Pages

Selasa, 17 Februari 2015

Lubang

Lubang
Oleh: Evnaya Sofia

Lubang itu… Ah, lubang itu membuatnya terjatuh berulang kali. Ingin sekali ia menutup lubang itu dan berjalan tanpa harus terperosok ke dalamnya. Namun, setiap kali ia berusaha berjalan menghindarinya ia justru semakin sering terjebak di sana, dan pada akhirnya merasakan sakit luar biasa. 

Ia telah mencoba cara lain, mencari jalan yang bisa ditempuhnya dengan mulus. Tapi mengapa seolah semua usahanya sia-sia? Ia tak menemukan jalan lain selain jalan yang biasa ditempuhnya. Begitu sempitkah dunia ini hanya untuk menemukan jalan setapak yang bisa dilaluinya tanpa harus merasakan sakit? 
Ia berusaha tetap tabah, berharap lubang itu akan tertutup dan hilang seiring waktu yang memutar. Tapi apa yang terjadi? Ia justru mendapati lubang itu semakin besar dan dalam, sementara suara-suara di kepalanya kini terdengar sangat memekakkan telinga.
Sebuah bayangan tertinggal di kepalanya.
Membuat lubang perasaannya.   

***
Notes: pernah dimuat di rubrik Fiksimini Majalah Story edisi 48 (tahun 2013 lalu, ditulis dan dikirimnya bulan Februari 2012); yang dimuat di blog ini adalah versi keduanya. :p Bedanya? Cuma di ending kok. Baca di bawah ini ya, tapi... kalo keliatan juga sih tulisannya -,-


Minggu, 15 Februari 2015

Sajak Sang Pembunuh



Sajak Sang Pembunuh


Oleh: Evnaya Sofia

jangan!
jangan beritakan pada mereka
di atas tanahtanah yang lampau jaya
di ranah tampuk kuasa suatu kala
terbaca nista, derita, curigacuriga yang tak nyala

aku meregang napas satu kilat
merapal mantra sang penasihat
memburu nyawa, satu satu satu satu
mati!
biar puas dahaga jiwa
biar padam kobar kepala
biar mati!
kau nista, kau derita, kau bara, kau...
bencana

mengulum udara sesak bau darahdarah durjana
menjejak seribu langkah kematian
terseokseok di balik kacamata hampa
dan tanahtanah yang runtuh membabi buta
lebur sudah cerita berenda nadanada
sebab kau nista, kau derita, kau bara, lalu aku...
bencana

***
Notes: puisi ini ditulis untuk melengkapi naskah drama untuk pagelaran dengan mengikuti jalan cerita dari drama tersebut dan dibacakan sewaktu pementasan. Ada di menit 23.56, lihat cerita behind the scene dan videonya di sini.

Sabtu, 14 Februari 2015

[Cerpen #SayNo-to-Valentine]: Cokelat Pelipur


I owe the picture here
Oleh: Evnaya Sofia         
“Uh! Susah banget, sih!” keluh Ayla sambil memijat-mijat lehernya yang pegal. Ia mengocok isi celengan ayamnya lalu kembali mengarahkan lubang celengan itu beberapa senti dari matanya sementara jemari tangan kanannya yang memegang lidi mengorek-orek isi di dalamnya. Ayo, Ay! Tinggal sedikit lagi! Ia menyemangati dirinya.
            “Heii, kamu ngapain?” tiba-tiba kepala Kak Riki menyembul dari balik pintu kamar Ayla.
            “Yee! Dapeeet!” Ayla bersorak kegirangan. Tak dihiraukannya pertanyaan kakaknya barusan. Diciumnya beberapa lembar uang sepuluh ribu yang dengan susah payah dikeluarkannya dari dalam celengan.
            “Emang uangnya buat apa sih? Sampe ngorek isi celengan segala,” tanya Riki lagi, kini ia telah berdiri di dekat ranjang Ayla.
            “Buat beli cokelat, dong!” sahut Ayla mantap.
            “Cokelat? Bukannya kamu nggak terlalu doyan cokelat? Lagian buat apa juga sih, cuman beli cokelat sebatang aja kan bisa pake uang jajan yang dikasih Mama.” Riki mengernyit bingung, tak habis pikir dengan tingkah adik semata wayangnya itu.
            “Dua hari lagi kan Valentine, Kak!” cetus Ayla lalu beranjak pergi, meninggalkan Riki yang diam terpaku. Ah, adiknya itu rupanya sudah tahu soal Valentine, sesuatu yang tahun ini ia sama sekali tak berniat ikut merayakannya.
* * *
            “Apaaa?! Lo mau ngasi cokelat ke Kak Irfan?!” mata Widhi membelalak lebar, ekspresi terkejutnya sudah mirip adegan-adegan di sinetron saja.
            Ayla dan dua sohibnya, Widhi dan Tasha, baru saja pulang dari mall membeli cokelat untuk Valentine. Mereka berkumpul di rumah Widhi untuk bersama-sama membungkus batangan-batangan cokelat itu dengan pita-pita cantik. Di antara ketiganya, cuma Ayla yang saat ini masih jomblo. Sementara Widhi dan Tasha akan double date di malam perayaan Valentine nanti, Ayla justru baru berniat pedekate dengan Irfan Pradana, kakak kelasnya di sekolah. Salah satu dari aksi pedekatenya itu adalah memberikan cokelat di hari Valentine.
            “Yang bener aja lo! Gue saranin ya, Ay, mending lo nggak usah ngasih cokelat ke dia deh!” tentang Tasha.
            “Iya, Ay. Mending nggak usah kali daripada ditolak mentah-mentah,” timpal Widhi, mendukung pernyataan Tasha.
             “Yang beli cokelat siapa?”
            “Elo!” jawab Widhi dan Tasha serempak.
            “Yang ngeluarin duit siapa?”
            “Elo!” jawab mereka lagi.
            “Yang mau pedekate siapa?”
            Ya elo juga sih!” kali ini Tasha lebih dulu menjawab.
            “Sooo, masalah buat lo?!” Ayla menatap kedua temannya satu per satu. Ia nyengir lebar.
            “Iyaaa. Masalah banget buat kitaaa,” ujar dua sohibnya berbarengan.
            “Ampuuun, deh! Yang mau ngasih cokelat kan gue, yang ngeluarin duit juga gue. Nggak ada sangkut-pautnya sama lo berdua!” tandas Ayla.
            Iya, gue tau. Tapi masalahnya, Kak Irfan itu... Haduh, bingung gue gimana jelasinnya ke elo!” Widhi menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Sha, bantuin gue jelasinnya kek!” ia menyikut Tasha yang duduk di sampingnya.
            “Iya, iya. Ni gue juga lagi mikir,” gerutu Tasha sambil mendelik ke arah Widhi.
            “Haduuuh, kalian ini kenapa sih?” tanya Ayla heran. Ia tak habis pikir dengan tingkah kedua sohibnya. Biasanya mereka selalu mendukung apa yang akan dilakukannya.
            “Hmm gini deh, gue jamin lo berdua nggak bakal dirugikan di misi gue kali ini!” janji Ayla.
            “Bukannya gitu,” Widhi memberi jeda sejenak─berusaha menyusun kalimat─lalu berkata, “Lo tau nggak sih? Masalahnya, Kak Irfan itu orangnya alim banget!
            “Gue tau!”
            “Dia anak rohis,” tambah Tasha.
            “Itu gue juga tau!”
            “Dia anti pacaran!”
            Tidak perlu diberitahu, itu juga Ayla tahu. Katanya sih, anak rohis itu emang anti banget sama yang namanya pacaran.
            “Daaan, dia termasuk orang yang nggak merayakan Valentine. So, cokelat lo bakal ditolak mentah-mentah sama dia. Yang ada lo bakal malu-maluin tau nggak.”
            “Iya, Ay. Bener tuh kata Widhi. Yang gue denger dari anak-anak lain juga gitu,” sambung Tasha.
            Ayla terdiam. Ia tampak sedang memikirkan sesuatu. Sebuah siasat pun muncul di kepalanya. Ia menjentikkan jari dan berkata, “Gue akan tetap ngasih cokelat ke Kak Irfan.”
            Sontak Widhi dan Tasha berseru, “Nekat lo!”
            “Udah, lo tenang aja. Gue jamin cokelat gue bakal diterima.” Ayla tersenyum misterius, yang akhirnya malah membuat kedua sohibnya melongo parah.
* * *

            Hari itu, Ayla menjalankan misinya. Dicarinya sosok idolanya itu hampir ke seluruh penjuru sekolah. Ia menarik napas lega ketika akhirnya ditemukannya cowok itu tengah duduk di sudut ruangan perpustakaan dengan buku terbuka di atas mejanya.
            “Ayolah, Kak. Menyenangkan hati orang lain kan nggak ada salahnya. Dapet pahala juga, kan? Lagian ini bukan kado Valentine kok,” rayu Ayla untuk kedua kalinya. Dua kalimat terakhir adalah senjata yang diharapnya bisa membuat sosok di hadapannya mau menerima cokelat darinya,.
            “Kamu benar, Ayla. Menyenangkan hati orang lain memang tidak ada salahnya. Dan in syaa Allah juga berpahala. Asalkan kita ikhlas melakukannya semata-mata karena Allah. Karena segala amal perbuatan itu tergantung dari niatnya. Bukan karena apa-apa, aku hanya takut ini semua jadi pembenaran berkedok satu hal yang tidak seharusnya menjadi perayaan bagi kita seorang muslim. Afwan, kamu mengerti maksudku kan?”
            Ayla mengangguk. Jujur saja, sebenarnya ia sangat malu pemberiannya ditolak mentah-mentah. Ia tahu benar kalau Kak Irfan tidak merayakan Valentine. Lagi pula semalam Kak Riki juga sudah menceramahinya habis-habisan untuk tidak ikut-ikutan merayakan Valentine seperti remaja kebanyakan.
            Sosok di hadapannya itu tersenyum, lalu kembali melanjutkan, “Begini saja, aku akan terima cokelat dari kamu dengan syarat... Hm, sebentar, Kak Irfan beranjak dari kursinya lalu menghilang di balik rak buku yang berjajar rapi. Beberapa saat kemudian ia  muncul dengan sebuah buku di tangannya. “Kamu harus baca buku ini,” ia mengulurkan sebuah buku berwarna pink cerah itu ke arahnya, yang diterima Ayla dengan ragu-ragu.
            “Itu bukunya bagus banget. Di dalamnya kamu bisa menemukan cara bagaimana Islam mengajarkan kita memaknai cinta. Ada sejarah Valentine juga kok,” promosi Kak Irfan. “Nah, bagaimana? Kamu setuju?”
            “Oke, boleh deh,” ujar Ayla akhirnya.
            Kesepakatan itu pun mengurai senyum di wajah lelaki itu.
* * *
Ayla menatap lesu layar laptop yang tengah memutar salah satu film favoritnya, Harry Potter and the Prisoner of Azkaban. Di malam Valentine ini ia memutuskan untuk tidak pergi ke mana pun. Meski Tasha dan Widhi beberapa kali membujuknya ikut bersama mereka, Ayla memilih untuk menolaknya. Bukan hanya karena ia tidak enak mengganggu acara double date mereka, tetapi ia memiliki alasan lain yang tidak diutarakannya saat mereka menelepon tadi sore. Ia akan mengatakan alasannya itu kalau waktunya sudah tepat.
              Dan alasan di balik semua itu sebenarnya adalah apa yang didengarnya dari seorang Irfan Pradana.
            Ayla melirik dua batang cokelat yang teronggok di atas meja belajarnya. Tak tahu akan dikemanakannya semua cokelat itu berhubung Kak Irfan hanya menerima sebatang saja dari tiga batang yang diulurkannya. Kakak kelasnya itu awalnya bersikeras menolak menerima cokelat dari Ayla meski ia sudah merayunya berkali-kali. Namun akhirnya ia berubah pikiran, dengan catatan Ayla bersedia mengikuti persyaratannya.
            Kalau boleh jujur, Ayla sudah sangat terkesan dengan cowok itu semenjak masa orientasinya sebagai siswa baru di SMA-nya sekarang. Ia dua tingkat lebih tinggi kelasnya dari Ayla. Pembawaannya kalem dan supel. Saat anggota OSIS lainnya sok galak, Kak Irfan justru sebaliknya. Ia lebih banyak mengarahkan daripada membentak-bentak tidak jelas seperti yang lainnya.
            Dan kejadian tadi siang… Ah, Ayla  bingung bagaimana harus menjelaskannya. Meskipun Widhi dan Tasha mati-matian melarangnya memberikan cokelat ke Kak Irfan, Ayla tetap nekat.
            Ayla berusaha fokus pada filmnya. Adegan di layar menampilkan Profesor R. J. Lupin─calon guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam Hogwarts yang tengah memberikan sepotong cokelat kepada Harry. Ia menatap adegan itu dengan saksama, namun tiba-tiba suara bel pintu rumahnya memaksanya untuk beranjak.
            “Tasha, Widhi! Kalian ...” Ayla heran ketika melihat dua sohibnya berada di balik pintu. Ia menatap Widhi, lalu Tasha, dan seketika berseru, “Ya ampun lo kenapa, Sha? Kok mata lo sembap gitu? Lo abis nangis?”
            “Ay, biarin kita masuk dulu kek!” tukas Widhi kesal.
            Ayla pun mengajak keduanya masuk ke kamarnya. Sekilas matanya menangkap sosok kakaknya yang tampak serius mengerjakan sesuatu di dalam kamarnya dari pintunya yang terbuka lebar.
            “Jadi, tadi cowoknya Tasha tiba-tiba ngebatalin acara,” kata Widhi mulai menjelaskan tanpa diminta. “Alasannya sih, katanya dia lagi disuruh nganterin mamanya ke Bogor buat ngejenguk neneknya yang sakit. Gue sama cowok gue akhirnya nganterin Tasha pulang. Di perjalanan, eh, gue liat cowoknya Tasha keluar dari mobil gandeng cewek mesra banget dan mereka baru aja mau masuk ke salah satu kafe, gue lupa kafe apa namanya. Ya udah, gue sama Tasha langsung turun dan nyamperin si Ragil. Tasha minta dianter ke rumah elo, gue sekalian ikut aja. Untung cowok gue akhirnya ngerti dan ngijinin gue nemenin Tasha.”
            Ayla hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia meraih tubuh Tasha yang tengah terisak di sampingnya dan menepuk pundak cewek itu.
            “Udah, Sha. Cowok kayak gitu nggak usah lo tangisin. Sabar yaaa,” hibur Ayla. Tasha mengangguk dan mulai menghapus air matanya dengan tisu.
            “Gue kesel banget sama dia,” lirih Tasha. “Sakit banget rasanya.”
            “Jangankan elo, Sha. Gue aja enek! Pengen gue cincang tuh anak!” Widhi emosi.
            Sejujurnya Ayla juga sangat kesal atas apa yang dilakukan Ragil pada sahabatnya itu. Tapi sepertinya bukan hal yang tepat untuknya ikut melampiaskan kekesalan, karena yang lebih dibutuhkan dua sahabatnya saat ini adalah ketenangan. Hanya saja ia tidak tahu bagaimana harus menenangkan keduanya.
            Layar laptop-nya masih memutar film Harry Potter tadi. Volume suaranya telah ia telah kecilkan sehingga tak terdengar apa pun selain suara Widhi yang terus menggerutu. Adegan demi adegan terlewat begitu saja sementara ia menghibur sekaligus mencari cara untuk menenangkan keduanya.
            Tetapi tiba-tiba sebuah bohlam menerangi kepalanya. Sebuah adegan ketika Profesor R. J. Lupin memberikan cokelat kepada Harry Potter di Hogwarts Express tadi kini berputar cepat di kepalanya. Serangan Dementor, Harry yang pingsan, dan… cokelat?
            Ayla berusaha mencerna maksud dari semua itu. Sejenak kemudian ia sudah berlari mengambil dua batang cokelat yang teronggok di atas meja belajarnya.
            “Nih, buat kalian,” katanya sambil menyodorkan sebatang cokelat yag telah dipotong menjadi dua itu pada Widhi dan Tasha. “Bisa ngebantu kalian buat ngilangin bete.”
            “Eh, bentar ya,” kata Ayla tiba-tiba. Ia berlari keluar kamar dan menghampiri kakaknya. Kertas HVS bertebaran di sekitarnya sementara ia terlihat sibuk mengetik sesuatu di laptop.
            “Kak,” panggil Ayla begitu ia duduk di sisi ranjang kakaknya.
            “Apaan? Ganggu aja, kakak lagi sibuk!” sahut Riki ketus tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop-nya.
            “Idiih, galak amat!” sungut Ayla. “Nih biar nggak bete dan galak-galak lagi!” Disodorkannya sebatang cokelat miliknya itu tepat ke wajah Riki. Bukannya mengambil cokelat itu, Riki malah menatap heran ke arahnya.
            “Menurut penelitian ilmiah, cokelat bisa membangkitkan perasaan senang dan menghilangkan kegalauan,”Ayla terpaksa mengutip sesuatu yang pernah dibacanya mengenai kandungan zat dalam cokelat yang katanya bisa membangkitkan perasaan senang dan memperbaiki mood seseorang. Ayla sendiri kaget setelah menyadari apa yang baru saja diucapkannya, tapi rasa-rasanya ia memang pernah membaca kalau cokelat memiliki khasiat tersendiri seperti yang dikatakannya tadi.
            “Udah deh, makan aja tuh!” kata Ayla akhirnya setelah meletakkan cokelat itu di hadapan Riki dan meninggalkan kakaknya itu dengan wajah penuh tanda tanya.
            Ayla tersenyum lebar begitu keluar dari kamar kakaknya. Langkahnya terhenti di ambang pintu begitu  melihat Tasha dan Widhi tengah asyik menekuni sebuah buku. Buku berkaver pink yang diulurkan Kak Irfan itu baru dibacanya setengah. Sedikit banyak ia tahu apa yang dimaksud laki-laki itu dengan cinta mulia dalam Islam. Juga sejarah Valentine yang persis seperti yang diceramahkan kakaknya kepadanya.
            Disandarkannya tubuhnya di dinding dekat pintu sebelah luar kamarnya. Samar-samar ia bisa mendengar percakapan antara Widhi dan Tasha di dalam.
            “Tuh, Sha, lo disuruh putus tuh sama buku ini! Cowok kayak Ragil mah enaknya diputusin aja,” cecar Widhi.
            “Elo juga kali! Putus gih sana sama Dika!” balas Tasha tak mau kalah.
            Keduanya pun akhirnya terdiam, sampai Widhi kembali berkata, “Eh, sejak kapan ya Ayla baca yang beginian? Ni buku kok berasa nampar gue banget. Apa lagi bagian sejarah Valentine, gue ke mana aja ya kok baru tau sejarahnya kayak begitu. Ngeri deh ternyata salah satu versinya bilang kalo Valentine itu identik sama percintaan di luar nikah.”
            Tasha tercekat. Ia pun merasakan hal yang sama. Udah Putusin Aja! begitu kata buku itu. Dan sekarang mereka harus say no to Valentine. Di luar, Ayla tersenyum mendengar percakapan itu.
            Dan pembaca, tahukah kamu? Di tempat yang berbeda lelaki itu berdoa, berharap agar Tuhan bersedia membantunya menolong generasi remaja Islam yang tengah diserang budaya di luar Islam, ritual-ritual yang tak seharusnya turut mereka lakukan.
            Kalian... mengenali laki-laki itu kan?

* * *
Notes: 
*Dementor adalah makhluk mengerikan penjaga Penjara Sihir Azkaban yang menghisap segala kebahagian dan kenangan kegembiraan seseorang sehingga tinggal kesedihan.
**cerpen ini ditulis pada pertengahan Januari 2012 dan diikutsertakan dalam lomba cerpen #SayNo-to-Valentine yang diadakan waktu itu. Diedit di beberapa bagian dan banyak mengalami perubahan dari versi aslinya. Versi aslinya pernah dimuat di blog seorang teman dan dibedah di suatu grup kepenulisan. Well, lemme know what's on your mind about this story. ^^