Pernahkah kau bicara pada waktu? Pasti pernah.
Dan gadis itu juga pernah—malah terlampau
sering. Kebanyakan di luar batas kesadarannya, dan seringkali hanya berupa
obrolan sepihak saja. Waktu yang lebih banyak bicara; menginstruksikan ini itu
sebelum kesia-siaan melukainya. Hal-hal semacam itu seringkali hanya sebatas
menggetarkan gendang telinga saja. Gadis itu—kita—terlampau sibuk dengan
pilihan-pilihan yang ada. Membuang terlalu banyak sela, dan pada akhirnya tak
berujung apa-apa.
Ia dan waktu—kita dan waktu—sesungguhnya
selalu berjalan bersisian. Kalau saja gadis itu lebih banyak menyadari, ia akan
mendengar betapa waktu sering mengajaknya bicara. Waktu sendiri tahu diri. Ia selalu
bisa memilih saat yang tepat untuk diam dan bicara. Waktu akan diam jika gadis
itu tengah sibuk dengan aktivitasnya, meskipun sesekali ia juga kerap
mengingatkan gadis itu perihal dirinya. Sebaliknya, ia akan bicara ketika gadis
itu diam. Mengingatkannya banyak hal, dan memang harus diakui, gadis itu
terkadang bisa menjadi pendengar yang baik.
Waktu akan banyak bicara di sela
gadis itu tengah sendiri dengan pikiran-pikirannya. Seperti ketika terjebak
menunggu hujan reda di tengah keramaian yang tidak disukainya. Sesaat setelah
shalat, ataupun menjelang kelopak matanya terkatup di penghujung malam. Saat itu
adalah saat yang tepat. Dengan pikiran-pikirannya, gadis itu mampu memutar
kembali memori; hal-hal yang dilakukannya, pilihan-pilihan yang diambilnya,
tempat-tempat yang dikunjunginya, atau bahkan orang-orang yang singgah dalam
pandangannya.
Waktu adalah teman yang paling
tabah, meski gadis itu—kita—hampir selalu membuatnya terluka. Waktu terluka
karena kesia-siaan. Waktu terluka karena kekurangtepatan. Waktu terluka karena
janji-janji yang tak terpenuhi. Satu-satunya dari waktu yang bisa melukai
hanyalah kenyataan bahwa ia tak bisa berhenti sekalipun kita menginginkannya. Waktu
tak bisa melambat, sebaliknya harus kau yang menyejajarkan langkah dengannya. Dan
pada saat gadis itu—juga kita--menyadari bahwa waktu melukai, sudah pasti bukan
waktu yang salah.
Bicaralah pada waktu; paling
tidak beberapa saat setelah shalatmu, atau menjelang tidurmu. Waktu akan banyak
bercerita perihal dirimu, bagian terpenting yang bahkan mungkin tak kau ketahui
sebelumnya. Saat itulah kau akan tahu seberapa sering kau membuatnya terluka
atau bahkan ajaibnya menyenangkannya.
Bicaralah pada waktu. Katakan apa
saja; hal-hal yang ingin kau lakukan, sesuatu yang ingin kau miliki. Tanyakan apa
saja. Kau akan tahu apa yang harus kau lakukan. Pilihan mana yang harus kau
ambil, dan jalan mana yang harus kau tempuh. Termasuk soal menunggu teman hidup
yang akan menemanimu bicara pada waktu keesokan harinya.
Ketika gadis itu menulis ini, dan
kau membaca ini, kalian mungkin sama-sama tidak menyadari. Waktu tengah
mengajakmu bicara—mengajak gadis itu bicara.
Kalian sedang mendengar waktu
bicara.
* * *
Seseorang yang
terlampau sering membuat waktu terluka,
Gadis itu—aku.
12 Juli 2015, Pulau
Dewata.