Sejak hijrah dari Yogyakarta
Istimewa menuju Surakarta, aku berpikir bahwa setidaknya aku harus update juga
informasi sekitar tempat tinggal baruku ini. Yang pertama kali kucari adalah
info kajiannya, hehe, meskipun sebenarnya aku juga menyadari keterbatasan waktu
dan mobilisasi untuk pergi ke sana kemari. Nggak masalah, kalo nggak bisa yaudah
nggak apa-apa juga, kan? Yang penting tahu infonya dulu.
Menurutku, datang ke kajian,
seminar, atau majelis ilmu apa pun itu bisa memunculkan semacam energi baru
berupa semangat untuk terus belajar dan terus istiqamah, apalagi kalau sedang futur-futurnya.
Kemudian pagi di Jumat barakah itu, ketika aku sedang piket di teras masjid,
Mbak Citra mengingatkanku soal seminar yang dia katakan tempo hari.
“Persalinan Maryam ya? Yaaah,
bayar itu mah, hehe.”
“Iya 80 ribu, kalo OTS 100
ribu,” katanya.
Wajar, dan memang sepertinya
suatu saat butuh juga untuk ikut itu, tapi berhubung kondisi finansial sedang
tidak memprioritaskan untuk itu, jadilah kukatakan, “Yang gratis aja yuk, Ukh.
Ada Ustadz Salim A Fillah tuh di UNS.
“Boleh-boleh, jam berapa?”
“Ih, Mbak, antum mau ke mana?”
tanya seseorang yang, maafkan, awalnya aku lupa namanya siapa karena belum
begitu hafal—padahal sehalaqah. “Ana ikut dong, Mbak.”
Kami pun pergi bertiga ba’da
dhuhur kemarin itu. Kami sama-sama nggak tahu UNS itu di mana, selain kata Dek
Yana—yay akhirnya tahu namanya lagi :p—ke arah kiri dari tempat tinggal kami.
Kami naik Batik Solo Trans dan setelah setengah jam terasa saaangat panjang,
kami pun diturunkan di depan gerbang utama kampus UNS. Sampai jugaaa, alhamdulillah,
padahal dalam hati aku sempat harap-harap cemas kalau-kalau kami kelewatan,
atau sopirnya lupa nurunin kami, hehehe.
Mbak Citra pun bertanya tentang
Masjid Nurul Huda pada seseorang yang kami temui di halte, kami disarankan
untuk naik bus kampus menuju ke sana.
“Jauh nggak, Pak, dari sini?”
Kami bertanya lagi pada satpam kampus untuk memastikan.
“Sekitar 4 kilo, Mbak.” Maa
syaa Allah. Kami putuskan untuk pelan-pelan berjalan sambil menunggu bus
kampus UNS lewat.
Alhamdulillah, setelah
menunggu sekitar 10 menitan, kami pun sudah berada di dalam bus yang membawa
kami menuju Masjid Nurul Huda UNS. Sampai di sana, kajiannya sudah dimulai dan
Ustadz Salim sedang menceritakan kisah Julaibib. Menurutku itu salah satu kisah
yang amat berkesan yang juga terdapat dalam buku beliau, Jalan Cinta Para
Pejuang (silakan baca bukunya dulu ya :p).
Yang aku suka dari setiap
tulisan juga penuturan Ustadz Salim adalah selain bahasanya yang sastra dan
terkesan lembut banget, juga materi shirah-nya yang nggak pernah absen berhubung aku ini nol banget soal
shirah.
Dan tema kajian kali ini adalah
tentang Merajut Ukhuwah Sampai ke Jannah. Dan sebenarnya, aku tipikal
yang sulit mencatat ketika mendengar seseorang berbicara. Mencatat membuat
pikiranku terbagi dan pada akhirnya malah tidak fokus pada kalimat yang
diucapkan selanjutnya. Jadi biasanya, dalam majelis ilmu apa pun, aku akan
lebih banyak mendengarkan dan hanya mencatat kalimat-kalimat yang pendek dan
penting. Jadi, dari hasil catatanku yang sedikit, dan ingatanku yang tak
seberapa, aku akan berbagi ilmu yang kudapat kemarin itu. :))
Nah, ukhuwah itu dapat terjalin
ketika seorang muslim merasa aman dari gangguan lisan dan tangan muslim lainnya.
Jauhkan diri kita dari ghibah dan membuka aib mengenai perilaku saudara kita.
Persaudaraan harus terus dijalin, bahkan kita pun diperbolehkan untuk berbohong
dengan tujuan mendamaikan dua pihak yang berselisih.
Lalu, iman itu harus selalu diterjemahkan dalam bentuk akhlak
yang baik. Inilah yang diperlukan dalam merajut ukhuwah. Akhlak yang
baik, adalah kita memilih diam saat tidak mampu mengatakan yang baik. Adalah
membuat nyaman orang-orang di sekitar kita. Kelak saudara kita akan merasa aman
dan juga nyaman di samping kita. Termasuk juga adab dalam bertetangga, maka
jauhkan diri kita dari keengganan untuk berbagi sementara harum masakan kita
telah sampai ke rumah-rumah mereka. Karenanya, dalam sebuat hadits Rasulullah
menganjurkan untuk ‘memperbanyak kuahnya’ demgan tujuan supaya kita bisa
berbagi pada tetangga.
Bukti ukhuwah
paling tinggi adalah manfaat. Layaknya pohon yang bagus,
selain akarnya menghujam ke bumi dan batangnya menjulang ke langit, maka
diharapkan pula ia dapat berbuah. Buah inilah yang kemudian dapat dirasakan
oleh manusia, sebagaimana manfaat dari ukhuwah yang telah ditanam tersebut.
Adapun akar yang menghujam tadi
adalah sebagaimana kita dalam beriman. Iman yang membuat kokoh, yang radikal.
Eits, jangan salah mengartikan kata radikal
di sini ya. Karena radikal dalam berislam itu harus, yang tidak boleh adalah es
krim, eh ekstrim. Nah, jadi mulailah membedakan keduanya. Karena radikal
maksudnya jelas adalah keimanan yang kokoh dan berakar, di sisi lain juga
fundamental, dan itu sekali lagi itu bukan es krim, hehe.
Lalu bagaimana agar ukhuwah
kita sampai ke jannah?
Rasulullah pernah ditanya oleh
seorang sahabat kapankah kiamat itu tiba. Rasulullah bertanya memangnya apa
yang sudah ia siapkan untuk mengahadapinya, maka seseorang tersebut menjawab, “Tidak
ada Yaa Rasulullah, kecuali aku mencintai Allah kemudian Rasul-Nya.” Maka Rasulullah menjawab, “Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.”
Maa syaa Allah,
hadits tersebut menurutku sangat menggetarkan. Memangnya siapa yang tidak
berharap dapat sesyurga dengan Rasulullah? Maka kata Ustadz Salim, perhatikan siapa yang kamu cintai, karena kamu akan
dihimpun bersama dengan orang-orang yang kamu cintai. Cintailah
sesuatu karena Allah semata, dan jangan mencari cinta-cinta selainnya.
Yang lain tertawa, dan aku
termasuk yang takjub Ustadz Salim menyebutkan nama salah satu aktor Korea yang
hits itu. Maa syaa Allah, memang dalam dakwah pun kita nggak boleh
kudet, terutama jika mad’u-nya anak muda-muda gini ya. :D Yah, poinnya
adalah jangan sampai salah mengambil idola. Cintailah sesuatu yang mendekatkan
kita pada kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya. Karena secinta pun kita pada
sesuatu atau seseorang, jika tidak berlandaskan kecintaan pada Allah, maka itu
akan menjadi musuh kita di hari akhir kelak.
Mulailah mencari sosok-sosok
menginspirasi dari kalangan sahabat; Khadijah yang kaya dan shalihah, Aisyah
yang cerdik dan energik, Abu Bakar Ash-Shiddiq yang bijak, Umar bin Khattab
yang nampak keras dan tegas namun berhati lembut, dan lain sebagainya.
Tepat memasuki waktu Ashar,
kajian pun berakhir. Aku, mbak Citra, dan Dek Yana bergegas ke tempat wudlu
akhwat. Tak disangka kami bertemu teman-teman kami yang lainnya di sana.
“Eh ada kalian!”
“Ya Allah, kalo tau gitu kan
bisa bareng.”
“Kami berempat.”
Ada Mbak Hasna dan Mbak Adha, dan
menyusul kemudian Mbak Faza dan Dek Nisa. Wkwk, hampir semuanya teman
sehalaqah, maa syaa Allah. Akhirnya kami pun pulang bareng, hehe.
Sesampainya di tempat Mbak
Adha, aku, Mbak Citra, dan Dek Yana pun memutuskan untuk tidak mampir. Huhu,
maafkan yaa.
“Pada mau ke mana? Kan ini mau
dibeliin gorengan nih,” kata Mbak Adha sewaktu kami pamit.
“Afwan ya, Mbak ...”
“Ya udah nggak apa, sukses
terus ya entah nanti kita ketemu lagi apa nggak, tapi semoga ketemu di syurga
ya.”
Aamiin Yaa Rabb... Btw
Mbak Adha-nya mau pindah, kan jadi sedih kaaan. :((
“Iyaaa, seenggaknya ini jadi
bukti bahwa kita pernah ta’lim bareng gitu, kan?”
Maa syaa Allah. :(
Jadi inikah ukhuwah? Belum dirajut, tapi sudah Allah rajutkan hanya karena
bertemu di kajian yang sama, padahal sama Mbak Adha-nya tadi baru kenalan. :)) Ukhuwah till jannah, siapa pun yang mengenal dan aku kenal yaa. Aamiin. :))
Lalu, maukah kamu sesyurga dengan Rasulullah?
Dengan sahabat-sahabatnya?
Dengan orang-orang yang kamu cintai?
Dengan orang-orang yang juga senantiasa mencintai Allah?
Eits, perhatikan dulu siapa yang kamu cintai. ;)
Dengan sahabat-sahabatnya?
Dengan orang-orang yang kamu cintai?
Dengan orang-orang yang juga senantiasa mencintai Allah?
Eits, perhatikan dulu siapa yang kamu cintai. ;)
“Tempatkan cinta-cinta terbaik di hati kita, karena itu
akan membawa kita pada tempat terbaik di syurga-Nya yang dipenuhi oleh
menara-menara dari cahaya.”
--Salim A. Fillah
--Salim A. Fillah