya selalu berwudlu setiap akan tidur malam karena takut bermimpi buruk setiap kali membaca cerpen-cerpen tersebut. Nggak lebay sebenarnya, karena Dua Sisi Susi adalah buku misteri dan horor pertama yang saya baca. Aslinya saya adalah seorang yang sangat penakut. Yah, karena penasaran, jadilah saya mengikuti kuis di Twitter Kepsek CENDOL, @mayokoaiko, untuk mendapatkan buku ini. Dan alhamdulillah, sesuatu banget mendapatkan buku ini secara gratis, hehehe. Makasih, Pak Kepsek!
Oh iya, di samping kelebihannya, buku ini juga memiliki kekurangan. Kalo dari segi fisiknya, halamannya agak mudah lepas dan ada beberapa yang kosong, sehingga ada beberapa cerpen yang saya nggak tahu ending atau awalnya bagaimana. Tapi meskipun begitu, buku ini sangat sayang untuk dilewatkan. Yang ngaku suka misteri dan horor, yooo baca buku ini! Dijamin … maknyos (?) kkk~

Rabu, 15 Februari 2012

Gelegak Romantisme dalam Forever Mine






Judul: Forever Mine
Penulis: Cherry Zhang
Penerbit: Gradien Mediatama
Terbit: Agustus 2011
Tebal: 296 halaman
Genre: Roman Dewasa
ISBN: 978-602-208-014-5

Jika bahagia adalah tanpa keberadaanku, maka aku rela melangkah menjauh…
Untaian kalimat sederhana namun manis itulah yang mengiringi judul novel bergenre romance ini. Sekumpulan bunga berwarna biru terang yang dipadu warna hijau pudar menambah kesan kelembutan pada kavernya.
Novel ini mengisahkan tentang kehidupan seorang gadis Indonesia bernama Livvy yang terpaksa harus bekerja keras di Sydney demi membantu biaya pengobatan ibunya. Livvy hanya perlu mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya tanpa harus membiarkan dirinya terlibat dalam hubungan asmara.
Namun, ketika ia lengah, tiba-tiba ia mendapati dirinya telah terjerat dalam pesona pria kaya asal Amerika, Xander Clayton. Dengan sepasang mata emasnya Xander mampu menyihir Livvy dan menjeratnya ke dalam dalam cinta hingga gadis itu lupa pada tujuan awalnya datang ke Sydney. Bahkan, demi cintanya pada Xander Livvy pun dengan sukarela memberikan sesuatu yang paling berharga di dalam dirinya untuk pria itu, meski  Xander sendiri tak memintanya. Semuanya begitu manis hingga akhirnya sesuatu mengancurkan hubungan keduanya. Baik Xander maupun Livvy, keduanya merasa sama-sama dibohongi.
Setiap adegan dalam novel ini ditulis dengan penuh perasaan sehingga mampu membuat pembaca tersentuh dan hanyut dalam kisah si tokoh utama. Dengan sangat meyakinkan Cherry Zhang berhasil menguasai karakter yang diciptakannya sendiri. Lewat sosok Livvy, ia menuturkan bahwa cinta mampu berkorban untuk segala hal, termasuk membiarkan orang yang kita cintai bahagia sekalipun hal itu akan membuat kita terluka. Alur cerita yang sulit ditebak serta diksi yang indah pun menambah daya tarik novel ini.
Namun, di tengah-tengah kelebihannya, novel ini juga masih memiliki kekurangan. Hal ini tampak pada sinopsis di kaver belakang yang terasa kurang meyakinkan, padahal isi cerita di dalamnya sungguh luar biasa dengan diksi yang dimainkan dengan lihai. Bagi siapa pun─terutama pecinta roman─saya sangat merekomendasikan novel ini sebagai bahan bacaan Anda selanjutnya karena novel ini benar-benar sayang untuk dilewatkan.