Pages

Senin, 19 November 2018

Cara Memahami Hujan #2


Bagiku, salah satu bagian penting dari sesuatu adalah tentang bagaimana cara memahaminya. Ketika orang-orang ingin membuat kita dengan mudah memahami sesuatu, mereka akan memberi kita perumpamaan-perumpamaan. Seperti mengatakan perlunya sikap rendah hati dengan mengumpamakan padi yang semakin berisi semakin merunduk. Seperti menyamakan batu yang retak karena tetes demi tetes air terus jatuh di atasnya untuk sebuah usaha yang gigih.

Hal-hal demikian terkadang memang diperlukan, yang dengannya segala sesuatu terasa lebih dekat. Yang dengannya kita bisa melihat apa-apa yang terjadi di luar diri kita secara nyata. Yang dengan itu, kita akan jadi lebih memahami hakikat sesuatu. Atau peristiwa. Apa saja.

Maka pahamilah hujan. Yang dalam terik berkepanjangan, menantinya membutuhkan kesabaran. Akankah tiba hari ini? Sesungguhnya tak ada yang benar-benar pasti kecuali hal-hal yang telah menjadi jaminan.

Hidup setelah matinya; tanaman yang kita tanam, zaitun, anggur, dan berbagai macam buah-buahan. Hidup setelah matinya; hujan adalah rahmat yang memuat pesan dari langit. Perumpamaan yang dengannya Allah ingin kita memahami hakikat sesuatu.

وَاللَّهُ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ

“Dan Allah menurunkan air (hujan) dari langit, dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi yang tadinya sudah mati. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran).” (QS. An-Nahl: 65)

Maka pahamilah hujan. Yang tanpanya, bumi tidak akan mampu bertahan. Yang dengannya, Allah ingin kita memahami ayat sebelumnya bahwa ibarat bumi yang mati, demikianlah yang terjadi pada peradaban manusia jika tidak Allah turunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk juga rahmat.

وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
“Dan Kami tidak menurunkan kitab (Al-Qur’an) ini kepadamu (Muhammad), melainkan agar engkau dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu, serta menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nahl: 64)

Pahamilah hujan, yang dengan kuasa-Nya Allah sendiri yang menyebarkannya di permukaan bumi. Maka tidak dengan Al-Qur'an, Allah hanya menurunkannya pada satu manusia, Muhammad saw. Betapa istimewanya. Yang agar dengan Al-Qur'an itu peradaban manusia kembali hidup dan tertata, akhlak dan moral menjadi baik. Maka, Nabi Muhammad saw. perlu mengajarkannya ke para sahabat, sahabat ke tabi’in, tabi’in ke tabiut tabi’in, begitu seterusnya sampai kita hari ini.

Kemudian...

يُنْبِتُ لَكُمْ بِهِ الزَّرْعَ وَالزَّيْتُونَ وَالنَّخِيلَ وَالأعْنَابَ وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dengan (air hujan) itu Dia menumbuhkan untuk kamu tanam-tanaman, zaitun, kurma, anggur, dan berbagai macam buah-buahan. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir.” (QS. An-Nahl: 11).

Hujan menumbuhkan yang kita tanam, zaitun, kurma, dan anggur, yang selanjutnya perlu kita rawat. Meski demikian, entah di kedalaman hutan atau bahkan tempat-tempat yang kita tak pernah berpikir manusia bisa menjamahnya, selalu ada berbagai tumbuhan yang tumbuh karena hujan tanpa perlu sedikit pun usaha kita untuk merawatnya.

Maka demikianlah Al-Qur'an itu bagi kehidupan manusia. Adalah kewajiban kita untuk terus mendakwahkan ayat-ayat-Nya, menebar benih-benih kebaikan untuk mengajak manusia mengamalkannya. Kita tidak pernah tahu kelak benih mana yang akan menumbuhkan keimanan di hati seseorang. Seperti ketika Allah menyebut zaitun, kurma, dan anggur, di surah An-Nahl ayat 11, maka semuanya ibarat benih kebaikan yang berusaha kita rawat dan kelak akan menumbuhkan keimanan pada orang-orang terdekat. Sementara ketika Allah mengatakan “wa min kulli-tstsamaraat (berbagai macam buah-buahan)”, maka itulah benih kebaikan yang dengan cara Allah bisa tersebar kepada seseorang yang kita bahkan tidak berpikir pernah mengenalnya.

Meski usaha yang aku, kamu lakukan untuk menebar benih kebaikan barangkali hanya sedikit, terus lakukan dan jangan pernah berhenti. Itu akan tetap berarti bagi orang-orang terdekat, atau orang-orang yang entah berada di mana. Cukup lakuakan tugas kita sebagai umat terbaik, lalu biarkan hidayah Allah bekerja bagi siapa yang Dia kehendaki.

Dan semoga dengan itu, Allah hidupkan kehidupan kita dengan rahmat Al-Qur'an. Allah tumbuhkan keimanan kepada ayat-ayat-Nya sebagaimana Allah tumbuhkan bumi yang tadinya mati dengan hujan.

* * *
—terinspirasi dari video lecture Ustadz Nouman Ali Khan Kemiripan Al-Qur’an dan Hujan oleh NAK Indonesia yang kutemukan beberapa saat setelah menulis Cara Memahami Hujan #1. Kemudian, aku juga menonton versi lengkapnya: The Impact of the Qur'an on Our Lives. Sungguh, apa yang kutulis tidaklah ada apa-apanya dibanding penjelasan Ustadz Nouman Ali Khan mengenai Al-Qur’an, hujan, dan bagaimana pengaruhnya bagi kehidupan manusia di bumi. Materinya sangat kaya dan benar-benar memberikan pemahaman baru tentang sesuatu yang mungkin kita tidak pernah pikirkan sebelumnya. Recommended!