Pages

Kamis, 21 April 2016

Berhenti Patah

“Nainna?” 

Aku mengangkat kepala. Sosokmu menjulang di sana. Napasku tertahan. Mataku mengerjap, sementara kamu dengan entengnya menarik kursi satu-satunya yang masih tersisa di kafetaria ini—tepat di hadapanku.
“Kamu sendiri?” tanyamu.
“Seperti yang kamu lihat,” kataku, berusaha menyuguhkan seulas senyum.
Kalau boleh kukatakan, aku tidak suka sesuatu yang membuatku merasa terjebak. Terutama di tengah keramaian, dengan cuaca yang tak bersahabat dan menghalangiku pergi ke mana-mana seperti ini, Seolah itu tak cukup, kamu tepat di depan mataku, menciptakan keheningan-keheningan yang canggung.
Aku memang tidak suka banyak bicara, tapi aku lebih tidak menyukai keheningan yang diciptakan dua orang ketika mereka bahkan bisa berbicara banyak hal. Dan itu yang kamu sedang lakukan. Satu menit yang diam terasa panjang. Jadi, kuatur irama jantungku dan berusaha menarik pita suaraku untuk kemudian menggumam, “Hujan di luar deras sekali ...”
Kamu mengangguk, lalu mengalihkan kepalamu dari jendela kafetaria yang kabur setengah berembun. “Itu sebabnya perkumpulan klub dibatalkan. Terlalu malas untuk keluar di saat seperti ini, bukan?” Senyummu miris.
“Tentu. Hujan seperti ini akan lama, Kai,” ujarku.
“Begitu? Hmm.”
Percakapan yang minim, ketegangan yang membuatku jengah, dan ketidakbanyak bicaraanmu itu, sejenak muncul sebuah pemikiran; apa kamu bahkan merasa tegang atau memang sedang tidak ingin bicara?
Aku harus mengakui aku bahagia ketika yang di depanku itu kamu; meski bersamamu ada keheningan-keheningan yang tidak kusuka itu. Secara sadar, aku tahu, aku tidak seharusnya merasa seperti itu. Kamu bukan seseorang yang seharusnya kujatuhi, tetapi perasaanku jauh telah berlari dari batas kendali. Aku tidak mampu memegang kemudi.
Setelah waktu yang panjang, dan pertemuan-pertemuan tanpa sengaja dengan dialog-dialog kecil itu, aku semakin menyadari bahwa setiap kali perasaan itu bertambah setiap kali itu pula sebuah kesalahan itu tak mau menyerah. Ia bersama seperti dua sosok yang berjalan beriringan.
Lalu suatu ketika, di senja yang cerah—jauh bertentangan dengan hujan deras waktu itu—aku menemukan alasan untuk berhenti; dari cerita orang-orang tentangmu yang sebenarnya sudah banyak kuketahui. Bahwa tidak seharusnya aku menjatuhkan diri. Bahwa kau barangkali bukan seseorang yang tepat untuk aku di kemudian hari.
“Dia menyukai orang itu.”
“Orang itu juga menyukainya.”
Untuk hal-hal semacam itu, aku seharusnya memang tidak banyak menangis. Sesuatu yang membuatku lelah. Sesuatu yang kemudian menimbulkan bekas-bekan tetesan dalam Intelegensi Embun Pagi-ku yang wangi dan baru terjamah; ketika pemikiran yang cemerlang dibutuhkan untuk membacanya.
Hei, memangnya siapa kamu?
When I tell you this, it’s not a fiction. It’s not only in my imagination. For real, I feel that I have fallen for you. It’s real. My feeling is real. But I can’t say it as real, even in every time I open my eyes, you’re there—and I pretend nothing happens.
Lalu, setelah ketidakpura-puraanku itu, aku akan menghentikan semuanya. Ya, aku akan berhenti,
... untuk patah.   
*
Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tantangan menulis Flashfiction dari tulisan di blog-nya Mbak Tutut Laraswati yang berjudul P A T A H (klik aja di judulnya yang ‘patah’ untuk membacanya ya). Well, wish me luck—(meski entah yang kutulis ini flasfiction atau bukan, hehe).

Kamis, 14 April 2016

Dakwah Ala Hasna


Brakkk! Hasna membanting pintu keras-keras. Ummi yang sedang duduk membaca majalah di ruang tamu sampai terkejut. Wajahnya murung. Hasna bahkan tidak mengucap salam dan hanya mencium tangan Ummi asal-asalan. Gadis sebelas tahun itu pun langsung masuk ke kamarnya.      
            Ummi beranjak mengikutinya, tetapi kamar itu dikunci.
            “Hasna... Ada apa, sayang?” tanya Ummi sembari mengetuk pintu kamar Hasna.
            Tidak ada jawaban.
            “Hasna, ganti baju trus makan dulu yuk. Ummi sudah siapkan sayur lodeh kesukaan Hasna,” kata Ummi lagi, berusaha membujuk anak bungsunya.
            Lagi-lagi tidak ada jawaban, tetapi itu tidak membuat Ummi menyerah. Dibujuknya gadis itu dengan segala cara, yang pada akhirnya tidak berhasil.
            Ummi mendesah pelan. Bagaimanapun, sepertinya hal ini harus dibicarakan pada Abi.
* * *
            Sudah sebulan ini Hasna merengek minta dibelikan HP. Pasalnya, teman-temannya di sekolah hampir semuanya memiliki alat komunikasi itu. Hanya Hasna dan seorang laki-laki yang bernama Akbar yang belum punya. Lagi pula kabarnya Akbar juga akan segera dibelikan HP oleh ayahnya sebagai hadiah memenangkan lomba mewarnai tingkat kecamatan.
            Kalau Akbar saja tinggal menunggu waktu, lantas bagaimana nasib Hasna? Ia tidak mau lagi cuma jadi pendengar ketika teman-temannya sibuk membicarakan game seru yang mereka mainkan di ponsel berbasis Android itu. Belum lagi kalau mereka sibuk bertanya tentang akun-akun sosial media yang katanya kekinian itu.
            “Hasna, IG kamu apa? Sini aku follow.”
            “Hasna, nama akun Twitter kamu apa? Follow punyaku dong, nanti aku folback!”
            “Stiker di LINE itu lucu-lucu yaa. Kalo mau ngehubungin aku lewat LINE aja, biar bisa tukeran stiker lucu!”
            Hasna berusaha menutup telinganya rapat-rapat. Seolah belum cukup, salah satu temannya tiba-tiba menyeletuk, “Eh, Hasna kan gak punya HP Android, teman-teman.”
            Itu suara Abel, teman sekelasnya yang terkenal paling cerewet.
            “Ya ampun, masa sih?” teman-teman yang lain bersorak tidak percaya. Mereka melirik kasihan pada Hasna yang sedari tadi hanya diam.
            Hasna mencoba ber-istighfar, seperti yang diajarkan Ummi-nya untuk melawan rasa marah dan sedih. Namun, keriuhan teman-temannya yang setiap kali jam istirahat membicarakan tentang game dan keseruan memiliki ponsel itu lama-lama membuatnya tidak tahan. Jadilah ia murung setiap kali pulang sekolah. Rasanya ia sangat kesal, sementara Ummi dan Abi sama sekali tidak mau menuruti keinginannya.
            “Kalo Ummi jadi Hasna, Ummi pasti pengen punya HP Android!” isaknya suatu kala, ketika berulang kali menyampaikan keinginannya itu.
            “Sayang, kalo Hasna jadi Ummi, Hasna pasti nggak pengen membelikan anak Hasna HP Android karena tau barang itu sedikit banget manfaatnya. Kalo Hasna benar-benar butuh, suatu saat nanti pasti akan Ummi dan Abi belikan.”
            Begitulah. Rengekan Hasna tidak pernah bisa membuat Ummi dan Abi luluh. Hasna mogok ngomong sama Ummi!
* * *
            Hari ini adalah hari ketiga Hasna mogok ngomong sama Ummi dan Abi. Ummi dan Abi jadi khawatir. Akhirnya, setelah berdiskusi panjang lebar, dengan mendengarkan pendapat kakak laki-laki Hasna, Kak Iman, Ummi dan Abi pun memutuskan membelikan Hasna HP Android. Mereka mengajak Hasna ke salah satu toko eletronik yang ada di mal dekat rumah.
            Berdasarkan saran Kak Iman, akhirnya terpilihlah sebuah ponsel yang didukung Android seperti yang diinginkan Hasna. Fiturnya cukup lengkap, meski harganya tidak terlalu mahal. Hasna pun menenteng kantong plastik berisi kotak ponsel itu dengan senyum lebar. Ia tak henti-hentinya memandangi kotak itu dan tidak sabar untuk membukanya di rumah.
            Sesampainya di rumah, ia langsung membuka kotak itu dan bersorak kegirangan. Akhirnya Hasna punya HP!  Ia pun menghambur memeluk Abi dan Ummi.
            “Makasih ya, Abi, Ummi. Sayang banget deh, hehe,” cengir Hasna.
            Abi mengelus kepala putri kecilnya itu, lalu berujar, “Tapi, Hasna harus janji ya. Nggak boleh main HP kalau waktunya ngaji ataupun belajar. Hasna harus bisa bagi waktu. Siap?”
            “Siap, Bos!” seru Hasna, sambil hormat ala-ala tentara seperti ketika mendapat perintah dari komandannya.
* * *
            Seminggu setelahnya, Hasna menyadari ternyata punya HP itu tidak seseru yang dibayangkannya. Ia harus meloncat bangun ketika suara adzan dari HP-nya itu mengangetkannya setiap Shubuh. Ia juga harus segera bangun dari tidur siang ketika adzan Ashar berkumandang. Pokoknya, gara-gara suara adzan yang otomatis dari HP-nya itu, ia terpaksa harus segera bangun. Padahal biasanya ia sedikit molor kalau tiap adzan dibangunkan Ummi untuk shalat. Sekarang sudah tidak bisa lagi begitu. HP-nya akan terus berbunyi nyaring kalau dia tidak juga mau bangun. Lama-lama Hasna pun jadi terbiasa shalat tepat waktu, meski awalnya susah sekali.
            Teman-temannya kini berhenti membicarakannya. Hasna sekarang suka bergabung dengan mereka. Meski di HP-nya tidak ada game seperti yang dimainkan teman-temannya karena Abi melarang itu, ia tetap pede karena akhirnya punya akun media sosial. Mereka seringkali berfoto bersama sehabis pulang les Bahasa Inggris di tempat kursus dekat sekolah. Foto-fotonya juga tidak lupa dimasukkan ke Instagram. Melihat itu, Ummi dan Abi hanya bisa geleng-geleng kepala.
            Suatu siang, Ummi masuk ke kamar Hasna dan melihat putri kecilnya itu sedang sibuk mendekor kamar. Hasna menempel kertas origami yang sudah dibentuk lucu-lucu di atas kertas karton tebal yang lebar. Di atasnya tertulis kata-kata semangat dan motivasi seperti: Yuk, shalat tepat waktu! Rezekinya juga bakal tepat waktu!, Senyum Itu Ibadah Lho!, Idolaku Itu... Rasulullah, Pastinya!, dan masih banyak lagi.
            Hasna pun iseng memotret satu kertas origami berbentuk awan dengan tulisan “Senang? Alhamdulillah-nya Mana?” dan memasukkannya ke Instagram. Dalam hitungan menit, foto itu pun disukai sebanyak 20 orang. Salah satu guru Hasna di sekolah bahkan juga memberi komentar tanda jempol. Hasna lantas kegirangan dan menunjukkan foto itu pada Ummi.
            “Nah, kalo gini Allah bakal makin sayang deh sama Hasna,” ujar Ummi sambil tersenyum.
            “Kok gitu, Mi?” Hasna mengernyit bingung.
            “Iya, itu sama aja kayak Hasna lagi berusaha ngingetin orang lain untuk bersyukur. HP barunya jadi bermanfaat deh,” jawab Ummi.
            Hasna merenung sebentar, lalu berkata, “Jadi kayak lagi dakwah gitu ya, Mi?”
            Sesaat Ummi kaget mendengar ucapan Hasna, tapi kemudian mengangguk mantap.
            “Ya udah deh, ntar IG, Twitter, LINE, aku penuhin semua deh pake foto tulisan begituan. Biar Allah tambah sayang, siapa tau nanti aku jadi gampang ngafalin rumus Matematika. Hehehe,” ungkap Hasna polos. Cengirannya lebar.
            Ummi hanya bisa tertawa mendengarnya. Hasna pun semakin semangat menggunting kertas origaminya dan menulisi kata-kata motivasi juga hadits-hadits pendek yang pernah dipelajarinya dalam pelajaran Al-Qur’an Hadits di sekolah. Ia menjadi tidak sabar untuk menyelesaikan semua itu, memotret, lalu menyebarkannya di semua akun media sosial miliknya. Kalau perlu ia akan mengajak semua teman-temannya untuk melakukan hal yang sama. HP barunya buat dakwah, biar Allah makin sayang. Siapa tahu nanti... eits, tapi nggak boleh salah niat ding!
* * *

---Telah diikutsertakan dalam Lomba Cerpen Anak Islami P&P UKI JAA UMY 2016, alhamdulillaah juara ketiga.

Senin, 04 April 2016

[MOVIE SCRIPT BLOG TOUR] Episode 6: Menebak Teka-teki Langit

Halo, semuanya~ ^^//
Ini adalah Movie Script Blog Tour OWOP (@oneweekonepaper), di mana setiap peserta yang sudah mendaftar mendapat tantangan untuk melanjutkan movie script yang telah dibuat oleh peserta sebelumnya. Dan saya, Evnaya, mendapat giliran keenam untuk menyelesaikan tantangan tersebut.
Untuk memahami jalan ceritanya, sila berkunjung ke:
Cerita sebelumnya: Para Artemis hanya memiliki waktu 58 menit lagi sebelum seorang pengunci yang ditawan terbunuh. Lalu Emily, anak Rinjani yang pemalu, menyadari ada yang aneh dengan kalimat yang dilontarkan Pria Bertopeng itu—yang diamini ketiga temannya. Mereka pun membagi tim untuk memecahkan kode dan menemukan apa yang disembunyikan pihak pengunci. Sementara itu, Radian terbangun dan memberi kode soal ‘mata-mata’ kepada keempat pengunci yang sadar.
EPISODE 6: Menebak Teki-Teki Langit
EXT. Jalanan Sepi.
SFX. Suara gedebuk dan kaleng yang jatuh terpelanting setelah mengenai kepala Rei.
Cyn: (posisi tiarap) Aww!
Rei: (kaget, mengusap-usap kepala, lalu berbalik ke belakang) Kemampuan larimu payah sekali!
Cyn: (bangkit, menepuk-nepuk pakaiannya yang kotor) Memangnya kau pikir kau sedang bersama siapa?! Pemenang kejuaraan lari?
Rei: Hei, kita sedang memburu waktu, ingat? Kau sendiri yang bilang tidak ingin ada yang mati. Kalau aku sih, peduli amat dengan kakakku yang pintar itu. Toh sekarang aku sudah punya penghasilan sendiri.
Cyn: (menarik napas keras) Yang benar saja, kita sekarang satu tim!
Rei: Ya, ya, ya. Tidak perlu khawatir, Cyn. Abaikan saja soal kalimatku tadi. Kupikir, ini akan menjadi permainan paling seru dari games yang pernah kumainkan. Semacam game detektif?
Cyn: (melengos) Jadi katakan, di mana tempatnya? Kau berlari seolah kautahu banyak tentang tempat ini.
Rei: Apa kaupikir ini sudah cukup jauh dari markas mereka?
Cyn: Kukira kakiku akan patah jika kau mengajakku berlari lebih jauh lagi.
Rei: (menaikkan A\alis) Baiklah... Kurasa kita memang tidak perlu pergi terlalu jauh agar tidak membuat mereka curiga.
Rei: (menatap ke sekeliling bangunan-bangunan tua yang ada di jalanan tersebut). Kemari!
Cyn: (berjalan mendekati Rei)
SFX. Pagar besi berderit terbuka
Rei, Cyn: (berjalan mengitari bangunan tua berlantai 2 itu)
Cyn: Lewat sini! (berbisik, menunjuk pintu belakang yang tampak bobrok)
Rei: (berlari menghampiri Cyn)
SFX. Klik, pintu terbuka.
INT. Gedung Tua Berlantai 2, Lampu Temaram.
Rei: (berjalan cepat mengitari ruangan, meninggalkan Cyn yang bersandar kelelahan di tembok).
Cyn: Memangnya apa yang bisa dilakukan di tempat seperti ini? (menggumam sambil melempar dengan jijik sarang laba-laba di hadapannya)
Ruangan di dalam gedung tua itu serupa aula, dengan salah satu pintu di ujung sisinya yang mengantarkan pada sebuah lorong dengan kamar-kamar dan tangga menuju lantai dua. Tak ada apa-apa di sana, kecuali meja persegi yang kaki-kakinya tampak rapuh dimakan rayap, juga komputer tua yang teronggok di atasnya; persis di bawah tangga.
Rei: Ah, mari kulihat, apa kau bahkan bisa diajak bekerja sama (menyalakan komputer).
SFX Suara bip pelan.
Rei: (menarik tombol keyboard) AAAA!!
Cyn: Rei!! Hei, kau di mana?! (berlari ke arah suara).
Rei: (terduduk di lantai).
Cyn: Astaga, aku bahkan bisa melihat wajah pucatmu dengan jelas di penerangan redup macam ini!
Rei: (menunjuk ke keyboard komputer) Itu... tolong singkirkan itu!
Cyn: (melihat ke arah yang ditunjuk Rei, tertawa) Ya Tuhan, kau bahkan takut dengan kecoa! Ck. Benar-benar tidak bisa dipercaya!
Rei: (mendengus) Kau tahu kan, kita perlu memecahkan kode itu terlebih dahulu.
Cyn: Kau bilang kau sudah mengetahuinya?
Rei: Oh, please! Ingatan fotografismu yang cemerlang itu rupanya tidak sebanding dengan kerja otakmu ya? Jadi, aku memang sudah mengetahuinya, tapi baru sebatas kata kuncinya saja. dan deretan huruf yang kaulihat di layar itu perlu kita padukan dengan kata kuncinya untuk mendapatkan kode yang sebenarnya. Mengerti? Lalu, apa perlu kujelaskan juga kita kabur untuk menghindari rekaman CCTV yang ternyata di atap pun ada? Ah, kuharap Emily atau bahkan Joe bisa mengerti maksud dari pembagian tim ini. Kita berdua hanya perlu menjauh agar bisa menyusun strategi tanpa diketahui siapa pun.
Cyn: (manggut-manggut) Lalu bukankah penyusupan yang dilakukan Joe dan Emily akan sia-sia?
Rei: Yah, paling tidak dengan begitu kita bisa sedikit mengelabui mereka yang terus mengawasi kita. Berpura-pura bodoh kadang bisa jadi menguntungkan. Ayo, bantu aku memecahkan kodenya. Kata kuncinya adalah... LANGIT!
Cyn: Apa yang bisa kulakukan antara XINF QZCO RUEZ dengan LANGIT? (mengernyit bingung).
Rei: Ya Tuhan, apa kau bahkan pernah mendengar tentang chippertext?!
Cyn: (menggeleng polos).
Rei: (menjalankan mouse, membuka program kalkulator di komputer) Kita akan mulai mendekrip kodenya. Aku akan memberikan instruksi untuk menghitung dengan operasi modulus. Pastikan kau memasukkan angkanya dengan benar, oke?
Cyn: Ngg, aku tidak masalah dengan itu. Tapi, waktu kita... tinggal 43 menit lagi (melirik arloji, cemas).
Rei: Jika ada yang mati, itu sudah pasti bukan ayahmu. 12 mod 26?
CUT TO
INT. Markas Para Pengunci. Lorong-lorong dengan jajaran ruangan berpintu kaca.
Em: (berjalan mengendap).
Joe: (di belakang Emily, mengoceh) Bagaimana kita bisa masuk ke ruangan-ruangan ini jika pintunya saja dilengkapi panel sentuh sidik jari begini? Sudah pasti hanya mereka dengan identitas terdaftar yang bisa masuk. HHH! Seharusnya kutinju saja orang-orang gila itu ketika memaksaku ikut dengan mereka. Waktu tidurku bahkan sepertinya akan berkurang drastis!
Em: (mendadak berhenti).
Joe: (hampir menabrak Emily).
Em: Ssst! (menempelkan telunjuk di bibir).
Joe: (mengernyit).
Em, Joe: (mengintip ke dalam ruangan).
            Itu ruangan yang tadi sore dimasukinya ketika sadar setelah dibawa paksa oleh preman-preman kasar itu. Kini tampak beberapa orang mengenakan jas formal duduk mengitari meja kaca panjang yang dilengkapi panel-panel. Bersama mereka adalah para pengunci, dan Wijaya, satu-satunya yang dikenal Emily dan Joe. Mereka tengah fokus pada layar besar yang menunjukkan kode-kode yang dimasukkan ke sebuah kolom, enter, dan... ACCESS DENIED!
INT. Markas Pengunci. Dalam ruang pertemuan.
Pria jas 1 (berkacamata): Sepertinya mereka benar-benar memperkuat jaringan keamanannya.
Pria jas 2 (rambut putih): Pasti ada pihak-pihak yang berperan besar dalam hal itu.
Wij: (mendehem) Tentu, Tuan. Tapi, kami akan terus bekerja keras untuk bisa mendeteksi lokasinya.
Pria jas 4 (berhidung runcing): Berapa lama lagi kita akan menunggu? Mereka hilang sudah hampir sebulan! Sebulan!
Wij: (menunduk).
Pria jas 3 (mata berkantung): Kita bahkan sampai harus melibatkan anak-anak itu... Hm.
Wij: (tetap menunduk).
CUT BACK TO
INT. Gedung Tua Berlantai 2.
Karena kebiasaannya di depan komputer untuk bermain dan mempelajari cara membuat game, Rei dapat dengan mudah menebak kode macam apa yang diberikan pria bertopeng itu beserta langkah-langkah untuk memecahkannya—hal yang tak diketahui kakaknya yang kelewat sibuk dan pintar itu bahwa adiknya banyak berkembang selama dua bulan terakhir ini. Setelah menyelesaikan tahap pertama, Rei pun memerintahkan Cyn untuk mengetik Sandi Vigenere di komputer tua itu.
Rei: Ya Tuhan, lama sekali kau bekerja! Jangan-jangan Sandi Vigenere ini merupakan sesuatu yang baru bagimu?
Cyn: (bibir mengerucut, mengetik) Terus saja merendahkanku!
Rei: Oke, oke, baiklah, cepat selesaikan. Jangan lupa simpan tabel sandi itu dengan ingatan fotografismu begitu kau menyelesaikannnya. Kita akan banyak membutuhkannya. Omong-omong, Emily benar, apa untungnya ya bagi mereka melibatkan kita?
Cyn: Aku sudah selesai!
Rei: (melonjak mendekat) Ayo kita pecahkan!
CUT TO
INT. Markas Penyekapan Para Pengunci. Ruang Pribadi Al.
Al: Tentu saja, Tuan, itu umpan yang sangat tepat untuk memancing kemarahan mereka (tertawa terbahak-bahak). Apa? Oh ya, tentu. Aset berharga itu kini amat lemah dan tidak sadarkan diri secara berkala, sesuai yang Anda minta. Begitu anak-anak itu tidak bisa menyelesaikan kodenya, tabung itu secara otomatis akan meledak. Dan aku akan memastikan keempat kurcaci yang emosional itu tidak melihat apa pun ketika tubuh si lemah itu dievakuasi.
SFX Ting. Suara pesan masuk.
Al: (memperbaiki posisi headset, menatap layar ponsel dengan nanar) Ada pesan dari agen kita, Tuan. Ya? Uhm, Penggagas terus berusaha melacak lokasi kita. Apa? Baik, akan kulakukan.
INT. Gedung Tua Berlantai 2.
Cyn: (memekik) BINTANG ORION?
Rei: Apa maksudnya ini?
Cyn: (mengangkat bahu).
Rei: Kita perlu kembali ke markas!
Tiga puluh menit setelahnya...
INT. Ruang penuh tabung.
Al: Halo, halo~
Dru: (membuang muka).
Ar: Cih!
Wid: Apa lagi, sekarang?!
Al: (tersenyum senang) O-ho, kalian terlalu berburuk sangka, tawanan-tawananku!
Jan: (mendengus keras).
Al: Ah, baiklah. Kalian tahu, anak-anak dan adik kalian tengah berusaha memecahkan kode itu. Coba kita lihat, apakah itu bahkan akan berhasil? Mengingat waktunya tinggal...
Jan, Dru, Ar, Wid: (serentak menoleh ke timer di tabung Radian).
Al: (menjentikkan jari) Benar sekali! Delapan menit! Jika dalam waktu delapan menit layar raksasa itu tidak memunculkan maksud dari kode yang telah dipecahkan oleh kerabat kalian, sebagai gantinya, tabung itu akan meledak.
INT. Markas Pengunci. Ruang pertemuan.
Wij: Jadi, kalian sudah memecahkan kodenya?
Cyn: (terengah-engah)
Rei: BINTANG ORION! Itu kodenya. Cepat siapkan komputermu! Astaga, waktu kita sebentar lagi! (napas memburu).
Wij: Lalu apa maksudnya itu?
Joe: (menguap) Em?
Em: Itu... uhm, Rigel? (ragu-ragu)
Wij: (mengetik kata-kata Emily di komputernya)
SFX Ting. Bunyi layar monitor raksasa. Bintang Orion, benar.
Joe: (bersorak).
SFX. Bip. Rigel. Jawaban salah.
Cyn: Sesuatu yang lain, Em?
Rei: (pasrah).
Em: Al... nitak, Alnilam, Mintaka?
Wij: (mengetik dengan cepat) Oke, ENTER!
SFX! Bunyi ping keras. FAILED! TIME IS OVER!
Layar mendadak hitam. Perlahan muncul setitik cahaya. Menerang, menerang, dan...
SFX. BOOM! Suara tabung meledak. Suara manusia menjerit. RADIAN!!!
Cyn, Rei, Joe, Em: (terperangah)
BERSAMBUNG...

Cerita selanjutnya akan dibawakan oleh Kak Zu. :))
---> Di Balik Rasi Bintang Orion