Halo, semuanya~ ^^//
Ini adalah Movie Script Blog Tour OWOP
(@oneweekonepaper), di mana setiap peserta yang sudah
mendaftar mendapat tantangan untuk melanjutkan movie script yang telah
dibuat oleh peserta sebelumnya. Dan saya, Evnaya, mendapat giliran keenam untuk
menyelesaikan tantangan tersebut.
Untuk memahami jalan ceritanya, sila
berkunjung ke:
Cerita sebelumnya: Para Artemis hanya memiliki waktu
58 menit lagi sebelum seorang pengunci yang ditawan terbunuh. Lalu Emily, anak
Rinjani yang pemalu, menyadari ada yang aneh dengan kalimat yang dilontarkan
Pria Bertopeng itu—yang diamini ketiga temannya. Mereka pun membagi tim untuk
memecahkan kode dan menemukan apa yang disembunyikan pihak pengunci. Sementara
itu, Radian terbangun dan memberi kode soal ‘mata-mata’ kepada keempat pengunci
yang sadar.
EPISODE 6: Menebak
Teki-Teki Langit
EXT. Jalanan Sepi.
SFX. Suara gedebuk dan kaleng yang
jatuh terpelanting setelah mengenai kepala Rei.
Cyn: (posisi tiarap) Aww!
Rei: (kaget, mengusap-usap kepala, lalu
berbalik ke belakang) Kemampuan larimu payah sekali!
Cyn: (bangkit, menepuk-nepuk pakaiannya
yang kotor) Memangnya kau pikir kau sedang bersama siapa?! Pemenang kejuaraan
lari?
Rei: Hei, kita sedang memburu waktu,
ingat? Kau sendiri yang bilang tidak ingin ada yang mati. Kalau aku sih, peduli
amat dengan kakakku yang pintar itu. Toh sekarang aku sudah punya penghasilan
sendiri.
Cyn: (menarik napas keras) Yang benar
saja, kita sekarang satu tim!
Rei: Ya, ya, ya. Tidak perlu khawatir, Cyn.
Abaikan saja soal kalimatku tadi. Kupikir, ini akan menjadi permainan paling
seru dari games yang pernah kumainkan. Semacam game detektif?
Cyn: (melengos) Jadi katakan, di mana
tempatnya? Kau berlari seolah kautahu banyak tentang tempat ini.
Rei: Apa kaupikir ini sudah cukup jauh
dari markas mereka?
Cyn: Kukira kakiku akan patah jika kau mengajakku berlari
lebih jauh lagi.
Rei: (menaikkan A\alis) Baiklah... Kurasa
kita memang tidak perlu pergi terlalu jauh agar tidak membuat mereka curiga.
Rei: (menatap ke sekeliling
bangunan-bangunan tua yang ada di jalanan tersebut). Kemari!
Cyn: (berjalan mendekati Rei)
SFX. Pagar besi berderit terbuka
Rei, Cyn: (berjalan mengitari bangunan tua
berlantai 2 itu)
Cyn: Lewat sini! (berbisik, menunjuk
pintu belakang yang tampak bobrok)
Rei: (berlari menghampiri Cyn)
SFX. Klik, pintu terbuka.
INT. Gedung Tua Berlantai 2, Lampu
Temaram.
Rei: (berjalan cepat mengitari ruangan,
meninggalkan Cyn yang bersandar kelelahan di tembok).
Cyn: Memangnya apa yang bisa dilakukan di
tempat seperti ini? (menggumam sambil melempar dengan jijik sarang laba-laba di
hadapannya)
Ruangan di dalam gedung
tua itu serupa aula, dengan salah satu pintu di ujung sisinya yang mengantarkan
pada sebuah lorong dengan kamar-kamar dan tangga menuju lantai dua. Tak ada
apa-apa di sana, kecuali meja persegi yang kaki-kakinya tampak rapuh dimakan
rayap, juga komputer tua yang teronggok di atasnya; persis di bawah tangga.
Rei: Ah, mari kulihat, apa kau bahkan
bisa diajak bekerja sama (menyalakan komputer).
SFX Suara bip pelan.
Rei: (menarik tombol keyboard)
AAAA!!
Cyn: Rei!! Hei, kau di mana?! (berlari ke
arah suara).
Rei: (terduduk di lantai).
Cyn: Astaga, aku bahkan bisa melihat
wajah pucatmu dengan jelas di penerangan redup macam ini!
Rei: (menunjuk ke keyboard
komputer) Itu... tolong singkirkan itu!
Cyn: (melihat ke arah yang ditunjuk Rei, tertawa)
Ya Tuhan, kau bahkan takut dengan kecoa! Ck. Benar-benar tidak bisa dipercaya!
Rei: (mendengus) Kau tahu kan, kita perlu
memecahkan kode itu terlebih dahulu.
Cyn: Kau bilang kau sudah mengetahuinya?
Rei: Oh, please! Ingatan
fotografismu yang cemerlang itu rupanya tidak sebanding dengan kerja otakmu ya?
Jadi, aku memang sudah mengetahuinya, tapi baru sebatas kata kuncinya saja. dan
deretan huruf yang kaulihat di layar itu perlu kita padukan dengan kata
kuncinya untuk mendapatkan kode yang sebenarnya. Mengerti? Lalu, apa perlu
kujelaskan juga kita kabur untuk menghindari rekaman CCTV yang ternyata di atap
pun ada? Ah, kuharap Emily atau bahkan Joe bisa mengerti maksud dari pembagian
tim ini. Kita berdua hanya perlu menjauh agar bisa menyusun strategi tanpa diketahui
siapa pun.
Cyn: (manggut-manggut) Lalu bukankah penyusupan
yang dilakukan Joe dan Emily akan sia-sia?
Rei: Yah, paling tidak dengan begitu kita
bisa sedikit mengelabui mereka yang terus mengawasi kita. Berpura-pura bodoh
kadang bisa jadi menguntungkan. Ayo, bantu aku memecahkan kodenya. Kata
kuncinya adalah... LANGIT!
Cyn: Apa yang bisa kulakukan antara XINF
QZCO RUEZ dengan LANGIT? (mengernyit bingung).
Rei: Ya Tuhan, apa kau bahkan pernah
mendengar tentang chippertext?!
Cyn: (menggeleng polos).
Rei: (menjalankan mouse, membuka
program kalkulator di komputer) Kita akan mulai mendekrip kodenya. Aku akan
memberikan instruksi untuk menghitung dengan operasi modulus. Pastikan kau memasukkan
angkanya dengan benar, oke?
Cyn: Ngg, aku tidak masalah dengan itu.
Tapi, waktu kita... tinggal 43 menit lagi (melirik arloji, cemas).
Rei: Jika ada yang mati, itu sudah pasti
bukan ayahmu. 12 mod 26?
CUT TO
INT. Markas Para Pengunci.
Lorong-lorong dengan jajaran ruangan berpintu kaca.
Em: (berjalan mengendap).
Joe: (di belakang Emily, mengoceh) Bagaimana
kita bisa masuk ke ruangan-ruangan ini jika pintunya saja dilengkapi panel
sentuh sidik jari begini? Sudah pasti hanya mereka dengan identitas terdaftar
yang bisa masuk. HHH! Seharusnya kutinju saja orang-orang gila itu ketika memaksaku
ikut dengan mereka. Waktu tidurku bahkan sepertinya akan berkurang drastis!
Em: (mendadak berhenti).
Joe: (hampir menabrak Emily).
Em: Ssst! (menempelkan telunjuk di bibir).
Joe: (mengernyit).
Em, Joe: (mengintip ke dalam ruangan).
Itu ruangan yang tadi sore dimasukinya ketika sadar
setelah dibawa paksa oleh preman-preman kasar itu. Kini tampak beberapa orang
mengenakan jas formal duduk mengitari meja kaca panjang yang dilengkapi
panel-panel. Bersama mereka adalah para pengunci, dan Wijaya, satu-satunya yang
dikenal Emily dan Joe. Mereka tengah fokus pada layar besar yang menunjukkan
kode-kode yang dimasukkan ke sebuah kolom, enter,
dan... ACCESS DENIED!
INT. Markas Pengunci. Dalam ruang
pertemuan.
Pria jas 1 (berkacamata): Sepertinya mereka benar-benar
memperkuat jaringan keamanannya.
Pria jas 2 (rambut putih): Pasti ada pihak-pihak yang berperan
besar dalam hal itu.
Wij: (mendehem) Tentu, Tuan. Tapi, kami
akan terus bekerja keras untuk bisa mendeteksi lokasinya.
Pria jas 4 (berhidung runcing): Berapa lama lagi kita akan menunggu?
Mereka hilang sudah hampir sebulan! Sebulan!
Wij: (menunduk).
Pria jas 3 (mata berkantung): Kita bahkan sampai harus melibatkan
anak-anak itu... Hm.
Wij: (tetap menunduk).
CUT BACK TO
INT. Gedung Tua Berlantai 2.
Karena kebiasaannya di
depan komputer untuk bermain dan mempelajari cara membuat game, Rei dapat
dengan mudah menebak kode macam apa yang diberikan pria bertopeng itu beserta langkah-langkah
untuk memecahkannya—hal yang tak diketahui kakaknya yang kelewat sibuk dan
pintar itu bahwa adiknya banyak berkembang selama dua bulan terakhir ini. Setelah
menyelesaikan tahap pertama, Rei pun memerintahkan Cyn untuk mengetik
Sandi Vigenere di komputer tua itu.
Rei: Ya Tuhan, lama sekali kau bekerja!
Jangan-jangan Sandi Vigenere ini merupakan sesuatu yang baru bagimu?
Cyn: (bibir mengerucut, mengetik) Terus
saja merendahkanku!
Rei: Oke, oke, baiklah, cepat selesaikan.
Jangan lupa simpan tabel sandi itu dengan ingatan fotografismu begitu kau menyelesaikannnya.
Kita akan banyak membutuhkannya. Omong-omong, Emily benar, apa untungnya ya bagi
mereka melibatkan kita?
Cyn: Aku sudah selesai!
Rei: (melonjak mendekat) Ayo kita
pecahkan!
CUT TO
INT. Markas Penyekapan Para Pengunci.
Ruang Pribadi Al.
Al: Tentu saja, Tuan, itu umpan yang sangat tepat untuk
memancing kemarahan mereka (tertawa terbahak-bahak). Apa? Oh ya, tentu. Aset
berharga itu kini amat lemah dan tidak sadarkan diri secara berkala, sesuai
yang Anda minta. Begitu anak-anak itu tidak bisa menyelesaikan kodenya, tabung
itu secara otomatis akan meledak. Dan aku akan memastikan keempat kurcaci yang
emosional itu tidak melihat apa pun ketika tubuh si lemah itu dievakuasi.
SFX Ting. Suara pesan masuk.
Al: (memperbaiki posisi headset, menatap layar
ponsel dengan nanar) Ada pesan dari agen kita, Tuan. Ya? Uhm, Penggagas terus
berusaha melacak lokasi kita. Apa? Baik, akan kulakukan.
INT. Gedung Tua Berlantai 2.
Cyn: (memekik) BINTANG ORION?
Rei: Apa maksudnya ini?
Cyn: (mengangkat bahu).
Rei: Kita perlu kembali ke markas!
Tiga puluh menit
setelahnya...
INT. Ruang penuh tabung.
Al: Halo, halo~
Dru: (membuang muka).
Ar: Cih!
Wid: Apa lagi, sekarang?!
Al: (tersenyum senang) O-ho, kalian terlalu berburuk
sangka, tawanan-tawananku!
Jan: (mendengus keras).
Al: Ah, baiklah. Kalian tahu, anak-anak dan adik kalian tengah
berusaha memecahkan kode itu. Coba kita lihat, apakah itu bahkan akan berhasil?
Mengingat waktunya tinggal...
Jan, Dru, Ar, Wid: (serentak menoleh ke timer di
tabung Radian).
Al: (menjentikkan jari) Benar sekali! Delapan menit! Jika
dalam waktu delapan menit layar raksasa itu tidak memunculkan maksud dari kode
yang telah dipecahkan oleh kerabat kalian, sebagai gantinya, tabung itu akan
meledak.
INT. Markas Pengunci. Ruang
pertemuan.
Wij: Jadi, kalian sudah memecahkan
kodenya?
Cyn: (terengah-engah)
Rei: BINTANG ORION! Itu kodenya. Cepat
siapkan komputermu! Astaga, waktu kita sebentar lagi! (napas memburu).
Wij: Lalu apa maksudnya itu?
Joe: (menguap) Em?
Em: Itu... uhm, Rigel? (ragu-ragu)
Wij: (mengetik kata-kata Emily di
komputernya)
SFX Ting. Bunyi layar monitor
raksasa. Bintang Orion, benar.
Joe: (bersorak).
SFX. Bip. Rigel. Jawaban salah.
Cyn: Sesuatu yang lain, Em?
Rei: (pasrah).
Em: Al... nitak, Alnilam, Mintaka?
Wij: (mengetik dengan cepat) Oke, ENTER!
SFX! Bunyi ping keras. FAILED! TIME
IS OVER!
Layar mendadak hitam.
Perlahan muncul setitik cahaya. Menerang, menerang, dan...
SFX. BOOM! Suara tabung meledak.
Suara manusia menjerit. RADIAN!!!
Cyn, Rei, Joe, Em: (terperangah)
BERSAMBUNG...