![]() |
| I owe the picture here |
Lulus SNMPTN sudah pasti menjadi impian setiap siswa yang berniat melanjutkan ke Perguruan Tinggi Negeri. Dan itulah yang saya alami, kemarin. Kemarin? Iya, kemarin, sebelum saya dinyatakan ‘TIDAK LULUS’ SNMPTN 2013. Kalau saya tidak berbesar hati ataupun siap mental, mungkin saya tidak akan menulis tulisan ini. Mungkin saya akan mengurung diri di kamar, menangis sambil menyalahkan Tuhan. Tapi tidak, siapa kita yang sok-sokan menyalahkan Tuhan?Perjuangan saya bukanlah perjuangan yang instan. Perjuangan saya dimulai ketika saya telah menginjak bangku SMA. Saya ingat, waktu itu saya menolak ketika diajukan untuk mengikuti seleksi menjadi pengurus OSIS di sekolah. Alasan saya sederhana, ingin lebih fokus belajar karena masa SMA adalah masa yang berat dan sangat menentukan sebagai persiapan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.
Tulisan
di atas adalah tulisan saya 2 tahun yang lalu, tepat pada tanggal 27 Mei 2013,
sesaat setelah pengumuman SNMPTN dan saya dinyatakan tidak lulus. Saya
memberinya judul “Menarik Hikmah dari SNMPTN 2013”. Saya sengaja mencari draft
tulisan tersebut yang untungnya masih tersimpan rapi dalam folder di notebook
saya. Saya mencarinya karena saya tahu tulisan itu tidak pernah selesai. Dan
saat ini saya berniat melanjutkannya, di momen yang sama karena hari ini, 9
Mei, pengumuman SNMPTN 2015 dilaksanakan.
Masih
teringat jelas di dalam kepala saya bagaimana perasaan saya waktu itu. Hancur,
kecewa, dan ingin protes pada Tuhan, “Ya Allah, kenapa aku nggak lulus?” begitu
melihat pengumuman yang tertera di layar. Sesaat saya berusaha menguasai diri,
namun air mata saya tetap keluar juga. Jadilah saya menulis tulisan yang
bercetak miring di atas dalam rangka ‘menegarkan’ diri sambil sesekali menahan
air mata yang terus menerus ingin tumpah. Hati kecil saya berusaha menyangkal
pikiran-pikiran negatif yang muncul waktu itu; hei, Evi, memangnya kamu
siapa sehingga kamu berhak menyalahkan Tuhan? Sudahlah, terima saja. Toh
itu bukan jalan satu-satunya. Masih ada jalan yang lain, kan? Teman-temanmu
juga banyak yang nggak lulus kok.
Yah,
meskipun pada akhirnya tulisan itu tak selesai, saya sedikit banyak mampu
menguasai diri. Sejujurnya, faktor yang paling dominan yang mampu membuat saya
berbesar hati adalah karena banyak teman-teman sekolah saya yang juga tidak
lulus (jadi nggak merasa sendiri karena ada yang senasib juga, hehe). Sempat
heran juga, malah yang sebenarnya harapan lulusnya sangat kecil ternyata bisa
lulus, di jurusan dan universitas yang bergengsi pula! Saat itulah saya tahu
keberuntungan dan keajaiban itu ‘bekerja’.
Demi
impian masuk PTN, saya pun mendaftar jalur SBMPTN. Waktu itu saya mengambil
program IPS. Bisa dibilang kesasar, karena pas SMA saya adalah anak IPA.
Mungkin lebih tepatnya anak IPA yang mampu di eksakta tetapi berjiwa sastra.
Bingung? Hehe, jadi begini, singkatnya adalah saya merupakan orang yang sejak
SD rutin mengikuti Olimpiade, khususnya dalam bidang IPA (IPA Terpadu,
Astronomi, Geosains) dan beberapa kali sempat menjadi juara, baik tingkat
kecamatan maupun kabupaten (provinsi hanya sampai pada ajang kompetisinya saja,
hehe). Di sisi lain, saya juga hobi membaca, dan karena membaca itulah timbul
hobi selanjutnya, menulis. Saya mulai aktif menulis di SMA dan mengikuti
ajang-ajang kompetisi yang beberapa alhamdulillah tidak berakhir
sia-sia.
Obsesi
saya ketika telah masuk SMA adalah fokus belajar dan berprestasi karena itu
adalah jalan yang akan memudahkan saya untuk masuk PTN dengan jalur seleksi
tanpa tes, yaitu dengan melampirkan bukti prestasi atau piagam. Saya sengaja
menolak ketika dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam daftar anggota calon
pengurus OSIS. Saya dan teman-teman yang sepakat untuk tidak masuk organisasi
apa pun (kecuali organisasi kelas, itu pun cuma jadi Seksi Kekeluargaan :D)
terpaksa kabur karena kakak-kakak itu memaksa kami untuk mencoba melakukan tes
terlebih dahulu (yang ini jangan dicontoh ya).
Saya
sempat bingung menjelang penjurusan. Sempat ingin masuk kelas Bahasa hanya
karena di sana ada mata pelajaran Bahasa Jepang. Tetapi berdasarkan
rekomendasi, saya disarankan masuk IPA saja. Nah, yang membuat saya kewalahan
adalah program SBMPTN yang saya ambil memuat mata pelajaran yang tidak
diajarkan di kelas IPA, seperti Sosiologi dan Ekonomi. Untuk Geografi dan
Sejarah alhamdulillah sedikit banyak saya tahu. Saya mengambil jalur
IPS/Sosial Humaniora karena di sanalah jurusan Sastra bernaung, hehe. Segala
yang berhubungan dengan Sastra; sastra murni ataupun pendidikan. Satu lagi yang
menjadi kandidat jurusan saya adalah Psikologi, yang juga bernaung di bawah
jalur IPS/SosHum.
Menjelang
SBMPTN, saya pun mengumpulkan buku-buku IPS dan terpaksa mengurung buku-buku
IPA yang beberapa bulan terakhir rutin menemani saya menjelang UN. Ekonomi
adalah tantangan terberat; harus hafal teori, hafal rumus, hafal istilah.
Singkat cerita saya mendadak berubah menjadi seseorang yang pikirannya dipenuhi
teori-teori sosial.
SBMPTN
justru lebih mendebarkan lagi. Rasanya tidak ingin gagal untuk yang kedua kali.
Saya mati-matian ingin kuliah di UGM. Saya percaya ketidakmungkinan itu ada
karena karena adanya kemungkinan. Hamba maunya UGM, Yaa Allah. Hamba mohon,
kalaupun UGM bukan yang terbaik untuk hamba, Engkau sungguh Mahakuasa
menjadikannya yang terbaik untuk hamba. Hasilnya? Gagal!
Oke,
kegagalan di SBMPTN menjadi titik terberat dalam hidup saya. Saya mengurung
diri di kamar; belajar, belajar, dan terus belajar. Saya mengingat semasa SMA,
bertanya kepada Allah kenapa saya harus gagal lagi padahal saya sudah berusaha
keras. Usaha saya untuk mengumpulkan bukti prestasi terasa sia-sia karena toh
pada akhirnya itu tidak bisa membuat saya masuk PTN yang saya inginkan. Saya
mendadak ingin protes, di saat saya telah taat pada-Nya dengan berbuat jujur
sewaktu UN kenapa Allah justru tidak mengabulkan ketika saya meminta.
Sejujurnya, UN SMA adalah UN terjujur dalam hidup saya. Sungguh berat karena
saya harus menghafal berbagai macam teori dan rumus di luar kepala, ditambah
pelaksanaan UN waktu itu merupakan UN yang paling amburadul karena pertama
kalinya diterapkan UN sistem 20 paket dengan lembar jawaban menggunakan barcode.
Selain
karena gagal untuk yang kedua kali, banyak teman-teman yang kemudian lulus
SBMPTN, sementara saya tidak. Saya merasa seorang diri. Saat teman-teman yang
lain sibuk registrasi di PTN A, B, dan C, saya masih harus bolak-balik
Bali-Malang untuk tes mandiri UM, lalu Bali-Jogja untuk tes mandiri UNY.
Kesabaran saya benar-benar teruji di situ. Pagi hari menjelang tes mandiri UNY
adalah pengumuman hasil tes mandiri UM. Saya ingin melihat pengumuman di
internet, tapi saya takut jika hasilnya justru akan mengecewakan dan itu lantas
akan berpengaruh pada kondisi psikis saya karena saya masih harus mengikuti tes
mandiri UNY pagi itu juga. Bismillah, dengan sedikit keberanian saya pun
membukanya. Hasilnya? Kembali gagal!
Seperti
pertarungan antara hidup dan mati ketika saya mengerjakan soal-soal tes mandiri
UNY. Ya Allah, tinggal ini harapan hamba satu-satunya, saya berkata
lirih dalam hati setiap akan melingkari lembar jawaban. Dan ternyata kegagalan
tidak puas datang tiga kali. Saya kembali gagal masuk UNY. Saat itu rasanya
saya benar-benar hancur. Tidak tahu harus bagaimana lagi. Saya sudah lelah
kalau disuruh ikut tes apa pun. Akhirnya sampailah pada sebuah pilihan yang
diutarakan Bapak saya, “Kalau mau berhenti satu tahun ambil bimbel biar masuk
UGM, nggak apa-apa. Tapi untuk sekarang, coba kirim berkas ke UMY.”
Oke,
saya menyanggupinya. Tapi...
“Kenapa
harus KKI? Kenapa harus di Fakultas Agama Islam?” saya protes, karena waktu itu
saya inginnya Ilmu Komunikasi.
Jawaban
bapak sangat sederhana, “Karena Ilmu Agama nggak hanya berlaku untuk di dunia
saja, tetapi juga untuk kita ke akhirat.” Kaku sekali, begitu pikir saya waktu
itu. Saya kembali ingin protes, tapi... ah ya sudahlah.
Singkat
cerita, saya pun diterima di KKI (Komunikasi Konseling Islam, konsentrasi dari
Komunikasi dan Penyiaran Islam) UMY. Saya terkagum-kagum dengan jargon yang
didengungkan mengenai universitas saya sewaktu mataf (masa taaruf alias ospek),
“Selamat datang di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta; Unggul dan Islami, Muda
Mendunia.” Maasyaa Allah, terlebih lagi setelah tahu bahwa semua
mahasiswinya wajib mengenakan jilbab. Di kelas, saya bertemu teman-teman baru
yang hangat. Dosen-dosen yang luar biasa menginspirasi dan tidak pernah lelah
memotivasi mahasiswanya. Saya banyak belajar dan perlahan merasa nyaman. Nyaman
sekali sampai akhirnya saya menyadari arti di balik kegagalan saya selama ini. Bahwa
pilihan Allah tidak pernah salah. Bahwa Allah sangat mencintai saya
sehingga ia mendekatkan saya pada jalan yang dikatakan orangtua saya akan
membawa saya pada kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Saya
meyakini bahwa sesuatu terjadi karena beberapa alasan. Everything happens
for reasons. Dan terkadang alasan-alasan itu tak bisa kita ketahui secara
langsung. Saya butuh beberapa bulan untuk mengetahui kenapa saya harus gagal
berkali-kali dan berujung masuk PTS. Ketika saya tahu, maka tak ada yang tak
patut disyukuri. Beberapa alasan sangat personal, dan memang Allah Mahatahu apa
yang tampak dan tersembunyi. Saya mantap menolak ketika disarankan mengikuti
tes apa pun untuk masuk PTN. Semua itu karena dua hal: 1) saya yakin ini in
syaa Allah akan menjadi yang terbaik untuk saya, 2) saya bukan lagi orang
yang patah hati karena tidak lulus UGM (waktu itu saya patah hati berat karena
kehilangan kesempatan masuk UGM, hehe), 3) banyak hikmah yang saya dapat dan
beberapa alasan sangat personal.
Saya
sampai pada suatu kesimpulan bahwa setiap kegagalan menyimpan sebuah
pelajaran berharga. Kalaupun seandainya saya tetap memaksa lulus di UGM,
itu akan terasa sangat berat dan mungkin saya tidak akan pernah sampai ke diri
saya yang sekarang. Allah knows the best for us.
“... Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki.”(QS. Al-Baqarah: 255)
Saya
tahu, banyak orang di luar yang mengalami hal-hal yang mungkin lebih berat dari
yang saya alami waktu itu. Bisa jadi apa yang saya tulis tidak ada apa-apanya
dibanding apa yang terjadi pada mereka. Lalu, terima kasih untuk orang-orang
yang saat itu menguatkan saya dan membantu saya bangkit dari titik nadhir. ^^
Untuk adik-adik yang tahun ini tidak lulus SNMPTN (ataupun SBMPTN ke depan dan
tes lainnya), jangan berkecil hati. Terus berikhtiar, in syaa
Allah akan selalu ada jalan untuk orang-orang yang mau berusaha. ^^
