Prok prok prok! Tepuk tangan karena aku
akhirnya membaca novel ini! Haha. Lebay? Mungkin iya, tapi—err—setelah
membacanya aku lantas terus-menerus berujar, “Demi apa aku mengabaikan novel
ini hampir dua tahun lamanya? Membuatnya teronggok manis tanpa meluangkan
sedikit waktu pun untuk membacanya?”
Seenggaknya,
membaca novel ini membuatku sadar bahwa masih ada paling tidak satu buku
berkualitas yang bisa kubaca saat aku tiba-tiba merasa kering bacaan fantasi
untuk mengisi liburan. Jadi, aku memutuskan untuk membaca novel ini karena
belakangan sudah mabok baca yang pure romance. v^.^v
Dan ini
mungkin review ter-absurd yang pernah ada, yang aku tulis dan
dialihbahasakan oleh Katniss (baca: ditulis dari sudut pandang Katniss). Oke,
Katniss, the time is yours! *ngomong sama buku*
***
Thanks,
Effie~ uhm, maksudku, Evi! *sambil nangkep mic* *kedipin mata*
Hola!
Aku Katniss, Katniss Everdeen. Tapi kalian cukup memanggilku Katniss saja. Aku
tokoh utama dari novel ini. Sebelum kalian lebih banyak tahu kisah tentangku
dalam novel ini, ada baiknya kalian mengetahui seluk-beluk (?) novelnya
terlebih dahulu. Ini dia~ *muncul slideshow*
Judul:
The Hunger Games
Penulis: Suzanne Collins
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Cetakan III, Maret 2012
Genre: Fantasy Romance
Tebal: 408 halaman
ISBN: 978-979-22-8210-8
Well, dari
segi fisik novel ini cukup baik, Evi bilang begitu. Kertasnya wangi (selalu!),
fontnya cukup enak untuk dibaca (tidak terlalu besar ataupun kecil), baik kertas
maupun kavernya lentur, sangat nyaman untuk dipegang di tangan. Mau tak mau ia
mengatakan bahwa banyak novel atau buku-buku yang memiliki kaver yang kaku
sehingga terkadang itu menyulitkan pembaca dan membuat tidak nyaman karena
pembaca harus menahan kuat-kuat si kaver ketika membaca agar buku tetap terbuka
(pengecualian untuk hard cover).
Adapun
novel ini menyajikan cerita tentang event tahunan yang diadakan di
negaraku, Negara Panem, yaitu The Hunger Games. Jadi, karena suatu
peristiwa yang terjadi di masa lalu—aku tidak akan membocorkannya di sini
peristiwa apa itu—setiap tahunnya, dua belas distrik yang ada dalam wilayah
Panem harus mengirimkan satu anak perempuan dan satu anak laki-laki untuk
mengikuti permainan konyol itu.
Malangnya,
di antara ribuan nama yang berada dalam kertas pemungutan suara itu, nama
adikkulah yang muncul sebagai sebagai wakil anak perempuan dari distrikku,
Distrik 12. Mau tak mau aku memaksa untuk menggantikannya karena aku sangat
menyayanginya. Dari perwakilan laki-laki, terpilih Peeta Mellark—anak tukang
roti yang menganggapku tak menyadarinya hidup sampai kami bertemu di hari
pemungutan.
Dan ke
sanalah kami, ke pusat kota Panem, Capitol, untuk mewakili Distrik 12 sebagai
peserta The Hunger Games dengan mentor kami, Haymitch, yang beberapa
puluh tahun lalu bertahan sebagai pemenang dari Distrik 12. Tim yang menangani
Distrik 12 membuat aku dan Peeta berkilau dan mata penonton teralihkan pada
kami sejak pertama kali kami muncul. Dan dimulailah sandiwara-sandiwara konyol yang
harus kami lakukan untuk menarik sponsor yang akan membantu kami bertahan saat The
Hunger Games berlangsung.
Peeta
membuat The Hunger Games kali ini menjadi The Hunger Games yang
tak terlupakan karena pernyataan konyolnya di hadapan layar kaca yang mengatakan
bahwa ia tidak mungkin menjadi kekasih orang yang dicintainya karena orang itu
datang bersamanya untuk mengikuti The Hunger Games. Tentu saja aku tahu
orang yang dimaksud adalah aku. Yah, dua puluh empat peserta, dan sesuai
peraturan, hanya ada satu orang yang akan tersisa sebagai pemenang.
Aku
menganggap pernyataan Peeta adalah bagian dari sandiwara yang harus ia mainkan,
atau… kami mainkan? Entahlah, tapi toh aku mengikutinya juga. Mengikutinya
dengan setulus hati atau tidak, kau akan mendapat jawaban jika membaca novel
ini. Hanya saja, aku dan Evi sempat membayangkan beberapa pertanyaan jika Peeta
sungguh-sungguh dengan ucapannya: bagaimana perasaanmu jika orang yang
kaucintai turut serta bersamamu dalam The Hunger Games dimana kau mau
tak mau menyadari perasaanmu terluka ketika melihatnya terbunuh atau bahkan
saat kau dihadapkan pada pilihan untuk membunuhnya? Sanggupkah kau menjadi
seorang pemenang sementara orang yang kaukasihi terbunuh? Apakah perasaan masih
menjadi hal penting sementara kau hanya punya satu pilihan: hidup atau mati?
Yah,
tentu saja, Evi ataupun aku tidak akan memberi kalian jawaban semua pertanyaan
itu di sini. Hanya saja, menurut Evi, awalnya dia pikir novel ini akan sangat
membosankan dan penuh dengan pembunuhan-pembunuhan yang keji. Namun, bumbu romance
yang ada di dalamnya menjadi cita rasa tersendiri, membuat kisah ini
semakin hidup tapi tetap tidak mengabaikan sisi ‘gelap’nya saat kau bahkan tak
punya pilihan selain hidup atau mati sementara di luar sana penonton sibuk menjadikanmu
barang taruhan siapa yang akan keluar sebagai pemenang.
Evi
berkata panjang lebar padaku, “Sebagai tokoh utama, kau digambarkan dengan
karakter yang kuat, Katniss. Pemberani dan tangguh. Hanya saja mungkin akan
lebih seru jika kau membunuh lebih banyak orang lagi. Tapi penulismu jenius,
dia tidak menampilkanmu sebagai karakter kuat yang superhebat dan egois,
melainkan Katniss yang di sisi lain tertatih untuk bertahan. Dan tokoh yang
seperti itulah yang sejatinya kusukai, tokoh yang ditampilkan tak sempurna
seperti manusia pada umumnya. Soal penggambaran setting sebenarnya tidak
ada masalah, hanya saja aku mungkin akan mendapatkan penjelasan lebih detil
pada buku kedua atau ketiga.”
Sebelum
melontarkan kalimat terakhirnya, Evi mendehem pelan lalu melanjutkan, “Buku
satu—The Hunger Games ini—membuatku penasaran apa yang terkisah dalam
buku dua dan tiga. Itu artinya buku ini sanggup membuatku larut dalam kisahmu,
Katniss. Tidak menjemukan membacanya karena kau tidak hanya akan menemukan
cerita-cerita monoton mengenai pembunuhan karena permainan yang konyol. Jadi,
kurasa kisahmu cukup menyenangkan untuk dibaca.”
Baiklah,
hanya itu yang bisa kusampaikan. Evi melarangku bicara banyak hal karena itu
bisa saja menjadi spoiler. Kuharap tidak banyak spoiler di sini. Sampai
jumpaaa~ ^-^
* * *
Oke,
terima kasih, Katniss, sudah mau menyampaikan review-ku mengenai novel
yang memuat kisahmu dan… Peeta? Oh, tentu tidak! Yah, lebih tepatnya kisahmu
dan The Hunger Games. Aku berharap orang-orang di luar sana tidak
menganggap serius review ini karena sesungguhnya ini sangat subjektif
dan bisa jadi apa yang mereka pikirkan berbeda dengan apa yang kupikirkan usai
membaca kisahmu. Aku bukan reviewer jenius, kau harus tahu itu, Katniss.
Tapi paling tidak, novel ini novel yang bagus untuk dibaca. :3 Dan, yeah, aku penasaran seperti apa filmnya karena aku bahkan melarang
diriku menonton filmmu sebelum membaca kisahmu. Kuharap tidak mengecewakan yaa.
^o^
