Aku termasuk yang percaya bahwa setiap usaha yang gigih tidak
akan pernah berujung sia-sia. Jika pun pada akhirnya tidak sesuai dengan yang
kita harapkan, pasti ada ibrah yang bisa dipetik dari situ. Barangkali
usaha kita masih kalah dengan usaha orang lain, barang kali kurang doa, atau
jangan-jangan... niatnya yang salah?
Sedari awal, ketika dijawab oleh salah seorang dosenku bahwa
kedatangan Dr. Zakir Naik ke UMY adalah berita yang valid, rasanya senang
sekali. Yah, bayangkan saja, aku sendiri bahkan nggak tahu apa pun sampai
temanku yang kuliah di UNY menanyakan soal itu. Sebelum memutuskan bertanya
pada dosen aku telah terlebih dahulu mencari tau. Kepoin twitter UMY dan jreng
jeng jeng... udah banyak juga yang nanya tentang itu. Cek web UMY belum ada berita
resmi. Jadi yah, karena penasaran, akhirnya nanya ke dosen langsung—yang
sebenarnya melalui proses maju mundur juga;
tanya-nggak-tanya-nggak-tanya-nggak, hehhe.
Berita resminya rilis keesokan harinya. Dan begitu
pendaftaran online dibuka, banyak yang mengeluh tidak bisa mengakses
web-nya. Pada saat itu aku mengalami hal yang sama. Wajar sih, yang ngakses
pasti banyak. Giliran bisa dibuka, eh kuota penuh. Dan begitu seterusnya sampai
5 hari berturut-turut. Di hari keenam, ketujuh, kedelapan, aku merasa sedikit hopeless,
dan memang pada waktu itu sedang sakit juga jadi untuk kembali duduk di depan
laptop berebut nomor kursi rasanya sangat enggan. Tapi di hari kesembilan—yang
setelah mendaftar aku baru tahu bahwa itu adalah hari pendaftaran terakhir, aku
tiba-tiba tergerak untuk mendaftar. Dan bisa! Bahkan aku juga sempat mendaftar
untuk temanku. Alhamdulillaah. Masalah lolos apa nggak mah urusan
belakangan yang penting kedaftar dulu, hehe.
Hari Sabtu sore email konfirmasi masuk dan dinyatakan
lolos. Nggak rugi juga jawab panjang-panjang buat kolom “motivasi Anda dalam
mengikuti acara ini”. Just fyi, aku jawab panjang banget untuk
pertanyaan yang satu itu. Kalo diketik bisa jadi satu postingan di Tumblr (btw
aku baru bikin Tumblr :p). Bukan apa-apa sih, aku cuma mau jawab jujur dan
nggak tau gimana caranya supaya bisa jadi 2 atau 3 kalimat saja, hehe. Mungkin
karena Allah tahu betul motivasiku apa, akhirnya aku diizinkan untuk bisa
ikutan acara itu. Alhamdulillaah. :’))
Sempat ada lelucon begini sama temanku sewaktu melihat
antrian yang antara ikhwan dan akhwatnya dipisah jauh: “Untungnya belum ada
suami ya. Ini sih kalo misal sama suami bakalan pisah nih sekalipun mahram.”
Ngngngng~ hahaha. Kita berdua lantas ketawa. Lucunya setelah
kami duduk di tribun (iya, kebagian tempatnya di tribun :””), teman samping
kiriku menegurku begini:
Dia: “Mbak anak SMA ya?”
Aku: “Haa? Bukan.”
Dia: “Trus ini rok Mbak rok abu-abu SMA.”
Aku: *ketawa* “Ini bukan rok. Ini gamis akunya emang kayak
abu SMA warnanya.”
Dia; “Ya ampun, aku pikir Mbak tuh bolos sekolah tau. Kok ada
anak SMA di sini.”
Aku: “Haha. Nggak kok, aku mahasiswa di sini.”
Dia: “Semester berapa, Mbak?”
Aku: “Ngg, semester akhir.” *senyum miris*
Dia: “Ya ampun, Mbak, kirain Mbak tuh angkatan 2016. Wajah
Mbak kayak seumuran aku soalnya.”
Aku: “........”
Gara-gara itu, kami jadi nggak canggung meskipun baru kenal.
Dia bercerita bagaimana akhirnya dia bisa lolos mengikuti acara tersebut dan
banyak lagi obrolan kami sampai kemudian MC mengumumkan bahwa peserta public
lecture dilarang untuk mengambil foto. Namun ada beberapa yang masih tidak
mau mengikuti peraturan tersebut. Ketika itu sayup-sayup aku mendengar
seseorang di belakangku berkata pada teman di sampingnya, yang isinya kira-kira
begini:
“Alhamdulillaah Allah masih kasih kita kesempatan buat
ikut acara ini. Mungkin Allah pengen supaya kita jadi lebih baik lagi, buat
nambahin semangat hijrah.”
Lalu, ketika mendengar untuk kesekian kali diperingatkan
bahwa ada sendiri waktunya diperbolehkan mengambil foto, aku mendengarnya
berkata lagi, “Kadang-kadang buat acara-acara keren kayak gini, orang itu
datang cuma pengen dapet ‘gengsi’nya. Bakal keliatan siapa yang beneran mau
nuntut ilmu dan siapa yang nggak.”
Jleb. Banget. Rasanya seperti ditampar langsung ke pipi. Duh, bener banget
kata Mbak itu. :( Sejenak aku merenungi kembali: buat apa sih kamu ikut
acara ini? Oke, mungkin kita benar-benar ingin menuntut ilmu, ingin
mendengar langsung pemaparan genius tentang “Religion as An Agent of Mercy and Peace”
dari Dr. Zakir Naik yang biasanya cuma kita tonton videonya di Youtube. Dan
aku pribadi secara panjang sudah menjelaskannya sewaktu mengisi formulir pendaftaran
dan pada saat menuliskan itu aku ingat bahwa banyak hal yang sebenarnya adalah
tanggung jawabku namun aku tidak bisa menyelesaikannya karena ilmuku yang
sangat minim.
Setelah itu, yakin nggak, nggak ada niat lain? Sejujurnya aku
sendiri nggak yakin. Jadi itu alasan kenapa rasanya seperti dipukul telak.
Barangkali niatku masih belum lurus betul. :’) Seperti kata Mbak tadi,
jangan-jangan kita ikut acara-acara seperti itu cuma ingin dapat gengsinya saja?
Prestise-nya saja, boro-boro mau nyimak malah udah keduluan sibuk sama medsos
buat update. Dalihnya sih supaya
nambah ilmu, supaya dapat motivasi, supaya makin istiqamah, tapi coba
cek jauh ke dalam hati kita, selain itu ada lagi nggak?
Barangkali kita datang cuma ingin supaya bisa update
di medsos bahwa kita ada di situ, cuma ingin datang karena dia terkenal lalu
kajian-kajian kecil nan penting di lain kesempatan sama sekali tidak masuk
hitungan, datang karena cuma iseng ingin tahu dan setelah itu bye... Naudzubillaah.
Padahal ada orang-orang yang datang untuk mencari kebenaran, seperti
saudara-saudara kita nonmuslim atau mereka yang mengaku tidak percaya adanya
Tuhan. Sedangkan kita yang sudah tahu kebenaran, urusan niat saja masih sering
salah.
Datang ke majelis ilmu merupakan suatu kebaikan, yang artinya
telah terbuka satu jalan dari Allah untuk menuntun kita menjadi pribadi yang
lebih baik lagi. Tapi kita lebih sering salah niat daripada benernya; supaya
dibilang shalehah lah, istri/suami idaman lah, dan sebagainya. Jadi makanya
mungkin ilmunya sulit buat kita terima dan terapkan. Ya kan? Kalo aku sih
ngerasanya gitu. :( Padahal Rasulullah saw. bersabda:
مَنْ يُرِدِ
اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ
Artinya: “Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan
seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR.
Bukhari no. 71 & Muslim no. 1037).
Paham tentang agama di sini maksudnya adalah seseorang itu
mengerti tentang tauhid dan pokok ajaran Islam serta semua hal yang berkaitan
dengan hukum-hukum Allah (selengkapnya baca di sini). Dan sekali lagi, soal
kelurusan niat ini juga menjadi koreksi untukku pribadi. Jangan sampai udah
sibuk berjuang buat ikut acara tersebut tapi pulangnya malah nggak ada sama
sekali yang nyantol, kan rugi. Jadi setelah mendengar perkataan Mbak tadi itu,
aku jadi benar-benar berusaha menyimak sepenuhnya. Nggak peduli aku nggak bisa mengerti
semuanya, yang penting aku paham apa yang dimaksud Dr. Zakir Naik.
Dan yah, rasanya takjub sekali. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan
oleh peserta adalah beberapa hal yang juga menjadi pertanyaanku. Pertanyaan itu
muncul ketika aku terlibat dalam sebuah obrolan dengan seseorang. Meski aku
sendiri yakin betul bahwa pemahamanku tidak salah, tapi adalah sulit untuk bisa
menjelaskannya. Jadi ketika itu aku hanya bisa diam. Lagipula sulit sekali
memberi tahu orang-orang yang sehari-harinya hanya melihat dan mendengar
segalanya dari media mainstream kan?
Lalu ketika Dr. Zakir Naik bicara soal betapa Islam adalah
agama yang damai dan memaparkan secara lantang siapa yang sesungguhnya teroris,
aku terpana. Sangat berani. Seseorang yang cuma takut sama Allah, maa syaa
Allah. Allah seolah kasih jalan, “Evi, ini lho. Sekarang kamu sudah tahu kan?”
Lebih-lebih ketika kemudian ada yang mengucapkan dua kalimat syahadat. Perjanjian
yang sungguh sakral. Maa syaa Allah, hati ini rasanya gerimis. Senang
dan damaaai banget. Betapa hidayah Allah itu sebenarnya dekat; tergantung kita
mau berusaha mencari kebenarannya atau tidak, mau menerimanya atau tidak. Jangan
sampai ketika kita telah dikehendaki kebaikan oleh Allah dengan dipahamkan
dalam urusan agama, lantas kita enggan menjalankannya. *selfreminder*
Alhamdulillaah. Terima kasih Dr. Zakir Naik atas ilmunya, juga UMY yang
telah memfasilitasi segalanya sehingga para pencari kebenaran bisa menemukan
jalannya. Dan siapa pun Mbak itu, aku merasa berterima kasih telah diingatkan. In
syaa Allah, lain kali akan berusaha lebih hati-hati soal niat dalam hati
ini. :))
![]() |
| Foto satu-satunya, hehe. Maaf kurang jelas karena duduknya jauh :) |
Kini, amanah itu harus segera ditunaikan.

