Pages

Kamis, 04 Juni 2015

[Book Review] Pesan Tuhan by Putri Tami, dkk.: Ada Pesan-Mu dalam Ceritaku

I owe the picture here
Judul: Pesan Tuhan (Antologi Cerpen)
Penulis: Putri Tami, dkk.
Penerbit: The Phinisi Press
Terbit: Cetakan I, Maret 2015
Tebal: 122 halaman
ISBN: 978-602-17651-5-9

Pesan Tuhan merupakan sebuah antologi cerpen, lahir dari goresan para anggota Forum Mahasiswa Pecinta Pena (FMPP) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Di usianya yang masih muda sebagai komunitas sastra, FMPP mampu menjadi ‘jembatan’ bagi para anggotanya untuk menghasilkan karya. Pesan Tuhan inilah yang menjadi karya perdana mereka.

Dibuka oleh Pesan Tuhan 1, sebuah puisi yang akan memandu pembaca untuk menyelami pesan dalam cerita yang dikisahkan di halaman-halaman berikutnya. Yutika Aga Pristiana seolah mampu merangkum keseluruhan isi cerita dalam bait-bait puisinya ini. Bahwa tak pernah ada yang sia-sia. Tak seharusnya kita takut dan kerdil di hadapan kehidupan.
Kini aku takkan takut lagi
Takkan kerdil lagi terhadap kehidupan
Yang aku takutkan adalah jika aku tak bisa membaca pesan-Mu
Yang datang bersama luka dan coba itu, Tuhan
―Pesan Tuhan 1, halaman 3
Selanjutnya, Alasan Tuhan dari Putri Tami menjadi cerita pembuka dalam buku ini. Berkisah tentang persahabatan 5 mahasiswa: Mia, Cikung, Dendy, Alfi dan Karis. Kisah mereka dibingkai rapi dengan ide sederhana; kejenuhan salah satu tokohnya. Karakter-karakternya mampu digambarkan penulis dengan baik. Aku sendiri berusaha menebak pesan Tuhan apa yang ada dalam cerita ini, sampai si tokoh sendiri secara eksplisit mengungkapkannya. Sementara itu, karya Putri Tami selanjutnya berjudul Sekokoh Sayap dan Pesan Tuhan 2. Membaca Sekokoh Sayap kita akan diajak mendalami kehidupan Emak, seorang wanita yang tangguh dalam menghadapi segala persoalan hidup. Ujian bagi Emak adalah orang-orang terdekatnya. Berbeda dengan Alasan Tuhan, Sekokoh Sayap ini berusaha menyuruh kita untuk menebak makna yang ingin disampaikan penulis. Ending-nya dibiarkan menggantung tanpa penyelesaian dari konflik Abdi di awal.

Adapun Pesan Tuhan 2 dituturkan secara baik. Membuat kita penasaran akan seperti apa kisahnya kemudian. Akan tetapi, bagian akhirnya justru membuatku kecewa. Sikap Bapak yang memutuskan menyuruh dua anak asuhnya yang tuli dan buta untuk bekerja meminta-minta di pasar menurutku sangat mengganggu. Meski itu adalah hal yang mungkin saja terjadi, tapi sikap tersebut sangat bertentangan dengan kemuliaan Bapak yang memutuskan untuk mengasuh dan memberi mereka tempat tinggal. Hal ini membuat pesan Tuhan yang ingin disampaikan menjadi ‘buram’.

Aku begitu menikmati membaca Resonansi dari Yuyun Andriani. Emosi dari tokoh utamanya, Rika, digambarkan dengan baik sehingga membuatku seolah mampu merasakan apa yang dialami si tokoh. Setting-nya oke. Dialog-dialog antartokohnya asyik untuk dikuti. Cerpen ini lebih menonjolkan konflik batin dari tokoh utama dan bikin ‘nyesek’ di bagian akhirnya. #PrayforRika *eh

Next, Misteri Burung Serak dari Eji mengangkat mitos dari suara burung serak yang dikaitkan dengan kematian seseorang. Idenya cukup menarik dengan bumbu konflik antara mereka yang percaya dan tidak percaya terhadap hal tersebut. Adanya tokoh Dadan, seseorang yang berlawanan dengan tokoh utama, Arsyil (protagonis) membuat cerita ini ‘panas’. Bikin greget banget, hehe. But it seems like... sifat Dadan ini lebih seperti perempuan padahal ia adalah laki-laki. Ketidaksukaannya pada Kana lebih seperti sifat cemburu seorang perempuan mengenai masalah cinta, padahal mungkin yang harus ditonjolkan adalah ketidaksukaan karena keberpihakan Arsyil pada Kana mengenai mitos tersebut dalam konteks pertemanan. Namun, pesan yang berusaha disampaikanmelalui tokoh Kana bahwa tak seharusnya kita percaya pada mitos menjadi nilai plus tersendiri bagi cerpen ini.

Aku berharap banyak pada Prevathon 50sc milik R. Diani. Judulnya merupakan yang paling unik dan menarik dibanding yang lainnya. Agak sedikit timpang karena kupikir yang akan menjadi titik poin dan penyebab kematian Ardi adalah Prevathon 50sc ini, tapi ternyata tidak. Hal tersebut menyebabkan Prevathon 50sc--yang mungkin merupakan hal baru bagi orang-orang yang tidak mengetahuinya ini seperti sekadar lewat saja karena kurang ditonjolkan dalam konflik tokohnya. Akan tetapi, aku sangat menyukai bagaimana kisah ini di akhiri.

Tuhan Menyelipkan Makna di Sela Waktu mengangkat unsur lokal dari desa pedalaman yang erat memegang kepercayaan leluhur. Seperti Misteri Burung Serak, unsur kearifan lokal menjadi nilai plus dalam cerpen ini. Putri Gula berhasil memasukkan pandangan Islam mengenai kepercayaan dan apa yang dilakukan oleh ayah Arum. Meski memiliki prinsip hidup yang bertentangan dengan ayahnya, Arum tetap menunjukkan baktinya sebagai seorang anak. Bait puisi dan quotes yang disisipkan penulis membuat cerpen ini ‘manis’ untuk dibaca.

The last, Ayah dan Arti Sebuah Nama dari Hikmatulloh Al-Ghaliani bertutur mengenai kisah hidup seorang anak berusia delapan tahun. Tak hanya mengedepankan konflik batin dari si tokoh, Hikmatulloh berhasil menggambarkan setiap detil kejadian yang membuat kita ‘gemas’ dan terenyuh di satu sisi dan sisi lainnya. Dengan piawai penulis mengantarkan perasaan-perasaan si tokoh dalam dialog dan kalimat-kalimatnya. Penggambaran tokoh utamanya tepat layaknya anak berusia delapan tahun. Selain itu, cerpen ini kaya dengan unsur keislamannya. Aku menyukai cara penulis mengungkapkan arti dari nama si tokoh dan mengaitkannya dengan persoalan yang dihadapi tokohnya.  

Over all, antologi Pesan Tuhan ini mengungkap bahwa dalam setiap peristiwa yang kita alami dalam hidup pasti memiliki makna tersendiri. Entah itu melalui kejadian yang menyenangkan ataupun tidak. Kita hanya tak menyadarinya saja. Melalui kisah-kisah dalam antologi ini, penulis mengajak kita untuk menyelami pesan Tuhan dalam setiap kisah yang mereka suguhkan. Setiap kisah memiliki gaya penulisan dan keunikan tersendiri. Dan jagoanku adalah Ayah dan Arti Sebuah Nama. Well, untuk komunitas yang umurnya masih sangat muda, kehadiran buku ini bisa dinilai sebagai pencapaian yang luar biasa. Semoga ke depannya lebih bisa menjadi wadah untuk menghasilkan karya-karya yang gemilang. Aamiin. Sukses, FMPP UMY! ^^
Tuhan, setidaknya masih ada waktu untukku
Untuk menjadikan hati kecil ini mudah membaca pesan-Mu
Yang barangkali Engkau sisipkan di setiap sudut kekecewaan
Atau di setiap butir tangis hati akibat coba-Mu
Seperti mudahnya aku membaca kenyamanan dari hutan yang rindang nan teduh
―Pesan Tuhan, halaman 2
Thanks for the doorprize, thanks for the book ^-^

Senin, 01 Juni 2015

Kita pada Hujan

Ada sesuatu antara kita pada hujan. Kita pada hujan adalah doa-doa.

Kita pada hujan... seperti lautan pada ombaknya.

Entah analogi macam apa lagi yang berusaha kamu sampaikan. Kamu terlalu asyik berceloteh; tentang gerimis yang menjadi hujan, hujan yang menjadi gerimis, dan sela di antara keduanya, sampai aku akhirnya menyerah untuk bertanya. Lautan lengkap karena riakan ombaknya yang tak pernah henti menyapa pesisir. Sedang katamu, hujan melengkapi kita.

Kamu tidak menjelaskan alasannya. Aku bahkan tidak pernah benar-benar tahu, tentang kita pada hujan, tentang hujan yang melengkapi kita, hingga semuanya terjawab ketika aku menulis ini. Banyak orang mengoceh tentang harapan dan doa pada malam ketika meteor melintasi atmosfer kita. Sedang kamu berbicara tentang doa dan harapan yang harus dibisikkan dalam buliran hujan.

“Aku membaca buku, saat hujan adalah salah satu waktu yang tepat untuk kita memanjatkan doa dan harapan.”

“Orang-orang selalu memanjatkan doa dan harapan mereka ketika melihat meteor memasuki langit kita. Make a wish, make a wish, begitu kata mereka,” timpalku, hanya mengatakan apa yang sejauh itu kuketahui.

“Aku menganggap itu bukan sesuatu yang benar. Sebaliknya, ada beberapa waktu yang sungguh sangat spesial untuk berdoa, seperti ketika sedang hujan, jeda antara adzan dan iqamah, dan waktu-waktu lainnya.”

Entah apa yang meyakinkanku, pada akhirnya aku mengikutimu. Berdoa dan memanjatkan harapan pada waktu-waktu spesial itu. Aku melihatmu sebagai seseorang yang teramat yakin pada keajaiban di waktu itu. Sepanjang aku melihatmu, kamu tak pernah meninggalkan kesempatan untuk berdoa kala hujan turun ataupun ketika jeda antara adzan dan iqamah. Tak peduli bagaimana keadaannya, entah membuatmu basah kuyup atau tidak, kamu berjalan menenteng sepatu sekolahmu dan mulai membisikkan doa-doa. Aku tidak pernah tahu apa tepatnya yang kamu harapkan. Mainan baru kah? Nilai yang bagus kah? Atau sesuatu yang lebih rumit daripada itu?

Doa adalah rahasiaku dengan Tuhanku. Kamu mengatakan itu bahkan saat aku tak ada maksud untuk bertanya langsung kepadamu waktu itu,” kataku sembari mengelus cangkir teh milikku. Di luar hujan turun dengan deras. Aku dan kamu sedang minum teh. Memandangi hujan sembari menunggu anak-anak pulang, setelah sebelumnya larut dalam doa masing-masing. “Jadi, apakah aku boleh tahu? Apa tepatnya harapanmu waktu itu?”

“Aku mengharapkanmu.”
* * *
Allahumma shayyiban naafi’aan. Jangan lupa berdoa, bahkan ketika hujan sekalipun.
Yogyakarta, 1 Juni 2015—selepas hujan sore