Pages

Minggu, 12 Juli 2015

Bicara pada Waktu


Pernahkah kau bicara pada waktu? Pasti pernah.
Dan gadis itu juga pernah—malah terlampau sering. Kebanyakan di luar batas kesadarannya, dan seringkali hanya berupa obrolan sepihak saja. Waktu yang lebih banyak bicara; menginstruksikan ini itu sebelum kesia-siaan melukainya. Hal-hal semacam itu seringkali hanya sebatas menggetarkan gendang telinga saja. Gadis itu—kita—terlampau sibuk dengan pilihan-pilihan yang ada. Membuang terlalu banyak sela, dan pada akhirnya tak berujung apa-apa.

Ia dan waktu—kita dan waktu—sesungguhnya selalu berjalan bersisian. Kalau saja gadis itu lebih banyak menyadari, ia akan mendengar betapa waktu sering mengajaknya bicara. Waktu sendiri tahu diri. Ia selalu bisa memilih saat yang tepat untuk diam dan bicara. Waktu akan diam jika gadis itu tengah sibuk dengan aktivitasnya, meskipun sesekali ia juga kerap mengingatkan gadis itu perihal dirinya. Sebaliknya, ia akan bicara ketika gadis itu diam. Mengingatkannya banyak hal, dan memang harus diakui, gadis itu terkadang bisa menjadi pendengar yang baik.

Waktu akan banyak bicara di sela gadis itu tengah sendiri dengan pikiran-pikirannya. Seperti ketika terjebak menunggu hujan reda di tengah keramaian yang tidak disukainya. Sesaat setelah shalat, ataupun menjelang kelopak matanya terkatup di penghujung malam. Saat itu adalah saat yang tepat. Dengan pikiran-pikirannya, gadis itu mampu memutar kembali memori; hal-hal yang dilakukannya, pilihan-pilihan yang diambilnya, tempat-tempat yang dikunjunginya, atau bahkan orang-orang yang singgah dalam pandangannya.

Waktu adalah teman yang paling tabah, meski gadis itu—kita—hampir selalu membuatnya terluka. Waktu terluka karena kesia-siaan. Waktu terluka karena kekurangtepatan. Waktu terluka karena janji-janji yang tak terpenuhi. Satu-satunya dari waktu yang bisa melukai hanyalah kenyataan bahwa ia tak bisa berhenti sekalipun kita menginginkannya. Waktu tak bisa melambat, sebaliknya harus kau yang menyejajarkan langkah dengannya. Dan pada saat gadis itu—juga kita--menyadari bahwa waktu melukai, sudah pasti bukan waktu yang salah.

Bicaralah pada waktu; paling tidak beberapa saat setelah shalatmu, atau menjelang tidurmu. Waktu akan banyak bercerita perihal dirimu, bagian terpenting yang bahkan mungkin tak kau ketahui sebelumnya. Saat itulah kau akan tahu seberapa sering kau membuatnya terluka atau bahkan ajaibnya menyenangkannya.

Bicaralah pada waktu. Katakan apa saja; hal-hal yang ingin kau lakukan, sesuatu yang ingin kau miliki. Tanyakan apa saja. Kau akan tahu apa yang harus kau lakukan. Pilihan mana yang harus kau ambil, dan jalan mana yang harus kau tempuh. Termasuk soal menunggu teman hidup yang akan menemanimu bicara pada waktu keesokan harinya.

Ketika gadis itu menulis ini, dan kau membaca ini, kalian mungkin sama-sama tidak menyadari. Waktu tengah mengajakmu bicara—mengajak gadis itu bicara.

Kalian sedang mendengar waktu bicara.
* * *

Seseorang yang terlampau sering membuat waktu terluka,
Gadis itu—aku.
12 Juli 2015, Pulau Dewata.