Pages

Selasa, 24 Desember 2013

Dear Naira, Ini Cerita Pertamaku Untukmu

Dear Naira…
          Hai, Nai! Aaah, rasanya sudah lamaaa sekali sejak kamu datang kepadaku dan memintaku menuliskan kisahmu itu. Setahun sepuluh bulan! Dan sejak itu pula kita tidak pernah bertemu atau bahkan mengobrol sekali pun. Aku kangen, Nai! Apa kabar kamu? Semoga baik yaaa.
           Aku sekarang di Jogja, Nai. Kuliah. Dan entah apa kabarnya Pulau Dewata-ku nun jauh di sana. Ada banyak cerita di sini. Tapi untuk kali ini aku hanya akan bercerita tentang apa-apa yang kualami hari ini yang seketika mengingatkanku padamu. Janji deh, aku akan cerita banyak kalau kita ketemu nanti. :))
            Seperti Selasa-Selasa sebelumnya, kuliahku dimulai pada pukul 9 pagi. Hari ini Fitri, Mbak Ros, dan Rahma (nama sebagian temanku, Nai, dan aku akan menjejalimu dengan banyak nama di cerita pertamaku ini) yang presentasi. Setelah kami duduk manis di ruang kuliah, dosen kami datang dan bertanya pada kami semua, “Sudah nonton 99 Cahaya di Langit Eropa?”
            Serentak kami menjawab, “Beluuum…”, sementara ada beberapa yang menjawab sudah. Karena mayoritas kami belum menonton film itu, dosen kami pun menawarkan kepada kami tiket gratis untuk menonton sekelas. Waaah, rezeki, Nai! Dan entah, aku tidak menyimak lagi kata-kata dosenku selanjutnya mengapa kami diberikan tiket gratis begitu saja (denger-denger dari Arif sih katanya beliau mendapat voucher gratis dari Hanum Rais, yup penulis dari novel yang diangkat ke layar lebar itu).
            Pada akhirnya, kami terpaksa keluar ruang kuliah tidak sesuai jadwal karena ruangan yang kami tempati akan digunakan untuk suatu acara. Sebelum memutuskan berangkat, Bayu (ini Ketua Kelas kami, Nai) dan Reno pergi ke bioskop di Amplaz untuk mengecek segala sesuatunya sekaligus memesan tiket.
            Di luar dugaan, saat semuanya bersantai-santai, Bayu sms kalau kita harus berangkat dari kampus pukul 12.30 karena pukul 13.00 kita harus sudah di Amplaz dan film diputar pukul 13.15. Bayangin, Nai, kita kelabakan. Aku, Ayu, Mak Fatim, Iman, baru aja abis makan. Sementara Dina baru aja ngerjain tugas dan itu pun belum selesai. Ya udah, akhirnya molor. Tau nggak kita berangkat jam berapa setelah melakukan ritual tunggu-menunggu karena jam karet yang menjadi penyakit alami kita? 13.48! Well done, beri tepuk tangan! Gila yaaa~ :D
            Aku dibonceng Dian, Nai. Dan kita ketinggalan di belakang, haha. Karena Dian nggak ada SIM dan STNK, kita pun memutuskan lewat dalem (jalan dalem maksudnya, hehe). Pas udah mau sampe deket-deket Amplaz, kita nunggu teman-teman yang lain dan akhirnya ketemu Mbak Winda sama Mbak Laila, sementara temen-temen yang lainnya datang dari arah yang berbeda dari jalur yang aku dan Dian ambil. Tau gitu nggak ditungguin tadi pas kita sampe duluan, huuu.
            Dan yah, sementara kami sibuk nyari-nyari parkiran, aku liat Mbak Ros lari-lari masuk ke dalam Amplaz. Gerimis, Nai. Aku nggak berharap kepalaku kena gerimis yang kayak jarum mungil itu. Bikin sakit kepala. Tapi toh sewaktu aku berjalan cepat-cepat dari parkiran menuju Amplaz aku kena gerimis juga, heuuu. Lucky me, aku nggak sampai sakit kepala pada akhirnya.
            Akhirnya kita sampai depan 21, Nai. Aku dan Dian, sementara yang lain udah pada di dalam. Ada Bayu dan Reno yang menunggu kami. Sayangnya, Ega sama Bang Dani nggak ikutan. Karena itu juga, akhirnya Bayu dan Reno memutuskan masuk bersama kami. Gelap. Aku dan Dian bahkan nggak bisa mencari tempat duduk kami. Akhirnya kami asal masuk ke deretan kursi di deket Sulis yang ternyata hanya ada satu tempat. Dian terpaksa mengalah dan duduk di deretan kursi penonton di samping Arif.
            Setelah itu, kami bener-bener nonton. I really enjoyed the film. Nggak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Oh ya, aku duduk di antara Fendi dan Imam. Hal itu membuatku sedikit meringis sih sebenarnya, hehe. Fendi diajakin tukaran tempat nggak mau, padahal kan akan lebih pas kalau aku duduk di samping Sulis trus di sampingku Fendi trus Imam.
“Yah, Fen. Masa’ kanan-kiriku cowok sih? Tukeran yuk!”
Fendi nggak mau, Nai. Jahat kan dia? Huh!
“Dikelilingi syaithan, Vi!” kata Fendi. Nggak ngerti deh siapa yang maksudnya dikelilingi syaithan. Ambigu! Kalau yang dikelilingi syaithan itu maksudnya aku, berarti syaithan yang dimaksud Fendi itu dia dan Imam? Bisa jadi. Tapi kalau yang dia maksud dikelilingi syaithan itu dia sendiri, berarti syaithannya Sulis dan… aku? Waaaa, enggaklah yaaa. Aku bukan syaithan, tapi vampir berdarah murni! #abaikanbagianini
Ruang bioskop itu berasa punya kami, Nai. Di mana-mana masiiih aja ada yang nyeletuk, “Iya po?” Hahaha. Dan makhluk tinggi jangkung yang duduk di sebelah kananku itu pun nggak bisa berenti berkomentar. Adaaa aja yang dikomentarin. Misalnya aja pas backsound-nya lagu Fatin, ya dibilang suaranya kayak orang pilek lah. Waktu Fatin muncul dalam adegandan dia bilang ke Eropa buat syuting lagu religi, dia berkomentar, “Alaaah, gaya ke Eropa! Indonesia aja belum dikelilingi!” Mau nggak mau jadi ketawa juga akhirnya, Nai, sementara Imam kayaknya ngantuk deh dia, hehe.
Well, Nai, aku nggak akan menulis review film itu di sini. Basi kali yaa bagi kamu. Yakin deh kamu udah pasti nonton lebih dulu. Yang jelas, film ini aku rasa worth it banget. Banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Ternyata peradaban islam itu nggak hanya ada di tempat islam itu lahir dan berkembang, tapi juga ada di negara-negara Eropa sana. Jadi inget pas jaman SD-SMP dulu sering diem di perpus baca QQ alias Qomik Qur’an yang menceritakan perjalanan tokoh utamanya ke negara-negara Eropa untuk melihat sejarah peradaban islam yang ada di sana dimana mereka mengunjungi Spanyol untuk melihat Masjid Cordova, Istana Al-Hambra, dan lain sebagainya (semoga ga salah yaa, karena aku juga lupa-lupa ingat, hehe).
Bisa dibilang, kurang puas sih nontonnya, ya maklum aja datengnya telat. Tapi seenggaknya, aku rasa pesan moralnya ngena banget. Banyak hal yang sebelumnya aku nggak tau tapi jadi tau setelah menonton film itu. Dan akhirnya kita keluar ruangan dengan perasaan lega. Thanks, God! Terima kasih juga untuk dosen kita yang baik hati~ benar-benar tontonan yang bukan sekadar tontonan, kalau kita benar-benar mendalami isi ceritanya. Daaan, suka banget lelucon-lelucon kecil yang disisipkan di dalam film ini. Lucu!
Nggak tau abis itu ke mana, akhirnya kita pada ngumpul-ngumpul di sekitaran 21 itu. Fefe sama Hana mau pada main. Yang lain entah pada ke mana. Akhirnya tersisa segerombolan yang duduk di kursi panjang sambil foto-foto dijepret sama Hana. Karena beberapa hal, sebagian memutuskan pulang duluan. Rombonganku ada Fitri, Rahma, Nanda, Firtya, Fauzi, Lina, Mbak Ros, Umi, Sulis dan Candra.
Kami kehujanan, Nai! Tadinya Dian mau pake mantel, tapi dia rada ragu karena bajunya juga udah basah meskipun baru sedikit. Kata Fauzi, “Ya udah, nikmatin aja!” Iya juga ya, Nai, nikmatin aja. Rasanya sudah bertahun-tahun nggak hujan-hujanan meskipun pas SMA sering banget hujan-hujanan sama teman-teman sekelas. Gara-gara hujan-hujanan itu juga aku jadi inget kamu, Nai. Uhmmm, aku nggak bermaksud memutar kembali kisah kamu ataupun mengingatkan kamu dengan manusia yang sangat-sangat terlalu itu. Hanya saja, aku ingin membuatmu terbiasa dengan ingatan masa lalu yang menyakitkan itu. Dia nggak akan mau pusing-pusing mengingat kamu, taruhan deh. Nih ya, dengerin! Begitu aku sebut namanya nggak ada alasan untuk kamu bersikap nggak biasa. Ezar! Ezar! EZAR!
Aku nggak tau bagaimana ekspresimu ketika mendengar nama itu disebut. Kamu jauh, Nai, bagaimana aku bisa lihat kamu? Yang jelas, kamu bukan orang yang tepat untuk dijadikan korban oleh Ezar. Catat! Oke, kembali soal hujan-hujanan tadi. Hujan yang aku rasakan tadi sore itu nggak sama dengan hujan yang aku, kamu, Rino, atau Ezar rasakan saat kita kecil dulu. Hujan yang dulu menenangkan, Nai. Kita bisa mencium bau tanah yang khas karena tertimpa hujan. Sedang yang aku cium tadi bukanlah hujan dengan bau tanah yang khas, tapi hujan yang bercampur-baur dengan bau asap kendaraan. Yah, begitulah… Aku kedinginan, Nai. Dingin banget. Dian sempat bilang gini, “So sweet yaa. Kayak di film-film Korea. Coba aja ada Lee Min Ho di sini.” Hahaha, aku nggak habis pikir dia ternyata maniak Korea. Ke mana saja aku selama ini sampai nggak tau kalau ternyata Dian juga maniak Korea seperti Lina? *ups* *kena hajar*
Aku diantar Dian sampai depan kost, Nai. Begitu turun dari motor… Aaaah, kakiku beku. Rasa-rasanya, kalau Jacob Black itu nyata, aku pasti sudah merengek minta dia menghangatkan kakiku dengan telapak tangannya, hehehe. Alec pasti akan menolerir untuk hal yang satu itu kkk~ :p
Oke, Nai, itu ceritaku. Kuharap kamu nggak memaki-maki layar di hadapanmu karena cerita ini terlalu absurd untuk dibaca. Salam untuk Rino yaaa. Bilang sama dia, kalo toh dia nggak mampu meluluhkan hatimu, ntar aku cariin seseorang buat dia. Teman sekelasku yang cewek banyak kok, jadi tenang aja~ *apa-apaan ini!!*
Terima kasih Yaa Allah. Terima Kasih, Dosenku. Thank you, KKI B; you guys made my day~ ^-^