Pages

Sabtu, 05 Desember 2015

Kita dan Perjalanan

Kita sepakat bahwa setiap perjalanan memiliki artinya masing-masing. Entah itu perjalanan yang membawa kita pada arti sebuah impian, kehidupan di masa depan, atau bahkan kesenangan-kesenangan kecil yang kelihatannya remeh namun cukup berharga untuk kita miliki.

Kita menganalogikan perjalanan kita seperti dua buah garis sejajar. Ada aku dan kau di setiap ujungnya. Selalu bersisian, sesuatu yang bahkan tidak pernah kita tahu sebelumnya. Kita berjalan, pada tepian yang menjadi bagian kita. Aku terjatuh, mungkin kau juga. Aku bangkit, tertawa, menangis—dan mungkin kau juga.

Dan itu bukan kendali kita, ketika dua garis yang tadinya sejajar bertemu di sebuah titik perpotongan.

Sesuatu yang tidak kita duga. Tidak pula merupakan yang kita inginkan. Tetapi segala hal seolah seperti kebetulan. Kebetulan saja aku lelah. Kebetulan saja kau memiliki persediaan air minum yang cukup. Dan kebetulan saja aku membutuhkan air itu.

Dengan mimpi berbeda, dan pemaknaan hidup yang berbeda atau bahkan bisa jadi sama, kita mengisi ruang kosong yang disediakan waktu untuk bercerita. Tentang apa pun dan siapa pun.

Perjalanan mengajarkan kita banyak hal, bukan? Tentang kesabaran, keteguhan, mengobati kesakitan-kesakitan, dan sesuatu bernama penerimaan. Perjalanan adalah kehidupan, dan kehidupan adalah perjalanan. Sampai akhirnya, kita tersadar. Perjalanan selalu menyisakan dua hal; tujuan dan pulang.

Aku tidak tahu bagaimana mendefinisikan diri kita pada kita dalam perjalanan ini. Pemaknaanku terhadap sesuatu bisa jadi berlebihan. Satu-satunya yang kutahu adalah dua garis sejajar selayaknya harus tetap dibiarkan sebagai dua garis sejajar. Dan aku berharap aku selalu ingat. Sampai kau atau entah siapa pun di kemudian hari berbicara kepadaku tentang tujuan dan pulang;

... juga perjalanan selanjutnya.