Pages

Kamis, 26 Mei 2016

[STORY BLOG TOUR] Episode 8: Lukisan Cahaya Dua Nama

Hi, I’m back! ^o^
Masih lanjutan dari Story Blog Tour #1 OneWeekOnePaper yang kece itu. Di putaran kedua kali ini, saya Evnaya, akan membawa cerita lanjutan dari episode sebelumnya. Episode sebelumnya bisa dibaca di:
Dan inilah episode selanjutnya... *drumroll*


LUKISAN CAHAYA DUA NAMA
Aku meraba amplop biru itu dengan gemetar. Well, yah, ini bukan pertama kalinya aku mendapat surat dari seorang laki-laki. Dulu sewaktu SMP lokerku kerap kali penuh oleh tumpukan surat dan kado-kado kecil yang entah dari siapa. Beberapa membuatku senang luar biasa. Tapi, sejak negara api menyerang, eh maksudnya dengerin materi pesantren kilat di sekolah, aku mendadak jadi ngeri. Jadi kalau ada yang tanya berapa lapis dosanya, jawabannya bukan ratusan, tapi bakal mengalir terus sampai kamu bertaubat. Dan jaga pandangan itu amatlah susah, Yaa Allah. Hiks.
Dengan tangan yang masih gemetar, perlahan kubuka amplop biru itu dan kutarik keluar sesuatu yang tersimpan di dalamnya. Bukan surat, melainkan selembar foto, dengan bayangan nyata Ardit dan Ardi mengenakan seragam SMP terlukis di atasnya. Keduanya tampak nyengir, meski cengiran Ardi tidak selebar yang ditunjukkan Ardit yang memamerkan lesung pipi kanannya yang dalam.
Two boys with similar name: best friend.
--2009
Jantungku memburu. Apa maksudnya ini? Mendadak, ucapan Ardi yang memintaku untuk melanjutkan penelitian tentang Ardit itu menjadi ambigu. Oh my Allah, aku butuh Tala sekarang juga.
* * *
“Ayooo, apaan tuuuh?!” Tala tiba-tiba sudah mendebrak duduk di kursi di hadapanku. Aku mengikuti tatapan dan raut nyengir gadis itu. Aku bela-belain menelepon gadis itu untuk datang bertemu di kafe kecil dekat kost-ku. Dan lihatlah tingkahnya sekarang, belum juga kuberi tahu dia malah sudah heboh duluan melihat aku menimang amplop biru itu.  
“Eh sini coba liat!” Tala mencoba merebut amplop itu dari genggamanku. Tanganku reflek berkelit. “Tala rese ih. Ini kan buat aku,” kataku, lalu pura-pura memasukkan kembali amplop itu ke dalam novel yang tadi kubaca selama menunggu gadis berisik ini datang.
“Cieee buat kamu seorang? Iya, iya, tau kok. Masalahnya, kepo deh Ran, dari siapanya. Bukan dari Ardit kan?”
“Emang Ardit tipe yang suka ngirim surat ke cewek? Yakali.”
Tala mengangkat kedua bahunya. “Who knows. Denger sendiri cewek di lapangan basket kemaren itu bilang apa.”
“Kan belum tentu bener,Tala. Percaya banget sih sama gosip murahan gitu,” decakku sebal.
“Ya trus dari siapa dong? Dari siapa?” Berisiknya kambuh. Hmm.
“Dika.”
“Hah?”
“Iya, Dika.”
“Dika yang mana sih?”
“Anak PMI. Yang kemarin nganterin buku.”
Wait, kok jadi gagal paham sih. Ardi kalii maksudnya. Seinget aku namanya bukan Dika. Please deh, Kirana, masa gara-gara patah hati kamu jadi mendadak pikun sih?” Hmm, si Tala ini kadang kalo ngomong suka sembarangan, membuatku lantas menyahut, “Ya Ardi itu namanya lengkapnya Ardika, Talaaa.”
“Ya kan mana ane tau dia dipanggilnya Dika juga. Ck.” Tala memutar bola matanya.  
Aku nyengir, merasa berhasil mengerjai orang di hadapanku. “Abisnya jadi mirip Ardit kalo dipanggil Ardi. Nih, kamu buka aja,” kataku, lalu mendorong amplop itu ke arahnya.
“Yay!” Tala setengah bersorak. Tangannya cekatan membuka amplop biru itu. “Ya Tuhan... Jadi, Ardit sama Ardi itu ...” Tala setengah berteriak, yang secara reflek kemudian membuatku menginjak kaki gadis itu keras-keras. Dua sosok perempuan yang tengah berjalan melewati meja kami mendadak menoleh, untuk kemudian berujar, “Kak Rana?!”
Kerongkonganku tercekat, demi menyaksikan salah satu dari dua perempuan yang bersuara tadi kemudian menatap ke selembar foto yang kini tergeletak di atas mejaku dan Tala. Dan dia Karissa.
* * *
BERSAMBUNG....
---Cerita selanjutnya akan dibawakan Kak Emi. :))
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen, yuuuk ;))