 |
| I owe the picture here |
Oleh: Evnaya Sofia
“Uh! Susah banget, sih!”
keluh Ayla sambil memijat-mijat lehernya yang pegal. Ia mengocok isi celengan
ayamnya lalu kembali mengarahkan lubang celengan itu beberapa senti dari
matanya sementara jemari tangan kanannya yang memegang lidi mengorek-orek isi
di dalamnya. Ayo, Ay! Tinggal sedikit
lagi! Ia menyemangati dirinya.
“Heii, kamu ngapain?”
tiba-tiba kepala Kak Riki menyembul dari balik pintu kamar Ayla.
“Yee! Dapeeet!” Ayla
bersorak kegirangan. Tak dihiraukannya pertanyaan kakaknya barusan. Diciumnya beberapa
lembar uang sepuluh ribu yang dengan susah payah dikeluarkannya dari dalam celengan.
“Emang uangnya buat apa
sih? Sampe ngorek isi celengan segala,” tanya Riki lagi, kini ia telah berdiri
di dekat ranjang Ayla.
“Buat beli cokelat,
dong!” sahut Ayla mantap.
“Cokelat? Bukannya kamu nggak
terlalu doyan cokelat? Lagian buat apa juga sih, cuman beli cokelat sebatang
aja kan bisa pake uang jajan yang dikasih Mama.” Riki mengernyit bingung, tak habis
pikir dengan tingkah adik semata wayangnya itu.
“Dua hari lagi kan
Valentine, Kak!” cetus Ayla lalu beranjak pergi, meninggalkan Riki yang diam
terpaku. Ah, adiknya itu rupanya sudah tahu soal Valentine, sesuatu yang tahun
ini ia sama sekali tak berniat ikut merayakannya.
* * *
“Apaaa?! Lo mau ngasi
cokelat ke Kak Irfan?!” mata Widhi membelalak lebar, ekspresi terkejutnya sudah
mirip adegan-adegan di sinetron saja.
Ayla dan dua sohibnya,
Widhi dan Tasha, baru saja pulang dari mall membeli cokelat untuk Valentine. Mereka berkumpul
di rumah Widhi untuk bersama-sama membungkus batangan-batangan cokelat itu dengan pita-pita cantik. Di antara ketiganya, cuma
Ayla yang saat ini masih jomblo. Sementara Widhi dan Tasha akan double date di malam perayaan Valentine nanti, Ayla justru
baru berniat pedekate dengan Irfan Pradana, kakak kelasnya di sekolah. Salah
satu dari aksi pedekatenya itu adalah memberikan cokelat di hari Valentine.
“Yang bener aja lo! Gue
saranin ya, Ay,
mending lo nggak usah ngasih cokelat ke dia deh!” tentang Tasha.
“Iya, Ay. Mending nggak usah kali
daripada ditolak mentah-mentah,” timpal Widhi, mendukung pernyataan Tasha.
“Yang beli cokelat siapa?”
“Elo!” jawab Widhi dan
Tasha serempak.
“Yang ngeluarin duit
siapa?”
“Elo!” jawab mereka
lagi.
“Yang mau pedekate
siapa?”
“Ya elo juga sih!” kali ini Tasha lebih dulu
menjawab.
“Sooo, masalah buat
lo?!” Ayla menatap kedua temannya satu per satu. Ia nyengir lebar.
“Iyaaa. Masalah banget
buat kitaaa,” ujar dua sohibnya berbarengan.
“Ampuuun, deh! Yang mau
ngasih cokelat kan gue, yang ngeluarin duit juga gue. Nggak ada sangkut-pautnya
sama lo berdua!” tandas Ayla.
“Iya, gue tau. Tapi
masalahnya,
Kak Irfan itu... Haduh,
bingung gue gimana jelasinnya ke elo!” Widhi menggaruk-garuk kepalanya yang
tidak gatal. “Sha, bantuin gue jelasinnya kek!” ia menyikut Tasha yang duduk di
sampingnya.
“Iya, iya. Ni gue juga
lagi mikir,”
gerutu Tasha sambil mendelik ke arah Widhi.
“Haduuuh, kalian ini
kenapa sih?” tanya Ayla heran. Ia tak habis pikir dengan tingkah kedua
sohibnya. Biasanya mereka selalu mendukung apa yang akan dilakukannya.
“Hmm gini deh, gue jamin lo
berdua nggak bakal dirugikan di misi gue kali ini!” janji Ayla.
“Bukannya gitu,” Widhi memberi jeda
sejenak─berusaha menyusun kalimat─lalu berkata, “Lo tau nggak sih? Masalahnya, Kak Irfan itu
orangnya alim banget!”
“Gue tau!”
“Dia anak rohis,” tambah
Tasha.
“Itu gue juga tau!”
“Dia anti pacaran!”
Tidak perlu
diberitahu, itu juga Ayla tahu. Katanya sih, anak rohis itu emang anti banget
sama yang namanya pacaran.
“Daaan, dia termasuk
orang yang nggak merayakan Valentine. So, cokelat lo bakal ditolak mentah-mentah sama dia. Yang ada lo
bakal malu-maluin tau nggak.”
“Iya, Ay. Bener tuh kata
Widhi. Yang gue denger dari anak-anak lain juga gitu,” sambung Tasha.
Ayla terdiam. Ia tampak
sedang memikirkan sesuatu. Sebuah siasat pun muncul di kepalanya. Ia
menjentikkan jari dan berkata, “Gue akan tetap ngasih cokelat ke Kak Irfan.”
Sontak Widhi dan Tasha
berseru, “Nekat lo!”
“Udah, lo tenang aja.
Gue jamin cokelat gue bakal diterima.” Ayla tersenyum misterius, yang akhirnya
malah membuat kedua sohibnya melongo parah.
* * *
Hari
itu, Ayla menjalankan misinya. Dicarinya sosok idolanya itu hampir ke seluruh
penjuru sekolah. Ia menarik napas lega ketika akhirnya ditemukannya cowok itu
tengah duduk di sudut ruangan perpustakaan dengan buku terbuka di atas mejanya.
“Ayolah, Kak.
Menyenangkan hati orang lain kan nggak ada salahnya. Dapet pahala juga, kan? Lagian ini
bukan kado Valentine kok,” rayu Ayla untuk kedua kalinya. Dua kalimat terakhir adalah
senjata yang diharapnya bisa membuat sosok di hadapannya mau menerima cokelat
darinya,.
“Kamu benar, Ayla. Menyenangkan
hati orang lain memang tidak ada salahnya. Dan in syaa Allah juga berpahala.
Asalkan kita ikhlas melakukannya semata-mata karena Allah. Karena segala amal
perbuatan itu tergantung dari niatnya. Bukan karena apa-apa, aku hanya takut
ini semua jadi pembenaran berkedok satu hal yang tidak seharusnya menjadi
perayaan bagi kita seorang muslim. Afwan, kamu mengerti maksudku kan?”
Ayla
mengangguk. Jujur saja, sebenarnya ia sangat malu pemberiannya ditolak
mentah-mentah. Ia tahu benar kalau Kak Irfan tidak merayakan Valentine. Lagi pula
semalam Kak Riki juga sudah menceramahinya habis-habisan untuk tidak
ikut-ikutan merayakan Valentine seperti remaja kebanyakan.
Sosok di
hadapannya itu tersenyum, lalu kembali melanjutkan, “Begini saja, aku akan
terima cokelat dari kamu dengan syarat... Hm, sebentar,” Kak Irfan beranjak dari kursinya lalu
menghilang di balik rak buku yang berjajar rapi. Beberapa saat kemudian ia muncul dengan sebuah buku di tangannya. “Kamu
harus baca buku ini,” ia mengulurkan sebuah buku berwarna pink cerah itu ke
arahnya, yang diterima Ayla dengan ragu-ragu.
“Itu
bukunya bagus banget. Di dalamnya kamu bisa menemukan cara bagaimana Islam
mengajarkan kita memaknai cinta. Ada sejarah Valentine juga kok,” promosi Kak
Irfan. “Nah, bagaimana? Kamu setuju?”
“Oke, boleh
deh,” ujar Ayla akhirnya.
Kesepakatan
itu pun mengurai senyum di wajah lelaki itu.
* * *
Ayla menatap lesu layar laptop
yang tengah memutar salah satu film favoritnya, Harry Potter and the Prisoner
of Azkaban. Di malam Valentine ini ia memutuskan
untuk tidak pergi ke mana pun. Meski Tasha dan Widhi beberapa
kali membujuknya ikut bersama mereka, Ayla memilih untuk menolaknya. Bukan hanya karena ia
tidak enak mengganggu acara double date
mereka, tetapi ia memiliki alasan lain yang tidak diutarakannya saat mereka
menelepon tadi sore. Ia akan mengatakan alasannya itu kalau waktunya sudah
tepat.
Dan alasan di balik semua itu sebenarnya
adalah apa yang didengarnya dari seorang Irfan Pradana.
Ayla melirik dua batang cokelat yang teronggok di atas meja belajarnya. Tak tahu akan
dikemanakannya semua cokelat itu berhubung Kak Irfan hanya menerima sebatang
saja dari tiga batang yang diulurkannya. Kakak kelasnya itu awalnya bersikeras
menolak
menerima cokelat dari Ayla meski ia sudah merayunya berkali-kali. Namun akhirnya
ia berubah pikiran, dengan catatan Ayla bersedia mengikuti persyaratannya.
Kalau boleh jujur, Ayla
sudah sangat terkesan dengan cowok itu semenjak masa orientasinya sebagai siswa
baru di SMA-nya sekarang. Ia dua tingkat lebih tinggi kelasnya dari Ayla. Pembawaannya kalem dan supel. Saat
anggota OSIS lainnya sok galak, Kak Irfan justru sebaliknya. Ia lebih
banyak mengarahkan daripada membentak-bentak tidak jelas seperti yang lainnya.
Dan kejadian tadi siang…
Ah, Ayla bingung bagaimana harus menjelaskannya. Meskipun Widhi dan Tasha
mati-matian melarangnya memberikan cokelat ke Kak Irfan, Ayla tetap nekat.
Ayla berusaha fokus pada
filmnya. Adegan di layar menampilkan Profesor R. J. Lupin─calon guru Pertahanan Terhadap
Ilmu Hitam Hogwarts yang tengah memberikan sepotong cokelat kepada Harry. Ia menatap
adegan itu dengan saksama, namun tiba-tiba suara bel pintu rumahnya memaksanya
untuk beranjak.
“Tasha, Widhi! Kalian ...” Ayla heran ketika
melihat dua sohibnya berada di balik pintu. Ia menatap Widhi, lalu Tasha, dan
seketika berseru, “Ya ampun lo kenapa, Sha? Kok mata lo sembap gitu? Lo abis
nangis?”
“Ay, biarin kita masuk
dulu kek!” tukas Widhi kesal.
Ayla pun mengajak
keduanya masuk ke kamarnya. Sekilas matanya menangkap sosok kakaknya yang
tampak serius mengerjakan sesuatu di dalam kamarnya dari pintunya yang terbuka
lebar.
“Jadi, tadi cowoknya Tasha
tiba-tiba ngebatalin acara,” kata Widhi mulai menjelaskan tanpa diminta.
“Alasannya sih, katanya dia lagi disuruh nganterin mamanya ke Bogor buat
ngejenguk neneknya yang sakit. Gue sama cowok gue akhirnya nganterin Tasha
pulang. Di perjalanan, eh, gue liat cowoknya Tasha keluar dari mobil gandeng
cewek mesra banget dan mereka baru aja mau masuk ke salah satu kafe, gue lupa
kafe apa namanya. Ya udah, gue sama Tasha langsung turun dan nyamperin si
Ragil. Tasha minta dianter ke rumah elo, gue sekalian
ikut aja. Untung cowok gue akhirnya ngerti dan ngijinin gue nemenin Tasha.”
Ayla hanya bisa
geleng-geleng kepala. Ia meraih tubuh Tasha yang tengah terisak di sampingnya
dan menepuk pundak cewek itu.
“Udah, Sha. Cowok kayak
gitu nggak usah lo tangisin. Sabar yaaa,” hibur Ayla. Tasha mengangguk dan
mulai menghapus air matanya dengan tisu.
“Gue kesel banget sama
dia,” lirih Tasha. “Sakit
banget rasanya.”
“Jangankan elo, Sha. Gue
aja enek! Pengen gue cincang tuh anak!” Widhi emosi.
Sejujurnya Ayla juga
sangat kesal atas apa yang dilakukan Ragil pada sahabatnya itu. Tapi sepertinya bukan hal yang tepat untuknya
ikut melampiaskan kekesalan, karena yang lebih dibutuhkan dua sahabatnya saat
ini adalah ketenangan. Hanya saja ia tidak tahu bagaimana harus menenangkan
keduanya.
Layar laptop-nya masih memutar film Harry Potter tadi. Volume suaranya telah ia telah kecilkan sehingga
tak terdengar apa pun selain suara Widhi yang terus menggerutu. Adegan demi
adegan terlewat begitu saja sementara ia menghibur sekaligus mencari cara untuk
menenangkan keduanya.
Tetapi tiba-tiba sebuah
bohlam menerangi kepalanya. Sebuah adegan ketika Profesor R. J. Lupin
memberikan cokelat kepada Harry Potter di Hogwarts Express tadi kini berputar
cepat di kepalanya. Serangan Dementor, Harry yang pingsan, dan… cokelat?
Ayla berusaha mencerna
maksud dari semua itu. Sejenak kemudian ia sudah berlari mengambil dua batang cokelat yang
teronggok di atas meja belajarnya.
“Nih, buat kalian,” katanya sambil
menyodorkan sebatang cokelat
yag
telah dipotong menjadi dua itu pada Widhi dan Tasha. “Bisa ngebantu kalian buat
ngilangin bete.”
“Eh, bentar ya,” kata
Ayla tiba-tiba. Ia berlari keluar kamar dan menghampiri kakaknya. Kertas HVS
bertebaran di sekitarnya sementara ia terlihat sibuk mengetik sesuatu di laptop.
“Kak,” panggil Ayla
begitu ia duduk di
sisi ranjang kakaknya.
“Apaan? Ganggu aja,
kakak lagi sibuk!” sahut Riki ketus tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop-nya.
“Idiih, galak amat!”
sungut Ayla. “Nih biar nggak bete dan galak-galak lagi!” Disodorkannya sebatang
cokelat miliknya itu tepat ke wajah Riki. Bukannya mengambil cokelat itu, Riki
malah menatap heran ke arahnya.
“Menurut penelitian
ilmiah, cokelat bisa membangkitkan perasaan senang dan menghilangkan
kegalauan,”Ayla terpaksa mengutip sesuatu yang pernah dibacanya mengenai kandungan zat
dalam cokelat yang katanya bisa membangkitkan perasaan senang dan memperbaiki mood seseorang. Ayla sendiri kaget setelah menyadari apa yang baru
saja diucapkannya, tapi rasa-rasanya ia memang pernah membaca kalau cokelat memiliki khasiat
tersendiri seperti yang dikatakannya tadi.
“Udah deh, makan aja
tuh!” kata Ayla akhirnya setelah meletakkan cokelat itu di hadapan Riki dan
meninggalkan kakaknya itu dengan wajah penuh tanda tanya.
Ayla tersenyum lebar begitu keluar
dari kamar kakaknya. Langkahnya terhenti di ambang pintu begitu melihat Tasha dan Widhi tengah asyik menekuni
sebuah buku. Buku berkaver pink yang diulurkan Kak Irfan itu baru dibacanya
setengah. Sedikit banyak ia tahu apa yang dimaksud laki-laki itu dengan cinta
mulia dalam Islam. Juga sejarah Valentine yang persis seperti yang diceramahkan
kakaknya kepadanya.
Disandarkannya tubuhnya di
dinding dekat pintu sebelah luar kamarnya. Samar-samar ia bisa mendengar percakapan
antara Widhi dan Tasha di dalam.
“Tuh, Sha,
lo disuruh putus tuh sama buku ini! Cowok kayak Ragil mah enaknya diputusin
aja,” cecar Widhi.
“Elo
juga kali! Putus gih sana sama Dika!” balas Tasha tak mau kalah.
Keduanya
pun akhirnya terdiam, sampai Widhi kembali berkata, “Eh, sejak kapan ya Ayla
baca yang beginian? Ni buku kok berasa nampar gue banget. Apa lagi bagian
sejarah Valentine, gue ke mana aja ya kok baru tau sejarahnya kayak
begitu. Ngeri deh ternyata salah satu versinya bilang kalo Valentine itu identik sama percintaan di luar nikah.”
Tasha
tercekat. Ia pun merasakan hal yang sama. Udah Putusin Aja! begitu kata
buku itu. Dan sekarang mereka harus say no to Valentine. Di luar, Ayla tersenyum
mendengar percakapan itu.
Dan
pembaca, tahukah kamu? Di tempat yang berbeda lelaki itu berdoa, berharap agar
Tuhan bersedia membantunya menolong generasi remaja Islam yang tengah diserang
budaya di luar Islam, ritual-ritual yang tak seharusnya turut mereka lakukan.
Kalian...
mengenali laki-laki itu kan?
* * *