Pages

Minggu, 18 Februari 2018

Wasiat dari Syaikh dan Sedikit tentang Perempuan



Selain sebagai teman berantem lempar-lemparan sandal, rebutan remote televisi, rebutan jatah makanan dari Bapak kalau beliau pulang dari suatu acara atau pengajian, salah satu hikmahnya punya adik laki-laki yang usianya tidak beda jauh denganku adalah aku bisa belajar banyak darinya.

Dari percakapan-percakapan dengannya, aku bisa mengetahui beberapa hal terkait perempuan dalam pandangan laki-laki. Seperti beberapa hari lalu setelah aku mengintip WA Stories miliknya. Dari fotonya itu aku melihat ia berdiri di depan salah seorang syaikh yang terlihat sedang menandatangani sebuah buku. Aku chat dia.

Ngengken ne cuy? Ngedeh ttd o? (Ngapain nih cuy? Minta ttd ya?)” tanyaku.

“Pastilah... Minta ttd sama ulama, bukan sama artis.”

Jleb. 

“Haha, mantaaap djiwa. Trus apa tuh kata-kata yang ditulisin beliau?” 

“Itu yang ada di status.”

“Evi gak bisa baca Arab gundul (baca: tanpa harakat).”

“Nasihat takwa, sama nasihat untuk ghodul bashor (menundukkan pandangan).”

“Ih, kok bisa pas gitu nasihatnya? Wkwk~”

“Soalnya beliau sangat memahami godaan para pemuda, wkwkwk. Di bookfair banyak akhwat." 

“Nah, nah, jangan curi-curi kesempatan sekalipun cuma bayangan di bookfair.”

“Ya Allaah, godaan itu berat. Nggak cuma di bookfair, di bus juga kadang.”

“Nunduk dooong~” 

“Ya merekanya sih tertutup. Matanya aja yang kelihatan, tapi berias (dandan).” 

Jadi barangkali memang sangat pas, ketika diwasiatkan kepada adikku kalimat ini oleh Syaikh Wahid Abdussalam Bali (yang kudengar dari adikku merupakan salah satu ulama dan penulis terkenal di Mesir):




Bisa baca nggak? Kalo nggak, berarti kita sama, hehehe. Ini nih, ditulisin adikku:


أُوْصِي نَفْسِي وَ إِيَّاكَ بِحِفْظِ اللِسَانِ، وَ غَضِ البَصَرِ، وَ مُرَاقَبَةِ اللهِ، الفَقِير اِلَى الله، وَاحِيد بَاليِ ٩ ١٤٣ه

“Aku mewasiatkan kepada diriku dan kepadamu untuk menjaga lisan, menundukkan pandangan, dan mendekatkan diri kepada Allah.” --Wahid Bali, 1439 H

Maa syaa Allah, wasiat yang luar biasa. Baarakallaahu fiikum Syaikh. Semoga selalu menjadi pengingat bagi adikku, bagiku, dan bagi siapa pun yang membaca ini. kembali ke soal percakapanku dengan adikku, barangkali kelihatannya itu hanya percakapan biasa. Tetapi bagiku, percakapan itu memiliki makna yang sangat dalam, juga menjadi sebuah peringatan keras. Tentang bagaimana seorang perempuan seharusnya menempatkan dirinya ketika berada di luar rumah. Tentang bagaimana seharusnya laki-laki mengambil alih dunianya ketika dihadapkan pada sesuatu yang bukan seharusnya ia pandang.

Dear akhawaat, kalau kamu mengatakan bahwa perintah menundukkan pandangan itu hanya untuk laki-laki saja, maka kamu salah. Ketahuilah bahwa di samping laki-laki (QS. An-Nur: 30), perempuan juga dihadapkan pada perintah yang sama terkait menundukkan pandangan itu (QS. An-Nur: 31). Bahkan untuk perempuan lebih detail lagi daripada itu. Menjaga auratnya kecuali yang biasa tampak, mengulurkan jilbabnya, juga menjauhkan diri dari segala perasaan ‘ingin dilihat’ oleh yang bukan mahram. 

Sampai di situ kemudian timbul pertanyaan, kenapa sih Islam ngekang kita banget sebagai perempuan? || Ya nggak laaah, kamunya aja yang suka gagal paham. :p Makanya jangan lebih suka kepoin artis daripada kepoin Ustadz/Ustadzah yang luar biasa ilmunya. :p

Permasalahan yang katanya Islam terlalu mengekang perempuan ini bahkan telah selesai jauuuuh sebelum kita-kita ini dilahirkan. Buktinya? Ini nih, aku pernah membaca hadits ini di buku Prophetic Parenting: Cara Nabi Saw. Mendidik Anak karya Dr. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid yang best seller itu. Sekalian saja yaa kukutip persis hadits-nya di sini karena menurutku hadits ini lua biasa sekali. Diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab Shahih-nya.

Dari Asma’ binti Yazid Ibnus Sakan ra. bahwasanya ia datang menghadap Nabi saw. yang saat itu berada di tengah-tengah para Sahabat. Dia (Asma’) katakan, “Sesungguhnya aku adalah utusan kaum wanita kepadamu. Tidak ada seorang wanita pun melainkan berkata seperti perkataanku dan berpendapat seperti pendapatku, bahwasanya Allah swt. telah mengutusmu membawa kebenaran kepada kaum laki-laki dan wanita. Kami beriman kepadamu dan mengikutimu.

Sesungguhnya kami, kaum wanita, terkurung dan terkungkung di rumah-rumah kalian, menjadi pemuas syahwat kalian dan anak-anak kalian. Sementara, kalian wahai kaum laki-laki, diberi kelebihan atas kami dengan shalat Jumat, shalat jenazah, dan jihad di jalan Allah. Apabila kalian pergi berjihad, kamilah yang menjaga harta kalian dan mendidik anak-anak kalian. Maka, amalan apa (yang dapat kami lakukan) sehingga kami mendapatkan pahala seperti pahala kalian, wahai Rasulullah?”

Rasulullah saw. berpaling ke arah para Sahabat kemudian bertanya, “Pernahkah kalian mendengar perkataan seorang wanita yang lebih baik dari pertanyaan wanita ini tentang perkara agamanya?” Mereka menjawab, “Tidak, wahai Rasulullah.” Rasulullah saw. bersabda, “Pergilah wahai Asma’ dan sampaikanlah kepada para wanita yang mengutusmu, bahwasanya pelayanan yang baik dari salah seorang di antara kalian kepada suaminya, mencari keridaannya, dan mengharap kepuasannya, memiliki pahala yang sama dengan yang engkau sebutkan.”

Maa syaa Allah~ bagian mana coba yang kelihatannya nggak baik untuk perempuan? Bahkan aktivitasnya di rumah saja pahalanya bisa sedemikian. Justru itu adalah bentuk penjagaan Islam untuk perempuan. Bukankah perempuan shalihah itu adalah perhiasan dunia?

Kalau di media sosial gimana? Kalo nggak ikutan update gitu, ntar jadi kuno dong~

Nah, coba deh kalian kepoin Youtube-nya Hijab Alila. Aku pernah lihat tim mereka bahas tentang #WanitaBersosmed (ini PR juga buatku karena aku belum nonton secara lengkap, hehe).

Hm, sejauh yang kualami sih, di era media sosial ini hal itu menjadi sesuatu yang dilematis. Kita sebagai perempuan juga ingin menjaga diri, tapi ingin dakwah juga. Di dunia nyata, kita juga ingin berkontribusi untuk masyarakat. Karena di zaman yang kritis ini, aku pribadi, merasa bersalah jika mendiamkan semua yang kuketahui padahal itu adalah sebuah kebaikan. Sekarang hanya masalah eksekusinya yang bagaimana, iya kan? 

Lalu, bagaimanapun aku akan selalu berusaha mengingat kata-kata Ustadz Bachtiar Nasir yang dalam kajian Tadabbur Al-Qur’an tentang kisah Maryam Ibunda Nabi Isa as., yang sangat taat beribadah di mihrab dan menjaga kesuciannya, kemudian Allah menurunkan untuknya makanan dari langit. Dari situ kita mendapat pelajaran bahwa, perempuan sejatinya bisa memperoleh rezeki dengan menyucikan dirinya. Dan itu juga yang menjadi salah satu sebab kewajiban mencari nafkah ada pada laki-laki, karena perempuan bisa mendapatkan rezekinya di rumah dengan menyucikan dirinya. Maa syaa Allah. Tapi ini bukan berarti perempuan tidak boleh bekerja loh ya, perempuan boleh bekerja selama itu baik bagi dirinya, tidak banyak mudharatnya, seizin suaminya kalau sudah menikah, dan yang paling penting tetap harus menjaga kesuciannya.

Maa  syaa Allah, memang Allah menciptakan perempuan dan laki-laki itu untuk saling melengkapi. Dan hukum-hukum-Nya disesuaikan dengan fitrah mereka. Nah, trus kalo LGBT, siapa melengkapi, siapa yang dilengkapi ya? Uhm, tapi sejujurnya yang lebih parah sih pendukungnya.

Sekian~ ^^