Pages

Sabtu, 28 Maret 2015

Catatan dari Wedangan Inspirasi: Pendidikan Kejujuran dari 'Orang Jujur Tidak Sekolah'

Taken by Ayu

“Begitu orang menganggap jujur itu suatu hal yang sepele, di situ saya prihatin.”
Oke, sepertinya udah lama nggak ngisi label My Life Puzzle yaa. Sebenarnya bukan karena nggak ada pengalaman atau kejadian yang masuk kategori unforgettable atau pengen di-share sih, tapi lebih pada ... *ehem* akumalesnulisnya. Padahal menurutku salah satu cara mengabadikan momen itu adalah dengan menulisnya. Lewat tulisan kita bisa mengabadikan setiap detail kejadiannya. Ada yang bilang sih kalau gambar lebih mampu bercerita, tapi kalau pada saat yang sama kita bisa menulisnya, why not? Dan kemarin-kemarin pengen share acara Kompas Kampus yang aku ikutin di UGM sih, cuman... ah ya sudahlah~ -,-

Nah, di kesempatan ini aku mau share tentang pengalamanku Jumat sore kemarin. Aku dan temanku, Ayu (well, thanks for accompanying me {}) datang ke acara Wedangan Inspirasi-nya Bentang Pustaka, salah satu penerbit kece Indonesia yang kebetulan ada di Jogja. Aku tahu tentang info Wedangan ini dari Twitter. Entah waktu itu yang nyangkut di timeline-ku dari akun @bentangpustaka, @JogjaUpdate, atau yang lainnya, yang jelas aku langsung excited begitu tahu siapa narasumbernya.

Jadilah di tengah mendung kami meluncur ke alamat kantor Bentang Pustaka yang lokasi pastinya aja kami nggak tahu. Berbekal doa, petunjuk Google Map, dan hasil tanya sana-sini ke orang-orang yang kami temui pas lagi lampu merah dan pinggir-pinggir jalan, akhirnya kami sampai juga di sana. Sebuah kompleks yang masih terkesan asri dan hijau. Sempat lucu juga waktu kami ragu-ragu memasuki halaman gedung bercat putih itu.

“Maaf, Mbak, kantor Bentang Pustaka di mana ya?”

“Ya ini, Mbak, kantornya.” Oh.

Sesaat aku takjub juga. Dalam hati, ah... akhirnya aku bisa ke sini juga (terima kasih, Yaa Allah). Kami pun langsung masuk, mengisi daftar registrasi, dan menuju mushalla yang terletak beberapa meter dari saung Bentang Pustaka alias tempat acara berlangsung karena begitu kami tiba adzan Ashar berkumandang. Kami kembali dari mushalla begitu CEO Bentang Pustaka, Pak Salman Faridi, selesai memberikan sambutan. Alhamdulillaah, dapat kursi nomor tiga dari depan karena sebelum shalat sempat booking duluan sementara yang deretan satu dan dua sudah penuh terisi. (Fyi, ada angkringan gratisnya juga plus doorprize dan buku-buku yang diskon 20%).

Sebelum acara dimulai, ada perkenalan dengan editor-editor Penerbit Bentang Pustaka. Katanya sih, ini merupakan tradisi mereka setiap acara Wedangan Inspirasi itu diselenggarakan. Editor Bentang berjumlah 7 orang, dan... cewek semua (plus, masih pada keliatan muda-muda gitu)! Wew. Masing-masing membawa ‘anak’ alias buku jagoan terbitan terbaru yang mereka menjadi editor di dalamnya. Setelah itu ada Mas Adit juga, yang sharing soal pekerjaannya sebagai ilustrator Bentang dalam menciptakan kaver-kaver buku Bentang Pustaka.

Dan akhirnya, dipanggillah nama narasumber yang ditunggu-tunggu. Andri Rizki Putra. Yah, awalnya juga aku nggak tahu siapa Andri Rizki Putra ini. Udah lama sih, aku waktu itu iseng-iseng baca berita online gitu. Dan kebetulan beritanya tentang sosok anak muda ini. Jadi nggak heran kenapa akhirnya sosok ini bisa jadi bahan pemberitaan karena memang perjalanan hidupnya sangat menginspirasi banyak orang.

Acara Wedangan Inspirasi dengan format acara talkshow ini dimoderatori oleh Mbak Intan, salah satu editor Bentang yang ikut membidani kelahiran buku Orang Jujur Tidak Sekolah milik Andri Rizki Putra. Yah, Andri Rizki Putra atau yang biasa disapa Rizki (atau Kiki kalau udah akrab) ini selain sebagai founder dari Yayasan Pemimpin Anak Bangsa (YPAB) juga merupakan seorang penulis buku Orang Jujur Tidak Sekolah.

Mengapa dikatakan sebagai sosok inspiratif, ini karena buku Orang Jujur Tidak Sekolah tersebut lahir dari pengalamannya sendiri. Baru-baru ini, ia menyabet penghargaan Kick Andy Young Heroes 2015. Di acara tersebut Rizki bercerita soal pengalamannya mendirikan dan mengelola YPAB serta latar belakang di baliknya. Jauh sebelum mendirikan YPAB, Rizki yang saat itu berusia 14 tahun dan duduk di bangku kelas 3 SMP gemas melihat kecurangan Ujian Nasional yang terstruktur dan sistematis, dimana hal itu tidak hanya dilakukan oleh siswa, tapi juga oknum-oknum di lembaga pendidikan. Saat itu ia protes pada guru, kepala sekolah, sampai akhirnya nekat menelepon KPK, ICW, dan lain sebagainya.
“Dalam hidup kita akan selalu bertemu dengan yang namanya sistem. Ketika kita tidak suka dengan suatu sistem, apa yang kita lakukan? Tiga hal: 1) beradaptasi dengan sistem yang berlaku, 2) mengubah sistem itu dari dalam, 3) menciptakan sistem kita sendiri.”
Saat itu, Rizki memilih poin yang ketiga. Setelah mengalami krisis kepercayaan terhadap lembaga pendidikan, ia memutuskan untuk keluar setelah sempat menempuh pendidikan selama 2 bulan (kalo nggak salah :v) di SMA. Ia berpikir untuk apa ia sekolah jika toh akhirnya tetap sama, ia akan kembali melihat praktek kecurangan itu selama 3 hari dalam waktu 3 tahun yang telah ditempuhnya. Keputusannya itu lantas ditentang oleh keluarga besarnya, bagaimana akhirnya ia dan ibunya disidang karena keputusan Rizki yang lebih memilih untuk belajar sendiri dan mengambil program kesetaraan Paket C.
“Pendidikan itu adalah media untuk membentuk karakter seseorang menjadi lebih baik. Di institusi pendidikanlah lahir calon pemimpin itu sendiri. Ketika suatu institusi pedidikan itu telah dinodai oleh bentuk-bentuk praktek yang negatif, tandanya ia akan membentuk karakter yang negatif bagi kita warga terdidik.”
Ketika memutuskan untuk keluar dari lembaga pendidikan formal, Rizki berusaha keras untuk belajar sendiri. Ia mengetik bahan pelajarannya sendiri dari buku-buku hasil pinjaman, buku-buku bekas, dan hibah mengingat ia sendiri bukan berasal dari keluarga yang berada. Kurikulumnya pun bukan kurikulum terkini, melainkan kurikulum 94 yang terbilang jadul. Ringkasan-ringkasan pelajaran itu ia tempel di dinding kamarnya, memenuhi dinding dari atas ke bawah, dari samping kanan ke samping kiri. “Saya tidak mengizinkan siapa pun masuk ke kamar saya karena saya takut orang mengira saya gila.”

Di masa-masa itu, Rizki sempat mengalami depresi. Di usianya saat itu, tentu terasa berat memikul sebuah tanggung jawab yang dibebankan kepadanya, terutama ketika ia memilih pilihan yang berbeda dibanding anak seusianya. Ia merasa bertanggung jawab kepada Tuhan sebagai makhluk pembelajar, karenanya ia ingin mendapat pendidikan yang baik dan dengan cara yang baik pula. Ia juga bertanggung jawab kepada ibunya yang telah percaya dan mendukung sepenuh hati keputusannya. Tapi akhirnya ia yakin, ketika sesuatu dimulai dengan kebaikan, terlepas badai apa pun yang merintanginya, maka hasilnya akan baik.

Berbekal keyakinan dan doa dari ibunya itulah kemudian Rizki mengikti program kesetaraan Kejar Paket C, yang ijazahnya ia gunakan untuk mendaftar di salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia, Universitas Indonesia. Ia pun dinyatakan lulus dalam waktu 3 tahun dengan predikat cumlaude. Menurutnya, pintar saja tidak cukup. Harus ada integritas, karena semakin pintar seseorang ia akan semakin memiliki cara untuk berbuat kejahatan di level-level yang lebih mutakhir. Let say, koruptor-koruptor kita, kurang pintar apa mereka?
“Saya tidak bisa mengubah pandangan orang atas pandangan saya terhadap fenomena yang terjadi. Saya nggak bisa maksa orang, nyontek itu jelek jangan diikutin. Saya nggak akan bisa. Semua orang punya privilege, semua orang punya hak prerogatif atas pikirannya sendiri.  Saya tidak bisa berekspektasi pemerintah akan mengubah regulasi. Saya tidak bisa berekspektasi sekolah akan mengubah kebijakan supaya menyontek dihapuskan. Yang bisa saya ubah adalah diri saya. Mulailah mengubahnya dari diri kita sendiri, dan itu ke depannya akan menjadi suatu virus yang menyebar ke berbagai kalangan.”
Hal itulah yang kemudian berusaha ditanamkan Rizki dan para volunteer di YPAB. Mereka diberikan pendidikan yang baik dengan cara yang baik pula. Oh iya, tentu YPAB ini nggak berdiri secara instan ya. Pada awalnya Rizki bahkan sempat mengadakan program masjid schooling, dimana program ini dilakukan di masjid-masjid untuk memberdayakan anak-anak putus sekolah dalam bidang pendidikan.

Oh iya, sebelum sesi tanya jawab berakhir, Rizki sempat memberikan tips belajar nih. Nah, ada dua hal yang harus dipahami dalam belajar, yaitu belajar keras dan belajar cerdas. Belajar keras, tapi nggak tahu strateginya, gagal. Belajar cerdas tapi tidak diimbangi dengan frekuensi yang maksimal, hasilnya setengah-setengah. Jadi kombinasikan kedua hal itu, dan yang pasti jangan lupa doa juga dong ya x))

Well, senang banget bisa mendengar langsung kisah inspiratif dari Rizki. Terutama ketika mendengar kisah asisten rumah tangga yang juga ikut belajar di YPAB dan berharap mendapat pendidikan yang jujur karena ia akan menjadi seorang ibu dari anak-anaknya kelak serta memberikan pendidikan bagi mereka. Yah, kejujuran itu sebenarnya adalah sesuatu yang mahal, tapi sayangnya manusia sendiri yang justru menjadikannya ‘murahan’. Menjadi tamparan tersendiri begitu mendengarnya. Aku jadi berpikir sudah sebatas manakah aku mampu beruat jujur. Memang tidak dipungkiri, dalam pendidikan kejujuran itu terkadang menjadi hal yang dilematis, terutama bagi mereka yang berada di lembaga pendidikan itu sendiri dan mendapat tuntutan dari atasan. Tapi sekali lagi, ketika sesuatu dimulai dengan kebaikan, terlepas badai apa pun yang merintanginya, maka hasilnya akan baik.

Mendengar pertanyaan-pertanyaan dan sharing dari audiens serta jawaban Rizki, kejujuran memang bisa membuat seseorang dipandang dari dua sisi, baik dan buruk. Yup, itu di mata manusia gitu kan? Tapi di mata Allah, kejujuran itu tentu baik. Jadi, ada satu kalimat dari Rizki yang bikin trenyuh—yang sekaligus akan menutup postingan ini (?). Karena lupa persisnya gimana, jadi kira-kira begini bunyinya:
“Saya tidak tahu ke depannya akan seperti apa. Berhasil ataukah gagal dalam proses itu. Tapi yang saya tahu, kita semua pasti mati. Dan ketika Tuhan bertanya, saya ingin mengatakan kepada Tuhan bahwa saya telah melaksanakan tugas saya sebagai manusia.”
Yah, semoga kita bisa terus menjadi orang yang jujur dan selalu berusaha untuk jujur ya, teman-teman. Aamiin.

Sabtu, 21 Maret 2015

[Book Review] Rectoverso by Dee: Tentang yang Tak Terucap

taken from Goodreads

Judul: Rectoverso (11 Cerita Pendek Dee)
Penulis: Dee
Penerbit: Bentang Pustaka
Terbit: Cetakan V, Oktober 2013
Tebal: 174 halaman
ISBN: 978-602-7888-03-6

Rectoverso merupakan buku yang memadukan antara literer dan musik yang di dalamnya memuat 11 cerita pendek karya Dee. Setiap kisah memiliki soundtrack-nya masing-masing. Karenanya, di awal setiap kisah kita akan mendapati bait-bait lirik lagu yang menjadi soundtrack-nya.

Curhat buat Sahabat, menjadi pembuka yang manis dari buku ini. Berkisah tentang seorang sahabat yang selalu ada untuk sahabatnya, kapan pun dan di mana pun. Meski terasa cukup jelas ke mana akhir kisah ini akan dibawa, aku menyukai gaya tutur Dee yang menggunakan sudut pandang kedua. Penggunaan sudut pandang kedua ini juga terdapat dalam Selamat Ulang Tahun dan Aku Ada. Jika Aku Ada memiliki akhir kisah yang mengejutkan dengan twist-nya, Selamat Ulang Tahun senada dengan kisah pembukanya. Mengalir, dan kerasa banget ‘luka’-nya.

Malaikat Juga Tahu dan Firasat cukup menohok juga. Tentang cinta tulus yang tak berbalas hanya karena yang mencintai tak memiliki masa depan yang bisa dijanjikan manusia normal lainnya. Tentang firasat yang tak mampu mencegah sesuatu yang tak diinginkan terjadi. 
“Kita tak tahu dan tak pernah pasti tahu hingga semuanya berlalu. Benar atau salah, dituruti atau tidak dituruti, pada akhirnya yang bisa membuktikan cuma waktu. Dan itu membuat kita kadang bertanya: lalu, untuk apa? Untuk apa diberi pertanda jika ternyata tak bisa mengubah apa-apa? Untuk apa tahu sebelum waktunya?

Untuk belajar menerima. Saat kita belajar menerima, kita juga belajar berdamai. Melalui firasat kita belajar menerima diri, dan berdamai dengan hidup ini.”
---Firasat dalam Rectoverso, halaman 116-117
Selanjutnya, Hanya Isyarat membuatku jatuh cinta dengan tokoh utamanya--bahwa tetap di tempat dan tak memaksa adalah cara yang tepat untuk menyikapi keinginan memiliki sesuatu yang tak akan pernah sanggup kita miliki. Aku menyukai bagian ketika si tokoh utama berbicara soal ‘punggung ayam’ dan ‘maksud’ di dalamnya.
Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta. Namun, orang itu hanya mampu kugapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang cuma sanggup kuhayati bayangannya dan tak akan pernah kumiliki keutuhannya. Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara, langit, awan, atau hujan. Seseorang yang selamanya harus dibiarkan berupa sebentuk punggung karena kalau sampai ia berbalik, niscaya hatiku hangus oleh cinta dan siksa.
---Hanya Isyarat dalam Rectoverso, halaman 52
Ada pun Peluk, Grow A Day Older, dan Tidur menyuruh kita untuk bangkit dan tidak berhenti di satu titik. We just have to move and move, terutama jika titik itu teramat menyakitkan untuk dilalui. Cecak di Dinding meramu sebuah kisah sederhana menjadi sesuatu yang mengejutkan di bagian akhirnya. Dan terakhir, Back to Heaven’s Light sukses menutup buku ini dengan sebuah pesan tentang penerimaan.

Well, Rectoverso adalah buku pertama Dee yang kubaca. Ide kisah-kisah dalam buku ini terbilang amat sederhana, namun cara Dee mengemas dan menuturkan setiap kisahnya membuatku menyukainya. Di beberapa kisah memang terasa ‘ah-ternyata-cuma-gini-doang’-nya, tapi nggak dipungkiri juga kalau rasanya akan berbeda ketika emosi kita dicuri Dee lewat kalimat-kalimatnya.

Bicara soal pesan moral, hampir semuanya implisit. Nggak perlu menebak-nebak apa yang ingin disampaikan penulis, sebagai pembaca aku ibarat penonton—saksi mata atas suatu peristiwa. Jadi begitu selesai membaca setiap kisah, yang kulakukan adalah menarik pelajaran darinya. Dan yang menjadi kisah favoritku adalah Back to Heaven’s Light. Pesan moralnya ngena, tapi cukup mengejutkan juga karena ternyata... uhm~ (just read the book :v).

Daaan, yeah, seperti yang kubilang di awal, Back to Heaven’s Light ini bicara soal penerimaan—bagaimana kita berusaha menerima sesuatu yang terjadi tak sesuai dengan keinginan kita dan melupakan hal kecil yang mengganggu demi menjaga keutuhan makna hal lainnya dalam hidup kita.

Anyway, buku ini masuk kategori ringan dan asyik buat dibaca. Satu bintang untuk gaya penuturannya, satu bintang untuk twist dan hal-hal mengejutkan serta pesan moralnya, satu bintang untuk visual bukunya. 3 of 5 stars. ^^
“There was a point before life itself, when we all decided to forget everything we’ve known. It was necessary so life had a point, so that it would all makes sense. Like fellow blind travelers, we’re all blinded by our unknowingness.

Only from an experiential point of view, the question of right or wrong vanishes. There’s no one to blame. There’s nothing to blame. There shouldn’t be a need to question. He had his choice, and I had mine. We all have our freedom to decide. We all have our preference to experience. I’ve forgiven him for leaving, I’ve forgiven myself for staying, and I’ve forgiven life for creating this drama of birth and death.”
---Back to Heaven’s Light dalam Rectoverso, halaman 161

Senin, 09 Maret 2015

Everything Happens for A Reason

Percaya tidak kalau segalanya terjadi karena sebuah alasan?

Aku percaya, tentu saja—meski terkadang teramat susah menerima saja apa yang terjadi, terutama apabila yang terjadi itu adalah sesuatu yang tidak kuinginkan; sesuatu yang membuat kecewa, sesuatu yang menyedihkan, sesuatu yang memutuskan harapan, dan semacamnya.

Mempercayainya mungkin hal yang mudah. Tapi nyatanya kepercayaan itu tak sepenuhnya mampu menutup luka di hati kita. Sungguh tidak mudah berusaha melapangkan dada kita sementara kita merasa sedih. Adalah sebuah pertanyaan saat kita merasa yakin, percaya, dan tahu benar sesuatu terjadi karena sebuah alasan—atau mungkin beberapa alasan—tetapi di lain sisi kita masih merasa sulit melapangkan hati untuk menerimanya.

Sungguh, dalam hal ini kepercayaan tersebut bukanlah sebuah kesalahan. Melainkan adalah sebuah kewajaran kita merasa sedih, kecewa, dan terluka ketika sesuatu yang tidak kita harapkan berdiri di depan mata kita. Kesalahan adalah ketika kita terlalu melarutkan diri di dalam kesedihan itu, seolah-olah semuanya akan ikut hancur bersama peristiwa itu. Padahal, hei, time is running. Waktu akan terus bergulir. Masih ada hari esok, esok, dan esoknya lagi yang harus kita hadapi. Make your own life goes on dan jangan mau hanya tertinggal di belakang. Stay in silence behind people’s back is wasting time. Apa yang bisa kamu lakukan untuk hidupmu jika sepanjang waktu kamu hanya sibuk memandangi punggung-punggung itu berlari menjauhimu?

Nothing.

Kamu—kita akan menyesal saat menyadarinya. Tidak bisa melakukan apa-apa selain berusaha keras menggenapkan waktu yang telah kita lalui dengan sia-sia. Mengumpulkan semuanya menjadi satu sampai kita kembali bisa berlari beriringan dengan manusia-manusia lainnya; study hard, try hard, pray hard, karena tentu bukan hal yang mudah untuk mengejar ketertinggalan.
Menanamkan kepercayaan dan mengingatkan hati kita setiap saat bahwa segala sesuatu terjadi karena sebuah alasan tentu tidak terjadi secara instan. Kita perlu mengalami banyak hal dalam hidup kita untuk mulai menyadari itu. Dan ketika semua itu telah kita alami, barulah dari sana kita tahu dan bisa mengambil pelajaran bahwa apa yang telah kita alami sebelumnya itu terjadi karena sebuah alasan sehingga ke depannya kita tak perlu lagi bertanya-tanya mengapa seolah-olah semuanya selalu terjadi di luar keinginan kita.

Pengalaman-pengalaman sebelumnya dalam menghadapi sesuatu yang terjadi tak sesuai dengan harapan kita itu akan menuntun kita menjadi pribadi yang lebih bijak di masa depan. Menanamkan kepercayaan akan adanya hikmah di baliknya secara perlahan ke dalam hati kita lambat laun akan membuat kita mudah melapangkan dada hanya dengan meyakininya saja. Ketika kita telah berhasil meyakinkan diri kita sepenuhnya, maka ruang untuk berputus asa, ruang untuk sesal itu akan terkerdilkan dengan sendirinya. 
“Things always happen for a reason, that what everybody says.”

“But often, not for the reasons we wanted.”

“Yeah, it’s like a rule of life, or something. But I think believing that things happen for a reason makes it easier for us to keep going. Dengan menerima kenyataan, kita akan lebih mudah bergerak maju, mengecilkan ruang untuk sesal.”
---Dialog antara Max dan Laura dalam Melbourne: Rewind by Winna Efendi, halaman 123
Di sisi lain, alasan-alasan, ibrah, atau hikmah di balik semua yang kita alami itu tentu tidak akan kita ketahui secara langsung; baik sesaat setelah peristiwa itu terjadi maupun sesaat setelah kita memutuskan untuk bangkit. Semua telah diatur dan akan ada saat terbaik untuk kita tahu. Bukankah butuh rentang waktu yang lama ketika kita pada akhirnya tersadar dan mengatakan, “Oh, ternyata memang ini yang terbaik untukku. Terima kasih Yaa Allah, kalau bukan karena peristiwa itu aku tidak akan menjadi seperti sekarang.”

Ketika kita memutuskan untuk tidak terlalu melarutkan diri dalam kesedihan dan berusaha untuk belajar menerima segalanya, saat itulah disadari aaupun tidak disadari kita telah percaya bahwa segala sesuatu terjadi karena sebuah alasan. Kita meyakini bahwa pasti ada hikmah di balik peristiwa itu, bahwa selalu ada ibrah atau pelajaran yang bisa kita petik dari sana. Terlebih lagi, kita akan menyadari bahwa itu adalah bukti kasih sayang dari Allah untuk kita. Allah adalah Penulis Skenario Terhebat dalam hidup kita, karenanya sungguh, Ia tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya.

“... Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Minggu, 01 Maret 2015

Hidup Pada Sebuah Momen



Pernah mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi? Aku pernah—justru terlampau sering, kalau boleh kubilang. Pernah sedih karena sesuatu mungkin tidak akan terjadi sesuai dengan harapanmu? Atau bahkan yang terparah, sampai berputus asa hanya karena kau ‘merasa’ mampu memastikan sesuatu yang padahal sama sekali tak mampu kau pastikan?



Aku mengalaminya berkali-berkali, terlampau sering sampai entah berapa kali pula aku jatuh bangun karenanya. Saat perasaan seperti itu datang, beberapa hal terjadi padaku—dan mungkin juga kau. Beberapa hal itu persis seperti yang kukatakan di awal. Ketika kau mulai mengkhawatirkan sesuatu di masa depan, maka kau akan merasa sedih hanya dengan membayangkan segalanya terjadi tak sesuai harapanmu—seolah-olah kau mampu memastikan bahwa itu benar akan terjadi. Padahal apa yang kau pikirkan akan terjadi belum tentu terjadi. Pada akhirnya pikiran-pikiran itu membuatmu berputus asa, merasa tidak ada artinya lagi memperjuangkan hidup dan masa depan karena toh akhirnya semua akan sia-sia saja.



Sepertiku, kau mungkin memiliki segudang target yang ingin kaucapai di masa depan. Ketika kita telah sampai pada saat target itu diwujudkan tapi pada kenyataannya tak terwujud, bagaimana rasanya? Marah, sedih, kecewa, bukan? Pengalaman-pengalaman itulah yang terkadang membuat kita khawatir bahwa apa yang terjadi di masa depan mungkin sama saja dengan yang sekarang. Membuat kita apatis menjalani hidup, tak banyak berharap apalagi berusaha maksimal. Padahal, hei, hidup nggak akan semonoton itu kok ;). Tidak ada orang yang seumur hidupnya gagal terus. Life is full of colour. Hari ini kita gagal, but who knows someday we’ll get what we want. Iya, kan?



Aku sendiri mendapati segalanya jadi teramat rumit ketika mulai mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi. Merasa takut dan gelisah pada saat yang sama hingga berujung putus asa.  Bagaimana jika semua itu menyulitkanku? Bagaimana jika... blablabla dan segudang pertanyaan ‘bagaimana-jika’ lainnya yang sungguh sulit untuk kujawab. Tanpa sadar, ketika pertanyaan-pertanyaan itu muncullah sesungguhnya kita mulai mengkhawatirkan sesuatu. Mulai menebak-nebak, dan berujung pada prasangka negatif sampai akhirnya kita berputus asa.



Berputus asa tentang hidup bagiku adalah titik paling rendah dalam keimanan kita kepada-Nya. Memberikan peluang bagi syaithan untuk terus menggoda, menjatuhkan, dan membuat kita semakin terpuruk. Seringkali keputusasaan itu datang ketika kondisi keimananku—keimanan kita--sedang tidak baik. Padahal kalau kita sedikit saja berprasangka positif dan mengingat Allah, semuanya akan terasa lebih baik. Kalau toh kita percaya sepenuhnya pada Allah, bahwa hidup dan mati kita untuk Allah, kita seharusnya tak perlu mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi.



Memang tidak mudah membuat diri kita merasa normal kembali ketika perasaan-perasaan itu datang. Harus ada kontrol diri yang diupayakan berkali-kali. Tapi sayangnya yang lebih banyak kita lakukan adalah membiarkan semuanya mengalir seperti air. Pasrah saja. aku ingin mengatakan bahwa setidaknya dalam kondisi seperti itu pun kita harus punya pegangan. Itulah sebabnya mengapa ruh dan keimanan kita harus di-recharge setiap hari. Paling tidak, ketika kita sudah terlanjur terjerembab ke dalam keputusasaan itu, kita masih ingat kita punya Allah—bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.



Jika kita sudah sampai pada tahap bahwa kita punya Allah, saat itulah kita harus segera bangkit. Buang segala kekhawatiran itu. Kita hanya perlu menjalani apa yang ada saat ini semaksimal mungkin, hidup dan menghidupkan setiap momen. Setiap waktu yang kita miliki berhak atas penghargaan dalam kita menjalaninya, bukan mengisinya dengan kesia-siaan. Jadi berhentilah mengkhawatirkan hal-hal yang belum tentu seburuk yang kita bayangkan, we just have to live life to the fullest. Justru ketika kita—ketika kau—terlalu banyak mengkhawatirkan sesuatu yang bahkan belum tentu terjadi, maka jelas kita telah mengorbankan masa depan bahkan pada saat masa depan itu belum datang. Try and pray hard, Allah with us. x))

Aku sudah sering melihat manusia lahir dan tumbuh menjadi tua lalu akhirnya mati. Jadi aku punya pemikiran pada akhirnya mereka semua akan mati. Tapi mengapa mereka berjuang keras jika pada akhirnya mereka tetap menua, keriput, lalu menghilang? Kenapa mereka harus berjuang dan hidup begitu keras seolah-olah mereka sedang berperang?



Kehidupan manusia jika dilihat hanya dari luar adalah tidak ada harapan dan sia-sia saja. Tapi, setelah berpikir tentang kematian aku menjadi sadar. Tidak ada yang ingin hidup untuk kemudian mati, yang paling penting adalah hidup pada momen itu. Oleh sebab itu, bahkan jika akhirnya sudah ditentukan, kita masih bisa bahagia dan melanjutkan hidup. Ini sederhana, tapi butuh waktu lama untuk menyadarinya.
---Do Min Joon, My Love from Another Star Episode 20