Pages

Sabtu, 16 September 2017

Merajut Ukhuwah Sampai ke Jannah (Catatan Perjalanan dan Kajian Ustadz Salim A. Fillah)


Sejak hijrah dari Yogyakarta Istimewa menuju Surakarta, aku berpikir bahwa setidaknya aku harus update juga informasi sekitar tempat tinggal baruku ini. Yang pertama kali kucari adalah info kajiannya, hehe, meskipun sebenarnya aku juga menyadari keterbatasan waktu dan mobilisasi untuk pergi ke sana kemari. Nggak masalah, kalo nggak bisa yaudah nggak apa-apa juga, kan? Yang penting tahu infonya dulu.

Menurutku, datang ke kajian, seminar, atau majelis ilmu apa pun itu bisa memunculkan semacam energi baru berupa semangat untuk terus belajar dan terus istiqamah, apalagi kalau sedang futur-futurnya. Kemudian pagi di Jumat barakah itu, ketika aku sedang piket di teras masjid, Mbak Citra mengingatkanku soal seminar yang dia katakan tempo hari.

“Persalinan Maryam ya? Yaaah, bayar itu mah, hehe.”

“Iya 80 ribu, kalo OTS 100 ribu,” katanya.

Wajar, dan memang sepertinya suatu saat butuh juga untuk ikut itu, tapi berhubung kondisi finansial sedang tidak memprioritaskan untuk itu, jadilah kukatakan, “Yang gratis aja yuk, Ukh. Ada Ustadz Salim A Fillah tuh di UNS.

“Boleh-boleh, jam berapa?”

“Ih, Mbak, antum mau ke mana?” tanya seseorang yang, maafkan, awalnya aku lupa namanya siapa karena belum begitu hafal—padahal sehalaqah. “Ana ikut dong, Mbak.”

Kami pun pergi bertiga ba’da dhuhur kemarin itu. Kami sama-sama nggak tahu UNS itu di mana, selain kata Dek Yana—yay akhirnya tahu namanya lagi :p—ke arah kiri dari tempat tinggal kami. Kami naik Batik Solo Trans dan setelah setengah jam terasa saaangat panjang, kami pun diturunkan di depan gerbang utama kampus UNS. Sampai jugaaa, alhamdulillah, padahal dalam hati aku sempat harap-harap cemas kalau-kalau kami kelewatan, atau sopirnya lupa nurunin kami, hehehe.
Mbak Citra pun bertanya tentang Masjid Nurul Huda pada seseorang yang kami temui di halte, kami disarankan untuk naik bus kampus menuju ke sana.

“Jauh nggak, Pak, dari sini?” Kami bertanya lagi pada satpam kampus untuk memastikan.

“Sekitar 4 kilo, Mbak.” Maa syaa Allah. Kami putuskan untuk pelan-pelan berjalan sambil menunggu bus kampus UNS lewat.

Alhamdulillah, setelah menunggu sekitar 10 menitan, kami pun sudah berada di dalam bus yang membawa kami menuju Masjid Nurul Huda UNS. Sampai di sana, kajiannya sudah dimulai dan Ustadz Salim sedang menceritakan kisah Julaibib. Menurutku itu salah satu kisah yang amat berkesan yang juga terdapat dalam buku beliau, Jalan Cinta Para Pejuang (silakan baca bukunya dulu ya :p).

Yang aku suka dari setiap tulisan juga penuturan Ustadz Salim adalah selain bahasanya yang sastra dan terkesan lembut banget, juga materi shirah-nya yang nggak  pernah absen berhubung aku ini nol banget soal shirah. 

Dan tema kajian kali ini adalah tentang Merajut Ukhuwah Sampai ke Jannah. Dan sebenarnya, aku tipikal yang sulit mencatat ketika mendengar seseorang berbicara. Mencatat membuat pikiranku terbagi dan pada akhirnya malah tidak fokus pada kalimat yang diucapkan selanjutnya. Jadi biasanya, dalam majelis ilmu apa pun, aku akan lebih banyak mendengarkan dan hanya mencatat kalimat-kalimat yang pendek dan penting. Jadi, dari hasil catatanku yang sedikit, dan ingatanku yang tak seberapa, aku akan berbagi ilmu yang kudapat kemarin itu. :))

Nah, ukhuwah itu dapat terjalin ketika seorang muslim merasa aman dari gangguan lisan dan tangan muslim lainnya. Jauhkan diri kita dari ghibah dan membuka aib mengenai perilaku saudara kita. Persaudaraan harus terus dijalin, bahkan kita pun diperbolehkan untuk berbohong dengan tujuan mendamaikan dua pihak yang berselisih.

Lalu, iman itu harus selalu diterjemahkan dalam bentuk akhlak yang baik. Inilah yang diperlukan dalam merajut ukhuwah. Akhlak yang baik, adalah kita memilih diam saat tidak mampu mengatakan yang baik. Adalah membuat nyaman orang-orang di sekitar kita. Kelak saudara kita akan merasa aman dan juga nyaman di samping kita. Termasuk juga adab dalam bertetangga, maka jauhkan diri kita dari keengganan untuk berbagi sementara harum masakan kita telah sampai ke rumah-rumah mereka. Karenanya, dalam sebuat hadits Rasulullah menganjurkan untuk ‘memperbanyak kuahnya’ demgan tujuan supaya kita bisa berbagi pada tetangga.

Bukti ukhuwah paling tinggi adalah manfaat. Layaknya pohon yang bagus, selain akarnya menghujam ke bumi dan batangnya menjulang ke langit, maka diharapkan pula ia dapat berbuah. Buah inilah yang kemudian dapat dirasakan oleh manusia, sebagaimana manfaat dari ukhuwah yang telah ditanam tersebut.

Adapun akar yang menghujam tadi adalah sebagaimana kita dalam beriman. Iman yang membuat kokoh, yang radikal. Eits, jangan salah mengartikan kata radikal di sini ya. Karena radikal dalam berislam itu harus, yang tidak boleh adalah es krim, eh ekstrim. Nah, jadi mulailah membedakan keduanya. Karena radikal maksudnya jelas adalah keimanan yang kokoh dan berakar, di sisi lain juga fundamental, dan itu sekali lagi itu bukan es krim, hehe.

Lalu bagaimana agar ukhuwah kita sampai ke jannah?

Rasulullah pernah ditanya oleh seorang sahabat kapankah kiamat itu tiba. Rasulullah bertanya memangnya apa yang sudah ia siapkan untuk mengahadapinya, maka seseorang tersebut menjawab, “Tidak ada Yaa Rasulullah, kecuali aku mencintai Allah kemudian Rasul-Nya.” Maka Rasulullah menjawab, “Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.”

Maa syaa Allah, hadits tersebut menurutku sangat menggetarkan. Memangnya siapa yang tidak berharap dapat sesyurga dengan Rasulullah? Maka kata Ustadz Salim, perhatikan siapa yang kamu cintai, karena kamu akan dihimpun bersama dengan orang-orang yang kamu cintai. Cintailah sesuatu karena Allah semata, dan jangan mencari cinta-cinta selainnya.

Yang lain tertawa, dan aku termasuk yang takjub Ustadz Salim menyebutkan nama salah satu aktor Korea yang hits itu. Maa syaa Allah, memang dalam dakwah pun kita nggak boleh kudet, terutama jika mad’u-nya anak muda-muda gini ya. :D Yah, poinnya adalah jangan sampai salah mengambil idola. Cintailah sesuatu yang mendekatkan kita pada kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya. Karena secinta pun kita pada sesuatu atau seseorang, jika tidak berlandaskan kecintaan pada Allah, maka itu akan menjadi musuh kita di hari akhir kelak.

Mulailah mencari sosok-sosok menginspirasi dari kalangan sahabat; Khadijah yang kaya dan shalihah, Aisyah yang cerdik dan energik, Abu Bakar Ash-Shiddiq yang bijak, Umar bin Khattab yang nampak keras dan tegas namun berhati lembut, dan lain sebagainya.

Tepat memasuki waktu Ashar, kajian pun berakhir. Aku, mbak Citra, dan Dek Yana bergegas ke tempat wudlu akhwat. Tak disangka kami bertemu teman-teman kami yang lainnya di sana.

“Eh ada kalian!”

“Ya Allah, kalo tau gitu kan bisa bareng.”

“Kami berempat.”

Ada Mbak Hasna dan Mbak Adha, dan menyusul kemudian Mbak Faza dan Dek Nisa. Wkwk, hampir semuanya teman sehalaqah, maa syaa Allah. Akhirnya kami pun pulang bareng, hehe.

Sesampainya di tempat Mbak Adha, aku, Mbak Citra, dan Dek Yana pun memutuskan untuk tidak mampir. Huhu, maafkan yaa.

“Pada mau ke mana? Kan ini mau dibeliin gorengan nih,” kata Mbak Adha sewaktu kami pamit.

“Afwan ya, Mbak ...”

“Ya udah nggak apa, sukses terus ya entah nanti kita ketemu lagi apa nggak, tapi semoga ketemu di syurga ya.”

Aamiin Yaa Rabb... Btw Mbak Adha-nya mau pindah, kan jadi sedih kaaan. :((

“Iyaaa, seenggaknya ini jadi bukti bahwa kita pernah ta’lim bareng gitu, kan?”

Maa syaa Allah. :( Jadi inikah ukhuwah? Belum dirajut, tapi sudah Allah rajutkan hanya karena bertemu di kajian yang sama, padahal sama Mbak Adha-nya tadi baru kenalan. :)) Ukhuwah till jannah, siapa pun yang mengenal dan aku kenal yaa. Aamiin. :))

Lalu, maukah kamu sesyurga dengan Rasulullah?
Dengan sahabat-sahabatnya?

Dengan orang-orang yang kamu cintai?
Dengan orang-orang yang juga senantiasa mencintai Allah?
Eits, perhatikan dulu siapa yang kamu cintai. ;)

“Tempatkan cinta-cinta terbaik di hati kita, karena itu akan membawa kita pada tempat terbaik di syurga-Nya yang dipenuhi oleh menara-menara dari cahaya.” 
--Salim A. Fillah