Pages

Sabtu, 05 Desember 2015

Kita dan Perjalanan

Kita sepakat bahwa setiap perjalanan memiliki artinya masing-masing. Entah itu perjalanan yang membawa kita pada arti sebuah impian, kehidupan di masa depan, atau bahkan kesenangan-kesenangan kecil yang kelihatannya remeh namun cukup berharga untuk kita miliki.

Kita menganalogikan perjalanan kita seperti dua buah garis sejajar. Ada aku dan kau di setiap ujungnya. Selalu bersisian, sesuatu yang bahkan tidak pernah kita tahu sebelumnya. Kita berjalan, pada tepian yang menjadi bagian kita. Aku terjatuh, mungkin kau juga. Aku bangkit, tertawa, menangis—dan mungkin kau juga.

Dan itu bukan kendali kita, ketika dua garis yang tadinya sejajar bertemu di sebuah titik perpotongan.

Sesuatu yang tidak kita duga. Tidak pula merupakan yang kita inginkan. Tetapi segala hal seolah seperti kebetulan. Kebetulan saja aku lelah. Kebetulan saja kau memiliki persediaan air minum yang cukup. Dan kebetulan saja aku membutuhkan air itu.

Dengan mimpi berbeda, dan pemaknaan hidup yang berbeda atau bahkan bisa jadi sama, kita mengisi ruang kosong yang disediakan waktu untuk bercerita. Tentang apa pun dan siapa pun.

Perjalanan mengajarkan kita banyak hal, bukan? Tentang kesabaran, keteguhan, mengobati kesakitan-kesakitan, dan sesuatu bernama penerimaan. Perjalanan adalah kehidupan, dan kehidupan adalah perjalanan. Sampai akhirnya, kita tersadar. Perjalanan selalu menyisakan dua hal; tujuan dan pulang.

Aku tidak tahu bagaimana mendefinisikan diri kita pada kita dalam perjalanan ini. Pemaknaanku terhadap sesuatu bisa jadi berlebihan. Satu-satunya yang kutahu adalah dua garis sejajar selayaknya harus tetap dibiarkan sebagai dua garis sejajar. Dan aku berharap aku selalu ingat. Sampai kau atau entah siapa pun di kemudian hari berbicara kepadaku tentang tujuan dan pulang;

... juga perjalanan selanjutnya.

Kamis, 19 November 2015

Dongeng Dua Konstelasi

Oleh: Evnaya Sofia       
            “Maaf, Pak. Sekali lagi, untuk yang satu ini saya tidak bisa. Saya berharap Bapak bisa memahami alasan saya. Terima kasih sebelumnya telah mempercayakan proyek ini kepada saya.”
            Kudorong map berisi tumpukan berkas itu ke arahnya.
            Lelaki di seberangku itu menggeleng. Tak percaya.

* * *


            Lelaki di sampingku ini kembali mendesah. Entah untuk yang keberapa, aku bahkan tidak ingin menghitungnya. Matanya menerawang, menatap samudera gelap yang membentang tanpa batas di atas sana. Aku masih enggan bertanya, apa artinya ritual kami malam ini. Lebih tepatnya, aku penasaran mengapa aku harus ikut serta. Hal semacam ini bukanlah hal yang kusuka. Kalau tidak berarti apa-apa, aku jelas lebih memilih meringkuk di kamar sambil membaca koleksi komik favoritku.

            Angin malam berbisik, masuk menelisiki kantong tidur kami.

            “Kakak akan menunjukkan sesuatu,” katanya, setelah keheningan yang cukup panjang.

            Dia, lelaki yang tengah berbaring di sampingku ini, kakakku. Saudara satu-satunya yang kupunya. Usia kami terpaut amat jauh. Aku baru menginjak kelas 3 SD saat kakakku memasuki semester tiga di universitasnya. Kami sangat dekat dan sering menghabiskan waktu bersama. Mungkin karena dia yang selalu ada dan mengurusiku ketika Mama sibuk dengan urusan pekerjaannya di kantor, sementara Papa telah meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan dua tahun yang lalu.

            Kakakku suka memandangi langit. Karenanya setiap pekerjaannya dilakukan di ruang terbuka di halaman belakang rumah kami. Katanya langit itu sangat indah. Dengan awan yang berarak, matahari keemasan di pagi dan sore hari, dan kerlip cahaya di atas sana yang seumpama kilau berlian ketika malam tiba. Kadang-kadang aku ikut bersamanya, meski hanya duduk dan sibuk dengan bacaanku. Tapi ketika malam, waktu yang paling mengasyikkan untuk melihat langit, aku justru enggan untuk ikut. Kakak tidak suka cahaya. Cahaya membuat apa yang ada di langit tidak terlihat. Sedang aku butuh cahaya untuk membaca. Kalau sudah begitu, malam adalah waktu untuk kami masing-masing. Mama dengan setumpuk tugas kantornya. Aku dengan komik-komikku. Dan dia, dengan langit dan binokulernya.

            Seperti malam ini. Bedanya, aku turut serta.

            Diarahkannya binokuler yang sedari tadi terkalung di lehernya ke atas. Sesaat ia menggumam, lalu menyuruhku melakukan hal serupa. Aku menurut saja. Meskipun ini bukan hal yang kusuka, aku pernah sekali dua kali mencoba menggunakan binokulernya untuk melihat langit. Penasaran sejauh mana binokuler itu bisa menampakkan apa yang ada di langit.

            Hanya ada titik-titik cahaya. Kecil, namun tampak hidup seperti mata yang mengedip. Selebihnya aku cukup hanya tahu dan menurutku tidak ada yang menarik dengan itu.

            “Tahu tidak? Titik-titik cahaya yang kamu lihat itu sebenarnya membentuk sesuatu,” katanya, menoleh ke arahku ketika aku menurunkan binokulernya dari mataku.

            “Oh ya? Bagaimana bisa?”

            “Itu seperti garis Khatulistiwa, garis imajiner yang membagi belahan bumi menjadi dua, Utara dan Selatan. Juga seperti garis Bujur, yang membagi bumi menjadi bujur Barat dan Timur. Orang-orang dahulu mengelompokkan bintang-bintang yang kelihatannya berdekatan sehingga membentuk yang namanya rasi bintang atau konstelasi. Coba lihat ke sana.” Aku mengikuti telunjuknya ke arah selatan. “Titik cahaya di situ jika ditarik garis satu sama lain akan membentuk sebuah konfigurasi khusus yang bernama Crux. Atau dikenal juga dengan nama rasi bintang Pari di Indonesia. Orang-orang menggunakan rasi ini sebagai petunjuk arah ketika tersesat di malam hari. Dengan posisinya yang selalu menunjukkan arah Selatan, kamu bisa tahu arah lainnya hanya dengan melihatnya.”

            Ia lalu mengenalkanku pada berbagai konstelasi yang bisa kami lihat malam itu. Aku terus mendengarkan sambil sesekali bertanya ini dan itu.

            Dan oke, kuakui aku mulai tertarik.

            “Kamu sedang bersinar, Ga.”

            Eh?

            “Kita di sini untuk menyaksikanmu bersinar,” ujarnya. “Auriga, nama kamu juga nama salah satu konstelasi di langit.”

            Aku mengerjap ke arahnya. Benarkah?        

            “Oke, coba lihat itu!” Ia menunjuk ke arah utara. Tangannya mengayun di udara,  menghubungkan titik-titik cahaya yang kulihat menjadi garis-garis yang kemudian membentuk sebuah pola.

            That’s you. Auriga!” serunya, membuatku tercekat. “Dan sebentar lagi kita akan melihat hujanan meteor yang bersinar darimu.”

* * *


            Itu sudah lama sekali berlalu.

            Tapi, masih jelas terbayang betapa excited-nya aku waktu itu. Mengetahui bahwa namaku berasal dari salah satu konstelasi atau rasi bintang yang ada di langit malam. Rasanya ajaib, menakjubkan, dan entah—perasaan semacam itu yang aku tidak tahu apa namanya.

            Malam itu, kami terjaga sampai larut. Menyaksikan hujan meteor Aurigids, sebutan untuk hujan meteor yang berasal dari konstelasi Auriga. Sembari awas menatap langit—takut kalau-kalau ada satu atau dua meteor yang terlewatkan oleh kami—kakak memberitahuku banyak hal. Tentang Auriga, tentang Orion (yeah, aku belum bilang ya kalau ini nama kakakku?)—nama dua rasi bintang yang juga merupakan nama kami.

            Dan juga tentang Papa.

            “Meteor-meteor itu adalah sisa dari material komet atau asteroid yang masuk ke dalam orbit bumi. Karena jumlahnya sangat banyak, timbullah hujan meteor.”

            Mengingat momen itu membuatku teringat Papa, juga Kak Orion yang kini jauh berada di belahan bumi lainnya sana. Kak Orion membangkitkan kenangan tentang Papa. Memberitahuku hal-hal yang diceritakan Papa padanya ketika aku masih terlalu muda untuk mendengarnya langsung. Papa adalah penggemar berat langit malam. Keinginannya untuk kuliah di jurusan Astronomi ditentang Kakek habis-habisan. Karenanya, ia pun memilih kuliah di Ekonomi Bisnis—dengan tetap tidak mengabaikan kecintaannya pada langit.

            Papa ingin menularkan kecintaannya pada langit pada anak-anaknya. Karena itulah kami diberi nama Orion dan Auriga. Orion karena rasi itu amat mudah dikenali hanya dengan melihat tiga bintang sejajar yang ada padanya. Seperti Papa ingin kakak menjadi orang yang mudah dikenal orang lain—entah itu karena kebaikannya, kepandaiannya, ataupun rasa empatinya pada orang lain. Seorang pemburu kebaikan.

            Aku, Auriga. Papa tidak memiliki alasan yang begitu jelas mengenai pemilihan nama rasi bintang itu menjadi namaku. Papa menamaiku Auriga hanya karena Mama amat menyukainya begitu Papa menyebutkan nama itu, terlepas dari filosofi apa pun yang berkaitan dengan Auriga dan mitologi-mitologinya yang beragam.

            And it’s been years, sejak aku jatuh cinta pada langit di malam hujan meteor Aurigids itu.

            Sejak saat itu, aku merasa Papa sangat dekat pada kami—terlepas di mana pun ia berada. Jiwa Papa telah lama hidup pada diri Kak Orion, mengirimnya ke belahan bumi lainnya sana dengan profesi yang diidamkan Papa sewaktu muda, Ahli Astronomi. Sementara aku mewarisi hobi Papa lainnya, menggambar dan mendesain bangunan—meski itu hanya sampingan di sela-sela kesibukannya sebagai salah satu petinggi di perusahaan di kota kami.

            “Bu Auriga.”

            “Ya?” aku terperangah. Anto, satpam di gedung tempatku bekerja, berdiri di depan kubikelku. “Ada apa?”

            “Apakah ada pekerjaan yang belum terselesaikan? Ini sudah pukul 9 malam, batas maksimal waktu lembur,” katanya memperingatkan.

            “Oh ya, baik. Sudah selesai kok,” ujarku, bergegas menutup jendela Stellarium yang iseng-iseng kuinstal di komputer kantor dan sesaat tadi membawaku pada kenangan Papa dan Kak Orion.

            Aku melangkah dengan kaki berat.

            I hope you’re fine with that, Ga,” April, sahabat baikku di kantor, menepuk bahuku pelan begitu kami keluar dari lift menuju halaman parkir. Kami bersalaman dan saling memeluk, sebelum akhirnya ia berkata, “You’ve made the right decision. So please don’t regret it.”

            Yeah, this is me. Auriga. Gadis berusia 23 tahun. Bekerja di biro arsitektur ternama.

            Dan aku baru saja menolak menangani tender bernilai trilyunan rupiah yang dipercayakan kepadaku.

* * *


            Aku telah membuat keputusan yang benar—tentu saja.

            Aku masih ingat betapa sulitnya memutuskan antara menangani proyek itu atau menolaknya. Di satu sisi, aku tidak ingin mengabaikan kepercayaan yang telah diberikan kepadaku. Proyek besar itu harus ditangani seseorang yang tepat,  karena keberhasilan ataupun kegagalannya akan menyangkut nama baik perusahaan. Namun di sisi lain, aku punya prinsip tersendiri yang kubangun di atas pekerjaanku. Semacam aturan pribadi yang aku tidak ingin melanggarnya.

            Pada akhirnya, proyek bernilai trilyunan rupiah itu pun beralih kepada rekan kerjaku lainnya di kantor, setelah proses yang cukup panjang karena bosku amat berharap aku yang menanganinya. Aku merasa tidak enak karena telah mengecewakan orang-orang yang berharap banyak padaku, karenanya aku memilih untuk resign dan mengambil pekerjaan sebagai kolumnis tetap di majalah arsitektur satu-satunya di Indonesia.

            Aku tidak menyesalinya. Hanya saja, apa yang kulihat membuatku sedih.

            Di kegelapan malam, mesin-mesin itu masih bekerja. Mengaungkan bunyi yang dapat ditangkap dengan mudah dalam jarak cukup jauh dari rumahku. Truk-truk kontainer bergiliran menurunkan material-material berat sebgai bahan untuk pembangunan. Gesekan besi, alumunium, dan material lainnya dengan pemotongnya menimbulkan percikan bunga api biru-oranye ke udara.

            Sudah terlalu banyak pusat perbelanjaan dan hiburan di kota kecil ini. Apa lagi yang sebenarnya orang-orang kaya itu butuhkan dari kami?

            Sebagian berteriak, tapi dibungkam oleh sebagian lagi yang punya kuasa dan kepentingan.

            Ketika aku memutuskan untuk menolak menangani proyek itu—seberapa banyak pun bayaran yang dijanjikan—aku memikirkan banyak hal. Tentang keharusan menjaga bumi. Tentang dampak yang akan ditimbulkan. Aku hanya tidak bisa membayangkan bagaimana bumi ini menjadi semakin rapuh, sementara generasi muda yang diharapkan menjadi penerus bangsa tumbuh dalam jiwa hedonisme.

            Aku tidak sedang berteori, tapi hal ini telah jelas dampaknya. Seperti yang kau lihat di kota-kota lainnya di negera ini.

            Lebih jauh dari itu, aku melihat diriku. Dan langit. Dan Kakak. Papa. Juga Mama.

            Yang bisa kaulihat bukanlah langit dengan titik-titik cahayanya, tapi lampu-lampu penerangan megah dan karbonmonoksida yang terus mengepul ke udara.

            “Itulah, Ga, kerusakan yang ditimbulkan oleh tangan-tangan manusia sendiri,” ujar Kak Orion, jauh di seberang sana. “Allah menciptakan alam ini untuk kita jaga. Bumi yang indah dengan daratan dan lautan sebagai tempat manusia mencari rizki. Bintang-bintang sebagai hiasan. Matahari sebagai sumber energi. Semuanya memiliki ketetapannya masing-masing. Karenanya, kita harus selalu menjaga dan merawat apa yang telah Allah anugerahkan kepada kita.”

            “Ya ...” aku bersuara, lirih, dengan air mata yang hampir jatuh. Tak kupedulikan angin malam yang menyergapku, membuat gamis dan khimar-ku sedikit berkibar. Aku masih memandang, jauh ke arah proyek itu tengah dikerjakan.

            “Kak ...” panggilku. “Kakak sedang bersinar.”  

            “Ya, kami sedang menyiapkan tenda untuk camping di belakang rumah, Ga.” Kami—Kak Orion, Kak Rani, dan ketiga keponakan kembarku yang baru menginjak usia lima tahun.

            Rasanya seperti melihat diriku sendiri. Dulu, ketika aku dikenalkan pada konstelasi Auriga. Sementara malam ini, Kakak pasti akan menunjukkan pada anak-anaknya tentang nama mereka; Alnitak, Alnilam, Mintaka—The Orion’s Belt.

            Hujan meteor Orionids dan ketiga bintang sejajarnya.

            Aku ingin melihatnya, tapi tak bisa.

            Tidak, dari kota yang kini penuh gedung megah dan polusi ini.

* * *

-- Juara 2 Lomba Cerpen Scientist Muslimah Event "Muslimah Pembangun PeradabanKeluarga Muslim FMIPA UGM 2015