Dear Naira…
Hai, Nai!
Aaah, rasanya sudah lamaaa sekali sejak kamu datang kepadaku dan memintaku
menuliskan kisahmu itu. Setahun sepuluh bulan! Dan sejak itu pula kita tidak
pernah bertemu atau bahkan mengobrol sekali pun. Aku kangen, Nai! Apa kabar
kamu? Semoga baik yaaa.
Aku sekarang di Jogja, Nai. Kuliah.
Dan entah apa kabarnya Pulau Dewata-ku nun jauh di sana. Ada banyak cerita di
sini. Tapi untuk kali ini aku hanya akan bercerita tentang apa-apa yang kualami
hari ini yang seketika mengingatkanku padamu. Janji deh, aku akan cerita banyak
kalau kita ketemu nanti. :))
Seperti Selasa-Selasa sebelumnya,
kuliahku dimulai pada pukul 9 pagi. Hari ini Fitri, Mbak Ros, dan Rahma (nama
sebagian temanku, Nai, dan aku akan menjejalimu dengan banyak nama di cerita
pertamaku ini) yang presentasi. Setelah kami duduk manis di ruang kuliah, dosen
kami datang dan bertanya pada kami semua, “Sudah nonton 99 Cahaya di Langit
Eropa?”
Serentak kami menjawab, “Beluuum…”,
sementara ada beberapa yang menjawab sudah. Karena mayoritas kami belum
menonton film itu, dosen kami pun menawarkan kepada kami tiket gratis untuk
menonton sekelas. Waaah, rezeki, Nai! Dan entah, aku tidak menyimak lagi
kata-kata dosenku selanjutnya mengapa kami diberikan tiket gratis begitu saja
(denger-denger dari Arif sih katanya beliau mendapat voucher gratis dari Hanum Rais, yup penulis dari novel yang diangkat ke layar lebar itu).
Pada akhirnya, kami terpaksa keluar
ruang kuliah tidak sesuai jadwal karena ruangan yang kami tempati akan
digunakan untuk suatu acara. Sebelum memutuskan berangkat, Bayu (ini Ketua
Kelas kami, Nai) dan Reno pergi ke bioskop di Amplaz untuk mengecek segala
sesuatunya sekaligus memesan tiket.
Di luar dugaan, saat semuanya
bersantai-santai, Bayu sms kalau kita harus berangkat dari kampus pukul 12.30
karena pukul 13.00 kita harus sudah di Amplaz dan film diputar pukul 13.15. Bayangin,
Nai, kita kelabakan. Aku, Ayu, Mak Fatim, Iman, baru aja abis makan. Sementara
Dina baru aja ngerjain tugas dan itu pun belum selesai. Ya udah, akhirnya molor.
Tau nggak kita berangkat jam berapa setelah melakukan ritual tunggu-menunggu
karena jam karet yang menjadi penyakit alami kita? 13.48! Well done,
beri tepuk tangan! Gila yaaa~ :D
Aku dibonceng Dian, Nai. Dan kita
ketinggalan di belakang, haha. Karena Dian nggak ada SIM dan STNK, kita pun
memutuskan lewat dalem (jalan dalem maksudnya, hehe). Pas udah mau sampe
deket-deket Amplaz, kita nunggu teman-teman yang lain dan akhirnya ketemu Mbak
Winda sama Mbak Laila, sementara temen-temen yang lainnya datang dari arah yang
berbeda dari jalur yang aku dan Dian ambil. Tau gitu nggak ditungguin tadi pas
kita sampe duluan, huuu.
Dan yah, sementara kami sibuk
nyari-nyari parkiran, aku liat Mbak Ros lari-lari masuk ke dalam Amplaz.
Gerimis, Nai. Aku nggak berharap kepalaku kena gerimis yang kayak jarum mungil
itu. Bikin sakit kepala. Tapi toh sewaktu aku berjalan cepat-cepat dari
parkiran menuju Amplaz aku kena gerimis juga, heuuu. Lucky me, aku nggak sampai
sakit kepala pada akhirnya.
Akhirnya kita sampai depan 21, Nai.
Aku dan Dian, sementara yang lain udah pada di dalam. Ada Bayu dan Reno yang
menunggu kami. Sayangnya, Ega sama Bang Dani nggak ikutan. Karena itu juga,
akhirnya Bayu dan Reno memutuskan masuk bersama kami. Gelap. Aku dan Dian
bahkan nggak bisa mencari tempat duduk kami. Akhirnya kami asal masuk ke
deretan kursi di deket Sulis yang ternyata hanya ada satu tempat. Dian terpaksa
mengalah dan duduk di deretan kursi penonton di samping Arif.
Setelah itu, kami bener-bener
nonton. I really enjoyed the film. Nggak mau menyia-nyiakan kesempatan yang
ada. Oh ya, aku duduk di antara Fendi dan Imam. Hal itu membuatku sedikit
meringis sih sebenarnya, hehe. Fendi diajakin tukaran tempat nggak mau, padahal
kan akan lebih pas kalau aku duduk di samping Sulis trus di sampingku Fendi
trus Imam.
“Yah, Fen. Masa’ kanan-kiriku cowok sih? Tukeran yuk!”
Fendi nggak mau, Nai. Jahat kan dia? Huh!
“Dikelilingi syaithan, Vi!” kata Fendi. Nggak ngerti deh siapa yang
maksudnya dikelilingi syaithan. Ambigu! Kalau yang dikelilingi syaithan itu
maksudnya aku, berarti syaithan yang dimaksud Fendi itu dia dan Imam? Bisa
jadi. Tapi kalau yang dia maksud dikelilingi syaithan itu dia sendiri, berarti
syaithannya Sulis dan… aku? Waaaa, enggaklah yaaa. Aku bukan syaithan, tapi vampir
berdarah murni! #abaikanbagianini
Ruang bioskop itu berasa punya kami, Nai. Di mana-mana masiiih aja ada
yang nyeletuk, “Iya po?” Hahaha. Dan makhluk tinggi jangkung yang duduk di
sebelah kananku itu pun nggak bisa berenti berkomentar. Adaaa aja yang dikomentarin.
Misalnya aja pas backsound-nya lagu Fatin, ya dibilang suaranya kayak
orang pilek lah. Waktu Fatin muncul dalam adegandan dia bilang ke Eropa buat
syuting lagu religi, dia berkomentar, “Alaaah, gaya ke Eropa! Indonesia aja
belum dikelilingi!” Mau nggak mau jadi ketawa juga akhirnya, Nai, sementara
Imam kayaknya ngantuk deh dia, hehe.
Well, Nai, aku nggak akan menulis review film itu di sini. Basi kali yaa
bagi kamu. Yakin deh kamu udah pasti nonton lebih dulu. Yang jelas, film ini
aku rasa worth it banget. Banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Ternyata
peradaban islam itu nggak hanya ada di tempat islam itu lahir dan berkembang,
tapi juga ada di negara-negara Eropa sana. Jadi inget pas jaman SD-SMP dulu
sering diem di perpus baca QQ alias Qomik Qur’an yang menceritakan perjalanan
tokoh utamanya ke negara-negara Eropa untuk melihat sejarah peradaban islam
yang ada di sana dimana mereka mengunjungi Spanyol untuk melihat Masjid
Cordova, Istana Al-Hambra, dan lain sebagainya (semoga ga salah yaa, karena aku
juga lupa-lupa ingat, hehe).
Bisa dibilang, kurang puas sih nontonnya, ya maklum aja datengnya telat. Tapi
seenggaknya, aku rasa pesan moralnya ngena banget. Banyak hal yang sebelumnya
aku nggak tau tapi jadi tau setelah menonton film itu. Dan akhirnya kita keluar
ruangan dengan perasaan lega. Thanks, God! Terima kasih juga untuk dosen kita
yang baik hati~ benar-benar tontonan yang bukan sekadar tontonan, kalau kita
benar-benar mendalami isi ceritanya. Daaan, suka banget lelucon-lelucon kecil
yang disisipkan di dalam film ini. Lucu!
Nggak tau abis itu ke mana, akhirnya kita pada ngumpul-ngumpul di
sekitaran 21 itu. Fefe sama Hana mau pada main. Yang lain entah pada ke mana.
Akhirnya tersisa segerombolan yang duduk di kursi panjang sambil foto-foto dijepret
sama Hana. Karena beberapa hal, sebagian memutuskan pulang duluan. Rombonganku
ada Fitri, Rahma, Nanda, Firtya, Fauzi, Lina, Mbak Ros, Umi, Sulis dan Candra.
Kami kehujanan, Nai! Tadinya Dian mau pake mantel, tapi dia rada ragu
karena bajunya juga udah basah meskipun baru sedikit. Kata Fauzi, “Ya udah,
nikmatin aja!” Iya juga ya, Nai, nikmatin aja. Rasanya sudah bertahun-tahun
nggak hujan-hujanan meskipun pas SMA sering banget hujan-hujanan sama
teman-teman sekelas. Gara-gara hujan-hujanan itu juga aku jadi inget kamu, Nai.
Uhmmm, aku nggak bermaksud memutar kembali kisah kamu ataupun mengingatkan kamu
dengan manusia yang sangat-sangat terlalu itu. Hanya saja, aku ingin membuatmu
terbiasa dengan ingatan masa lalu yang menyakitkan itu. Dia nggak akan mau
pusing-pusing mengingat kamu, taruhan deh. Nih ya, dengerin! Begitu aku sebut
namanya nggak ada alasan untuk kamu bersikap nggak biasa. Ezar! Ezar! EZAR!
Aku nggak tau bagaimana ekspresimu ketika mendengar nama itu disebut.
Kamu jauh, Nai, bagaimana aku bisa lihat kamu? Yang jelas, kamu bukan orang
yang tepat untuk dijadikan korban oleh Ezar. Catat! Oke, kembali soal
hujan-hujanan tadi. Hujan yang aku rasakan tadi sore itu nggak sama dengan
hujan yang aku, kamu, Rino, atau Ezar rasakan saat kita kecil dulu. Hujan yang
dulu menenangkan, Nai. Kita bisa mencium bau tanah yang khas karena tertimpa
hujan. Sedang yang aku cium tadi bukanlah hujan dengan bau tanah yang khas,
tapi hujan yang bercampur-baur dengan bau asap kendaraan. Yah, begitulah… Aku
kedinginan, Nai. Dingin banget. Dian sempat bilang gini, “So sweet yaa. Kayak
di film-film Korea. Coba aja ada Lee Min Ho di sini.” Hahaha, aku nggak habis
pikir dia ternyata maniak Korea. Ke mana saja aku selama ini sampai nggak tau
kalau ternyata Dian juga maniak Korea seperti Lina? *ups* *kena hajar*
Aku diantar Dian sampai depan kost, Nai. Begitu turun dari motor… Aaaah,
kakiku beku. Rasa-rasanya, kalau Jacob Black itu nyata, aku pasti sudah
merengek minta dia menghangatkan kakiku dengan telapak tangannya, hehehe. Alec
pasti akan menolerir untuk hal yang satu itu kkk~ :p
Oke, Nai, itu ceritaku. Kuharap kamu nggak memaki-maki layar di hadapanmu
karena cerita ini terlalu absurd untuk dibaca. Salam untuk Rino yaaa. Bilang
sama dia, kalo toh dia nggak mampu meluluhkan hatimu, ntar aku cariin seseorang
buat dia. Teman sekelasku yang cewek banyak kok, jadi tenang aja~ *apa-apaan
ini!!*
Terima kasih Yaa Allah. Terima Kasih, Dosenku. Thank you, KKI B; you guys made my day~ ^-^