Pages

Kamis, 25 Agustus 2016

Penjagaan dari Allah

Suatu ketika, seorang teman datang kepadaku dan bercerita banyak hal tentang kehidupannya; hal-hal mendalam yang tidak pernah diceritakannya kepada siapa pun. Rahasia-rahasia yang dahulu berusaha disimpannya rapat-rapat sebelum mengatakannya padaku waktu itu.


Ada orang-orang yang memang biasa saling berbagi rahasia. Ketika itu terjadi, maka itu menunjukkan kedekatan keduanya. Dan memang sedekat itulah kami. Jadi ketika dia datang dan mulai bercerita banyak hari itu, aku diam mendengarkan. Sampai ceritanya selesai, sampai ia tidak punya apa-apa lagi untuk dikatakan lagi selain bertanya, “Jadi menurutmu, aku harus bagaimana?”

Persoalannya sederhana, tapi cukup pelik juga untuk satu hal yang melibatkan perasaan. Aku membayangkan aku akan sama bingungnya jika berada di posisinya. Ada satu masalah yang harus diselesaikannya, dan itu lama sekali sejak masalah itu terjadi—yang seharusnya ia bisa mengambil keputusan secepat mungkin setelah peristiwa itu terjadi.  

Aku berpikir lama untuk satu pertanyaan itu. Jadi ketika aku mengatakan hmm dan tak kunjung bersuara lagi, dia menyela, “Melihatmu berpikir keras seperti itu, aku jadi menyesal... seharusnya aku meralatnya sesegera mungkin setelah hari itu.”“Ya, kamu memang seharusnya langsung mengatakannya hari itu. Atau meralatnya setelah kamu sadar mengatakan itu,” kataku. Aku tidak bermaksud menyalahkannya ataupun tidak menaruh empati pada sesalnya, hanya saja kita butuh keterbukaan untuk menemukan penyelesaian.

“Benar kan,” desahnya. “Aku memang seharusnya melakukan itu.”

“Aku tidak memiliki solusi lain selain ...”

“Apa?”

“... kamu harus menjelaskannya kepada orang itu bahwa persetujuanmu ketika itu barangkali tidak bisa dianggap serius. Kamu hanya terlalu mempertimbangkan banyak hal ketika ingin mengatakan tidak.”

“Ev, itu nggak mungkin! Kamu yang bener aja dong,” sungutnya

“Yah, mau bagaimana lagi kan? Itu sudah memakan waktu yang sangat lama. Kamu harus melakukannya jika tidak ingin membuatnya menjadi lebih lama lagi.”

“Iya, aku tahu. Tapi kan ...” Ia mendesah, sedikit frustrasi.

“Aku paham itu sangat berisiko, tapi itu satu-satunya solusi yang bisa kutawarkan.”

“Maksudku adalah,” katanya, setelah mengambil napas beberapa kali, “jangan-jangan, cuma aku yang menganggapnya seperti itu? Barangkali semuanya sudah selesai, menurut dia.”

“Tapi ceritamu nggak mengatakan seperti itu,” tukasku.

“Iya, sih, tapi kadang-kadang aku berpikir itu cuma perasaanku saja,” ungkapnya. “Aku yang baper, tahu maksudku kan?”

Aku mendesah. “Bisa jadi.”

“Kamu benar-benar tidak ada solusi lain selain itu? Aku tidak mungkin melakukan itu, Vi. Dan aku juga tidak mungkin melibatkan orang lain sebagai perantara di sini,” ujarnya. “Paling tidak, seharusnya ada solusi yang bisa membuatku tetap terjaga.”

Terjaga.

Ah ya, benar juga. Bagaimanapun, kehormatan seorang perempuan dipertaruhkan di sini. Ketika dia harus menjelaskan semuanya karena menurutnya ada hal yang belum selesai sementara di sisi lain lawannya ternyata berpikir urusan mereka telah selesai dan mengatakan bahwa ketidakselesaian itu hanya perasaan temanku saja, maka tentu ia akan merasa malu—meski bisa dikatakan ia memiliki 80% untuk keyakinan bahwa semua itu belum selesai.

Tapi tetap saja kan, itu berisiko. Dan lawannya bisa saja mengelak, sekalipun temanku benar soal keyakinannya itu. Jadi, memang harusnya ada solusi yang mampu menjaga.

“Kalau begitu, kayaknya kamu harus langsung tanya sama Allah deh,” ujarku. “Aku angkat tangan.”

Dan kami tidak menemukan apa-apa hari itu, selain pernyataan ‘harus langsung tanya sama Allah’ dariku yang kemudian diiyakannya.
* * *

Lama sekali berlalu sejak ia datang kepadaku hari itu. Aku tidak tahu apakah dia sudah mendapatkan jawabannya atau apa mengingat kesibukan kami masing-masing, sampai suatu malam dia menelepon dan membicarakan soal itu lagi. Seperti biasa, aku menanyainya kabar, dan begitu pun sebaliknya, sesederhana ketika aku dan dia bertemu di lobi atau di mana pun yang memaksa kami hanya bertukar hai karena terburu-buru.

“Ev, bayangkan suatu ketika kamu terbangun pagi-pagi ...”

“Itu tidak perlu dibayangkan, aku melakukannya setiap hari,” candaku.

“Ini serius, Evi! Coba dibayangkan saja,” dengusnya. Aku tertawa, dan mengiyakan, karena lagi-lagi ini karena soal itu.

Dia mengambil napas, dan memulai, “Bayangkan, suatu ketika kamu terbangun pagi-pagi ...”

“Ya,” responsku, dan aku benar membayangkannya.

“... dan kamu benar-benar terbangun pagi-pagi itu, Jadi ini bukan aktivitas harian yang biasa dilakukan semua orang, tapi lebih seperti ketika ada sesuatu yang menyentakmu tiba-tiba, atau membuatmu terjaga.”

Aku membayangkannya.

“Dalam kondisi setengah sadar, kamu beranjak ke pintu, hendak mengambil air wudhu. Kamu berjalan dan kakimu menggesek sesuatu. Kamu mengucek mata beberapa kali untu mengetahui bahwa itu adalah sebuah amplop. Berwarna pink lembut, dan sangat cantik.”

“Waaah. Ada logo Hogwarts-nya nggak?” Aku menyebutkan salah satu nama sekolah sihir di seri Harry Potter.

Dia tergelak, kemudian menanggapi leluconku, “Hogwarts nggak mungkin menerima murid seperti kamu. Lagi pula, amplopnya nggak mungkin berwarna pink kan?”

Mau tak mau aku tertawa juga. “Oke, lanjutkan,” kataku. “Kalau aku nggak merespons, berarti aku sedang membayangkannya, oke?”

Dia melanjutkan, “Kamu mengambil amplop itu, mengeluarkan isinya, dan taraaa... Itu adalah undangan sebuah pertunjukan!”

Yang benar saja, aku jarang menonton pertunjukan. Tapi aku membayangkannya.

“Undangan itu terlihat misterius. Kamu kaget, sekaligus penasaran. Jadi seketika itu juga, kamu memutuskan untuk datang, meski kamu tidak tahu siapa saja di bumi ini yang mendapat undangan demikian dan kamu bakal terancam terasing di tengah orang-orang yang tidak kamu kenal. Tapi kamu memang menyukai itu, berada di tengah-tengah orang asing yang tidak kamu kenal. Kamu menyukai gagasan itu karena kamu tidak perlu repot memikirkan apa yang orang lain ketahui darimu, apa yang orang lain pikirkan tentangmu.

“Tapi ternyata kamu salah ...”

Hm?

“Tidak ada orang asing di situ. Dan tidak ada siapa pun, kecuali kamu.” Dia berhenti sejenak, mengatur napas. Dan sekarang aku membayangkan itu seperti sesuatu yang menakutkan, mencekam—yang ternyata salah.

“Kamu adalah tamu spesial,” katanya. “Seolah tahu tempatmu di mana, kamu melangkah masuk ke ruangan di alam gedung itu dan menaiki undakan, duduk di kursi paling tinggi agar sejajar dengan layar besar yang berkedip-kedip mengucapkan selamat datang. Saat itu kamu berpikir itu bukanlah undangan pertunjuka, tapi undangan menonton film di bioskop. Dan lagi-lagi kamu salah, karena di tempat yang terpisah dengan ruangan itu, semua pemeran telah bersiap-siap naik ke atas pentas. Kamu hanya diperbolehkan menonton lewat layar itu, karena suatu hal yang nanti akan kamu ketahui sendiri.”

Aku mengatur bantal dan merebahkan tubuh di kasur, masih mendengarkan. Dan membayangkan.

“Itu pertunjukan yang seharusnya menguras air mata, tapi kamu tidak menangis. Kamu hanya mengeluarkan air mata, yang tidak sampai semenit—jadi yah, aku tidak ingin menyebut itu sebagai menangis. Dan ketika pertunjukannya usai, kamu terdiam cukup lama untuk kemudian tersenyum tipis dan bersyukur dalam-dalam.”

Aku tidak tahan untuk tidak bertanya. “Kenapa aku melakukan itu? Maksudku, yah, ini aku yang sedang tidak membayangkan yang bicara, kamu bahkan tidak menceritakan detail pertunjukannya.”

“Kamu bersyukur karena kamu tidak terlibat dalam pertunjukan itu; karena kamu bukan pemeran. Sutradaranya, penulis skenarionya, dan yang mengatur semuanya ingin agar kamu tetap terjaga.”

Tunggu, aku ingat satu kata kunci itu. Terjaga.

“Persoalan dari kehadiran orang lain yang mengambil peran, itu adalah sebuah konsekuensi dari bagaimana orang itu memilih jalan hidup. Kamu sudah memilih jalan hidupmu sendiri; memilih untuk melibatkan-Nya dalam segala hal. Seperti bertanya tentang cara untuk menyelesaikan persoalan itu, memohon agar Dia memberikan keberanian dan kekuatan jika kamu memang harus melakukannya, serta tetap menjagamu dalam keadaan apa pun.”

Aku terdiam, memaknai kalimat itu perlahan dan dalam-dalam. Aku hampir menangis, dan sudah meneteskan air mata ketika mengatakan, “Sutradaranya, penulis skenarionya, yang menyiapkan pertunjukan itu, Dia mencintaimu.”

“Ya,” katanya. “Padahal aku baru belajar mencintai-Nya, tapi aku sudah mampu merasakan kasih sayang-Nya sebesar itu. Allah benar-benar menjagaku. Dan mungkin ketidakberanianku mengatakan itu adalah cara Allah mencegahku, dan untuk itu Dia memintaku menunggu.”

Aku mengusap pipiku, lalu berujar, “Selamat ya. Sekarang kamu bisa memiliki harapan yang banyak.”

“Ev,” panggilnya. “Kalau suatu saat kamu menghadapi persoalan yang sama dan satu-satunya cara yang bisa kamu lakukan untuk menyelesaikannya adalah dengan konsekuensi kamu tidak terjaga, serahkan saja semuanya pada Allah. Pasti ada cara lain untuk itu, dan kamu tidak perlu turun tangan untuk jadi pemeran. Allah sudah mengatur skenario-Nya. Dan, terima kasih sudah mendengarkan.”

Dan, terima kasih sudah berbagi.
* * *

Hai, terima kasih sudah membaca. Dan berkunjung ke blog ini. :)) Yah, aku tidak menyangka tulisannya akan sepanjang ini, tapi kemudian semuanya mengalir begitu saja, hehe. Uhm—tulisan ini sebenarnya kisah nyata, tapi tentu saja... analogi soal ‘pertunjukan’ itu adalah murni karanganku saja, hehe. Bukan apa-apa, aku cuma ingin menunjukkan sesuatu yang menurutku penting untuk dipahami tapi kulakukan dengan cara yang kubisa. Maksudku, aku nggak mumpuni untuk memaparkannya dalam bentuk artikel atau apa pun yang bentuknya bukan seperti fiksi—dan barangkali aku akan menulis ini dalam bentuk fiksi yang utuh suatu saat nanti. Jadi, begitulah akhirnya. Lagi pula, ini juga semacam pengingat untuk diriku sendiri. :))

Rabu, 24 Agustus 2016

Umur Panjang atau Umur Barakah?


Dari kejauhan, aku dan temanku melihat laki-laki tua itu tengah duduk di beranda. Seperti biasa, barangkali ia tengah sibuk menghabiskan waktu luangnya dengan mengisi buku kumpulan teka-teki silang. Kami pun berjalan mendekatinya.



Mendengar langkah kami berhenti tepat di hadapannya, laki-laki tua itu mendongak. Mengerjapkan mata dari balik kacamatanya beberapa kali, seperti berusaha mengingat. Aku tersenyum dan menjatuhkan tubuhku di kursi di sampingnya sementara temanku kemudian beralih ke seorang lelaki tua lainnya yang ada di sana.



“Sedang apa, Mbah?” aku bertanya. Retoris.



“Ah ini, lagi ngisi waktu luang, Mbak.  Daripada bengong-bengong tidak jelas,” ungkapnya. “Anda dari mana?”



Aku pun menyebutkan nama almamater kami yang kemudian disambung oleh cerita beliau pada rentang masa sebelum kampus kami berdiri. Setelah ceritanya hampir usai, aku dengan sopan menyela, “Ya, Mbah pernah menceritakan itu pada saya.”



“Oh ya?” laki-laki itu seperti tidak percaya.



“Ya, kita pernah bertemu tiga kali sebelum ini,” aku meyakinkan. Dan Anda memberi saya tips belajar Bahasa Jerman.



“Wah iya, saya lupa,” katanya, sambil tertawa. “Begitulah, Mbak, rasanya sulit sekali ya mengingat hal-hal yang baru. Seolah-olah otak saya ini penuh. Kalau memori komputer penuh, Anda bisa menghapus data-data lama dan memasukkan data-data baru. Tapi otak manusia tidak bisa seperti itu. Saya bisa mengingat semua yang pernah saya alami dengan jelas, tapi tidak dengan hal-hal yang baru. Aneh ya?”



Aku tersenyum tipis dan mengangguk.



Laki-laki tua itu melanjutkan, “Karenanya begitu Anda tadi datang, saya mengenali wajah Anda, tapi lupa nama Anda. Saya tidak berusaha mengingat ketika Anda menyebutkan nama karena saya tahu, saya akan lupa.”



“Oh iya, tidak apa-apa. Saya bisa mengerti,” kataku.



Kami kemudian berbicara banyak hal. Dan seperti pembicaraan dengan siapa pun yang ada di sana, aku selalu mendapat banyak pelajaran baru. Pelajaran-pelajaran kehidupan seperti mendisiplinkan diri yang bagaimanapun akan terasa lebih sulit dari mendisiplinkan orang lain, bersabar, solidaritas, dan banyak hal lainnya termasuk, uhm, me-review ulang pelajaran Sejarah Indonesia yang menurutku penting sekali untuk diingat.



Sampai kemudian beliau berkata, “Mengapa Tuhan membiarkan saya hidup sepanjang ini ya, Mbak?”



Aku terkejut, kemudian menatapnya serius.



“Anak-anak saya sudah selesai sekolah, sudah bekerja, dan mapan. Tugas saya sebagai orangtua untuk mengasuh, mendidik, dan membiayai sekolahnya sudah saya penuhi. Kemudian istri saya juga sudah lebih dahulu menghadap Tuhan. Sejak tahun 1993. Itu artinya sekarang sudah berapa tahun?”



Aku terdiam sejenak, menghitung. “Uhm, 23 tahun.”



“Nah, selama itu. Ingin rasanya saya segera menyusul istri saya, tapi sepertinya Tuhan belum mengizinkan. Saya ingin bermanfaat untuk orang lain, tapi sepertiya tidak sepenuhnya bisa dengan kondisi seperti ini. Waktu yang saya miliki rasanya sia-sia. Jadi, untuk apa sebenarnya Tuhan membiarkan saya hidup selama ini?”



Aku tercekat, benar-benar tidak menyangka akan mendengar pernyataan demikian. Aku ingin mengatakan bahwa di dalam agama yang kuyakini, dijelaskan bahwa tidaklah Allah menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadanya. Tapi kemudian kukatakan dengan versi yang bisa diterimanya, “Mbah bisa lebih banyak beribadah.”



“Itu sudah pasti,” katanya. Lalu kemudian ia bertanya lagi, “Kenapa ya?”



Lidahku kelu. Dengan pengetahuanku yang masih minim, aku tidak mengantisipasi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Dan aku bingung, maksudku, bagaimana caranya menjelaskan sesuatu dari perspektif yang kuyakini sebagai pandangan hidup itu dengan bahasa yang paling mudah dan bisa diterima? Dan ketika aku mencoba untuk menjawab, apakah itu bisa dibenarkan oleh sesuatu yang kuyakini itu?



Aku tidak tahu jawabannya, untuk pertanyaan-pertanyaanku sendiri itu. Jadi aku berpikir dan kemudian melihat realitas untuk memberikan jawaban kepadanya—yang kudapatkan selama Allah mengajariku banyak hal dari setiap peristiwa dalam kehidupan ini.



“Segala sesuatu di dunia ini terjadi karena sebuah alasan. Tuhan pasti punya alasan tentang itu, yang tidak bisa kita ketahui. Barangkali, dengan usia Mbah yang ...”



“81 tahun ...”



“Ya, 81 tahun itu, Mbah bisa menjadi inspirasi bagi Mbah-mbah yang lainnya karena dengan usia itu Mbah masih terlihat sehat, masih mampu untuk beraktivitas sendiri. Mbah juga bisa membantu yang lainnya untuk itu. Dan Mbah bisa mengingat ilmu yang Mbah pelajari dulu. Tidak semua orang diberikan kemampuan untuk itu,” kataku.



“Hmm, begitu ya,” katanya, mengangguk paham.



“Dan lagi, saya bisa belajar Bahasa Jerman.”



Laki-laki itu itu tertawa. Benar-benar tertawa. “Itu tidak bisa dijadikan alasan, Mbak,” katanya.



Aku ikut tertawa. Dan satu hal lagi, beliau ini orang Geologi. Aku teringat dulu pernah mempelajarinya sedikit.



“Dulu berarti belajar Astronomi juga ya, Mbah?”



“Geo itu artinya apa?”



Eh? “Bumi,” jawabku.



“Ya belajarnya tentang bumi, Mbak. Batuan, tanah, dan lain-lain.”



“Oooh, kalau sekarang Astronomi juga dipelajari, dan masuk ilmu Olimpiade juga meskipun namanya bukan Geologi sih, hehe. Tapi Geosains, atau Kebumian. Dan memang ada juga bidang khusus untuk Astronomi,” jelasku.



Laki-laki tua itu menangguk-angguk. Dan ketika mengetahui jam menunjukkan pukul 12 tepat, beliau meminta izin untuk makan siang dan kami pun pamit.



Danke schön,” ucapku, sebelum berlalu, sambil tersenyum.



Bitte schön,” jawab beliau.



Lalu, Ibu pembimbing menanyai kami banyak hal, lalu ketika kami ceritakan apa yang kami alami, beliau berkata, “Nah, terkadang kita berdoa kepada Allah untuk diberikan umur yang panjang. Kita berdoa tanpa tahu alasannya untuk apa. Kalau seperti itu yang terjadi, bagaimana?”



Aku berpikir sejenak, iya juga ya. Aku teringat sesuatu yang kubaca di salah satu buku karangan Mohammad Fauzil Adhim, katanya ketika ketika mengucapkan selamat kepada seseorang yang baru menikah, jangan ucapkan ‘semoga diberikan keturunan yang banyak’ tapi katakanlah, “Semoga pernikahan kalian barakah dan Allah membarakahi kalian (silakan cek ke buku Kupinang Engkau dengan Hamdalah, hehe). Dan barangkali demikian pula yang terjadi dengan perkara doa mengenai umur yang panjang, jadi aku mengatakan, “Mungkin sebaiknya kita meminta umur yang barakah, Bu?”



Mungkin.



Aku mengatakan mungkin karena memang benar-benar tidak tahu jawabannya. Tapi sejauh yang kupahami, jika sesuatu itu barakah, sesedikit apa pun nilainya, ia tidak akan pernah sia-sia. Ia akan memberikan manfaat, bagi apa pun dan siapa pun.



Dan aku baru akan mencari jawaban dari semua petanyaan di atas. Lalu, untuk soal umur, jika memang benar ynag kupahami itu, barangkali kita harus mulai meminta umur yang barakah, bukan umur yang panjang. Wallahu ’alam bisshawab.


Kamis, 18 Agustus 2016

[Book Review] Nikmat Terdahsyat by Dehuji

Judul: Nikmat Terdahsyat
Penulis: Dehuji
Penerbit: Quanta – PT Elex Media Komputindo
Terbit: 2016
Tebal: 162 halaman
ISBN: 978-602-02-8923-6
                                                    
Buku Nikmat Terdahsyat merupakan buku berkarakter motivasi islami yang beberapa bagiannya berasal dari kehidupan pribadi penulis. Buku ini menyajikan serangkaian motivasi dan pengetahuan terkait Islam dari bagian yang paling mendasar, yakni kepercayaan kepada Allah. Berangkat dari bagian paling dasar itu, Dehuji kemudian berusaha menguraikan segala persoalan yang dekat dengan kehidupan kita, seperti pada bagian Notifikasi Ilahi dan Kecantikanmu Lebih dari Gambar 2 Dimensi misalnya.

Aku pribadi sangat menikmati membaca buku ini. Layout-nya oke dan terlihat manis dengan nuansa pink entah salem entah merah gelap entah—uhm, maaf aku tidak yakin dengan warnanya (?) XD. Ukuran font-nya juga pas dan bentuk fisik bukunya agak lentur sehingga memudahkanku untuk membolak-balik halamannya tanpa takut ada yang lepas (biasanya kan ada yang kaku gitu dan kita jadi takut kalo ngebolak-balik karena takut salah satu halamanya cepat lepas). Satu-satunya yang menurutku amat sangat biasa adalah kavernya. Yah, aku suka warna dasarnya tapi tidak suka gambarnya.

Membaca buku ini mungkin akan sedikit mengingatkanmu pada tulisan-tulisan Ahmad Rifa’i Rif’an, dari cara penyampaiannya. Bahasanya ringan dan mengalir. Di beberapa bagian dimuat kisah-kisah inspiratif, yang sayangnya hanya seperti ingin ‘ditunjukkan’ saja—ini lho buktinya. Maksudku adalah, dari kisah-kisah tersebut penulis seharusnya dapat menguraikan lebih dalam persoalan dan makna yang terkandung di dalamnya. Seperti pada bagian Menikah, Membuka Pintu Rezeki, yang dibiarkan menggantung begitu saja tanpa penjelasan lebih mendalam. Barangkali, akan lebih baik jika dijelaskan secara detil mengapa menikah itu membuka pintu rezeki, dalil-dalilnya, dan lain sebagainya. Dan puisi-puisinya, uhm—menurutku ini jadi poin minus. Kelihatan awkward (?), dan sangat personal, dan seharusnya jadi topik pembahasan saja.

Di sisi lain, aku menyukai ketika penulis mencoba kritis terhadap lelucon yang populer di tengah masyarakat, yang tanpa sadar kita ikut-ikutan tertawa karenanya. Astaghfirullah, iya juga ya. Nah, hal demikian ini dimuat pada bagian Jomblo Bermartabat.

Beberapa bagian di awal berusaha disajikan dengan logis; dengan taktik penulis yang seolah-olah berkomunikasi langsung dengan pembaca. Dan ada bagian yang membuat tergugu juga—ngena banget sih, mungkin banyak orang juga akan mengalami ini. Keinginan yang diinginkan semua orang mukmin: melihat wajah Rabb-nya.

Well, dari segi kualitas isi, buku ini cukup lumayan untuk ukuran karya pertama penulis. Inspiratif, ringan, mengena; 3 of 5 stars. Bagi yang menyukai buku dengan genre motivasi islami, barangkali buku selanjutnya dari penulis layak untuk ditunggu—setelah membaca buku ini tentunya. :D
 
Terima kasih, Kak Dehuji, atas bukunya ^^