Oke, udah lama banget aku pengen nulis ini, tentang kelas dimana aku
menghabiskan duapertiga dari masa SMA-ku. Sebelum semua kenangan itu lenyap
dari ingatan, ada baiknya ditulis. Kan nggak ada yang bisa jamin kalo kita
bakal ingat setiap detil peristiwa aneh, lucu, sedih, senang yang pernah kita
alami. Suatu saat nanti kita pasti bakal kangen banget dengan masa-masa itu.
Percaya, deh!
Uhm, sebagai permulaan, aku nulisnya secara umum dulu ya.
Nah, kelasku itu, XI/XII IPA 2 adalah angkatan pertama untuk IPA 2.
Kenapa begitu? Ya, karena dari dulunya kelas IPA selalu cuma ada satu kelas.
Sedangkan untuk IPS kayaknya sih dari jaman dulu juga udah ada dua kelas.
Mungkin IPA senasib dengan IPB, sama-sama hanya ada satu kelas. Kita cukup
bangga lah ya, jadi angkatan pertama IPA 2. Bukan apa-apa, IPA 2 adalah
identitas dan akan sekaligus menjadi almamaterku dan teman-temanku nanti. :))
Ngomong-ngomong soal judul post ini,
aku mau nge-flashback dulu nih.Ceritanya gini, pas kelas sebelas
kemaren, kelasku sempat mau bikin kaos lagi. Selain sibuk bikin desain kaosnya,
kami juga nggak ketinggalan buat mikirin nama keren buat kelas yang rencananya
bakal jadi identitas kebersamaan kita di kaos itu. Tanpa sengaja aku
mencetuskan nama Studinary, kependekan dari Science Two Extraordinary. Semuanya
pun setuju. Logo dibikin sama Bela. Dalam perjalanannya, rencana bikin kaos itu
batal dengan berbagai pertimbangan. Tapi nama Studinary tetap menjadi nama
kelas kita, meskipun antara ada dan tiada (dalam artian nggak semua anak IPA 2
ngeh kalo sejatinya kita udah punya nama keren buat kelas).
Seiring berjalannya waktu (ceilah), aku mikir-mikir lagi. Kayaknya
Studinary bukan nama yang tepat buat kelas kita. Pelafalannya rada susah, nggak
lazim buat lidah orang Indonesia gitu. Studinary dibaca Studaineri,ribet kan?
Belum lagi nanti kalo dibilang sok keinggris-inggrisan gara-gara pronounciation kita. Iyuuuh.
Jadilah aku ngajakin anak IPA 2 buat berembuk lagi mikirin nama yang pas
bin keren buat kelas kita. Nominasinya banyaaakk. Mulai dari Persada (Persatuan
Anak IPA Dua) yang katanya terlalu umum dan mirip nama pabrik, Steron (variasi
lain dari Science Two Extraordinary) yang katanya Bela malah jadi kebayang
lampu neon sama laron, Himpora (Himpunan Orang-orang Aneh, ini Riza yang ngasih
usul wkwkw), ASI: IPA Dua Asli (apa maksudnya coba? *seledepin Noni* :p),
Miracle of Science Two yang belum ada singkatannya trus dibikin aneh-aneh sama
Riza, sampe usulan nama dari Ian yang entahlah pokoknya ada kata ‘Atomic’-nya
gitu. Kata Bela, kita serasa nyari nama buat band aja. -__-
Aku pun kepikiran kataPARTIKEL
dan nyuruh Ian sama Bela buat nyari kepanjangannya yang ada hubungannya sama
IPA 2 atau apa pun itu, pokoknya harus nyambung sama kelas kita. Ya, jelas
susah lah. Sampe jam pulang sekolah pun kita belum menemukan nama yang pas buat
kelas. Saking gregetannya pengen nemu nama yang keren buat kelas, aku jadi
kepikiran sampe rumah. Sebelum tidur sempat ngoret-ngoret juga. Susah banget.
Akhirnya coba search di Google, nemu
beberapa contoh nama kelas keren yang pastinya udah dipake sama empunya. Makin
galaaau. Namanya keren-keren semua.
Malemnya, tepat di tanggal 14 November 2012 (cateeet!), setelah
ngoret-ngoret lagi, akhirnya nemu nama yang pas: FRENSCOR. FRENSCOR singkatan
dari Friendship of Science Two is Extraordinary (Persahabatan dari IPA 2 Luar
Biasa) atau First Generation of Science Two is Extraordinary (Angkatan Pertama IPA
2 Luar Biasa). Cukup bangga bisa menemukan nama itu, hehe. Aku pun SMS ke
beberapa temen, yang bales cuma Wulan. Dia bilang setuju kalo namanya FRENSCOR.
Nyoba-nyoba SMS Ian, dia ngusulin SO4 (sulfat). Jiaaah, mentang-mentang punya
gelar Master Kimia deh si Bapak ini! Sebelumnya ada ‘atomic-atomic’-nya,
sekarang SO4! :p Tapi sejujurnya SO4 keren juga sih. Kepanjangannyaa, Sains
Organisasi Orang-orang Oke. Eaaaah. *brb naikin kerah baju* :p Selain itu pas
banget sama kita IPA 2, karena bilangan oksidasi SO4 (sulfat) itu adalah -2.
Karena pengen cepet-cepet nulis di sini tentang IPA 2, paginya aku SMS-in
tuh anak IPA 2, nanyain apa mereka punya usulan buat nama. Sumpeh gak ada yang
baleees! Anis yang biasanya paling rajin bales esemes tiba-tiba menghilang
entah kemana rimbanya. Iihh,bete bangeeet!
*Tri mode on*
Akhirnya esemes mereka semua, nanyain masih ada yang mau usul apa enggak
dan sekaligus bilang kalo emang nggak ada usul ya udah langsung pilih salah
satu dari dua kandidat yang ada aja: SO4 sama FRENSCOR. Baru deh semua pada
bales. Dan hasilnya, semua anak IPA 2 yang aku esemes dan yang sempat ngobrol
sama aku (Riza, Nisa, Ria) memilih... FRENSCOR! Mereka yang memilih FRENSCOR,
yaitu: Wulan, Hardi, Tri, Rizqi, Elvi, Anis, Ria, Nisa, Riza, Lilik, Rifal,
Jenny, Ojan, Humaidi, Fira, dan Aidha. Sementara Noni, Riri, Ova, Ian, Bela,
Hilda, Ova, Ana, ada yang nggak bales dan ada yang nggak bisa dihubungi karena
kehilangan jejak nomor mereka.
Ya sudah, suara yang ada sudah cukup mewakili yaaa. Berharap yang nggak
bisa bales esemes setuju dengan terpilihnya FRENSCOR. Aku sendiri memilih
golput aja, masalahnya kan aku yang ngusulin FRENSCOR. Ntar kalo milih FRENSCOR
dikira gimanaaa gitu. Heheee.
Then, we have to say goodbye to Studinary. Kita harus ngucapin selamat
tinggal buat Studinary. :( Semoga kau tenang di alam sana, Nak! (?) And please
welcomeee... FRENSCOR!!! Kita sambut FRENSCOR! Semoga FRENSCOR menjadi sebuah
pengaminan bagi kita untuk mewujudkan kelas yang luar biasa dan membuat kita
menjadi pribadi-pribadi yang luar biasa pula. Biarkan orang memandang apa, kita
adalah kita. Apa peduli gueeeh? Yang penting masih bisa kumpul bareng, rujakan
bareng, konser bareng, ngegokil bareng, ketawa ataupun nangis bareng, sama...
nyari rongsokan bareng! Wkwkwkwk. Besok bilang ke Daddy yuk, kalo kita udah
punya nama baru yang kereeeen! ^o^
PS: Yang kemaren dapet beasiswa prestasi kemaren syukuran nae, sekalian
ngerayain nama baru kelas kita. Itung-itung aqiqah gitu eh. Duaribu per orang
nggak pa-pa dah. *ngikutin gayanya Ojan* :p
Berawal dari SMS April (sahabat jauh yang saya kenal setelah mengikuti
LMI Unmuh Malang 2012) pada suatu siang yang mengabarkan tentang info lomba
film pendek, komik, fotografi, dan menulis bebas yang diselenggarakan oleh
Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Tentu saja, saya tertarik dengan
lomba menulis bebas. Bukan apa-apa, saya nggak bisa bikin film, sekalipun cuma
film pendek. Nggak mahir fotografi. Nggak jago gambar. Well, yang paling klop
dengan saya adalah cabang lomba menulis bebas.
Saya dan April pun berencana akan mengikuti lomba tersebut dengan harapan
kami bisa lolos tiga besar dan dapat bertemu di UGM nanti. Beberapa hari
setelahnya, saya pun menanyakan tentang syarat dan ketentuan lomba tersebut.
Sambil menunggu balasan SMS dari April, saya membuka netbook dan online. Saya
memutuskan mencari info lomba tersebut sendiri. Saya telah menemukan info lomba
tersebut dan menyalinnya ke Ms. Word ketika ternyata April pun telah menyalin
semua info lomba tersebut dan mengirimkannya lewat pesan di akun FB saya.
Waaah, makasi ya, April :))
Entah selang berapa hari, saya pun bertanya pada guru Bahasa Indonesia
sekaligus pembimbing saya dalam menulis tentang apa itu menulis bebas. Karena
jujur saja, waktu itu saya kurang paham menulis bebas itu seperti apa dan
bagaimana. Apalagi di info lombanya tidak dijelaskan secara spesifik. Guru
Bahasa Indonesia saya, Ibu Dra. Mihartini (yang lebih akrab disapa Bunda oleh
siswa) pun memberikan penjelasan bahwa menulis bebas berarti tulisan itu bisa
dalam bentuk esai, cerpen, puisi, esai, ataupun artikel.
Dari empat tema yang diberikan panitia, saya telah memutuskan untuk
mengambil tema “A Letter to Friends”. Entah kenapa saya justru lebih tertarik
dengan tema yang satu ini ketimbang tiga tema lainnya meskipun pada saat itu
saya belum memiliki gambaran sama sekali akan menulis tentang apa dan untuk
siapa, secara khusus. Deadline yang
masih panjang membuat saya tak terlalu terburu-buru menulis naskah untuk lomba
tersebut. Selain karena tugas-tugas dari sekolah yang tak pernah absen,
kadangkala saya pun harus menunggu ide datang dulu sebelum menulis. Yak, maklum
yaa masih pemula. :p
Menginjak beberapa hari sebelum deadline
barulah saya bingung sendiri. Mau nulis apa belum ada bayangan. Oh my
Goooddd! Dan ternyata April pun juga sama, belum dapat ide. Belum lagi waktu
itu saya harus mengerjakan naskah LKTI Sejarah untuk Undiksha. Waaakkss. Panic mode on lah pokoknya! Gini nih,
akibat suka nunda-nunda pekerjaan!
Emang dasar saya Miss Deadline,
ide pun baru muncul di saat-saat terakhir pengumpulan naskah. Baru nulis dua
paragraf udah buntu aja. Padahal kalo penulis profesional nulis
berlembar-lembar dulu baru kena writer
block. Lha saya? Baru dua paragraaaf, Cynnn! Nggak ada pilihan lain, naskah
itu pun mengendap begitu saja. Sehari menjelang deadline, tepatnya tanggal 27 September malam, barulah saya kembali
menyentuh naskah itu dan sibuk ketak-ketik depan layar. Kejar targeeet!
Sekitar satu setengah jam menjelang tengah malam, naskah tersebut pun
berhasil saya selesaikan. Hanya tiga halaman saja. Saya tidak mampu menulis
lebih panjang lagi. Syukur banget kalau 3 halaman pun sudah masuk batas minimal
karya yang boleh diikutsertakan. Mengeditnya tidak membutuhkan waktu terlalu
lama. Saya hanya perlu mengganti beberapa kalimat supaya terdengar lebih pas.
Masalah ada dalam penentuan judul. Bener-bener nggak bisa mikir judul apa
yang pas untuk naskah kali ini. Kalau boleh saya bilang sih, kesulitan
menentukan judul ini karena… uhm, tidak ada sesuatu yang baru yang saya angkat
dalam tulisan tersebut. Cenderung klasik. Tentang kejenuhan dalam belajar,
godaan-godaan yang dialami pelajar, dan
semangat untuk bangkit kembali. Yang membuat tulisan tersebut istimewa dan enak
dibaca mungkin karena saya lebih banyak menggunakan permainan kata kiasan
daripada menggambarkannya secara gamblang. Padahal mah isinya biasa-biasa aja,
sekedar cerita yang terinspirasi dari kehidupan nyata.
Nggak ada pilihan lain, saya pun memberi judul “Semangat untuk Temanku”.
Sempat bingung juga pas mau nulis kata ‘untuk’. Huruf ‘u’-nya kapital enggak
ya? Akhirnya nanya ke grup CK Writing, dijawab sama Kak Nury Purwanti yang
alhamdulillah banget masih melek, hihihi. Abis itu cus ke web CPMH UGM, ngisi
angket, dapet formulirnya, isi formulirnya, lampirin ke e-mail, dan kiriiimmm…
Lega. Tinggal berdoa dan nunggu pengumuman.
Di info lomba, pengumuman pemenang dilaksanakan tanggal 28 Oktober
bersamaan dengan penganugerahan serta acara Deklarasi Sekolah Indonesia
Sejahtera. Secara otomatis, pengumuman untuk pemenang yang lolos 3 besar pasti
dihubungi terlebih dahulu karena nantinya mereka akan diminta datang ke Jogja
untuk menghadiri acara tersebut. Saya bolak-balik cek e-mail, tiap pulang
sekolah selalu cek HP, tapi tanda-tanda saya lolos 3 besar belum juga ada.
Bukannya kabar gembira, saya justru shock
parah sewaktu membaca e-mail panitia yang menanyakan apakah saya
benar-benar masih duduk di bangku SMA karena katanya kartu pelajar saya
menunjukkan saya seharusnya telah duduk di bangku kuliah dan untuk memastikan
kebenarannya, saya diminta melampirkan surat keterangan dari sekolah. Dengan
gemetar saya mencari kartu pelajar saya di dalam tas sekolah dan memeriksanya
dengan teliti.
Alamaaak! Pantes aja panitianya nggak percaya! Ternyata di kartu pelajar
saya tertulis saya masuk ke sekolah saya tahun 2009. Dan sekarang 2012, itu
artinya saya teah lulus Juni 2012 lalu. Yang tambah bikin panik, panitia
membatasi pengiriman surat keterangan dari sekolah itu tanggal 10 Oktober.
Sementara ketika saya mengecek e-mail hari itu adalah tanggal… 10 Oktober!
Panik tingkat tinggi! Berkali-kali telepon CP panitia nggak diangkat, padahal
mau nanya kalau surat keterangan dari sekolahnya apa boleh baru dikirim besok
karena saat itu juga sudah sore dan saya telat cek e-mailnya.
Masih dengan tubuh gemetar karena panik, akhirnya saya memilih lebih dulu
menelepon Pak Edy, Waka Kesiswaan yang merangkap guru mapel Kinia di kelas
saya. Saya ceritakan semuanya dari awal. Belum sempat saya mengatakan bahwa
saya ingin meminta surat keterangan dari sekolah, beliau berkata lebih dulu,
“Oh, kalau di kartu pelajarnya memang ada kesalahan, berarti nanti pake surat
keterangan dari sekolah aja.” Sedikit lega.
Malamnya saya coba hubungi panitia lagi. Berkali-kali, dan tetep gak
diangkat. Nyerah, saya pun coba tanya lewat SMS. Lama juga dibalesnya. Saya
hampir pasrah karya saya didiskualifikasi karena tidak memenuhi persyaratan. Ya
Allah, padahal pengen banget ke Jogja. Keesokan paginya, ketika baru bangun
tidur saya mengecek HP. Ternyata ada SMS balasan dari panitia, saya boleh
mengirimkan surat keterangannya di tanggal 11 Oktober.
Nggak sampai di situ, masalah juga datang saat saya akan melampirkan scan
surat keterangan dari sekolah di e-mail. Lola parah. Berkali-kali dicoba, tetep
gak mau terlampir. Ternyata file-nya
kegedean, mana udah malem banget. akhirnya saya pun memutuskan mengirimnya
keesokannya lagi karena mau nggak mau itu file
harus diperkecil dulu. Dan keesokannya, setelah ukurannya diperkecil, e-mail
pun sukses dikirim. Kendala-kendala tersebut berhasil menguji kesabaran saya,
tapi toh akhirnya berhasil dilewati. Semuanya gak lepas dari kuasa Allah. Thank
you, Allah. =))
Saking ingin dan terobsesinya menjadi juara, saya sempat bermimpi
menghadiri acara penganugerahan juara lomba tersebut di Jogja sebanyak 3 kali.
Parahnya salah satunya saya sempat memimpikannya ketika tidur siang. :DD
Doa-doa dipanjatkan tanpa henti, juga dibantu doa orangtua. Rutinitas saya
setiap pulang sekolah mengecek HP berlansung setiap hari. Tanda-tanda ada
kontak dari panitia yang mengabarkan saya lolos 3 besar belum juga datang.
Sampai suatu kali, saat pelajaran Sejarah, teman sebangku saya menunjuk kaver
LKS Sejarah yang menampilkan latar Lapangan Serangan Oemoem 1 Maret. Saya
tertegun, penganugerahan pemenang lomba kabarnya akan dilaksanakan di tempat
itu. Hasrat saya menjadi juara pun semakin tinggi lagi.
“Pengen ke Jogjaaaa!” saya menyuarakan isi hati saya tiba-tiba. “Loh,
katanya pengen ke Jepang?” teman saya menanggapi. “Ya pengen dua-duanya! S-1 di
Jogja, S-2 di Jepang!” khayal saya. Pun sewaktu teman saya memainkan sepatu
saya dan menendangnya ke sana kemari, saya spontan berseru, “Jangaaan, itu
sepatunya mau dipake ke Jogja!” Kata
teman saya, “Kuliah masa pake sepatu gini (sepatu sekolah)?” “Enggaaak, bukan buat kuliah. Kan buat acara
sekolah!”
Semua pembicaraan itu terjadi tanpa sengaja. Saya juga tidak tahu kenapa
tiba-tiba mengatakan bahwa saya ke Jogja untuk acara sekolah. Faktanya lagi,
pembicaraan tersebut terjadi tepat pada hari terakhir sebelum libur Idul Adha
atau H-2 acara peenganugerahan pemenang dan Deklarasi Pelajar di Jogja. Ditanya
tentang rasa pesimis, tentu ada. Apalagi rasanya tidak mungkin panitia akan
menghubungi pemenang di H-2 acara. Namun di sis lain saya pun tetap optimis.
Seperti hari-hari sebelumnya, saya selalu mengecek HP ketika baru sampai di
rumah. Masih dengan seragam lengkap dan tas di punggung. Lagi-lagi saya kecewa,
tidak ada tanda-tanda panitia menghubungi saya dan mengatakan bahwa saya lolos
3 besar. Sebelum tidur siang, tanpa sadar saya menagih janji Allah dalam sebuah
ucapan dalam hati, “Tuhan, kapan kabar baik itu datang?”
Antara sadar dan tidak sadar, saya merasa dibangunkan oleh bunyi sesuatu.
Dan saya enggan untuk bangun. Tapi ada dorongan kuat yang menyuruh saya untuk
bangun. Saya terkaget-kaget ketika mendapati ada 4 panggilan tak terjawab dari
nomor asing. Itu artinya bunyi yang tadi sempat membuat tidur saya sedikit
terganggu berasal dari lagu Separuh Aku yang saya pakai untuk ringtone HP. Saya gemetar. Kalau boleh
dibilang, waktu itu saya merasa cukup yakin bahwa itu nomor panitia SIS CPMH.
Entah keyakinan itu datang dari mana. Baru akan menelepon balik ke nomor
tersebut, panggilan kelima datang. Dan ternyata benar!
Subhanallaah… Ini sesuatu. Akhirnya kabar baik itu datang. Bapak saya
langsung menyuruh saya sujud syukur. Saya lalu mengirim SMS untuk April dan
Fiya untuk mengetahui apakah mereka mendapat kabar yang sama. Ternyata tidak.
Pengumuman sudah terpampang di web CPMH
UGM ketika saya membukanya. Pun di sana tidak ada nama mereka. sayang sekali.
Padahal kami sama-sama ingin bertemu, saya dan April. Dan ingin bertemu Fiya
(lagi).
Jadi nggak enak hati sekaligus ingin mengucapkan rasa terima kasih yang
amat besar buat April. Makasi April, udah ngasi tau info lombanya. Moga suatu
saat bisa ketemu yaa. Aaamiin. Setelah itu datang ucapan selamat lewat telepon
dari Fiya, it was something when I heard
your voice again, Sista. Kemaren pas ketemu di UMM nggak sempat ngobrol
banyak. Huhuhu.
Berhubung dihubungi panitianya mendadak, saya cukup panik juga. Mana
besoknya sekolah libur. Telepon Pak Edy lagi, beliau meminta saya memberikan
semua print out dari file tentang lomba tersebut. Mulai dari
info lomba, naskah lomba, serta undangan dari Panitia SIS CPMH. Nantinya
beliaulah yang akan membawa semua file itu
ke rumah Kepala Sekolah. Pak Edy cukup yakin Kepala Sekolah akan memberikan
persetujuan untuk kami berangkat ke Jogja. Dan ternyata benar. Sesuatunya lagi
bisa berangkat bareng Bunda, meskipun rada nggak enak juga gara-gara saya acara
Bunda sama anak XII IPB jadi batal. =((
Tapi apa mau dikata, instruksi Kepsek sudah begitu.
Di pagi hari menjelang beberapa jam keberangkatan, saya mendapati akun
@monaG_Marpaung bertengger di mention
Twitter saya. Sampai bertemu di Jogja juga, katanya. Mona Galatia Marpaung ini
adalah siswa SMA N 5 Kota Jambi yang namanya tepat berada di atas nama saya
dalam pengumuman 3 nominator lomba Menulis Bebas SIS CMPH dengan judul karya
“Kepala Sekolah Harus Seekstrem Ilmuwan”. Dari judulnya aja udah ‘wow’ banget
yaaah.
Singkat cerita, sampe Jogja pagi sekitar jam 9 dijemput sama kakak kelas
yang kuliah di Jogja, Kak Clarra dan Kak Anis. Sempat envy sama Mona yang bisa jalan-jalan ke kampus UGM. Tapi apa daya
kitanya aja baru nyampeee. Padahal katanya kalo Minggu pagi di UGM ada SunMor
yaa (Sunday Morning, semacam pasar gitu).
Sesuai instruksi panitia, para pemenang diminta hadir di tempat acara
puku 12.30 WIB karena akan ada briefing
terlebih dahulu. Dari kos Kak Clarra kita naik taksi, dan wew maceeet. Nggak
heran juga sih, macetnya juga karena mau ada Deklarasi Pelajar Jogja di Km. 0
Malioboro. Di dalem mobil sempat SMS-an sama Mona juga yang nanyain saya udah
sampe mana. Juga ada telepon dari Unai yang katanya nggak bisa ketemu.
Sebelumnya ada SMS juga dari Liliz, tapi saya baru ngeh pas udah di rumah.
Fuaaah. Nggak jadi ketemu Liliz sama Unai deh.
Nyampe di tempat acara, rame gilakkk. Panitianya keliatan sibuk. Pas lagi
jalan, Mona manggil saya. Saya duduk paling depan, Mona ada di belakang saya.
Ciieee, akhirnya ketemu, hahaha. Yang tambah bikin panitia panik tentu saja
langit yang tiba-tiba mendung yang beberapa saat kemudian diiringi hujan. Tapi
mereka tetp keliatan semangat lho. Saluuut. Acara pun dibuka dengan band SMA N
6 Yogyakarta, Sixteen (semoga gak salah) yang membawakan lagu-lagu yang
berisikan semangat untuk pemuda (saya nggak tau judul lagunya :p). Suara
vokalisnya bagus banget. kata Bunda kayak suara Vidi Aldiano, menurut saya
hampir mirip suara Sammy Simorangkir. Setelah pembukaan, launching Koran Pelajar bareng Indosat, dan sambutan-sambutan, kita
disuguhi banyak hiburan. Ada tari Jawa, pantomim dari SMA N 11 Yogyakarta yang
asli gokil banget, dan yang sempat membuat airmata saya bercucuran yaitu
penampilan dari mereka yang tunarungu dengan dance yang sumpah keerrreeennn banget. Mereka menari tanpa
mendengar iringan musik yang sebenarnya ditujukan untuk mengiringi tarian
mereka. luar biasa. Salut!
Airmata saya semakin bercucuran saat mendengar cerita dari pelatih mereka
tentang salah satu dari mereka. terharu, hiksss. Pertunjukan selesai, semua
penonton yang tadinya sibuk mengabadikan aksi mereka mengangkat tangan untuk
memberikan tepuk tangan ala mereka. setelah itu para pemenang pun dipanggil
untuk menerima hadiah ke pentas. Dimulai dari lomba fotografi, komik, film
pendek, dan terakhir lomba menuli bebas. Well,
saya cukup beruntung bisa meraih juara ketiga. Apa pun yang dapatkan saya
merasa pantas mendapatkannya. Mona memegang juara dua, sementara Aliya (saya
baru kenalan sama dia di atas pentas :D) dengan judul karya “Benahi Sekolah
Kita, Benahi Indonesia” meraih juara pertama. Selain trofi, uang pembinaan, dan
plakat, kami juga mendapat hadiah buku dari Gramedia yang menjadi sponsor.
Kita pun diminta untuk ikut menyebarkan isi “Ekspresi dan Deklarasi
Sekolah Indonesia Sejahtera: Dari Pelajar Jogja untuk Indonesia” oleh panitia.
Tapi sayangnya nggak ikutan. Saya sama Bunda dan Kak Clarra juga Kak Ismi
langsung muter-muter Malioboro buat beli oleh-oleh. Mona juga langsung pulang,
katanya mau ke Purwokerto.
Yang saya dengar acara ini diliput oleh berbagai media, seperti TV One,
Metro TV, Hai Magazine, dan beberapa radio Jogja. Kereeeennn! Sayang beribu
sayang juga nggak sempat mampir ke stand pameran
karya dan liat flashmob-nya. Terlepas
dari itu semua, saya tetap bersyukur dan bangga bisa menjadi bagian dari acara
“Ekspresi dan Deklarasi Sekolah Indonesia Sejahtera: Dari Pelajar Jogja untuk
Indonesia”. Ini videonya:
Akhir kata, terima kasih untuk Fakultas Psikologi UGM yang telah
menyelenggarakan event keren ini,
dewan juri lomba Menulis Bebas atas apresiasinya terhadap karya saya, jajaran
panitia yang telah bekerja keras, daaan… salam hormat untuk seluruh pelajar
Jogja! Kalian luar biasa! Saluuuuttt! ^^