Pages

Minggu, 28 Januari 2018

Kamu yang Hening


Aku suka keheningan, dan akan lebih suka bila itu kamu.

Meski dengan itu, aku tidak akan bisa menemukan jejakmu di mana-mana. Bahkan dalam data mesin pencarian paling canggih abad ini. Kamu begitu tak terdeteksi. Pun, kamu menyukai dirimu yang seperti itu.

Kamu bisa jadi seseorang yang dekat, tapi tidak menutup kemungkinan juga bila jauh. Kamu yang sering berjongkok dalam tumpukan buku penuh debu di toko buku tua itu. Kamu yang punggungnya hanya kulihat sekilas dalam perjalanan pertamaku naik kereta seorang diri malam itu. Atau kamu yang diam-diam membaca ini tanpa berusaha meninggalkan jejak, bisa saja kan?

Kita yang tidak pernah bertemu, atau kita yang pernah bertemu tapi tak saling mengenali. Di antara keduanya adalah misteri. Semua hal itu memberitahuku,

bahwa kamu sehening itu.

Entah, untuk beberapa hal, menjadi hening tidak pernah benar-benar mudah. Tapi kamu melakukannya.

Kamu yang tidak banyak bicara, tapi jadi candu bila berkata. Perubahan-perubahan lahir dari sana. Kamu yang tidak suka memberitahu siapa pun ketika sedang duka, namun mampu membuat tergugu ketika menyuarakan kalam-kalam-Nya.

Kamu yang hening sepanjang hari. Kamu yang tertunduk saat mendapat sesuatu yang tidak seharusnya kamu pandang. Kamu yang menjaga diri dari bangga, bahwa orang-orang bisa jadi terpikat dengan kebaikan-kebaikan kecilmu. Kamu yang tidak ingin menularkan rasa. Tetapi perempuan-perempuan dengan sendirinya akan merasa, bukankah sering seperti itu? Dan itu yang sebenarnya berusaha sedang kamu jaga, karenanya kamu sehening itu. Sedingin itu.

Adalah semesta yang banyak merekam ingatan tentangmu.

Ia yang tahu bagaimana kamu terjaga di suatu tempat, di sepertiga malam itu. Kamu yang terbiasa merahasiakan apa pun dari siapa pun, bisa banyak bersuara di waktu itu. Kamu yang paling hening sepanjang hari,

tapi doa-doa itu; yang ada seseorang di dalamnya,

ia tidak sehening itu.

Tidak akan pernah sehening itu. Ia mengundang para malaikat mendekat, lantas mengaminkan setiap yang kauheningkan di sepanjang hari itu. Kamu yang paling mengetahui bagaimana menggetarkan langit, dengan pintamu kepada-Nya. Ia menguntaikan tangga langit sampai ke pucuk jemarimu. Kelak, menjelma dari doa-doa itu kebahagiaan bagi siapa pun yang berada di dekatmu. Dan barangkali ia akan sampai juga kepadaku, jika aku seheningmu.

Agar keheninganmu menular, aku sedang mengusahakannya.

Jadi, selagi menunggu,
tetaplah sehening itu—kepada siapa pun, termasuk kepadaku.