Pages

Selasa, 10 Januari 2017

Ia Bukan Sampah

Sumber: Grup WA OWOP :D

Aku menggeliat. Tatapanku awas pada rombongan pejalan kaki yang berlalu-lalang di hadapanku. Seperti pagi di mana pun, pagi di ibukota ini terlihat sangat sibuk. Orang-orang terlihat begitu terburu-buru. Langkah-langkah cepatnya berirama dalam hentak sepatu-sepatu keluaran terbaru dari brand ternama atau sandal-sandal lapuk yang hampir habis dimakan usia.

Mereka adalah para pelajar, orang-orang kantor, kuli pasar, sampai pengangguran yang bersiap melakukan aksi minta-minta di lampu merah. Sementara kebanyakan sibuk berlari mengejar rezeki pertama yang hinggap di sudut-sudut keramaian, beberapa yang berpakaian rapi dan necis justru memanfaatkan waktu perjalanan sambil mengunyah berlapis-lapis roti tawar yang dibubuhi susu atau selai.

Wush! Sebungkus plastik melayang, berputar-berputar, dan jatuh tepat di sampingku. Prang! Kaleng bekas minuman menggelinding ke sisi trotoar. Prang, kaleng kedua. Prang, kaleng ketiga. Juga bungkus makanan kedua, kelima, keduapuluh satu, sampai keseratus tigabelas. Bahkan ketika matahari belum genap di atas kepala, sampah-sampah sudah berserakan di sekelilingku.

Sejak hari pertama hingga detik ini aku ditempatkan, aku hanya punya satu hal untuk ditanyakan, yang sayangnya tak pernah terjawab oleh siapa pun: apakah mereka tidak melihatku?

***

Buanglah sampah pada tempatnya!

Peringatan itu ditulis besar-besar, di atas sebuah plang yang baru saja dipasang di sampingku. Aku mengamati betapa petugas-petugas itu harus bekerja susah payah untuk membuat orang-orang patuh pada peringatan yang berkaitan dengan kesadaran membuang sampah.

Aku begitu sibuk memerhatikan petugas-petugas itu hingga tak menyadari kehadirannya. Ia tersenyum kepadaku sembari menyapa, “Hai, aku temanmu di sini.”

Ia bahkan sudah mendeklarasikan itu di hari pertama, bahwa ia adalah temanku.

Jika aku adalah si Oranye, maka ia adalah si Biru. Fakta bahwa aku tak lagi sendirian di pinggir ruas jalan paling padat di ibukota ini membuatku senang. Lagi pula Biru sangat cantik. Bola matanya besar dan hitam sekali, berbanding terbalik dengan pakaian yang dikenakannya, yang mengingatkanku setidaknya pada dua hal: langit dan lautan yang dalam.

Sore itu, saat orang-orang kembali ramai memadati jalan dan trotoar, dan sampah-sampah yang terus berserakan, akhirnya aku memiliki teman untuk berbagi. Tentang orang-orang dan sampah-sampah yang mereka buang sembarangan, polusi yang semakin hari semakin membuat sesak, atau pengemis-pengemis tua yang berjalan terseok-seok. Kami menyaksikan itu semua, dan betapa itu menjadi sebuah ironi berkepanjangan.

***

Aku terbangun tiba-tiba dini hari itu. Setengah mengantuk aku mengucek mata, dan menajamkan telinga untuk memastikan bahwa suara tangis yang kudengar bukan berasal dari alam bawah sadarku.

Aku menoleh ke sampingku dan betapa kagetnya begitu mengetahui bahwa itu suara tangis Biru.

“Hei, kenapa menangis?” Parau, aku bertanya.

Alih-alih menjawab, Biru justru makin terisak.

“Ada apa? Kau mimpi buruk?”

Biru menggeleng. Aku bingung, ada apa dengan gadis ini? Perlahan kugeser diriku mendekat ke arahnya. Tak berani melakukan apa pun, aku hanya menatap sedih ke arahnya dan menunggu.

Aku membiarkannya menangis, mengeluarkan semua yang dirasakannya, dan sibuk berspekulasi tentang hal-hal yang bisa membuat perempuan menangis. Jika keadaannya seperti ini, di dini hari yang seharusnya kami tertidur lelap, mimpi buruk adalah sebab paling masuk akal. Tapi jelas bukan karena itu.

Ia terus menangis dan menangis. Melihatku sabar menunggu, ia berusaha mengucapkan sesuatu, yang pada akhirnya gagal. Sampai akhirnya ia mengisyaratkan sesuatu dan aku melihat ke dalam dirinya—yang kemudian membuatku tergugu bahwa ia bahkan harus menanggung semua kebejatan dari ‘perbuatan sampah’ itu di hari pertamanya;

ketika seonggok manusia kecil menepi, pulas, dan amat merah.

#MalamNarasiOWOP


Kamis, 05 Januari 2017

2016 Reading Journey: 9 Buku Paling Berkesan



Sumber: dari sini
Yay! Akhirnya kamu mampir ke sini juga. :3 Sudah baca daftar keseluruhan buku yang kubaca di 2016 kan? Kalau belum, you’d better go to the previous post. Siapa tahu di list-nya ada yang sama dan kita bisa sharing bareng, hehe. Nih, aku kasih link-nya kalau mau mampir: 2016 Reading Journey: My Year in 33 Books. :p

Dan ini 9 buku paling berkesan (urutan tidak menunjukkan peringkat) yang kubaca di tahun kemarin~~ ^^//

1. The Fault in Our Stars by John Green

Aku dapat pinjaman buku ini dari Mbak Lae gara-gara dia pasang foto buku ini sebagai display pict BBM-nya. Dan karena beberapa kali aku mendengar kata orang bahwa buku ini bagus, jadi berasa surprised banget ada yang punya dan mau meminjamkan. Lalu jreeenggg... the book is in english. Antara bagaimana dan bagaimana waktu disodori buku itu, akhirnya aku membawanya pulang dan membacanya. TFiOS ini novel berbahasa Inggris pertama yang kubaca dalam sejarah kehidupanku, wkwk. Alhamdulillah aku masih sanggup memahami dan menyelsaikan sampai akhir, sampai mewek juga. :( Aku suka Gus, aku suka Hazel, but God... I love Isaac (yang tanpa tambahan Newton). Isaac yang konyol dan uhm, menyedihkan, aku belajar banyak darinya. I love him, ketika dia mengatakan ini pada Gus:

“When the scientists of the future show up at my house with robot eyes and they tell me to try them on, I will tell the scientists to screw off, because I do not want to see the world without him.”

Banyak novel dengan tokoh yang diceritakan mengidap penyakit, dan biasanya bikin nangis parah. But this one is different. Kita nggak dibikin nangis dan mellow karena kasihan sama tokohnya seperti novel-novel kebanyakan, tapi lebih dari itu justru karena karakter-karakter dalam novel ini begitu kuat, nggak cengeng, dan punya sisi lain untuk ditonjolkan selain dari penyakit atau kekurangan-kekurangannya itu. Aku suka ketika dua orang membicarakan sebuah buku dan saling berkomentar tentang buku itu, kamu akan menemukannya di sini; Gus dan Hazel yang menggilai An Imperial Affliction. Dan semacam nasihat banget untukku sewaktu Hazel mengatakan ini:

“There will come a time whe all of us are dead. All of us. There will come a time when there are no human beings remaining to remember that anyone ever existed or that our species ever did anything. There will be no one left to remember Aristotle or Cleopatra, let alone you. Everything that we built and wrote and thought and discovered will be forgotten and all of this, will have been for naught.

Maybe that time is coming soon and maybe it is millions of years away, but even if we survive the collapse of our sun, we will not survive forever. There was time before organism experienced conciousness, and there will be time after. And if the inevitability of human oblivion worries you, I encourage you to ignore it. God knows that what everyone else does.”

Sepertinya kita dan Augustus Waters, atau bahkan mungkin juga kebanyakan orang memiliki ketakutan yang sama. Ya kan? :) Terima kasih, Mbak Lae telah meminjamkan novel ini, dan maaf belum dibalikin sampe sekarang~ :”

2. Jalan Cinta Para Pejuang by Salim A. Fillah

Percaya atau tidak, ini karya pertama Ustadz Salim A. Fillah yang kubaca dan aku merasa sangat terlambat. Ini buku yang tidak bisa membuatku berhenti mengingat biasanya memerlukan kosentrasi dan waktu yang lumayan untuk membaca buku nonfiksi. Begitu menyentuh, membuat trenyuh, dan di beberapa bagian membuat menahan napas. Dari sini aku menyadari bahwa ternyata aku sangat kurang dalam sirah. Aku baru mengetahui saat-saat Nabi Ibrahim akan meninggalkan Hajar dan Ismail di Mekkah tanpa mengucapkan apa pun dan Hajar mengejarnya sambil bertanya berulang-ulang mengapa ia dan Ismail ditinggalkan sementara di sana amat kering dan tak ada siapa pun sebagai teman. Aku tergugu ketika Ibunda Hajar kemudian bertanya, “Apakah itu perintah Allah?” Lalu ketika Nabi Ibrahim mengatakan ya, Hajar pun menerimanya dengan ikhlas dan percaya bahwa Allah tidak akan membiarkannya begitu saja. Itu sisi lain dari kisah Nabi Ibrahim yang baru kuketahui. :’)

Aku juga dikenalkan pada Julaibib, dan sahabat-sahabat Rasulullah lain yang awalnya begitu asing. Buku ini menjadi pengingat, penyeru kebaikan, dan kata-kata Ustadz Salim yang indah ketika menuturkan soal jalan cinta dari pejuang-pejuang agama Allah begitu membuat bergetar, dan bahwa kita seharusnya banyak mengambil pelajaran dari kisah orang-orang yang dekat dengan Rasulullah tersebut.

3. Akatsuki by Miyazaki Ichigo

Aku mendapatkan rekomendasi soal buku ini dari Quartin ketika ia bercerita soal novel yang paling berkesan yang pernah dibacanya. Ini buku yang terbit di bawah tahun 2010, dan karena aku penasaran aku diam-diam merencanakan untuk membelinya secara online karena di toko buku sudah pasti tidak tersedia. Review-nya di Goodreads bagus, dan sebenarnya yang paling membuatku bertekad membaca novel ini adalah karena ini novel remaja Islami dan setting-nya di luar negeri. Aku selalu berharap bisa menulis yang seperti itu; sebuah kisah remaja yang manis dan romantis, mengambil latar tempat yang belum pernah kukunjungi, tapi juga menyisipkan nilai-nilai Islam.

Dan taraaa... aku menemukannya di rak novel perpustakaan kampus. Alhamdulillah. Novel ini kemudian menjadi referensiku dalam belajar untuk menulis kisah remaja Islami nan manis. Tidak membosankan, dan perjalanan menjemput hidayah yang dialami Satoshi digambarkan secara halus dan pelan. Tidak menggurui, dan amat mengejutkan di beberapa bagian. Quartin nggak bisa move on dari buku ini, Ukh Nurul berharap mendapat suami seperti Satoshi, and so do I. :3

4. Kupinang Engkau dengan Hamdalah by Mohammad Fauzil Adhim

Ini buku yang wajib banget dibaca siapa pun; orangtua sebagai bekal untuk anak, pasangan suami istri sebagai bekal untuk memahami hakikat pernikahan, dan terutama untuk kita-kita yang sedang menyiapkan diri untuk menggenapkan separuh agama *uhuk. Banyak yang bicara soal keutamaan menikah muda, dan jauh sebelum hal itu menjadi topik yang hits, buku ini telah lebih dulu membahas itu. Pemaparannya sangat detail. Jauh dari kesan bikin baper, KEdH banyak memberikan arahan, menjawab persoalan-persoalan yang muncul saat proses taaruf, khitbah, maupun ketika akan melangsungkan pernikahan. Dan pastinya, membuat kita semangat untuk semakin membaikkan diri di hadapan Allah.

5. Ayat-ayat Cinta 2 by Habiburrahman El Shirazy
—aku sudah menulis review-nya di sini.

6. An Abundance of Katherines (Tentang Katherine) by John Green
 —aku sudah menulis review-nya di sini.

7. Lautan Langit by Kurniawan Gunadi

Sebenarnya buku ini terbilang sederhana, tidak ada yang menjadikannya amat istimewa. Tapi karena Kurniawan Gunadi begitu jujur, begitu lihai memotret sebuah peristiwa dan menyajikan makna dari sesuatu yang hanya bisa dibaca oleh hati dan pikiran yang jernih, serta dirinya yang seolah amat mengenalku, aku jadi sangat menyukainya. Dan terima kasih telah ‘menyuarakan’-nya lewat buku ini.

8. Dongeng Terlezat Sedunia by Ernita Dietjeria

Aku nggak tahu ternyata di usia segini membaca dongeng terasa sama mengasyikkannya seperti waktu kecil. Dan ketika mencari buku dongeng di iJak, aku menemukan ini. Buku ini berhasil menghiburku di sela kepenatan mengerjakan laporan magang, hehe. Terutama ketika melihat ilustrasi setiap cerita yang gambar dan pewarnaannya baguuus banget. Suka deh. Aku jadi dibawa ke suatu waktu saat menggemari majalah Bobo, atau ketika dulu kakak dan bapak sering mendongengiku dan adik setiap akan tidur.

Melihat ilustrasinya, aku dibuat mupeng dengan kue-kue ataupun makanan yang diceritakan dalam buku tersebut. Membacanya seperti bisa mencium aroma kue itu ketika matang dan disajikan di hadapanku. Jadilah setelah membaca dongeng-dongeng tersebut aku mendadak ingin makan es krim, permen, kue, onde-onde, dan donat. Sampai akhirnya aku kesampaian makan donat dan tertawa sendiri membayangkan dua bajak laut kembar yang nggak jadi merampok isi kapal (lupa apa nama kapalnya) karena mereka diserang dengan ratusan donat-donat yang menggiurkan dan lezat. Pelajaran yang didapat: cara efektif untuk melumpuhkan musuh adalah dengan memberinya makanan lezat. Wkwk.

9. Psikologi Usia Lanjut by Siti Partini Suardiman

Yay. Buku teks kuliah pertama yang berhasil kuselesaikan, setelah gagal menyelesaikan Psikologi Islam-nya Dr. Djamaludin Ancok & Fuat Nashori Suroso serta Psikologi Humanistik-nya Helen Graham. Suka banget dengan buku ini, bahasanya lugas dan mudah dipahami. Aku belajar banyak dari sini dan apa yang kudapat setelah membacanya sangat membantuku untuk memahami kondisi simbah-simbah di balai pelayanan sosial lansia yang menjadi tempat magangku. Tentu saja, buku ini menjadi panduanku juga dalam menyusun skripsi. :’)

Oke, itu dia beberapa buku yang membuatku terkesan sewaktu membacanya. Apakah buku-buku tersebut ada di daftar bacaanmu dan membuatmu terkesan juga? Let me know ya. :) Dan dengan ini Reading Challenge untuk 2016 telah selesai. Aku berharap bisa membaca lebih banyak buku lagi nanti. Thanks to iJakarta, yang telah memenuhi semua keinginanku sesuai dengan buku-buku yang ingin aku baca di waktu-waktu ‘kritis’ yang kualami. Juga BPAD Jakarta, yang membuatnya ada. Aku merasa diselamatkan dari masa-masa itu dan meski pada akhirnya banyak sekali buku yang tidak kubaca sampai selesai. Untuk para penulis, keep writing dan menghasilkan buku-buku terbaik ya. Doakan aku supaya segera menyusul. :))

2016 Reading Journey: My Year in 33 Books

Sumber: dari sini
Dalam rentang waktu tertentu, setiap orang mengalami hal-hal menyenangkan yang membuatnya bahagia ketika mengingatnya. Dan bagiku, perjalanan membaca buku selalu menduduki bagian penting dan menyenangkan dalam sebuah kurun waktu, atau bahkan akumulasi dari jumlah tahun-tahun sejak awal mengenal buku.

Aku pernah mengatakan bahwa membaca buku ibarat sebuah perjalanan; yang mengajar tanpa kita merasa sedang diajar, yang memberikan perspektif-perspektif baru tentang sesuatu yang tidak bisa kita lihat dari sisi kita, yang juga mendewasakan. Karenanya, mengingat dan menuliskan sebuah perjalanan bersama buku dalam waktu setahun penuh menjadi salah satu hal yang menyenangkan begitu semua itu berlalu.

2016, dengan 33 buku yang sangat beragam.

Jika di Goodreads Reading Challenge 2015 aku menargetkan 30 buku untuk setahun, di 2016 aku menambahkan 2 buku lagi—yang sebenarnya amat terbilang sedikit, dan pada prosesnya hanya bertambah 1 buku saja. Jadi total yang kubaca adalah 33 buku. XD Dan 2016 ini menurutku sesuatu—uhm. Itu karena aku berhasil memenuhi keinginan yang kukatakan bahwa selama menjadi mahasiswa aku seharusnya menamatkan paling tidak satu buku kuliah. Yah, dari tiga buku yang kurencanakan untuk kubaca, aku hanya sampai pada makna denotatif dari paling tidak yang kuciptakan sendiri itu. Satu buku saja—ck. Tapi setidaknya aku sudah mencoba, dan di proses itu aku baru mampu hanya segitu. :”)

Lalu, 2016 ini bacaanku sedikit beragam. Aku membaca buku untuk berbagai kalangan dan genre, termasuk yang kusebutkan soal buku kuliah tadi. Aku membaca buku anak-anak berupa dongeng, lalu fantasi, psikologi, motivasi Islami, teenlit, romance, buku puisi, kumpulan cerpen, novel Islami, sampai pada buku bekal pernikahan dan rumah tangga. Wkwk~ untuk yang terakhir itu, aku sendiri sering tidak menyangka bahwa aku telah ada di tahap yang memang sudah seharusnya aku membaca itu. Everything was okay, dan aku bersyukur digerakkan untuk membaca itu. Di lain sisi aku tipikal yang kadang harus punya stok buku cadangan pada saat yang sama supaya bisa berganti-ganti sesuai dengan mood-ku saat itu.

Dan seperti di 2015, di samping memaparkan list buku yang kubaca, aku juga akan menyebutkan beberapa buku yang menurutku paling berkesan. Kali ini ada 9 buku paling berkesan dari list tersebut. Khawatir akan sangat panjang, aku memutuskan untuk menulisnya di post selanjutnya. Jadi pastikan juga kalian mampir ke sana ya. Aku bakal cantumin link-nya di bawah, oke? ;)

So my year in books were about ...

1. The Fault in Our Stars by John Green
2. In A Blue Moon by Ilana Tan
4. Kiss Me and Let Me Die by Alexandra Kirana
5. Ketika Cinta Berbuah Surga by Habiburrahman El Shirazy
6. Lelaki Harimau by Eka Kurniawan
7. Akatsuki by Miyazaki Ichigo
8. Summer Triangle by Hara Hope
9. Love in Twilight by Hara Hope
10. Kupinang Engkau dengan Hamdalah by Mohammad Fauzil Adhim
11. Jalan Cinta Para Pejuang by Salim A. Fillah
13. Evergreen by Prisca Primasari
14. Dia, Tanpa Aku by Esti Kinasih
15. Selamat Menunaikan Ibadah Puisi by Joko Pinurbo
17. Blind Date by aliaZalea
18. Paper Towns by John Green
19. Lautan Langit by Kurniawan Gunadi
20. Air Mata Kopi by Gol A Gong
21. Psikologi Usia Lanjut by Siti Partini Suardiman
22. Pesona Bidadari by Firanda Andirja Abidin
23. Hujan by Tere Liye
24. Autumn Once More by Ilana Tan, dkk.
25. Dikatakan atau Tidak Dikatakan, Itu Tetap Cinta by Tere Liye
26. Kukila by M. Aan Mansyur
27. Senyum Karyamin by Ahmad Tohari
28. Nikah Muda, Siapa Takut? by Ahmad Rifa’i Rif’an
29. Orang-orang Tanah by Poppy D. Chusfani
30. Dongeng Terlezat Sedunia by Ernita Dietjeria
31. Sabtu Bersama Bapak by Adhitya Mulya
32. Mencintai Suami Jangan Setengah Hati by Dr. Najah binti Ahmad Zhihar
33. Rindu by Tere Liye

Nah, itu dia list-nya. Bagaimana? Apa bacaan kita ada yang sama? Well, aku akan senang kalau kita bisa sharing. :) Daaaan... kalau kamu penasaran buku mana saja yang masuk dalam 9 buku paling berkesan versiku, sila mampir ke sini: 2016 Reading Journey: 9 Buku Paling Berkesan.

See you there~ ^ ^