Belajar memahami apa yang
terjadi hari ini adalah ikhtiar untuk memahami sejarah hari ini di masa depan.
Kita tidak tahu seperti apa
sejarah hari-hari ini akan ditulis di masa depan. Kelak, anak-anak kita akan
bertanya, “Apakah benar dahulu terjadi demikian? Apakah benar peristiwanya
demikian?” Aku sendiri banyak menanyakan itu pada ayahku, dan betapa beliau mampu
menjelaskannya sebagai seseorang yang pernah hidup di masa itu.
Memori masa kecilku merekam
sebuah peristiwa yang tidak kuketahui apa maknanya, tergambar dengan jelas
bayangan ketika ayahku menggelindingkan drum-drum minyak tanah jualan kami ke
belakang rumah setelah mengosongkan
minyaknya dari drum-drum itu, karena kalau-kalau minyak-minyak itu menjadi
suluh untuk membakar rumah kami yang begitu mudah dijangkau karena tepat berada
di pinggir jalan lintas kabupaten. Dan soal mengapa kami harus mengungsi tidur
di rumah kakek yang jauh dari jalan lintas tersebut. Kata beliau, “Oh, itu
zaman ninja. Waktu itu terjadi pembantaian pada para ulama. Mirip seperti yang
terjadi belakangan ini.” Kemudian suatu kala, saat aku bertanya perihal sekte-sekte
tertentu dalam agama yang dianggap sesat namun masih banyak pengikutnya, beliau
mengatakan, “Dulu waktu Evi masih kecil, Bapak bahkan pernah mengalami ‘ketegangan’
yang jauh lebih daripada ini.” Beliau lalu menceritakan pengalamannya, pun
demikian cerita dari Ibu.
Setelah dewasa, dalam usaha
untuk memahami banyak hal, barulah aku mengerti bahwa setiap apa pun dari
keduanya adalah pendidikan terbaik untuk anak-anaknya. Teringat ketika
menjelang keberangkatanku untuk menimba ilmu ke Jogja, beliau menyodorkan buku
yang aku lupa persisnya apa judulnya, tapi kalau tidak salah, “Bunga Rampai
Aliran Sesat di Indonesia”. Aku tak habis pikir, kekhawatiran beliau bahwa aku
akan ikut organisasi macam-macam terkesan berlebihan (waktu itu lagi
marak-maraknya soal Gafatar kalau tidak salah). Juga, bacaan seperti itu
terlalu berat untukku yang saat itu belum terbiasa membaca buku selain buku-buku
fiksi. Pada akhirnya buku itu justru tak pernah terbaca hingga hari ini.
Kemudian ketika semester dua,
aku mendapat tugas makalah yang luar biasa, kebetulan itu sekaligus tugas untuk
akhir semester. Karena sulit mengumpulkan referensi, aku memilih untuk
mengerjakannya di rumah. Kampus sudah libur, sementara deadline tugas
juga di antara waktu libur itu. Betapa kemudian aku merasakan manfaat dari ‘harta
berharga’ ayahku. Ketika aku bertanya referensi tentang suatu topik yang harus
kutulis dalam makalah, beliau dengan sigap beralih ke koleksi buku-bukunya
sembari mengatakan, “Oh itu, iya itu ada di buku ini.” Aku takjub, membuktikan
seorang pembaca sejati yang bisa langsung konek dengan buku yang pernah
dibacanya. Dengan segala keterbatasan teknologi, ketaktersediaan toko buku yang
benar-benar lengkap di kota kami, tak membatasi ruang beliau untuk belajar. Tak
hanya menyiapkan buku-buku sebagai aset generasi, juga pola pikir dan penanaman
keimanan yang lahir dari kedalaman pengetahuan. Melihat diriku hari ini adalah
tentang apa yang berusaha kedua orangtuaku wujudkan pada anak-anaknya.
Hal yang sama kutemukan dalam buku
Prophetic Parenting: Cara Nabi Saw. Mendidik Anak karya Dr. Muhammad Nur
Abdul Hafizh Suwaid dikatakan bahwa salah satu dukungan yang baik terhadap anak
adalah mendukung anak untuk melakukan kebaikan, misalnya mendorong mereka untuk
membeli buku-buku dan mewariskan kepadanya buku-buku yang kita miliki (hlm.
193). Maa syaa Allah, dan bukankah hari ini kita juga hidup dari
kitab-kitab warisan para ulama? Dari pemikiran-pemikiran mereka? Maka sama pentingnya untuk memahami pula apa
yang bisa kita pelajari dari ulama dan para intelektual hari ini.
Lantas, jika kita hari ini
hanya mengedepankan menjadi hits demi sebuah popularitas, sekadar mengikuti gaya
kekinian tanpa menggali ilmu yang ada di dalamnya, dan lupa bahwa setiap diri
kita... yang paling dasar, bertugas menyiapkan generasi selanjutnya, akan bagaimana
kita di hadapan anak-anak kelak? Bagaimana menjelaskan semua
peristiwa-peristiwa hari ini kelak jika kita tidak berusaha memahaminya sejak kita
adalah bagian di dalamnya?
Padahal, salah satu tujuan
pembentukan keluarga menurut Al-Qur’an adalah untuk melahirkan
keturunan-keturunan yang baik (QS. Ash-Shaffat: 100-101, QS. Al-Furqan: 74). Jangan
pernah menyerah oleh kegilaan-kegilaan yang terjadi hari ini, karena suatu saat
di masa depan, anak-anak kita akan tumbuh dan dibesarkan oleh teknologi dan
dunia yang lebih gila dari hari ini. Sudah selayaknya bagi kita hari ini untuk
terus belajar, mengkaji, memahami, agar kelak lahir generasi-generasi yang beriman,
tangguh, dan penuh budi pekerti; mencintai agama, nusa, dan bangsanya.
Anak-anakku, semoga kelak kalian
demikian. :’)
Dirgahayu Republik Indonesia
ke-73, aku merenung banyak di peringatan kemerdekaanmu hari ini. Aku
barangkali bukan warga negara yang bisa memberikan banyak hal dibanding dengan
apa yang telah engkau berikan kepadaku; tapi kelak, akan ada anak-anak bangsa
yang jauh lebih bisa memahamimu dibanding aku hari ini. :')