Pages

Sabtu, 28 Desember 2019

Menjadi Dewasa, Berarti ...

Dahulu, kamu bertanya-tanya, seperti apa rasanya menjadi dewasa. Seperti apa rasanya jatuh cinta. Seperti apa rasanya memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan. Seperti apa rasanya bekerja dan memiliki gajimu sendiri. ⁣
Sekarang, kamu tahu, bahwa ternyata menjadi dewasa tidak sesederhana itu. Tak hanya fisikmu, jiwamu juga diharuskan untuk bertumbuh. ⁣
Karena menjadi dewasa berarti bersedia berdamai dengan ego. Menjadi dewasa berarti menyediakan ruang untuk kritik, rasa kecewa, juga berbagai emosi negatif yang mungkin kamu temui dalam perjalanan. Menjadi dewasa berarti bersiap terhadap berbagai kemungkinan, bahwa tidak semua yang kamu harapkan akan sesuai dengan kenyataan.⁣
Bukan pada tahap kamu seusia berapa, melainkan pada setiap fase yang kamu lalui sejak mengenal perihal baik dan buruk, boleh dan tidak; semua adalah proses berlatih menjadi dewasa, yang telah Allah tetapkan sesuai dengan batas dan kadar kemampuanmu. Setiap fase memiliki tantangannya sendiri. Jika pada fase tertentu kamu merasa sungguh tidak sanggup, ingin menyerah, dan bahwa apa yang kamu alami terasa begitu berat dan tak sebanding dengan usiamu: Allah telah memilihmu, dan toh pada akhirnya kamu bisa melewatinya kan?

Terkadang, kamu berhenti sejenak, melakukan semacam monolog dan melihat jauh ke belakang; bahwa telah banyak yang kamu lalui dan itu semua tidak selalu menyenangkan. Luka, penyesalan, kecewa, tidak percaya diri, kamu sudah pernah merasakannya satu-satu. Bahwa waktu dan prasangka baik adalah obat, ternyata benar ya.

Ya, kamu berhasil melewatinya dan itu membuatmu ada di sini sekarang. ⁣Merenungi berbagai hal, bertanya banyak hal, menimbang-nimbang sebelum memutuskan satu dari sekian pilihan yang menyulitkan. Apa yang selanjutnya harus dilakukan, apa yang bisa dipersiapkan, apakah sudah cukup baik dalam melakukan berbagai hal. Kamu mencari tahu dan terus berupaya melatih diri tentang bagaimana cara terbaik untuk merespons hal-hal yang tidak kamu sukai. Kamu berupaya bisa sepenuhnya teguh memegang prinsip alih-alih hanya mengikuti apa yang dikatakan dan dilakukan orang-orang.⁣

Lebih daripada itu, bukankah kamu pada akhirnya jadi lebih siap? Kamu tiba-tiba merasa dirimu begitu terlatih sehingga bisa mengatakan, "Aku sudah pernah mengalami ini sebelumnya. Sebagaimana Allah memudahkan yang sebelumnya, pasti kali ini Allah juga akan menolongku."⁣
Allah memang tak pernah absen menyediakan pengalaman-pengalaman menyenangkan. Dengan itu, kamu mampu melangkah lebih yakin, lebih positif. Karena pada setiap hal, Allah selalu membuatnya berpasangan; laki-laki dan perempuan, siang dan malam, terik dan hujan, maka itu berarti pula... kesulitan akan senantiasa diiringkan dengan kemudahan. Semua itu dibutuhkan agar kamu cukup dewasa dalam menghadapi berbagai persoalanmu sebagai manusia.⁣
Sekarang, kamu bertanya-tanya apakah kamu sudah cukup dewasa. Hm, kamu tidak akan pernah tahu sampai orang-orang melihat bagaimana caramu bersikap, caramu bertutur, caramu merespons setiap masalah. Dan soal apakah kamu cukup bijaksana dan adil untuk diminta memutuskan perkara, juga perihal menjaga amanah dan rahasia. ⁣
Pada akhirnya, tidak ada tolok ukur yang benar-benar pasti soal menjadi dewasa, mengingat manusia sendiri tak sempurna. Ada saat-saat di mana kita mengeluh, tak mampu mengontrol emosi, dan bersikap semaunya. Tetapi, di antara semua itu, kita bisa mengingat satu hal,⁣
bahwa menjadi dewasa adalah sebuah proses, kita bisa mencobanya di berbagai kesempatan, bahkan saat sudah telanjur salah menempatkan diri sekalipun. Dan itu hanya bisa dilakukan ketika kita memahami bahwa kita sungguh tak punya kuasa atas diri kita juga orang lain;⁣
hanya Allah yang punya. :')⁣


Rabu, 04 Desember 2019

[Book Review] Belajar Zero Waste: Menuju Rumah Minim Sampah by DK Wardhani


Maaf ga jago ambil fotonya~ 😩

Judul: Belajar Zero Waste: Menuju Rumah Minim Sampah
Penulis: DK Wardhani
Tebal: 180 halaman
Terbit: Cetakan 1, Agustus 2018
Penerbit: Pustaka RMA 

Aku sendiri lupa kapan persisnya pertama kali mendengar istilah "zero waste". Sepertinya 2018 lalu, saat itu aku melihat gambar yang dibagikan orang-orang terkait ditemukannya botol shampo berusia puluhan tahun yang tak terurai dan tetap berstatus sebagai sampah. Dari situlah kemudian aku membaca mengenai topik zero waste, mengikuti akun-akun yang fokus pada isu lingkungan, sampai pada mendapatkan informasi terkait pre order buku ini. 

Buku ini mendarat di tanganku pada awal Oktober tahun lalu. Yang membuatku kaget (dan sedikit bingung), bukunya sama sekali tak bersegel! Hanya berselimut amplop putih-hijau yang cantik. Kamu pasti sepakat, ya gimana ya, suka aneh gitu kalau dibilang buku baru tapi ga bersegel plastik.

Barangkali menyadari kebingunganku, Mbak yang kutitipi untuk pre order berujar, "Ini memang dari sananya kayak gini ya, Dek." 

Mm, oke--oh gitu. Aku pun tidak berpikir terlalu jauh soal itu. Sampai akhirnya, ketika berjalan di timeline Facebook, aku melihat video dari akun Mbak Dini, sang penulis, mengenai pengiriman minim sampah. Akan sangat tidak masuk akal bila buku yang berbicara tentang bagaimana belajar hidup minim sampah tapi dalam segala prosesnya tidak menerapkan apa yang sudah dituliskan dalam buku. Jadi sebenarnya memang alasan buku ini tidak bersegel, tidak dibungkus plastik saat pengiriman via pos, semuanya ada alasannya: untuk meminimalkan sampah.

Aku sendiri bukan aktivis lingkungan, tidak pernah terjun dalam kegiatan lingkungan apa pun. Tapiii, karena diriku ini suatu saat akan berumah tangga, dan dari yang kubaca bahwa segala permasalahan sampah yang mencemari lingkungan dan soal terbatasnya sumber daya alam ini erat kaitannya dengan manajemen sampah rumah tangga, aku jadi penasaran dan memutuskan membeli buku ini.

Alur pembahasan yang ada di buku ini menurutku sangat tepat. Di bab awal, kamu akan disuguhi informasi mengenai apa itu zero waste dan kenapa kita harus mulai menerapkan hidup zero waste. Dipaparkan pula fakta-fakta terkait pencemaran lingkungan yang ternyata meliputi segala aspek mulai dari tanah, air, juga udara, diakibatkan oleh sampah yang tidak berusaha diminimalisir dan tidak terkelola dengan baik. 

Selama ini kita berpikir bahwa membuang sampah pada tempatnya itu sudah benar. Itu menjadi doktrin sejak kecil, sejak kita berada di bangku sekolah, tanpa kita tahu bagaimana mencegah, memilah, apalagi mengolah. Dan yang paling penting, ketika lingkungan sekitar kita bersih, kita merasa semuanya sudah beres. Padahal, sejatinya sampah yang kita singkirkan itu kemudian akan menumpuk di TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Sejatinya, sampah yang kita bakar itu kemudian akan mencemari tanah, air, dan udara. 

Dahulu kita tidak pernah khawatir mengenai hal itu. Tetapi, saat ini, ketika kita dapat melihat dengan jelas bahwa sampah menggunung di mana-mana, mencemari lingkungan dan ekosistem, barulah kita sadar bahwa membuang sampah pada tempatnya tidak lagi relevan. Hal yang demikian inilah yang berusaha dijelaskan penulis pada bab selanjutnya; tentang ke mana perginya sampah selama ini dan apa yang terjadi setelah sampah pada akhirnya menghilang dari rumah kita. 

Buku ini juga menyajikan bagaimana caranya meminimalkan sampah. Tak hanya berkaitan dengan dengan pola konsumsi dalam rumah tangga, tetapi juga strategi yang harus kita terapkan ketika berbelanja, bepergian, mengadakan acara, dan lain-lain, yang diceritakan langsung oleh orang-orang yang sudah mempraktikkannya. Penulis juga memaparkan solusi terkait ini, yakni dengan: cegah, pilah, dan olah. Masing-masing komponen ini dijelaskan dengan detail di dalam buku. 

Banyak keraguan dan permasalahan yang kita alami ketika ingin memulai hidup nol sampah. Tapi penulis, dan pengalaman orang-orang yang diceritakan dalam buku ini memberikan gambaran bahwa itu bukanlah suatu yang mustahil. Penulis sendiri memberikan solusi dengan berbagi tips yang bisa kita lakukan untuk membuat sisa konsumsi rumah tangga tidak hanya berakhir membusuk di tempat sampah; melalui komposter, lubang biopori, ecobrick, bahkan termasuk bagaimana memanfaatkan minyak jelantah, biji lerak, dan kulit buah jeruk sebagai produk pembersih atau pengharum yang bisa digunakan dalam rumah tangga. 

Meski begituuu, rasanya buku ini tetap kurang tebal, wkwk. Masih banyak yang ingin diketahui seputar memulai hidup nol sampah; tips belanja online minim sampah, edukasi pada orang-orang sekitar, mengatasi sampah plastik yang terlanjur menumpuk di lingkungan sementara tak ada bank sampah, dan lain sebagainya--saking hal ini merupakan sesuatu yang benar-benar baru untukku. Nah, kecenya buku ini dilengkapi dengan jurnal yang bisa kita isi untuk memulai belajar hidup nol sampah. Daaann... ilustrasi di dalamnya itu loh, sukses membuatku benar-benar tertampar, hiks.

Membaca buku ini bukan hanya soal kita sadar pentingnya mencegah sampah, hidup minim sampah, tapi lebih pada: alam ini adalah karunia yang harus kita jaga, kita diperintahkan untuk menjaganya, jangan merusaknya. Alam ini adalah amanah yang Allah titipkan untuk manusia, untuk kelangsungan hidup manusia itu sendiri. 

Memang, dalam praktiknya tidak semudah yang kubayangkan. Aku sendiri juga masih sering kesusahan untuk tidak nyampah. Tapi sejauh ini, kewajiban kita adalah terus berproses, bukan? 

"Menuju nol sampah bukan menjadikan kita sebagai malaikat, tapi menjadikan kita sebagai manusia yang peduli dan bertanggung jawab." 
--DK Wardhani



Sabtu, 20 Juli 2019

Laki-laki Gunung Es

Di antara sekian banyak laki-laki yang kamu kenal, kamu memang akan menemukan laki-laki serupa gunung es. 

Laki-laki yang enggan memulai pembicaraan apa pun kepada perempuan kecuali hal-hal yang menurutnya benar-benar penting. Laki-laki yang sangat irit bicara, seakan kosakatanya menyusut sekian persen bila berhadapan dengan perempuan, tetapi pada saat yang sama bisa begitu banyak bicara pada teman-teman akrabnya. Laki-laki yang ketika kamu mengajaknya bicara, kamu seolah merasa diabaikan hanya karena ia tidak benar-benar menatapmu.

Laki-laki seperti ini, ia tahu bagaimana memetakan antara dirinya dengan dirimu. Ia mengerti bagaimana caranya menjaga kehormatan seorang perempuan sepertimu. Ia memahami bahwa ada hal-hal yang harus ia jaga atas dirinya dan dirimu.

Ia memang sedingin itu, seperti gunung es. Tapi percayalah, semuanya tidak mudah. Ia sungguh sedang berjuang menjalankan perintah Rabb-nya. 

Ia begitu takut kepada-Nya. Ketakutannya itu mengantarkannya kian dekat dengan Rabb-Nya. Kedekatannya itu membuatnya semakin taat. Kamu melihat takwa dari caranya menundukkan pandangan. Kamu melihat takwa dari tutur katanya yang tak berlebihan. Kamu melihat takwa dari semua perilakunya terhadap siapa pun. 

Sebagai perempuan, kamu merasa begitu dimuliakan. Merasa dihormati dengan cara yang paling memanusiakan. Maka demikian pulalah selayaknya kamu memetakan dirimu sendiri sebagai perempuan; dengan menundukkan pandangan, dengan menjaga kehormatan, 

dengan menjadi sebaik-baik perhiasan.

---

Tulisan ini di-request oleh seorang teman. Sudah dituliskan ya, kamu. :')


Minggu, 23 Juni 2019

Qur'an Journaling #6: Memaafkan Seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq

وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ   رَحِيمٌ

Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nuur: 22)


Ayat ini turun berkaitan dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq yang bersumpah untuk tidak lagi memberikan tanggungan kepada kerabatnya, Misthah bin Atsatsah. Ini disebabkan karena Misthah termasuk salah seorang yang ikut menyebarkan berita bohong mengenai Aisyah pada peristiwa haaditsatul ifki. Allah kemudian menegur sikap Abu Bakar Ash-Shiddiq melalui ayat ini.

Allah menggunakan kata السَّعَةِ yang berarti kelapangan, secara harfiah berarti benar-benar cukup finansial (kaya). Allah tidak menggunakan kata 'banyaknya harta' secara langsung, akan tetapi penggunaan kata السَّعَةِ ini sekaligus memberikan kesan bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq merupakan seseorang dengan kelapangan hati yang besar, ia sangat baik dan murah hati. 

Kemudian, mempelajari ayat ini mengingatkanku pada apa yang telah kupelajari di Qur'an Journaling hari ketiga. 

"Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri. (Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim." (QS. Asy-Syura: 39-40).

Ketika membahas mengenai QS. Asy-Syuraa: 39-40 ini, Buya Hamka mengatakan bahwa tidaklah disebut keluar dari garis keimanan bila seorang mukmin membalas karena dianiaya. Seorang mukmin berhak mempertahankan diri. Lantas kemudian barangkali sebagian kita berpikir bahwa merupakan suatu kewajaran bila Abu Bakar Ash-Shiddiq bersumpah untuk tidak memberikan tanggungan kepada sepupunya, Misthah bin Atsatsah, bersebab perbuatan Misthah yang ikut menyebarkan berita bohong mengenai Aisyah. Ini bukan hanya soal Aisyah adalah putrinya, melainkan juga bahwa Aisyah adalah Ummul Mukminin, istri Rasulullah. 

Namun, dalam ayat 40 surah Asy-Syuraa Allah kemudian berfirman, "... tetapi barangsiapa memaafkan dan mencari jalan damai atau berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat), maka pahalanya dari Allah." Ini adalah jalan dari Allah bagi mukmin yang ingin imannya sempurna. Hal demikian pula yang Allah anjurkan pada ayat 22 surah An-Nuur, agar Abu Bakar Ash-Shiddiq memaafkan dan berlapang dada. 

Selanjutnya, menurut Buya Hamka dalam tafsirnya mengenai ayat 22 surah An-Nuur ini, bahwa meskipun dalam kondisi marah seorang mukmin hendaknya tetap berlaku adil. Apa yang mereka lakukan tak lain karena terpengaruh oleh masifnya penyebaran berita bohong tersebut. Beberapa orang di antara mereka telah menerima hukumannya berupa 80 kali dera, maka yang demikian itu cukuplah bagi jiwa mereka.


Bagaimana pun, mereka termasuk orang-orang yang turut berhijrah dari Mekah ke Madinah dan ikut serta dalam berbagai upaya menegakkan agama Allah. 

Ayat ini juga menunjukkan kepada kita betapa mulianya Islam mengatur hubungan sesama manusia. Allah melarang kita menyimpan dendam, sebaliknya Allah mengajarkan kita menjadi hamba yang pemaaf sebagaimana Allah memerintahkan Abu Bakar untuk memaafkan Misthah dan tidak menghentikan bantuannya kepada kerabatnya itu. 

"Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu?"

Maa syaa Allah.

Persoalan memaafkan ternyata bukan hanya antara kita dengan orang yang kita anggap salah, melainkan juga antara kita dengan Allah. Saking mulianya perkara memaafkan dan berlapang dada atas kesalahan orang lain ini, Allah memberikan jaminan berupa ampunan kepada hambanya yang mau memaafkan. Tidakkah kemudian kita berpikir bahwa barangkali kesalahan orang lain terhadap kita hanya setitik dibanding dosa-dosa kita kepada Allah? Tidakkah kita ingin Allah mengampuni dosa-dosa kita? Maka inilah kesempatan yang Allah berikan untuk kita meraih ampunan-Nya. 

Dan jalan itu pulalah yang dipilih oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq: memaafkan. Beliau sadar akan keterburu-buruannya kemudian mencabut sumpahnya dengan membayar kafarat serta meneruskan bantuannya kepada kerabatnya. Di sinilah kita bisa melihat bagaimana KUALITAS seorang sahabat Rasulullah; selalu taat dan bersegera dalam menjalankan perintah. 💓

Di sisi lain, ingatkah kita bahwa apa pun yang Allah perintahkan sejatinya pasti mengandung kebaikan untuk kita? Maka memaafkan juga demikian. Memaafkan membuat dada kita lapang, meningkatkan produktivitas kita baik secara spiritual, psikologis, maupun secara fisik. Dan yang paling penting, tentu menjadi jalan bagi kita untuk meraih ampunan dari Allah.

"Forgiveness isn't something you do for the person who wronged you, it's something you do for you." 
--Andrea Breandt, Ph.D, MFT
*

Referensi:

🍁 Tafsir Ibnu Katsir
🍁 Tafsir Al Azhar


#30HariQJ, powered by @thequranjournal.id

Sabtu, 15 Juni 2019

Qur'an Journaling #5: Belajar dari Keteguhan Nabi Yusuf

وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ ۚ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ ۖ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: "Marilah ke sini". Yusuf berkata: "Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik." Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. (QS. Yusuf: 23)


Butuh waktu lama untuk bisa menyelesaikan tugas Qur'an Journaling #5 ini. Selain karena kesoksibukan, aku sendiri juga memang ingin berlama-lama di ayat ini. Menemukan ayat ini ada di list QJ awalnya biasa saja, tapi setelah membaca tafsirnya dan mendengarkan pemaparan Ustadz Nouman Ali Khan mengenai ayat ini, rasanya campur aduk; terharu, seneng banget, tertegun, susah diungkapkan kata-kata deh pokoknya. 

Alih-alih menulis di jurnal seperti biasanya, jadi itulah mengapa akhirnya aku menulis hasil refleksi QJ-ku di sini. Aku ingin orang lain bisa lebih leluasa membaca tulisanku, ikut merasakan kebahagiaan dan ketergugahan menemukan pemahaman dan pelajaran dari ayat ini. Tentu akan lebih-lebih lagi jika kamu melakukannya sendiri; mulai dari menghafal, menuliskan, mencari tahu tafsirnya, sampai menadabburinya untuk menemukan pencerahan. 

Tema QJ hari kelima ini adalah firmness, belajar mengenai keteguhan hati dari kisah Nabi Yusuf 'alaihissalam. Surah Yusuf ayat 23 ini bercerita tentang istri Al-Aziz, Zulaikha, yang menggoda Yusuf karena tertarik dengannya. Dari sekian perbedaan pendapat, Buya Hamka dalam tafsirnya sendiri cenderung memilih pendapat bahwa Yusuf saat itu berusia sekitar 18 atau 20 tahun. Ini karena dalam masa itu hormon-hormon mulai tumbuh dan telah menonjolnya sisi kelaki-lakian sehingga bisa saja menimbulkan nafsu bagi perempuan yang melihatnya.

Allah menggunakan kata راود (raawada) yang berasal dari kata رويد, artinya perlahan-lahan. Maksudnya adalah bahwa Zulaikha menarik perhatian Yusuf dan menggodanya secara perlahan-lahan, tidak hanya sekali. Dia terus melakukannya, terus berusaha untuk menaklukkan Yusuf. Kemudian, raawada juga berarti keinginan; Zulaikha ingin Yusuf memiliki keinginan yang sama dengannya, sementara Yusuf sendiri menginginkan dirinya agar tetap terjaga dan terhindar dari perbuatan buruk kepada wanita itu. 

Yusuf tinggal di rumah Zulaikha, ia tidak bisa kabur ke mana-mana karena wanita itu memiliki akses ke seluruh ruangan dalam rumahnya sendiri. Zulaikha mengunci seluruh pintu sementara Yusuf terus digodanya. Ketika semua orang membayangkan bisa menjadi Yusuf, akan tetapi dalam posisi itu, kita belajar karakter Yusuf alaihissalam yang sangat mulia, ia mengatakan, "Aku memohon perlindungan kepada Allah." Lihat, betapa saat kebanyakan orang bisa terjebak dalam suasana yang demikian, Yusuf 'alaihissalam justru menyebut nama Rabbnya.

Tak sampai di situ, ia juga mengingatkan Zulaikha bahwa suami wanita itu telah memperlakukannya dengan sangat baik dan bahkan memerintahkan Zulaikha agar memperlakukan Yusuf dengan baik pula dan menganggapnya sebagai anak. Tidak mungkin bagi Yusuf berbuat zina dengan istri seseorang yang telah begitu baik kepadanya. Biar bagaimanapun, prinsip Yusuf 'alaihissalam adalah bila sekali saja ia menempuh jalan yang zalim, maka itu berarti menempuh jalan yang gelap untuk hari-harinya ke depan. 

Menemukan pemahaman dari ayat ini seperti menemukan jawaban terhadap permasalahan pemuda-pemudi zaman sekarang ini. Adalah fitrah setiap manusia memiliki ketertarikan dengan lawan jenis. Namun, berapa banyak di antara kita yang pada akhirnya kalah oleh perasaan kita sendiri? Oleh hawa nafsu kita sendiri? Kita memilih makhluk di atas Khaliq, kita memilih memenuhi keinginan kita sendiri dibanding taat kepada Allah.

Saat Allah mengatakan bahwa kisah Nabi Yusuf ini adalah kisah terbaik yang diceritakan Allah kepada Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam dalam Al-Qur'an, Allah sesungguhnya ingin kita banyak belajar darinya. Tentang bagaimana Yusuf 'alaihissalam teguh memegang keimanannya di saat godaan datang bertubi-tubi. Tentang bagaimana ia tegak di atas ujian yang paling melemahkan bagi kaum laki-laki. Tentang bagaimana ketika ia pada akhirnya mengatakan, "Aku berlindung kepada Allah." Maa syaa Allah, menurutku itu keren banget! Allah memberi kita contoh yang keren banget.

Di sisi lain, manusia itu lemah. Maka dari itu, kata Ustadz Nouman Ali Khan, jujurlah pada dirimu sendiri. Di saat godaan begitu berat menghampiri Nabi Yusuf, di situasi yang teramat genting karena Zulaikha tidak mampu lagi menahan syahwatnya, Nabi Yusuf memilih berlari menuju pintu untuk menyelamatkan diri. Apa yang bisa dipelajari dari sini? Bahwa, dalam keadaan seperti ini Nabi Yusuf memilih untuk tidak merespons, memilih untuk tidak bernegosiasi. Ia tidak memberi nasihat, justru dengan cepat mengambil tindakan. 

Aku pribadi mendapat pelajaran bahwa bila kita berada dalam situasi yang demikian, hendaknya kita tidak perlu merespons. Tentu tidak setiap kita mengalami hal yang sama persis, tapi barangkali kita pasti pernah mengalami hal-hal seperti: di-chat orang asing untuk sekadar berkenalan, digoda teman, atau aktivitas apa pun yang sejatinya dilarang Allah. Jadi begitulah, jangan merespons. Jangan banyak bernegosiasi, terutama dengan diri dan pikiran-pikiran kita sendiri. Merespons balik, terlalu banyak negosiasi, seringkali akan melemahkan dan membuat kita jadi mundur ke belakang.

Di akhir surah Yusuf Allah menyebutkan bahwa kisah Yusuf ini adalah عبرة لاولى الالبب, pelajaran bagi orang-orang yang berakal. Maka tidakkah kita berpikir bahwa ayat-ayat di dalam Al-Qur'an sesungguhnya banyak berbicara tentang kita? Tentang masalah-masalah kita? Bahkan Allah juga telah memberikan solusinya sekaligus. Allah sudah mengingatkan kita, kelak kita akan ditanya tentang apa-apa yang sudah Allah peringatkan dalam Al-Qur'an. Siapkah kita? 

Aku berharap teman-teman bisa mulai merenungkan surah Yusuf ayat 23 ini dan banyak mengambil pelajaran darinya. Dari beberapa referensi yang kubaca, kutonton, sebenarnya banyak sekali pembelajaran yang kudapat terkait ayat ini. Hanya saja, aku tidak mungkin merangkum semuanya dalam satu tulisan. Doakan aku agar diberikan kemudahan oleh Allah untuk menuliskannya nanti. ^^

Terakhir, aku ingin mengutip perkataan Ustadz Nouman Ali Khan untuk sama-sama kita renungkan: 

"This is a timeless problem. And if you're suffering from it, I pray that learning from the story of Yusuf 'alaihissalam makes you really think about what you're doing with your life. 

You're praying, you're fasting, you're trying to read Qur'an, and there's a girlfriend?

That shouldn't be.

You really need to think this is not a small sin. This is not something small you're doing. 

You're playing with your own faith."

---Nouman Ali Khan---

Semoga Allah senantiasa menolong hamba-hambanya yang ingin taat kepada-Nya. ^^
*

Referensi:

🍁 Tafsir Al Azhar
🍁 Tafsir Ibnu Katsir 


#30DaysQJ, powered by @thequranjournal.id.


Senin, 01 April 2019

Apakah Kamu Pernah Jatuh Cinta?

Mungkin kamu mengenal seseorang, yang membuatmu penasaran dan tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya, "Apakah kamu pernah jatuh cinta?"

Pertanyaan itu terlontar begitu saja, setelah sekian lama kamu mengamatinya. Dia yang selalu sibuk dengan rencana-rencananya dan tak pernah terlihat risau dengan masalah cinta. Atau pasangan. Atau apa pun yang menurut pandangan kebayakan orang merupakan indikator manusia normal. 

Memiliki banyak teman laki-laki, tapi tak satu pun dekat dengannya sebagaimana ia berteman dengan perempuan. Dalam pandanganmu, baik dirinya maupun hidupnya, terlihat sangat datar. Flat, hanya karena dia tidak pernah terlihat dekat dengan laki-laki mana pun. 

Kamu tidak pernah mendengarnya berbicara perihal laki-laki yang disukainya, atau laki-laki yang menjadi idola semua perempuan di lingkarannya. Tidak pernah menangkap basah dirinya sedang diam-diam memandangi seseorang, atau bahkan tidak juga berupaya mencuri perhatian laki-laki mana pun.

Dia begitu tak terdeteksi, untuk satu hal itu. 

Kamu pun bertanya-tanya, "Orang sepertinya, apakah bahkan pernah jatuh cinta?"

Bila aku seseorang yang kamu kenal itu, mari kuberitahu jawabannya. Kujelaskan duduk perkaranya. Bahwa, tidak ada manusia yang tidak pernah jatuh cinta. Ia adalah fitrah yang melekat pada setiap makhluk yang hidup. Ia akan terus ada bahkan ketika jasad tak lagi terbentuk. Adalah pilihan tentang bagaimana cara terbaik untuk meresponnya. 

Sebagian tidak bisa menahan untuk tidak bertanya, hei, apakah dia juga merasa sama? Apakah dia bisa memahami isyaratku? Apakah aku bahkan sudah cukup terlihat di matanya? Demi mengetahui misteri itu, banyak yang kemudian memilih untuk bertindak konyol, melakukan sesuatu yang bukan dirinya. Menyalahi fitrahnya yang suci sebagai manusia. 

Sebagian lagi memilih senyap. Berusaha tetap hening, meski perasaannya riuh bergemuruh. Berusaha tetap berpijak, meski lututnya lemas saat tak sengaja berpapasan. Berusaha tak terlihat bahagia berlebihan ketika orang-orang membicarakan kebaikannya. Berusaha tetap rasional bahwa siapa pun yang disukainya saat itu belum tentu jodohnya, meski semesta seolah berkonspirasi untuk selalu mempertemukannya, menciptakan kebetulan-kebetulan yang menyisakan tanya. Kalaupun harus diungkapkan, itu pasti kepada Rabb-Nya, juga orang-orang terdekat yang bisa ia percaya.

Hanya dengan cara itu, orang-orang yang jatuh cinta bisa menjadi mulia.

Tidak ada seseorang yang tidak pernah jatuh cinta. Yang ada hanyalah orang-orang yang berusaha jatuh bangun mengendalikan perasaannya. Menyibukkan diri dengan berbagai upaya untuk meraih ridha-Nya. Memegang teguh prinsip bahwa setiap yang menjaga hanya akan dipertemukan dengan yang terjaga. Meyakini bahwa bahkan jika tak di dunia, maka syurgalah tempatnya. 

Hanya dengan memahami itu, orang-orang yang jatuh cinta terjaga kehormatannya. 

"Apakah kamu pernah jatuh cinta?" 

Tidak ada seseorang yang tidak pernah jatuh cinta, ia hanya tidak pernah terlihat sedang jatuh cinta.