![]() |
| I owe the picture here |
Penulis: Putri Tami, dkk.
Penerbit: The Phinisi Press
Terbit: Cetakan I, Maret 2015
Tebal: 122 halaman
ISBN: 978-602-17651-5-9
Pesan Tuhan merupakan
sebuah antologi cerpen, lahir dari goresan para anggota Forum Mahasiswa Pecinta
Pena (FMPP) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Di usianya yang masih muda
sebagai komunitas sastra, FMPP mampu menjadi ‘jembatan’ bagi para anggotanya
untuk menghasilkan karya. Pesan Tuhan inilah yang menjadi karya perdana
mereka.
Dibuka oleh Pesan Tuhan 1,
sebuah puisi yang akan memandu pembaca untuk menyelami pesan dalam cerita yang
dikisahkan di halaman-halaman berikutnya. Yutika Aga Pristiana seolah mampu
merangkum keseluruhan isi cerita dalam bait-bait puisinya ini. Bahwa tak pernah
ada yang sia-sia. Tak seharusnya kita takut dan kerdil di hadapan kehidupan.
Kini aku takkan takut lagiTakkan kerdil lagi terhadap kehidupanYang aku takutkan adalah jika aku tak bisa membaca pesan-MuYang datang bersama luka dan coba itu, Tuhan―Pesan Tuhan 1, halaman 3
Selanjutnya, Alasan Tuhan
dari Putri Tami menjadi cerita pembuka dalam buku ini. Berkisah tentang
persahabatan 5 mahasiswa: Mia, Cikung, Dendy, Alfi dan Karis. Kisah mereka
dibingkai rapi dengan ide sederhana; kejenuhan salah satu tokohnya.
Karakter-karakternya mampu digambarkan penulis dengan baik. Aku sendiri
berusaha menebak pesan Tuhan apa yang ada dalam cerita ini, sampai si tokoh
sendiri secara eksplisit mengungkapkannya. Sementara itu, karya Putri Tami
selanjutnya berjudul Sekokoh Sayap dan Pesan Tuhan 2.
Membaca Sekokoh Sayap kita akan diajak mendalami kehidupan Emak, seorang
wanita yang tangguh dalam menghadapi segala persoalan hidup. Ujian bagi Emak
adalah orang-orang terdekatnya. Berbeda dengan Alasan Tuhan, Sekokoh
Sayap ini berusaha menyuruh kita untuk menebak makna yang ingin disampaikan
penulis. Ending-nya dibiarkan menggantung tanpa penyelesaian dari
konflik Abdi di awal.
Adapun Pesan Tuhan 2 dituturkan
secara baik. Membuat kita penasaran akan seperti apa kisahnya kemudian. Akan
tetapi, bagian akhirnya justru membuatku kecewa. Sikap Bapak yang memutuskan
menyuruh dua anak asuhnya yang tuli dan buta untuk bekerja meminta-minta di
pasar menurutku sangat mengganggu. Meski itu adalah hal yang mungkin saja
terjadi, tapi sikap tersebut sangat bertentangan dengan kemuliaan Bapak yang
memutuskan untuk mengasuh dan memberi mereka tempat tinggal. Hal ini membuat
pesan Tuhan yang ingin disampaikan menjadi ‘buram’.
Aku begitu menikmati membaca Resonansi
dari Yuyun Andriani. Emosi dari tokoh utamanya, Rika, digambarkan dengan
baik sehingga membuatku seolah mampu merasakan apa yang dialami si tokoh. Setting-nya
oke. Dialog-dialog antartokohnya asyik untuk dikuti. Cerpen ini lebih
menonjolkan konflik batin dari tokoh utama dan bikin ‘nyesek’ di bagian
akhirnya. #PrayforRika *eh
Next, Misteri Burung
Serak dari Eji mengangkat mitos dari suara burung serak yang dikaitkan
dengan kematian seseorang. Idenya cukup menarik dengan bumbu konflik antara
mereka yang percaya dan tidak percaya terhadap hal tersebut. Adanya tokoh
Dadan, seseorang yang berlawanan dengan tokoh utama, Arsyil (protagonis)
membuat cerita ini ‘panas’. Bikin greget banget, hehe. But it seems like...
sifat Dadan ini lebih seperti perempuan padahal ia adalah laki-laki.
Ketidaksukaannya pada Kana lebih seperti sifat cemburu seorang perempuan
mengenai masalah cinta, padahal mungkin yang harus ditonjolkan adalah
ketidaksukaan karena keberpihakan Arsyil pada Kana mengenai mitos tersebut
dalam konteks pertemanan. Namun, pesan yang berusaha disampaikanmelalui tokoh
Kana bahwa tak seharusnya kita percaya pada mitos menjadi nilai plus tersendiri
bagi cerpen ini.
Aku berharap banyak pada Prevathon
50sc milik R. Diani. Judulnya merupakan yang paling unik dan menarik
dibanding yang lainnya. Agak sedikit timpang karena kupikir yang akan menjadi
titik poin dan penyebab kematian Ardi adalah Prevathon 50sc ini, tapi
ternyata tidak. Hal tersebut menyebabkan Prevathon 50sc--yang
mungkin merupakan hal baru bagi orang-orang yang tidak mengetahuinya ini
seperti sekadar lewat saja karena kurang ditonjolkan dalam konflik tokohnya. Akan
tetapi, aku sangat menyukai bagaimana kisah ini di akhiri.
Tuhan Menyelipkan Makna di
Sela Waktu mengangkat unsur lokal dari desa pedalaman yang erat memegang
kepercayaan leluhur. Seperti Misteri Burung Serak, unsur kearifan lokal
menjadi nilai plus dalam cerpen ini. Putri Gula berhasil memasukkan pandangan
Islam mengenai kepercayaan dan apa yang dilakukan oleh ayah Arum. Meski
memiliki prinsip hidup yang bertentangan dengan ayahnya, Arum tetap menunjukkan
baktinya sebagai seorang anak. Bait puisi dan quotes yang disisipkan
penulis membuat cerpen ini ‘manis’ untuk dibaca.
The last, Ayah dan Arti
Sebuah Nama dari Hikmatulloh Al-Ghaliani bertutur mengenai kisah hidup
seorang anak berusia delapan tahun. Tak hanya mengedepankan konflik batin dari
si tokoh, Hikmatulloh berhasil menggambarkan setiap detil kejadian yang membuat
kita ‘gemas’ dan terenyuh di satu sisi dan sisi lainnya. Dengan piawai penulis
mengantarkan perasaan-perasaan si tokoh dalam dialog dan kalimat-kalimatnya.
Penggambaran tokoh utamanya tepat layaknya anak berusia delapan tahun. Selain
itu, cerpen ini kaya dengan unsur keislamannya. Aku menyukai cara penulis
mengungkapkan arti dari nama si tokoh dan mengaitkannya dengan persoalan yang
dihadapi tokohnya.
Over all, antologi Pesan
Tuhan ini mengungkap bahwa dalam setiap peristiwa yang kita alami dalam
hidup pasti memiliki makna tersendiri. Entah itu melalui kejadian yang
menyenangkan ataupun tidak. Kita hanya tak menyadarinya saja. Melalui
kisah-kisah dalam antologi ini, penulis mengajak kita untuk menyelami pesan
Tuhan dalam setiap kisah yang mereka suguhkan. Setiap kisah memiliki gaya penulisan
dan keunikan tersendiri. Dan jagoanku adalah Ayah dan Arti Sebuah Nama. Well, untuk komunitas yang umurnya masih sangat muda, kehadiran buku ini bisa dinilai sebagai pencapaian yang luar biasa. Semoga ke depannya lebih bisa menjadi wadah untuk menghasilkan karya-karya yang gemilang. Aamiin. Sukses, FMPP UMY! ^^
Tuhan, setidaknya masih ada waktu untukkuUntuk menjadikan hati kecil ini mudah membaca pesan-MuYang barangkali Engkau sisipkan di setiap sudut kekecewaanAtau di setiap butir tangis hati akibat coba-MuSeperti mudahnya aku membaca kenyamanan dari hutan yang rindang nan teduh―Pesan Tuhan, halaman 2
![]() |
| Thanks for the doorprize, thanks for the book ^-^ |

