Pages

Minggu, 17 Agustus 2014

Kesaksian

Oleh: Evnaya Sofia


Indonesia, 17 Agustus 2034…

Hei, mari kubisikkan sesuatu. Ini tentangku yang dahulu. Tak perlu tahu aku siapa. Cukup dengarkan kisahku saja dan jangan banyak bertanya. Kaupikir untuk apa aku memberitahumu jika kau sendiri bahkan dengan mudah akan segera tahu aku siapa? Setidaknya aku telah memperingatkanmu untuk tidak membuang waktu dengan menanyakan hal-hal tidak penting karena sebentar lagi kau juga akan tahu.
            Dengarkan baik-baik. Aku tidak akan menceritakanmu sebuah dongeng dari Negeri Peri atau semacamnya. Jadi jangan berharap kau akan menemukan kisah romantis seorang putri buruk rupa yang dikutuk nenek sihir jahat dan pangeran tampan berkuda putih yang jatuh cinta kepadanya. Ini bukan kisah yang layak didengar, asal kau tahu. Bisa jadi kau akan semakin muak dengan semuanya setelah mendengar ini. Dan aku tak menanggung risiko untuk hal yang satu itu. Hanya saja, aku bertekad memberitahumu rahasia hidupku di balik ruang yang kelihatannya gemerlap itu.
            Baiklah, ini tentangku yang dahulu. Dan aku perlu memberitahumu sesuatu.
            Bagi siapa pun, kehadiranku adalah segalanya. Tapi itu tak lantas membuatku murah hati untuk menolong siapa saja, karena bisa dikatakan aku amat selektif dalam memilih teman. Bergaul dengan orang miskin? Huh, yang benar saja. Aku tidak akan mendapat ruang mewah untuk tinggal di sana. Beruntung Tuhan sangat mengerti apa yang kumau. Jadi aku tak perlu hidup susah di tempat tak layak bersama orang-orang miskin yang kumal dan dekil itu. Biarlah saudara-saudaraku yang sok sabar itu tinggal bersama mereka. Aku tak akan tahan setiap hari mencium bau makanan basi yang dimakan orang-orang miskin itu.
Sudah tentu, bersahabat dan tinggal bersama orang-orang kaya itu membuatku bahagia. Bagaimana tidak? Aku ditempatkannya pada ruangan mewah seharga jutaan rupiah. Tak jarang aku diajaknya pergi ke tempat-tempat mewah yang sebelumnya bahkan tak pernah terlintas dalam pikiranku. Aku bahkan sempat beberapa kali diajaknya turut serta dalam perjalanan-perjalanan dinas ke luar negeri dengan tak lupa mengunjungi tempat dengan  pemandangan-pemandangan eksotis di negara itu. Bisa kau bayangkan kan, betapa menyenangkannya jadi aku? Hahaha.
Kau tahu tidak, kehadiranku lebih diinginkan daripada apa pun dan siapa pun. Yah, mungkin aku memang ditakdirkan untuk menjadi sahabat yang spesial. Lupakan soal istri dan anak-anak yang katanya bisa membuat hidup sahabat-sahabatku yang kaya itu sempurna. Omong kosong. Mereka masih lebih tak bisa hidup tanpa aku. Di dunia ini, akulah yang memegang kuasa. Aku memang sahabat orang-orang kaya itu, tapi kau harus tahu siapa yang lebih kuasa; siapa yang menjadi atasan dan siapa yang menjadi bawahan, siapa yang menjadi majikan dan siapa yang menjadi b-a-b-u.
Sudah kubilang, aku adalah segalanya. Tanpaku, mereka bisa apa? Bahkan untuk membuatku mau bersahabat dengan mereka, mereka sanggup melakukan segala cara. Kurasa, aku membuat mereka gila. Melupakan aturan Tuhan untuk mendapatkanku? Ah, sudah biasa. Itu urusan belakangan. Toh Tuhan Maha Pemaaf.
Ah ya, sekarang kau sudah tahu paling tidak beberapa hal tentangku yang dahulu. Dengar, ceritaku masih panjang, dan… jangan bertanya siapa aku. Silakan saja menebak sesukamu selagi aku membawamu pada kisah masa itu.
Kala itu, laki-laki itu bangun kesiangan. Laki-laki yang kumaksud di sini adalah laki-laki kaya yang menjadi sahabatku (meskipun dia menganggapku di atas segalanya rasanya tidak etis jika aku menyebutnya bawahanku, sekalipun ia menjadi terhormat karenaku). Pertandingan sepakbola yang tayang sampai larut memaksanya tidak tidur semalaman. Ia lantas dengan sigap begegas tatkala ingat rapat yang akan berlangsung pagi itu.
Aku mencium aroma parfum mahal pada jas mewah belasan juta yang dikenakannya ketika ia meraihku dan mendudukkanku di jok depan mobil mewahnya yang mengilat. Jangan coba-coba menebak berapa harga mobil mewah keluaran terbaru itu. Kau tak akan sanggup melihat deretan angkanya. Lalu dengan gesit dibawanya aku meliuk bersama mobil mewah itu melintasi jalanan ibukota yang padat kendaraan. Macet di beberapa lokasi, tetapi beruntung itu tak membuatnya terlambat untuk mengikuti rapat di kantornya.
Kantor lelaki itu adalah bangunan megah berlantaientahlah, aku enggan menghitungnyadengan cat putih bersih dan sistem keamanan yang ketat. Tak sembarang orang bisa masuk ke gedung mewah itu. Hanya mereka yang terhormat yang diijinkan masuk. Gedung itu tak hanya tempat bekerja yang nyaman, tetapi juga bisa menjadi tempat beristirahat dari penatnya bekerja paling nyaman yang pernah ada. Tak hanya ada seseorang yang bisa diminta untuk melakukan ini itu, fasilitas yang ada di sana pun tak kalah dengan fasilitas hotel bintang lima. Wajar sajalah, mereka bekerja untuk negara.
Laki-laki itu menyusup ke ruangan yang telah penuh oleh peserta rapat dan mengambil kursi di samping teman karibnya. Ah, hampir saja ia terlambat.
“Kesiangan, Bos?” teman karibnya menyapa.
Laki-laki itu meringis.
“Beberapa wartawan hadir mengikuti rapat ini,” ujar temannya lagi, kali ini berbisik ke telinga lelaki itu.
“Oh ya?” Mata laki-laki itu berkedip tak percaya demi mendengar berita itu. Yang benar saja, ia hampir terlambat hari ini. Bisa dipastikan wartawan-wartawan itu akan menulis berita tak sedap tentangnya.
Ia mengedarkan pandangan sekilas untuk memastikan apa yang didengarnya dari temannya. Melihat itu, temannya kembali berbisik, “Kau pasti bisa menyelesaikannya, Bos.”
Laki-laki itu mengangguk mantap. Senyum kecil tergambar di bibirnya. “Tentu. Aku pasti akan menyelesaikannya.”
* * *

            Astaga! Demi apa ia tertidur dalam rapat sepenting ini?! Benar-benar parah, matanya tak bisa diajak kompromi. Wartawan-wartawan itu pasti sibuk menyorotkan kameranya sejak tadi ke arahnya. Men-zoom wajahnya. Berapa lama ia tertidur? Sepuluh menit? Lima belas menit? Ah, bahkan tak sampai lima belas menit! Begitu rapat ini selesai, orang-orang di seantero negeri pasti akan mencaci-makinya demi melihatnya tertidur dalam rapat penting para pejabat negara yang terpampang di portal berita online.
            “Kau ceroboh, Bos,” ujar teman karibnya yang tadi membangunkannya. “Sepertinya ada banyak yang harus diselesaikan setelah ini.”        
Laki-laki itu mendesah. Dalam hati, ia mengutuk kesialannya hari ini. Temannya menepuk pundaknya berkali-kali. Menguraikan rasa simpati.
Aku bisa menyelesaikannya, gumam laki-laki itu pasti.
* * *

            Ternyata urusannya tak semudah yang dibayangkannya. Beberapa wartawan mencoba mengajaknya bernegosiasi saat ia menyorongkan sejumlah amplop cokelat ke arah mereka. Dan karena itu ia terpaksa membayar lebih. Yah, tak ada pilihan lain demi menjaga agar citranya tak terlihat buruk dan menjadi konsumsi publik. Urusan pekerjaan saja sudah cukup membuatnya penat, ditambah lagi kesialan yang menimpanya hari ini. Rasanya ia perlu sedikit bersenang-senang.
            Laki-laki itu meraih ponsel di saku jasnya dan memencet nomor yang telah dihafalnya di luar kepala. Nomor yang tak ada dalam daftar kontak ponselnya. 
* * *

Kali ini, laki-laki itu kembali membawaku menembus liku-liku jalanan ibukota. Ia bersiul sembari menikmati musik yang mengalun dari radio di mobilnya. Lepas dari jalanan yang padat, mobil laki-laki itu berbelok memasuki gerbang kompleks perumahan elit di salah satu sudut wilayah ibukota. Begitu mobilnya berhenti di depan salah satu rumah di kompleks itu, gerbang secara otomatis terbuka. Ia kembali melajukan mobilnya menuju garasi rumah itu sementara gerbang di belakangnya kembali menutup secara otomatis.
            Laki-laki itu meraihku yang tergeletak di sampingnya sebelum keluar dari mobilnya. Ia lantas menekan bel begitu menginjakkan sepatu mahalnya di depan pintu rumah mewah itu. Beberapa saat kemudian pintu terbuka. Seorang gadis cantik dengan pakaian serba minim menyambutnya hangat. Sembari meraihku yang ada dalam genggaman laki-laki itu, ia menggelayut manja pada lengan laki-laki itu dan menggiringnya masuk.
            Menuju neraka.
            Dan itulah definisi bersenang-senang bagi laki-laki itu.
* * *

Hei, kurasa kau tak akan lelah untuk menduga-duga siapa aku. Atau jangan-jangan… kau sudah tahu? Ah, aku hanya berharap dugaanmu benar lantas kau berhenti bertanya.
Sampai detik ini, kau sudah tahu sebagian kecil rahasia hidupku. Meski kubilang aku hidup bahagia bersama sahabat-sahabatku yang kaya itu, tapi entah mengapa kebahagiaan itu terasa semu. Berada di ruang gemerlap itu memang membuatku lebih nyaman dibanding harus tinggal di gubuk tua yang bau busuk. Tapi, yah… fakta bahwa aku diperlakukan secara tidak benar membuatku tersenyum miris. Dan apa yang menimpaku dahulu itu sungguh di luar batas kewajaran. Seolah-olah aku tercipta hanya untuk memuaskan hasrat mereka. Memenuhi kerakusan mereka. Kalau sudah begitu, rasanya aku seperti tak memiliki harga diri.
Kau tentu ingat, dua puluh tahun lalu—2014— dan tahun-tahun sebelumnya, banyak kasus terungkap karena aku. Entah itu fee yang diberikan pada seorang wanita yang berasal dari dana untuk pembangunan gedung X, tutup mulut untuk kasus Y, penggelapan dana pengurusan pajak Z, dan kasus XYZ lainnya yang membuat rakyat muak. Mereka seperti menuhankanku, lupa pada hakikat dan tujuan mereka diciptakan. Tentu saja, hal itu perlahan membuatku tidak betah bersahabat dengan mereka. Saat menyadari aku tak punya pilihan, aku meneguhkan diriku dan mengingat bahwa mungkin Tuhan menjadikanku alat untuk menguji keimanan mereka.
Tapi tetap saja, cerita saudara-saudaraku membuatku iri. Ya, saudara-saudaraku yang tinggal bersama orang-orang miskin itu. Yang kudengar mereka justru hidup bahagia di sana. Bukan kebahagiaan semu seperti yang kumiliki, melainkan kebahagiaan yang benar-benar kebahagiaan. Keberadaan mereka begitu dihargai. Tidak sepertiku, mereka diperlakukan semestinya. Hanya menyadari kehadiran saudaraku di sekeliling mereka saja sudah membuat mereka bersyukur luar biasa, meskipun sebenarnya tidak banyak dan jauh dari kata cukup. Kalau tahu begitu, sejak awal mungkin aku akan lebih memilih bersahabat dengan orang-orang miskin itu saja. Hanya saja, Tuhan telah mengatur hidup sebagian besar dari keturunanku untuk bersahabat dengan orang-orang kaya itu.
Banyak yang pesimis saat itu, mengingat betapa bobroknya negeri tempatmu berpijak ini. Korupsi. Bencana. Perekonomian terpuruk. Janji palsu. Kalau sudah begitu, apa lagi yang bisa diharapkan dari negeri ini? Tapi di antara mereka yang pesimis, banyak orang-orang yang dengan senang hati tertatih membangun semuanya. Sedikit demi sedikit. Perlahan-lahan. Memperbaiki sistem. Menyerukan agar memperlakukanku secara benar.
Tahu siapa mereka? Mungkin di antaranya ada kau. Ya, kau yang sejak dulu mempunyai tekad membangun negeri dan berjuang keras untuk mewujudkannya. Kau yang mau bersusah-payah duduk di kursi hanya untuk mendengarkan mereka yang pandai berbicara berjam-jam di depan kelasmu. Kau yang berani menyuarakan tidak di antara mereka yang memilih patuh pada yang tidak semestinya dipatuhi.
Meski belum semuanya terjamah, setidaknya negeri ini sudah lebih baik. Orang-orang kaya itu sepertinya mulai belajar menghargaiku. Memperlakukanku secara benar. Meski ada beberapa orang yang mencoba melanggar, mereka dipastikan akan mendapat sanksi yang tidak bisa ditawar-tawar. Tidak ada bui sekelas hotel bintang lima. Tidak ada sipir penjara yang bisa disuap hanya karena kau jenuh berada di dalam bui lantas dengan bebas melancong ke Bali. Tidak akan ada.
Setelah sekian lama, mungkin ini saat yang tepat untukku bersuara. Memberitahumu semua kisahku kala itu. Aku tidak bisa lagi menutup mulutku rapat-rapat dan membiarkan anak-anak muda yang terlena oleh kecanggihan teknologi ini buta sejarah. Bukan apa-apa, hanya sebagai refleksi untuk menjadi lebih baik lagi. Aku tidak mau kelak ketika mereka memimpin, negeri ini tak lebih baik dari saat ini.
Dan, hei, hari ini 17 Agustus 2034. Kibaran bendera Merah Putih yang diiringi dengungan lagu Indonesia Raya dalam upacara di Istana Negara hari ini membuncahkanku haru. Delapan puluh sembilan tahun umur kemerdekaan, dan 20 tahun melangkah dari kebobrokan untuk membangun kembali negeri ini. Paling tidak, berikan sesuatu yang berharga untuk negeri ini. Pemikiranmu. Karyamu. Pengabdianmu. Apa pun itu. Jangan membuatku menunggu. Aku sudah tidak sabar berada dalam genggaman orang-orang bijak sepertimu demi memperlakukanku secara benar untuk mewujudkan ide brilian membangun negeri ini. Aku siap membantu negeri ini menjadi lebih baik, kau?
Yah, aku bahkan telah memulainya dengan menceritakan kisah hidupku sebagai bekalmu membangun negeri ini. Dan kau pun telah meluangkan waktumu untuk mendengarku bersuara, terima kasih untuk itu. Lalu… sudah tahu siapa aku? Aku menebak kau sudah tahu. Hanya saja aku perlu memberimu petunjuk untuk memastikan kau tidak ragu dengan jawabanmu.
Sekarang, buka dompetmu. Mungkin ada aku di dalamnya?
Ya, itu aku.
* * *

*** Cerpen ini diikutsertakan dalam Lomba Pekan Menulis BEM FAI UMY dengan tema “Indonesia 20 Tahun Kedepan” beberapa bulan lalu. Judul versi awalnya adalah “Biarkan Aku Bersuara”, tapi karena sepertinya kurang pas, aku menggantinya dengan “Kesaksian”. Kupersembahkan cerpen ini untuk Indonesia-ku, dengan segala rasa cinta dan hormatku sebagai abdinya di Hari Kemerdekaan yang ke-69. Tetaplah jaya, Indonesia-ku. ^^
 

Rabu, 13 Agustus 2014

Persahabatan yang Tidak Sempurna


Taken from here
  

            That’s more than just a quote, I think. Aku tiba-tiba saja teringat quote itu sepagian tadi. Berpikir tentang makna yang terkandung di dalamnya. Memutar ingatan ke hari-hari yang tertinggal di belakang, memilah-milah hal-hal yang termasuk dalam kategori itu. Pertemuan-pertemuan yang tak pernah disangka, jalinan yang kemudian mengikat, saling membutuhkan, saling menyemangati dan memberi dukungan, dan lain sebagainya.

            Ada banyak rasa yang melengkapi tiap sisi kehidupan kita, yang tak lepas dari peran orang-orang di sekitar kita. Seperti ketika memasukkan takaran gula pada secangkir kopi pahit, hanya kitalah yang tahu sebatas mana selera kita. Begitu pun dalam hal pertemanan, secara alamiah kita akan terus mencari seseorang yang tepat untuk kita. Seseorang yang ada saat kita tertawa maupun berduka. Seseorang yang bersedia mendengarkan apa saja yang kita ingin dia dengar. Seseorang yang membuat kita nyaman, pendeknya seperti itu.

            Kita tidak bisa memilih siapa orangnya, karena itulah kita berusaha mencari demi menemukan seseorang yang tepat. Dalam setiap fase kehidupan, kita akan menemukan seseorang yang mungkin kita anggap sebagai sahabat. Ketika kanak-kanak, remaja, dewasa, maupun saat usia kita sudah lanjut. Sahabat kita bisa jadi orang yang paling dekat dengan kita ataupun orang yang sama sekali tak memiliki hubungan darah dengan kita. Sekali lagi, kita tidak bisa memilih. Ada banyak faktor yang akan menjadi penentu dalam kita memutuskan siapa yang akan menjadi sahabat kita.

            Jalinan persahabatan tidak terjadi begitu saja. Semuanya dimulai dari proses mengenal dan memahami karakter satu sama lain. Ketika kita mampu memahami karakter dari seseorang, maka akan timbul pengertian. Pengertian bahwa orang lain berbeda dengan kita. Pengertian bahwa setiap manusia unik. Pengertian terhadap hal-hal kecil dan remeh yang jika kita menolak untuk mengerti maka akan rusaklah hubungan persahabatan itu.

            Terkadang kita berpikir kita akan lebih mudah dan merasa nyaman jika bersahabat dengan orang yang memiliki banyak kesamaan dengan kita. Hal itu tidak sepenuhnya benar. Justru perbedaanlah yang kadang membuat kita merasa lengkap. Kesamaan yang kita miliki bisa jadi sering menjadi pemicu pertengkaran antara kita dan sahabat. Jika kita menginginkan hal yang sama, berambisi terhadap sesuatu yang sama, maka tentu kita akan bersaing untuk mendapatkannya. Selama persaingan itu bersifat sportif dan kedua belah pihak dapat menerima tentu akan baik-baik saja, tapi bagaimana jika sebaliknya?

            Hal itu mungkin saja terjadi. Kita tentu tidak bisa mengabaikan keinginan untuk menjadi lebih daripada orang lain, terutama jika kita merasa mampu melakukannya. Kita tidak bisa berbagi, karena hanya ada satu kursi yang bisa diisi. Di saat seperti ini, seorang sahabat yang baik dan penuh kelapangan jiwa pasti akan selalu mendukung sahabatnya, selama semua hal itu masih dalam lingkup kebaikan. Sebaliknya, ia juga akan melarang kita dari hal-hal yang buruk.

            Merangkai jalinan persahabatan diiringi dengan proses penanaman kepercayaan satu sama lain. Dimulai dari hal-hal kecil sampai pada kepercayaan bahwa hubungan persahabatan itu akan bertahan sampai kapan pun. Sahabat kita ataupun kita sendiri bisa jadi sangat beruntung, menjadi orang yang dipercaya dan bisa menjaga kepercayaan satu sama lain. Kita tidak bisa memercayai semua orang yang ada di dunia ini. Butuh banyak proses sampai kita memutuskan kita percaya pada orang lain. Kita dan sahabat adalah dua pihak yang mungkin telah melewati proses itu semua. Percaya bukan soal kata-kata, tapi lebih pada tindak nyata. Tindak nyata untuk memercayai bahwa tidak boleh ada dusta. Tindak nyata untuk saling menjaga rahasia. Tindak nyata menjaga rasa. Tindak nyata berupa penanaman keyakinan bahwa tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia, kecuali jika kita berusaha mempertahankannya.

            Akan ada banyak rasa yang kita cecap dari sebuah jalinan persahabatan. Pahit, manis, asam, asin, hambar, semuanya akan menguji kita pada akhirnya. Sampai batas mana kita sanggup saling menjaga? Sampai batas manakah kita sanggup mempertahankannya? Karenanya, tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini. Kerikil-kerikil kecil yang menjadi hambatan dan pemicu krisis pemahaman dan kepercayaan bisa jadi hanya sebuah ujian dan proses agar kita lebih banyak belajar memahami dan memercayai satu sama lain. Bisa jadi itu sebuah peringatan agar kita tidak mudah digoyahkan dan harus tetap mengencangkan ikatan. Dan, hei, bukankah kesempurnaan persahabatan itu tercipta ketika kita jatuh bangun berusaha mempertahankannya? ;))

           

“Tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini, yang ada hanya orang-orang yang berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankannya.”

--Klaudie, Refrain by Winna Efendi--



 

                                                                                                     

Menyapa Matahari

Hai, Matahari...
 

Apa kabarmu hari ini? Akhirnya Tuhan menggariskanmu terbit lagi. Seperti kemarin, dua kali kemarin, dan kemarin-kemarinnya lagi. Ah, barangkali aku yang salah. Kau bahkan tak pernah absen terbit dan tenggelam tiap harinya. Hanya saja kau harus cukup tabah ketika kehadiranmu bersisian dengan awan-awan kelam yang kemudian menurunkan hujan. Hujan berkepanjangan yang lantas membuat manusia-manusia bertanya, "Di mana matahari?" Ah, kalau saja mereka tahu bahwa kau masih di tempatmu, menunggu giliran sampai hujan reda dan mengambil alih bumi yang selama ini selalu patuh berevolusi padamu.
 

Hai, Matahari...
 

Apa yang bisa kukisahkan padamu hari ini? Sungguh, aku takut tak ada sesuatu baru yang bisa kukisahkan padamu hari ini. Aku masih di tempatku, diam dan apa-apa tak tahu. Seperti kemarin-kemarin, aku membiarkanmu berlalu tanpa sedikit pun membawa kisah dariku. Entahlah, aku bahkan butuh segunung keberanian untuk memutuskan menyapamu hari ini.
 

Hai, Matahari...
 

Sungguh, apa yang ingin kukisahkan tidaklah seterang cahayamu. Entah mengapa mendadak semuanya menjadi abu-abu, persis seperti awan-awan yang kemarin berlalu. Hanya saja, kau ataupun aku cukup tahu bahwa ada beberapa hal yang tidak bisa disampaikan secara jelas. Ada beberapa hal yang kadang membuat kita sulit untuk mengerti tapi kita dituntut untuk mengerti. Aku juga tidak tahu mengapa sesuatu terkadang bisa jadi amat rumit untuk dipahami. Sama halnya dengan rumitnya alasanku menyapamu pagi ini. Padahal kau pun tahu aku tak ada apa-apa untuk sekadar dikisahkan. Ah, maafkan aku.
 

Hai, Matahari...
 

Aku ingin berkata lebih banyak, tapi tidak tahu apa. Nah, dengar kan? Ini saja sudah cukup rumit jika dipertanyakan. Entahlah, aku hanya ingin menulis. Itu saja. Tidak lebih, tidak kurang. Kau masih mau berlama-lama kusapa, kan? Aku berharap ya.
 

Oh, baiklah, aku tiba-tiba teringat sesuatu. Kalau begitu mari kuceritakan tentang hujan tiga hari lalu. Hujan yang tiba-tiba menggantikanmu seharian dan membuatku gigil sepanjang hari. Pagi itu aku terjaga dan mendengar hujan telah datang. Aku memeluk tubuh kedinginan, terpekur di atas kasur sembari menatap langit-langit. Aku ingin mengatakan pada hujan aku bahagia dia datang meski harus menggigil kedinginan. Ya, begitulah, kadang kebahagian-kebahagian kecil pun harus didapat dengan pengorbanan. Tapi kala itu aku diam, Ri. Tak berusaha mengeluh pada hujan tentang dingin yang menusuk itu. Aku diam, terus diam tak bergerak menikmati deru suaranya. Di sela-sela itu, hujan berkisah tentang sesuatu.
 

Masih ingat sajak tempo hari lalu? Nah, itulah kisah darinya. Hujan pandai merangkai dan menyusun satu persatu rasa yang abstrak itu. Mengisahkannya lewat larik-larik kalimat yang mungkin hanya aku dan dia yang tahu. Aku yakin, sekarang yang mengerti bukan hanya aku dan hujan, tapi juga kau. Iya, kan? Aku tak perlu lagi menjelaskannya di sini.
 

Hai, Matahari...
 

Apa? Kau harus beranjak? Ah ya, baiklah, maaf sekali aku menyapamu terlalu lama. Berkata hal-hal tak penting yang juga tak sepenuhnya bermakna. Aku tahu. Aku tahu. Sebentar lagi kau harus naik, naik, dan naik. Semoga saat kau turun nanti aku bisa membekalimu dengan kisah-kisah tentang hari ini. Selamat bertugas, dan... terima kasih telah membirukan langit hari ini. :))
 

Bulu, 17 Juli 2014--di bawah cahaya waktu dhuhamu,
 

Evnaya Sofia

* * *

Catatan: sajak yang kumaksud di atas ada di sini

Cerita Hujan Kali Ini


hujan kali ini berkisah
tentang kamu, tentang aku
yang terus menyuarakan harap dalam tiap deru
yang terus berisyarat dan tak saling tahu

ini tentang temu yang tak kunjung menuju

ah, temu
bolehkah?

hujan kali ini berkisah
lewat sentuh dingin yang membuat gigil
lewat bulir yang terus mengalir,
bahwa tiap doa tak harus menemu nyata
bahwa tiap harap tak harus jadi tak semu

hujan kali ini berkisah
tentang aku yang akhirnya diamdiam terus merapal namamu
membiarkan bayangmu menapak dalam tiap putaran waktu
yang sekejap saja,
aku seolah tak mau tahu

bukan apa-apa
aku hanya berusaha terus saling menjaga
dan itu berarti kita harus memberi sela
pada setiap detak jarak yang ada

kamu, aku...
tak perlu ada yang berkata
biar cukup hujan kali ini saja yang bercerita
semua tentang kita

Bulu, 14 Juli 2014--dalam peluk hujan pagi

Evnaya Sofia

Sepucuk Surat untuk Tatsuya Fujisawa

Untukmu, Tatsuya Fujisawa…
Sosok sempurna dalam dunia khayalku.


Tatsuya Fujisawa,

Oktober lalu aku menemukanmu; dalam lembaran kertas dengan tetesan tinta yang mengukir namamu. Dalam rangkaian cerita yang menuliskan kisah hidupmu. Semakin aku menyelami lembaran-lembaran itu, semakin kau tampak begitu nyata dalam dunia khayalku. Aku tenggelam dalam pahitnya kisah hidup yang dituliskan Mbak Ilana Tan untukmu. Aku bisa merasakan apa yang kaurasakan. Pahit, aku tahu itu. Seandainya bisa, aku ingin mengecap sedikiiit saja rasa pahit itu. Bukankah jika kita membaginya, semua akan terasa lebih mudah?
           
Kala itu, aku ingin berada di sampingmu. Menjadi seseorang yang kaubutuhkan. Membesarkan jiwamu. Membasuh lukamu. Menutupi lubang dalam hatimu. Aku ingin merengkuhmu dan menaburkan gula pada rasa pahit itu.Tapi, bagaimana mungkin aku melakukan semua itu jika kau hanya ada dalam  dunia imajinasi?

Aku kehilangan celah, menemukanmu dalam dunia nyataku…

Tatsuya Fujisawa,
          
Dunia kita memang berbeda. Begitu pun jalan yang digariskan untuk kita. Tak ada yang serupa.  Dan aku pun tahu, kita tak mungkin bertatap muka. Jadi, bolehkah aku marah? Pada takdir yang membawa kau dan aku semakin jauh? Pada dinding tebal tak kasat mata yang memisahkan dunia kita? Yah, mungkin kau tak pernah tahu. Betapa berartinya kau untukku. Bahkan, ketika kau memalingkan hatimu pada Tara, aku sama sekali tak merasa luka. Itu karena aku tahu kau bahagia. Bukankah lebih indah jika melihat orang yang kita cintai bahagia?

Ketika kau merasa langit seolah runtuh mengetahui bahwa kalian tak mungkin bisa bersama, aku pun merasakannya. Dan kau mungkin takkan pernah tahu, betapa aku ingin marah pada malaikat yang memisahkan nyawa dan ragamu. Aku marah, Tatsuya. Tapi, aku sadar. Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku, di sini… meratapi kepergianmu. Mengharap kau kembali hadir dalam lembaran-lembaran itu.

Sekali lagi aku kehilangan celah, merengkuhmu dalam pelukku…

Tak bisakah kita bertemu? Sekaliii saja…

Aku berjanji hanya sekali ini saja.

Tatsuya Fujisawa,

Aku menunggumu, hadir dalam mimpiku.


Dariku, 

Orang asing dalam hidupmu.

* * *

Well, sebenarnya surat ini mau aku ikutkan lomba menulis surat untuk salah satu karakter di novel "4 Musim"-nya Mbak Ilana Tan. Berhubung mepet deadline gak jadi kukirim, hehe. First published on Facebook at November 7, 2011.

Shadow Light: Ketika Bayangan dan Cahaya Bertentangan




Judul: Shadow Light
Penulis: Putu Felisia
Penerbit: Gradien Mediatama
Terbit: Cetakan I, 2011
Tebal: 280 halaman
ISBN: 978-602-208-013-8

“Dia Shadow… Dan, aku Light.
Cahaya dan bayangan, selamanya akan bertentangan.”

Seolah ditakdirkan, Lee Shin beserta identitas rahasianya, Detektif Light, selalu berupaya mengalahkan Shadow, pembunuh bayaran yang selalu mengalahkannya. Selama sepuluh tahun, menangkap Shadow telah menjadi obsesi Shin, walau dia harus mempertaruhan semua… pikiran, perasaan, bahkan nyawanya.

Shin hampir putus asa saat dikeluarkan dari tugas lapangan. Namun, takdir menariknya kembali pada Shadow. Bersamaan, muncul seorang gadis bermata sendu dengan aura kematian yang menyengat Shin. Agni, gadis misterius itu, membawanya terlibat dalam kasus pembunuhan. Perlahan, bersama Agni, dia memasuki dunia rumit organisasi Death Hand—Tangan Kematian yan bertanggung jawab atas berbagai pembunuhan yang terjadi di berbagai penjuru dunia.

Review:
Bacaan yang berat! Saya menggumam sendiri begitu mengelus kaver dan membuka-buka halaman novel tersebut. Pastinya membaca novel dengan kategori ‘bacaan berat’ membutuhkan waktu khusus, dengan begitu saya bisa memahami sepenuhnya sisi yang ‘tidak biasa’ dari novel ini tanpa harus membagi pikiran dengan segala hal di luarnya.
Shadow Light adalah ‘bacaan yang berat’; berat di sini maksudnya adalah ketika membacanya dibutuhkan konsentrasi penuh dan ingatan yang kuat tentang hal-hal yang diutarakan penulis mengenai sebuah fakta dan peristiwa yang menjadi dasar konflik-konflik selanjutnya. Saya mendapati diri saya kembali membuka halaman-halaman sebelumnya ketika mulai dibingungkan dengan jalan ceritanya. Selain itu, novel ini juga menampilkan cerita dengan genre tidak biasa, criminal yang dibumbui dengan sedikit unsur romance.
Kematian, kematian, dan kematian… Sisi gelap yang paling mengerikan. Kau bisa bersenang-senang, kau bisa tertawa, menikmati hidup dalam gelimangan harta, tapi tanpa kau sadari kematian membayangimu dari sisi yang tak kau duga. Kau tak bisa mengadakan perlawanan jika kematian telah menghampirimu. Tapi, bagaimana jika kematian disajikan dalam bentuk yang sedemikian indah?
Kau bisa melihatnya pada Joong atau… Shadow, Sang Bayangan. Tampan, pembunuh bayaran yang sanggup membuat Agni melakukan apa pun untuknya, bahkan menyerahkan kehidupannya sekalipun. Dan rival Shadow adalah Light, Cahaya… yang merupakan identitas seorang detektif jenius bernama Lee Shin. Selalu ada kejutan di balik sebuah peristiwa. Hanya saja perseteruan antara Shadow dan Light kurang ditonjolkan. Mungkin akan lebih ‘menggigit’ jika pada akhirnya Shadow, Agni, dan Shin berada pada satu pertempuran. Namun yang saya sukai adalah bumbu romance di dalamnya: ketika kau mencintai musuh kekasihmu. Saya seolah merasakan apa yang dirasakan Shin ketika tahu Agni adalah kekasih Joong.
Next, alurnya tak terasa terlalu lambat maupun cepat. Hanya saja akhir ceritanya sangat menggantung, dan tahu bahwa lanjutannya sedang dikerjakan oleh penulis membuat saya sedikit lega. Dari segi penampilan fisik, menurut saya novel ini hampir sempurna. Ukurannya yang pas di tangan, tidak terlalu besar ataupun kecil, judul di kavernya yang timbul, serta kertasnya yang wangi. Gambar kavernya juga menarik, dua buah pistol dan… katana─pedang panjang Jepang. Kereeen!!
Pada intinya, kalau kamu menyukai novel yang tidak biasa, novel inilah jawabannya. Shadow Light akan membawamu menyingkap sisi gelap dari kehidupan yang kamu tidak ketahui sebelumnya.
“Jika kau pernah menerima hidup dari kematian, maka selamanya, kau akan… menjadi bagian dari kematian...”

*First published on: https://www.facebook.com/notes/evi-sofia-inayati/novel-review-shadow-light-ketika-bayangan-dan-cahaya-bertentangan/10150939336094518