Pages

Sabtu, 28 Desember 2019

Menjadi Dewasa, Berarti ...

Dahulu, kamu bertanya-tanya, seperti apa rasanya menjadi dewasa. Seperti apa rasanya jatuh cinta. Seperti apa rasanya memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan. Seperti apa rasanya bekerja dan memiliki gajimu sendiri. ⁣
Sekarang, kamu tahu, bahwa ternyata menjadi dewasa tidak sesederhana itu. Tak hanya fisikmu, jiwamu juga diharuskan untuk bertumbuh. ⁣
Karena menjadi dewasa berarti bersedia berdamai dengan ego. Menjadi dewasa berarti menyediakan ruang untuk kritik, rasa kecewa, juga berbagai emosi negatif yang mungkin kamu temui dalam perjalanan. Menjadi dewasa berarti bersiap terhadap berbagai kemungkinan, bahwa tidak semua yang kamu harapkan akan sesuai dengan kenyataan.⁣
Bukan pada tahap kamu seusia berapa, melainkan pada setiap fase yang kamu lalui sejak mengenal perihal baik dan buruk, boleh dan tidak; semua adalah proses berlatih menjadi dewasa, yang telah Allah tetapkan sesuai dengan batas dan kadar kemampuanmu. Setiap fase memiliki tantangannya sendiri. Jika pada fase tertentu kamu merasa sungguh tidak sanggup, ingin menyerah, dan bahwa apa yang kamu alami terasa begitu berat dan tak sebanding dengan usiamu: Allah telah memilihmu, dan toh pada akhirnya kamu bisa melewatinya kan?

Terkadang, kamu berhenti sejenak, melakukan semacam monolog dan melihat jauh ke belakang; bahwa telah banyak yang kamu lalui dan itu semua tidak selalu menyenangkan. Luka, penyesalan, kecewa, tidak percaya diri, kamu sudah pernah merasakannya satu-satu. Bahwa waktu dan prasangka baik adalah obat, ternyata benar ya.

Ya, kamu berhasil melewatinya dan itu membuatmu ada di sini sekarang. ⁣Merenungi berbagai hal, bertanya banyak hal, menimbang-nimbang sebelum memutuskan satu dari sekian pilihan yang menyulitkan. Apa yang selanjutnya harus dilakukan, apa yang bisa dipersiapkan, apakah sudah cukup baik dalam melakukan berbagai hal. Kamu mencari tahu dan terus berupaya melatih diri tentang bagaimana cara terbaik untuk merespons hal-hal yang tidak kamu sukai. Kamu berupaya bisa sepenuhnya teguh memegang prinsip alih-alih hanya mengikuti apa yang dikatakan dan dilakukan orang-orang.⁣

Lebih daripada itu, bukankah kamu pada akhirnya jadi lebih siap? Kamu tiba-tiba merasa dirimu begitu terlatih sehingga bisa mengatakan, "Aku sudah pernah mengalami ini sebelumnya. Sebagaimana Allah memudahkan yang sebelumnya, pasti kali ini Allah juga akan menolongku."⁣
Allah memang tak pernah absen menyediakan pengalaman-pengalaman menyenangkan. Dengan itu, kamu mampu melangkah lebih yakin, lebih positif. Karena pada setiap hal, Allah selalu membuatnya berpasangan; laki-laki dan perempuan, siang dan malam, terik dan hujan, maka itu berarti pula... kesulitan akan senantiasa diiringkan dengan kemudahan. Semua itu dibutuhkan agar kamu cukup dewasa dalam menghadapi berbagai persoalanmu sebagai manusia.⁣
Sekarang, kamu bertanya-tanya apakah kamu sudah cukup dewasa. Hm, kamu tidak akan pernah tahu sampai orang-orang melihat bagaimana caramu bersikap, caramu bertutur, caramu merespons setiap masalah. Dan soal apakah kamu cukup bijaksana dan adil untuk diminta memutuskan perkara, juga perihal menjaga amanah dan rahasia. ⁣
Pada akhirnya, tidak ada tolok ukur yang benar-benar pasti soal menjadi dewasa, mengingat manusia sendiri tak sempurna. Ada saat-saat di mana kita mengeluh, tak mampu mengontrol emosi, dan bersikap semaunya. Tetapi, di antara semua itu, kita bisa mengingat satu hal,⁣
bahwa menjadi dewasa adalah sebuah proses, kita bisa mencobanya di berbagai kesempatan, bahkan saat sudah telanjur salah menempatkan diri sekalipun. Dan itu hanya bisa dilakukan ketika kita memahami bahwa kita sungguh tak punya kuasa atas diri kita juga orang lain;⁣
hanya Allah yang punya. :')⁣


Rabu, 04 Desember 2019

[Book Review] Belajar Zero Waste: Menuju Rumah Minim Sampah by DK Wardhani


Maaf ga jago ambil fotonya~ 😩

Judul: Belajar Zero Waste: Menuju Rumah Minim Sampah
Penulis: DK Wardhani
Tebal: 180 halaman
Terbit: Cetakan 1, Agustus 2018
Penerbit: Pustaka RMA 

Aku sendiri lupa kapan persisnya pertama kali mendengar istilah "zero waste". Sepertinya 2018 lalu, saat itu aku melihat gambar yang dibagikan orang-orang terkait ditemukannya botol shampo berusia puluhan tahun yang tak terurai dan tetap berstatus sebagai sampah. Dari situlah kemudian aku membaca mengenai topik zero waste, mengikuti akun-akun yang fokus pada isu lingkungan, sampai pada mendapatkan informasi terkait pre order buku ini. 

Buku ini mendarat di tanganku pada awal Oktober tahun lalu. Yang membuatku kaget (dan sedikit bingung), bukunya sama sekali tak bersegel! Hanya berselimut amplop putih-hijau yang cantik. Kamu pasti sepakat, ya gimana ya, suka aneh gitu kalau dibilang buku baru tapi ga bersegel plastik.

Barangkali menyadari kebingunganku, Mbak yang kutitipi untuk pre order berujar, "Ini memang dari sananya kayak gini ya, Dek." 

Mm, oke--oh gitu. Aku pun tidak berpikir terlalu jauh soal itu. Sampai akhirnya, ketika berjalan di timeline Facebook, aku melihat video dari akun Mbak Dini, sang penulis, mengenai pengiriman minim sampah. Akan sangat tidak masuk akal bila buku yang berbicara tentang bagaimana belajar hidup minim sampah tapi dalam segala prosesnya tidak menerapkan apa yang sudah dituliskan dalam buku. Jadi sebenarnya memang alasan buku ini tidak bersegel, tidak dibungkus plastik saat pengiriman via pos, semuanya ada alasannya: untuk meminimalkan sampah.

Aku sendiri bukan aktivis lingkungan, tidak pernah terjun dalam kegiatan lingkungan apa pun. Tapiii, karena diriku ini suatu saat akan berumah tangga, dan dari yang kubaca bahwa segala permasalahan sampah yang mencemari lingkungan dan soal terbatasnya sumber daya alam ini erat kaitannya dengan manajemen sampah rumah tangga, aku jadi penasaran dan memutuskan membeli buku ini.

Alur pembahasan yang ada di buku ini menurutku sangat tepat. Di bab awal, kamu akan disuguhi informasi mengenai apa itu zero waste dan kenapa kita harus mulai menerapkan hidup zero waste. Dipaparkan pula fakta-fakta terkait pencemaran lingkungan yang ternyata meliputi segala aspek mulai dari tanah, air, juga udara, diakibatkan oleh sampah yang tidak berusaha diminimalisir dan tidak terkelola dengan baik. 

Selama ini kita berpikir bahwa membuang sampah pada tempatnya itu sudah benar. Itu menjadi doktrin sejak kecil, sejak kita berada di bangku sekolah, tanpa kita tahu bagaimana mencegah, memilah, apalagi mengolah. Dan yang paling penting, ketika lingkungan sekitar kita bersih, kita merasa semuanya sudah beres. Padahal, sejatinya sampah yang kita singkirkan itu kemudian akan menumpuk di TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Sejatinya, sampah yang kita bakar itu kemudian akan mencemari tanah, air, dan udara. 

Dahulu kita tidak pernah khawatir mengenai hal itu. Tetapi, saat ini, ketika kita dapat melihat dengan jelas bahwa sampah menggunung di mana-mana, mencemari lingkungan dan ekosistem, barulah kita sadar bahwa membuang sampah pada tempatnya tidak lagi relevan. Hal yang demikian inilah yang berusaha dijelaskan penulis pada bab selanjutnya; tentang ke mana perginya sampah selama ini dan apa yang terjadi setelah sampah pada akhirnya menghilang dari rumah kita. 

Buku ini juga menyajikan bagaimana caranya meminimalkan sampah. Tak hanya berkaitan dengan dengan pola konsumsi dalam rumah tangga, tetapi juga strategi yang harus kita terapkan ketika berbelanja, bepergian, mengadakan acara, dan lain-lain, yang diceritakan langsung oleh orang-orang yang sudah mempraktikkannya. Penulis juga memaparkan solusi terkait ini, yakni dengan: cegah, pilah, dan olah. Masing-masing komponen ini dijelaskan dengan detail di dalam buku. 

Banyak keraguan dan permasalahan yang kita alami ketika ingin memulai hidup nol sampah. Tapi penulis, dan pengalaman orang-orang yang diceritakan dalam buku ini memberikan gambaran bahwa itu bukanlah suatu yang mustahil. Penulis sendiri memberikan solusi dengan berbagi tips yang bisa kita lakukan untuk membuat sisa konsumsi rumah tangga tidak hanya berakhir membusuk di tempat sampah; melalui komposter, lubang biopori, ecobrick, bahkan termasuk bagaimana memanfaatkan minyak jelantah, biji lerak, dan kulit buah jeruk sebagai produk pembersih atau pengharum yang bisa digunakan dalam rumah tangga. 

Meski begituuu, rasanya buku ini tetap kurang tebal, wkwk. Masih banyak yang ingin diketahui seputar memulai hidup nol sampah; tips belanja online minim sampah, edukasi pada orang-orang sekitar, mengatasi sampah plastik yang terlanjur menumpuk di lingkungan sementara tak ada bank sampah, dan lain sebagainya--saking hal ini merupakan sesuatu yang benar-benar baru untukku. Nah, kecenya buku ini dilengkapi dengan jurnal yang bisa kita isi untuk memulai belajar hidup nol sampah. Daaann... ilustrasi di dalamnya itu loh, sukses membuatku benar-benar tertampar, hiks.

Membaca buku ini bukan hanya soal kita sadar pentingnya mencegah sampah, hidup minim sampah, tapi lebih pada: alam ini adalah karunia yang harus kita jaga, kita diperintahkan untuk menjaganya, jangan merusaknya. Alam ini adalah amanah yang Allah titipkan untuk manusia, untuk kelangsungan hidup manusia itu sendiri. 

Memang, dalam praktiknya tidak semudah yang kubayangkan. Aku sendiri juga masih sering kesusahan untuk tidak nyampah. Tapi sejauh ini, kewajiban kita adalah terus berproses, bukan? 

"Menuju nol sampah bukan menjadikan kita sebagai malaikat, tapi menjadikan kita sebagai manusia yang peduli dan bertanggung jawab." 
--DK Wardhani