Pages

Selasa, 29 Maret 2016

Gerbong

Source: Grup OWOP
Kalau ada yang paling tidak disukai Alika, itu sudah pasti mengikuti kegiatan-kegiatan konyol sebagai persyaratan untuk menjadi anggota klub peminatan di kampusnya. Seperti yang terjadi sekarang. Demi apa pun, keinginan anggota untuk bergabung dalam klub musik sama sekali tidak ada hubungannya dengan kegiatan uji nyali—kalau boleh dibilang begitu—seperti ini.
            “Kegiatan ini akan melatih kalian untuk peka terhadap lingkungan. Seorang calon pemusik harus bisa membaca isyarat dan tanda-tanda untuk menemukan inspirasi. Perlu kalian semua ketahui, di sini kalian tidak hanya berlatih memainkan alat musik. Kita juga akan belajar menulis lirik dan menciptakan nada. Untuk itu, kalian perlu mendengar musik yang sesungguhnya; musik dari alam!”
            Kalimat dari panitia kegiatan itu meraung di kepala Alika. Membuatnya menggeleng keras-keras. Ingin sekali ia menyanggah kalimat asal-asalan itu. Kenapa tidak bilang saja kalau kakak-kakak itu sedang butuh untuk mengerjai anggota baru yang masih polos seperti mereka? Rasanya akan lebih menyenangkan kalau mendengar mereka bicara, “Well, yeah, kami butuh hiburan sebelum memulai program kerja baru.” Atau seperti ini, “Oh, demi apa pun, kalian tidak boleh protes. Ini kegiatan rutin untuk semua calon angggota baru. Dari dulu juga seperti ini.”
            Alika tidak habis pikir tradisi-tradisi macam itu masih saja dipertahankan. Ia kembali merutuk, tapi seketika kemudian menyangkalnya. Ah, peduli amat dengan itu semua! Toh sekarang ia ada di sini. Mengikuti kegiatan konyol itu. Dan barangkali ia harus berhenti mengeluh, jika tidak ingin terlambat kembali ke pos awal. Ia hanya perlu mengujungi satu pos lagi.
            Oke, satu pos lagi! Dan kegiatan konyol ini akan berakhir.
            Alika memperbaiki letak ranselnya yang rasanya kian berat. Efek lelah setelah berkelana dari satu pos menuju pos lain yang totalnya ada 9 pos. Itu memakan waktu seharian; melewati sungai dengan tebing-tebing yang runcing, perkebunan karet, perumahan penduduk yang memelihara anjing-anjing liar yang seperti kesetanan melihat orang asing, dan jalan setapak yang licin sehabis hujan.
            Gadis itu pun berlari. Tak memedulikan sepatu ketsnya yang mulai mengelupas dimakan jalanan. Langkahnya menimbulkan suara, bergesekan dengan dedaunan yang menutupi seluruh permukaan tanah. Melewati pepohonan berdiameter dua kali lebar buku tulis yang tinggi-tinggi. Alika terus berlari, sembari menggumamkan kata kunci yang menjadi petunjuk dari pos yang belum dikunjunginya.
            Brukk! Sesuatu menyentak kakinya. Gadis itu tersungkur. Ujung sepatu ketsnya menyentuh benda keras. Rel?
            Belum sempat mulutnya menggumamkan kata-kata—atau bahkan meringis kesakitan, dalam kelebatan mata sesuatu seperti merangsek menyapu daun telinganya. Itu suara musik, dari sebilah biola yang entah dimainkan oleh siapa. Alika menjentikkan jarinya. Tentu saja gadis itu kegirangan, pos terakhir kini ada dalam jangkauannya. Ia tidak perlu lagi bersusah payah menebak lokasi pos seperti kata kunci yang diberikan, toh tantangan terakhir yang belum dicicipinya adalah tebak lagu. Dan alunan musik itu menjadi semacam petunjuk baginya.   
            Alika memutar arah, beralih mengikuti jalur rel itu. Semakin berjalan, alunan musik itu semakin terasa dekat. Dari balik pepohonan yang lebat, jalur rel itu mengantarkannya pada sebuah tanah lapang. Seratus meter di hadapannya berdiri sebuah gerbong kereta, lengkap dengan peron yang menjadi jalur lalu lintas calon penumpang.
            Gerbong itu tampak kokoh meski hampir habis dimakan usia. Terbukti dari cat merah dan kuningnya yang mengelupas di sana-sini. Menampakkan gurat-gurat karat. Tanah dan dedaunan kering berhamburan di atas peron, juga tempat duduk kayu yang tak jauh dari situ, bakal rapuh dari sekali hentakan. Stasiun kereta yang sudah tidak terpakai, begitu pikir Alika.
            Senja telah menggantung di langit-langit. Gadis itu harus segera menyelesaikan tantangan terakhir jika tidak ingin kehabisan waktu sampai di pos awal dan menjadi satu-satunya yang dihukum dari 20 anggota baru. Alika mempercepat langkahnya. Dari balik kacanya yang tertutup debu, Alika bisa mengetahui seseorang yang tengah memainkan biola itu.
            Kak Edgar!
            Ah, Alika rasanya bisa menarik napas lega sekarang. Beruntung sekali pos yang terakhir dikunjunginya dijaga oleh seorang kakak yang ia dengar amat baik hati namun cukup dingin juga. Jadi ia tidak perlu berbasa-basi dan bisa fokus pada tantangannya saja begitu selesai memberi hormat. Dan ya, lihat saja, orang yang kini duduk di seberangnya itu bahkan tidak mengatakan apa pun dan beralih dari satu lagu yang dimainkannya ke lagu lain—yang untungnya Alika tahu judulnya.
            Yesterday, The Beatles!”
            Ah, memangnya siapa yang tidak tahu lagu itu?
            Edgar masih memainkan lagu itu, meski Alika sudah berhasil menebaknya. Menjelang klimaks, lagu itu berhenti; digantikan lagu yang kini mengesankan pilu, depresif, dan—gelap, kalau boleh dikatakan begitu. Gadis itu memutar ingatannya; memainkan nada semua daftar lagu yang ada di playlist ponselnya.
            Day is Done, Taps?” Pada akhirnya yang keluar dari mulutnya bukanlah lagu yang berasal dari playlist ponselnya, melainkan yang pernah diajarkan guru musiknya sewaktu di SMA, yang dijawabnya ragu-ragu.
            Nada-nada itu otomatis berhenti, beralih ke lagu selanjutnya. Pertanda jawaban gadis itu benar. Baiklah, satu lagu lagi yang harus ditebaknya untuk mendapatkan satu pita merah yang tertinggal. Alika memantapkan dirinya, bersiap menebak. Lima detik, sepuluh detik, gadis itu terus menyimak. Lagu yang dimainkan kakak tingkatnya itu, rasa-rasanya ia mengenalnya. Ia kembali memutar ingatannya. Kali ini pada sederet lagu dari album Coldplay yang menjadi koleksi papanya. Ia yakin nada yang tengah dimainkan itu adalah salah satu dari sederet yang menjadi lagu favorit papanya.
            Semenit, gadis itu belum juga menemukannya. Edgar masih dengan santai memainkan lagu tersebut. Semenit lewat empat puluh lima detik, gadis itu menguap. Dua menit lebih lima detik, Alika kembali berusaha mengingat. Judul lagu itu telah di ujung lidah, namun belum bisa dikatakannya. Matanya memejam, berusaha mengingat sembari mengikuti irama nada itu dengan pikirannya.
            Tiga menit lewat lima... Brukk! Kepalanya jatuh ke bahu.
* * *

            “ALIKA!”
            Suara itu menggema di kepalanya. Gadis itu terlonjak. Ke mana, Kak Edgar?
            Alika bangkit dari kursi penumpang dalam gerbong yang lapuk itu dan melonjak turun. Ia melihat ke arloji di pergelangan tangannya. Ya Tuhan, waktunya hampir habis. Setengah jam lagi adzan maghrib berkumandang. Alika mengomeli dirinya sendiri yang bahkan bisa tertidur di saat-saa genting seperti itu. Seolah itu belum cukup, kakak tingkatnya itu malah meninggalkannya alih-alih membangunkannya.
            Alika mengerahkan seluruh tenaganya. Diikutinya jalur rel tadi, masuk ke semak-semak, melewati pepohonan yang menutupi cahaya langit.
            “Alika!”
            Gadis itu menoleh. Itu Ro, anak laki-laki berkacamata bulat yang jago memainkan saksofon. Calon anggota klub musik yang, berani taruhan, juga mengutuki kegiatan-kegiatan konyol semacam ini.
            “Gue kira cuman gue yang bakal telat kayak gini. Medannya nggak asik,” aku laki-laki itu. Ia menjajari langkah Alika, lalu mengulurkan tangan kanannya ketika berkata, “Lewat sini!”
            Ro tahu jalur pintasnya. Itu juga karena dia sempat tersesat. Dan pada saat genting seperti ini, ternyata ada untungnya juga.
            Keduanya pun sampai di pos awal, yang seolah tak tahu cara menyambut yang lebih menyenangkan, ketua panitia yang garang itu meneriakinya. Yeah, baik Alika maupun Ro, keduanya tahu bahwa mereka telah melampaui batas yang telah ditentukan.
            Ketua panitia itu menagih pita Ro. Dan itu membuat Alika ingat kalau pitanya belum lengkap, gara-gara ia tidak berhasil menebak lagu terakhir yang membuatnya benar-benar ketiduran. Lagi pula itu bukan sepenuhnya salahnya kalau dipikir-pikir, jadi setelah mengatakan tidak bisa menebak dan ketiduran, ia menambahkan, “... lagi pula, Kak Edgar nggak bangunin saya. Bahkan, seharusnya Kak Edgar mengganti lagu itu dengan lagu lain dan tidak membiarkan saya ketiduran di gerbong itu.”
            Edgar yang mendengar namanya disebut maju mendekati rekannya, berhadapan dengan Alika dan Ro. Ro berjengit, menatap Alika hati-hati. Badannya menegang saat tubuh tegap Edgar berdiri di antara Alika dan Nino, ketua panitia itu.
            “Gue nggak liat ada Alika datang ke pos gue, No,” Edgar mengonfirmasi. Matanya memicing, menatap ke arah Alika—antara bingung dan berusaha membabat habis kebohongan yang mungkin disampaikan gadis itu.
            “Jadi, kamu salah orang, Alika. Saya nggak jaga di gerbong. Lagi pula, memangnya ada yang semacam itu di sini?”
            “Itu ...”
            “Alika ...” panggil Ro. Anak laki-laki itu maju selangkah. “Aku juga bertemu Kak Edgar. Di gerbong kereta itu.” Napasnya tersengal, lalu dengan susah payah mengatakan, “Tapi itu bukan dia. Benar-benar bukan dia. Itu... hantu.”
* * *
#WritingChallenge #MalamNarasiOWOP #ceritanyamaksa #ehmaafin XDD

Rabu, 23 Maret 2016

Doa-doa Pelan



Ketika orang-orang mulai berbicara tentang harapan, mereka sesungguhnya bicara tentang ketiadaan. Ada banyak kemungkinan tentang ketiadaan, sebanyak kemungkinan tentang keadaan; untuk mewujudkan ketiadaan.

Seperti perjalanan ini dan jejakmu di persimpangan.

Barangkali akan teramat sulit menemukan tapak kakimu di atas tanah yang telah basah disiram hujan semalaman. Ia menjadi sesuatu yang seperti sengaja tersamarkan, atau memang bukan untuk aku itu ditakdirkan? Entahlah. Meski demikian, tentang apa yang kamu mungkin tidak ketahui itu, sesungguhnya tidak semudah menyeka debu yang menempel di ujung sepatumu untuk kemudian ditiadakan.

Perlu usaha yang sungguh untuk sekadar memahami bahasa melupakan. Bersamanya ada rasa yang harus dibantai di antara letupan logika yang ingin hidup setelah dimatikan.

Kamu tidak perlu menoleh ke belakang untuk melihat aku yang mengikutimu. Aku memilih berhenti untuk tahu bagaimana kamu berjalan; untuk tahu bagaimana kamu menyikapi  kesulitan, dan berbagai hal yang ingin kamu lakukan sebelum mencapai tujuan.

Tentang banyak ingin tahuku, itu adalah sebuah kesalahan.

Kamu adalah yang diinginkan banyak orang di perjalanan. Tak ada hal lain yang bisa kulakukan. Menjadikanmu harapan adalah suatu keberanian;

... yang hanya bisa kuagungkan lewat doa-doa pelan.

Selasa, 15 Maret 2016

I G A U


Source: Grup OWOP

Joko dan Udin sepertinya memang sudah ditakdirkan untuk bersama. Tentu saja bukan sebagai pasangan hidup, seperti kasus yang marak akhir-akhir ini. Naudzubillaahi mindzalik, mereka cuma sahabatan yang sepertinya bakal sehidup semati kok. Lagi pula, siapa juga yang mau jadi kaum terkutuk seperti yang ada di kisah Nabi Luth itu? Membayangkan azab Allah saja mereka ngeri.

Hal itu bermula ketika keduanya dilahirkan pada waktu yang sama. Lalu sejak itu kedua orangtua mereka sepakat untuk tak memisahkan mereka. Udin dan Jaka disekolahkan di sekolah yang sama dari mereka TK sampai SMA. Namun malangnya, mereka pun menjadi sesama pengangguran setelah memutuskan keluar dari pabrik rokok yang gajinya lumayan itu. Bukan karena akan dipecat lantas mereka mengundurkan diri terlebih dahulu, tapi lebih pada akhirnya sadar tidak ingin berada di pabrik yang berindikasi bisa membunuh seseorang.

Hingga suatu ketika, mereka mendapat tugas ronda bersama. Mereka tengah di pos ronda dan baru akan keliling pukul sepuluh malam nanti. Udin yang waktu itu sangat mengantuk karena siangnya sibuk melamar pekerjaan ke sana sini, malam itu justru ketiduran. Meninggalkan Jaka yang terbengong-bengong di sampingnya.

Kreok!

Suara apa itu?

Jaka mengerakkan kepalanya ke berbagai arah.

Kreok!

Tapi tidak ada siapa pun di situ.

Kreok!

Jaka mulai panik. Bulu kuduknya merinding. Ia bergerak akan membangunkan Udin, tapi apa yang keluar dari mulut sahabatnya itu membuatnya setengah terlonjak.

“Lapeeelll!”

Kalau ada satu perbedaan yang ada di antara dua sahabat itu, maka itu adalah ketidakmampuan Udin dalam berbicara layaknya manusia normal. Tapi toh meskipun begitu, Jaka tetap setia kepadanya dan mau menerima kekurangan lelaki itu.

“Mak, au maem picang goyeeeeng!”

OH!! ITU SUARA PERUT UDIN? Bunyinya gitu amat kayak dikasi speaker, Jaka meringis dalam hati. Sahabatnya itu mengingau. Jaka garuk-garuk kepala. Bingung.

“Apa? Waaa, Mak macaknya bubul cumcum?”

Sahabatnya itu kembali melakukan dialog imajiner.

“Udin mau jualan picang goyeng aja alo gitu. Bial bisa mam cang goyeng tiap haliiii! Yeeee!”
 “Yeeeeee!” Jaka malah ikut-ikutan bersorak. “Jaka mau jualan bubul cumcum! Biar bisa makan tiap hariiiii!”

“Lo selius, geng?” Tiba-tiba mata Udin terbuka.

WAAAA!! Jaka hampir saja kayang karena saking kagetnya.

Ah, Udin!
* * *

Errr~ ini sebenarnya buat setoran Tantangan #MalamNarasiOWOP. Waktu disodorin gambar di atas itu buat dibikin narasi, langsung shock gitu deh. Nggak biasa nulis komedii soalnya. Jadi maaf aja kalo ga lucu dan rada absurd, meskipun aku sendiri ngebayanginnya lucu sih (?). Hehe. Well, terima kasih sudah mampir! ^^

Sabtu, 12 Maret 2016

[Book Review] Ayat-Ayat Cinta 2 by Habiburrahman El Shirazy




Judul: Ayat-Ayat Cinta 2
Penulis: Habiburrahman El Shirazy
Penerbit: Republika
Terbit: Cetakan VI, Desember 2015
Tebal: vi+698 halaman
ISBN: 978-602-0822-15-0

Jauh dari hiruk pikuk Kota Mesir dan menara-menara masjid yang bertebaran di atasnya, Fahri kini telah berada di daratan Eropa. Tepatnya di Edinburgh, Skotlandia. Kehidupan Fahri di Britania Raya itu sangatlah sibuk. Selain mengajar di The University of Edinburg, Fahri juga aktif menelurkan karya berupa jurnal-jurnal ilmiah berskala internasional serta mengurus jaringan bisnisnya yang dirintis bersama Aisha dan telah tersebar di berbagai kota. Ia didampingi lelaki Turki yang dipanggilnya sebagai Paman Hulusi yang dengan setia mengantar ke mana pun majikannya itu ingin pergi.
Segala kesibukan itu ternyata cukup beralasan. Fahri menjadikan segala aktivitasnya sebagai pengalihan atas usahanya melupakan Aisha yang kini tak lagi bersamanya. Aisha hilang dalam sebuah perjalanan bersama Alicia di Palestina. Fahri telah mengerahkan segala upaya untuk mencari istrinya itu, namun nihil. Sebaliknya kabar buruk justru menyatakan bahwa Alicia telah ditemukan meninggal dalam kondisi mengenaskan di Hebron.
Lebih dari dua tahun lamanya Fahri menunggu. Kabar mengenai istrinya tersebut tak juga datang. Sementara itu, berbagai pihak mendesaknya untuk segera mencari pengganti Aisha. Salah satunya datang dari Syaikh Utsman, guru talaqqi-nya yang dahulu menyaksikan proses ta’aruf-nya dengan Aisha. Guru besar yang amat dihormati Fahri itu memintanya untuk menikahi cucunya—yang amat sulit untuk Fahri tolak. Juga Ozan, sepupu Aisha sekaligus rekan bisnisnya yang memintanya untuk menikahi Hulya, adiknya.
Di sisi lain, Fahri juga dihadapkan pada tantangan dakwah dan kehidupan bertetangga di kompleks Stoneyhill Grove yang menjadi tempat tinggalnya. Sebagai seorang Muslim sejati, Fahri berusaha memperbaiki cara pandang orang-orang yang berinteraksi dengannya terkait Islam. Namun demikian, itu bukanlah hal yang mudah. Ia dihadapkan pada kelakuan-kelakuan sinis kedua anak Nyonya Janet, tetangganya, yang amat membenci Islam.
Fahri tidak menyerah. Apa pun dilakukannya untuk membina hubungan harmonis dengan tetangganya; membantu Nenek Catarina yang Yahudi, mencatat nomor taksi yang mencuri dompet Brenda, sampai membiayai kedua anak Nyonya Janet untuk meraih cita-citanya. Fahri juga aktif dalam gerakan kemanusiaan. Ia menyelamatkan Sabina, seorang muslimah yang mengemis dan hidup di jalanan.
Demi melihat keteguhan dan keberanian Sabina dalam membela Rasulullah ketika nama beliau dicela, Fahri pun memiliki alasan untuk menikahi wanita itu. Lagi pula, semua orang berpikiran bahwa sudah saatnya ia kembali menyempurnakan separuh agamanya. Tak disangka, wanita berwajah buruk dan bersuara serak itu menolaknya dan malah menyarankan ia menikah dengan Hulya.
Apakah Fahri menerima saran tersebut?
Ketika kerap kali Sabina terlihat menangis menyadari apa yang dilihat dan didengarnya tetang Fahri, sebenarnya apa yang disimpan wanita itu?
Temukan jawabannya di 698 halaman Ayat-Ayat Cinta 2!!!
Yah, sebelumnya maafkan atas ke-absurd-anku dalam menulis sinopsisnya. Aku nggak jago nulis sinopsis, anyway. Kalau diceritakan terlalu detail malah jadi spoiler nanti, hehe. Dan mungkin, review ini juga nggak kalah absurd-nya. Maafkan ya, hehe.
Oke, kemarin aku sempat menulis bagaimana AAC 1 mempengaruhi hidupku dan membantuku melewati masa remaja dengan benar di sini. Siapa yang bakal percaya kalau buku yang kubaca 9 tahun lalu itu baru kubaca lanjutannya sekarang? Kalau dulu ketika membacanya aku masih belum tahu apa-apa, sewaktu membaca AAC 2 paling tidak aku dalam keadaan sedikit tahu banyak hal. Mungkin AAC 2 memang tidak seperti yang kubayangkan, karena aku mengira setting-nya bakal di Indonesia. Tapi mengambil setting di Edinburgh juga tak kalah menariknya. Penggambaran Kang Abik soal kota itu tak perlu diragukan lagi, sangat detil. Kamu akan diajak menjelajahi setiap sudutnya, membayangkan bangunan-bangunan klasik yang ada di atasnya sembari menikmati musim yang tengah berlangsung pada saat itu.
Lalu, aku kembali dibuat jatuh cinta pada tokoh Fahri. My first ex-crush sebagai tokoh fiksi (haha apa banget deh ya wkwkwk). Sukaaa banget cara dia merespon berbagai hal; entah itu gerak tubuhnya, kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya. Dialog-dialog yang diucapkan Fahri serasa tepat, ngalir. Jokes yang dilontarkannya juga ‘masuk’. Kalau kamu benar-benar menghayati sewaktu membacaya, kamu akan merasa Fahri di sini berbeda dengan Fahri di Ayat-Ayat Cinta sebelumnya. Ia lebih dewasa, kebapakan, dan berwibawa. Ya tentu, ini sangat sesuai mengingat apa pekerjaan dan posisinya, sedang Fahri dalam AAC 1 lebih seperti anak muda yang pintar, supel, dan karismatik. Sementara itu, sebagian besar tokoh dalam Ayat-Ayat Cinta 2 ini adalah orang-orang baru, meski ada beberapa kali kemunculan tokoh lama seperti Syaikh Utsman (favorit banget waktu Fahri ketemu Syaikh Utsman), Nurul Azkia, Mishbah, dan lain-lain.
Banyak hal yang bikin greget dalam novel ini. Kang Abik dengan piawai menghadirkan permasalahan-permasalahan yang terjadi di dunia Islam berikut solusi-solusinya melalui pemikiran dan perilaku para tokohnya. Isu-isu terkait antaragama, pluralisme, juga dijelaskan secara gamblang. Apalagi mengenai konsep amalek. Semua itu merupakan hal baru yang kudapatkan usai membacanya. Dan untuk mengetahui banyak hal seperti itu mungkin kita harus melahap berbagai jenis buku yang berbeda. Tapi dalam Ayat-Ayat Cinta 2 kita bisa mendapatkan semuanya, lengkap dengan berbagai pemikiran ulama juga dalil yang kuat.
Membaca Ayat-Ayat Cinta 2 seperti menghadiri kuliah Perbandingan Agama, Fiqh Muamalah, Tafsir, Hadits—karena kamu akan pelan-pelan diajak untuk belajar itu semua. Dan yang tak kalah pentingnya kita benar-benar bisa berkaca, bagaimana seharusnya menjadi seorang Muslim sejati. Muslim yang mencintai Tuhannya, Rasulnya, dan sesama yang tercermin dalam perilaku tokoh-tokohnya.
Dan karena novel ini bercerita soal kehidupan laki-laki dewasa yang berumah tangga, maka secara tidak langsung kamu akan seolah-olah seperti mengikuti seminar pranikah. Haha. Itu bagian yang paling bikin baper, sejujurnya. Entah kenapa sewaktu membacanya aku lebih banyak memiliki perasaan Aisha, sekalipun Aisha tidak hadir di sana. Aku merasakan bagaimana cemburunya menjadi Aisha. Aku greget pada Hulya yang terlalu agresif pada Fahri meskipun sebenarnya Aisha tidak akan seperti itu. Tentu saja, bagian kisah rumah tangga Fahri ini menjadi bagian yang paling menguras perasaan.
Di sisi lain, Kang Abik banyak menyisipkan tamparan-tamparan halus yang akan membuatmu banyak berpikir, dan tentu saja merasa itu adalah hal yang sangat ironis. Seperti ketidakbisaan Fahri menyangkal argumen Profesor Charlotte yang menyatakan bahwa sekalipun ia sudah menamatkan Kitab Tafsir Ibnu Katsir, tapi itu tak lantas membuatnya tertarik untuk masuk Islam melihat kondisi umat Islam saat ini tidak bisa membuatnya simpati. Sangat jauh dari tuntunan Islam yang penuh cahaya.
Intinya, banyak hal yang akan kamu dapatkan seusai membaca novel ini. Tidak hanya pengetahuan umum, tapi juga pengetahuan agama yang sangat mendalam namun dalam bahasa sastra yang mudah dipahami. Novel yang sangat ‘berani’, yang menggandeng kecerdasan pikir penulisnya. A must read!
“... itu semua rasanya sama jika di dalam dada ada Tuhan. Yang memiliki Tuhan dan disertai Tuhan, ia akan terus merasa bahagia.”
---Sabina kepada Nyonya Janet dalam Ayat-Ayat Cinta 2, halaman 407