Have you
ever looked at that person who wrote something and gone speechless like, “OMG,
that's so me!”
Mungkin
memang pikiranku yang lebih banyak ‘ke mana-mana’ akhir-akhir ini, tiba-tiba
aku ingat blog seseorang. Langsung saja kuketik alamat blog seseorang
itu di browser-ku. Dan ya, sudah ada banyak postingan sejak terakhir
kali aku mengunjunginya.
Seorang
penulis muda. Laki-laki. Novelnya baru ada 3. Sejak awal mengunjungi blognya
aku dibuat kagum dengan tulisan-tulisannya. Entah, meski bisa dibilang
sederhana, tapi selalu ditulis dengan menarik. Dengan cara yang aku suka
Aku
terpaku.
I've
found what I've been looking for.
Aku
tidak pernah bisa memahami cara pikiran bekerja bagi setiap orang. Itulah
mengapa kita tidak pernah bisa dengan mudah menebak apa yang ada dalam pikiran
orang lain seberapa kuat pun kita berusaha. Pikiran memiliki cara kerjanya
sendiri; dan ini bergantung pada kepribadian, visi dan misi hidup setiap orang,
juga soal keyakinanannya akan Sang Pencipta.
Begitu
membaca postingan-postingannya, seketika aku menggumam sendiri, that’s so me.
Entah
mengapa rasanya kami (menurut versiku) memiliki kecocokan dalam banyak hal. Tak
hanya soal pola pikir, tapi juga cara menyikapi sesuatu. Juga hobi. Yah, kami
mungkin bisa jadi teman diskusi yang baik.
Aku jadi
teringat beberapa tahun lalu. Kami sempat saling ‘menyapa’ (kalau tidak bisa dikatakan ‘mengobrol’)
dalam satu ruang. Sayangnya responsku tidak begitu hangat. Yah, memangnya siapa
yang bakal tahu orang itu akan menjadi penulis yang amat dikenal? Blogger yang
banyak disukai postingan-nya? Pembaca buku yang selalu ditunggu review-nya?
Lagi pula pertanyaannya waktu itu terasa sedikit ‘menodong’, aku tidak tahu
harus berbicara apa. Jadi lebih baik kabur saja, hehe.
Selain
itu, yang membuatku canggung juga, aku tidak tahu banyak tentang orang ini
waktu itu. Kami hanya bertemu di sebuah ruang diskusi dan
pernyataan-pernyataannya tentang apa pun bisa jadi sesuatu yang menarik untuk
kuketahui. Jadi aku memutuskan untuk ... semacam mencari tahu; sapaan dalam
sebuah ruang yang berakhir pada ucapannya yang berbunyi, “Oh, oke. Thanks.
Semoga bisa jadi teman baik.” :))
Orang
ini banyak berkembang, sejauh yang aku tahu. Sekitar 3 tahun lalu, aku membaca
cerpennya dimuat di salah satu majalah nasional, lalu menyusul buku pertama,
kedua, hingga kini sampai pada buku ketiga--yang kelihatannya lumayan sukses.
Tulisannya memenuhi kriteria membuat candu; manis dan hangat pada saat yang
sama, serta... aku tidak tahu apakah penggunaannya tepat atau tidak, menginspirasi.
Ya, sesuatu semacam itu.
Orang
ini menginspirasiku, meski tidak sangat. Aku dan dia memiliki
kekhawatiran-kekhawatiran yang sama terhadap sesuatu. Pandangan-pandangan yang
hampir sama (beberapa yang tidak sama mungkin karena ketidaktahuannya dan ia
belum sampai pada tahap itu). Impian-impian yang sama persis, dan yah...
mungkin cara menyikapi yang sama; betapa yang bisa mengendalikan sekaligus
menjadi obat kadang hanya diri kita sendiri--dengan peran serta Allah tentunya.
Thing that people named it “the power of inside”.
We do
love reading and writing. Dan
aku belajar cara menulis review buku yang menyenangkan dari blog-nya,
sesuatu yang diam-diam kulakukan. Aku sangat mengapresiasi bagaimana ia
menetapkan komitmen tentang tujuannya menulis. Dan itu kembali mengingatkanku bahwa
seharusnya seperti itulah aku menulis.
Lalu,
aku pernah membaca sebuah quote yang bunyinya begini: “When reading,
we don't fall in love with the characters’ appearance. We fall in love with
their words, their thoughts, and their hearts. We fall in love with their
souls.” Ibarat fiksi, orang ini seperti karakter dalam novel. Kita akan
jatuh cinta pada kata-katanya, pikiran-pikirannya, sampai dibuat menyatu dengan
jiwanya seolah ia amat kita kenal di dunia nyata (hei, bukan jatuh cinta dalam
arti yang itu loh ya :D).
Menurutku,
sesuatu yang seperti ini justru penuh esensi. Kamu mempunyai dua mata yang bisa
melihat kesempurnaan yang ada di hadapanmu, tapi kamu memilih untuk tidak
menggunakannya hanya untuk sesuatu yang tampak begitu saja. Lebih jauh, kamu
menggunakan hatimu untuk melihat sisi lain dari sesuatu yang tampak itu.
Itu sama
seperti kita melihat atau menilai seseorang, juga ketika jatuh cinta pada
seseorang. Jika kamu menyukai seseorang barangkali kamu harus banyak bertanya
pada dirimu sendiri apa yang membuatmu menyukainya. Perkara kita bisa menyukai
tanpa alasan, percayalah itu tidak benar. Kita hanya belum menemukannya saja
atau bahkan terlalu sulit mengungkapkannya lewat kata-kata.
Well, menemukan seseorang yang sejalan denganku
rasanya sungguh melegakan. Kita benar-benar jadi teman baik, Tuan (lagi-lagi
ini menurut versiku sendiri :D). Aku menemukan beberapa jawaban dari
pertanyaanku tentang suatu hal. It does help me to get through then.
Dan
mungkin begitulah seharusnya kamu mencari, seseorang di masa depan sebaiknya
adalah seseorang yang bisa membuatmu menemukan dirimu sendiri; dengan persamaan sekaligus perbedaan yang
bisa melengkapi.
---A note to myself
