![]() | |
| taken from here |
“Ada banyak awan, tapi mengapa hujan
tidak juga datang?” ia menggumam dengan kepala menengadah ke langit.
Aku
lantas mengangkat kepala, menatap pekat dengan ikon bulan separuh kuning telur
di atas sana sambil berujar asal-asalan, yang sebenarnya lebih terdengar
seperti pertanyaan, “Mungkin awan perlu menabung lebih banyak lagi?”
*
* *
Kepada hujan,
Dialog
kecil semalam tadi, apakah kau mendengarnya? Aku seolah bisa membaca isyarat
darimu bahwa kau mendengarnya. Bukankah konyol jika aku mengatakan kau perlu
‘menabung’ lebih banyak awan lagi sebelum turun sebagai hujan? Ah ya, terkadang
sulit mengendalikan pikiran-pikiran liar yang tiba-tiba saja muncul di benakku
lalu tanpa kusadari terucap oleh mulutku sendiri. Aku maupun teman dialogku tak
pernah bisa menebak kapan kau akan datang. Namun di luar dugaanku, kau datang
begitu cepat dan aku bahkan tak sempat menyambut kedatanganmu.
Di detik
kuterjaga di penghujung malam tadi, aku mendadak merasa dingin menyergapku.
Saat itulah aku mendengar kau datang. Aku tidak tahu sudah berapa syair yang
kaunyanyikan sampai akhirnya aku terjaga. Lama aku menatap langit-langit kamar
sembari mendengar iramamu. Betapa menenangkannya, hujan. Aku seolah memilikimu
seutuhnya, hanya ada kita, Tuhan, dan malam di batas persimpangan. Aku tak
sepenuhnya sadar, tapi mengetahui kau datang sudah cukup membuatku bahagia.
Aku
benar-benar menikmati sela waktu yang diberikan Tuhan untuk kita. Membiarkanmu
bercerita lewat bahasa yang sama sekali tak kumengerti apa maknanya. Aku merasa
damai, itu saja. Hingga tanpa sadar--entah di detik ke berapa--aku kembali
lelap. Ritual yang ingin untuk kulaksanakan terabai begitu saja. Bukan, bukan
karena dirimu yang memelukku terlalu erat, tapi karena sesuatu yang tanpa sadar
tidak bisa kukendalikan.
Masih buta
malam ketika aku kembali terjaga. Aku bersyukur, tiga puluh menit setelah
panggilan itu. Sejenak aku merasa sedih, ke mana kau? Sudah pulang? Bukankah
ceritamu belum usai, hujan? Harusnya banyak yang bisa kaukisahkan, setelah lama
tidak datang. Meski aku sendiri tidak paham, rasanya bahagia saja bisa
mendengarmu. Seperti yang orang-orang sering katakan, bahagia bisa saja berasal
dari hal-hal sederhana. Dan salah satu hal sederhana yang membahagiakan itu
adalah adanya kau.
Mungkin kau
memang tak sempat berpamitan denganku, tapi aku tahu, kau bukan tipe yang
datang dan pergi sesuka hati. Ada jejak yang kaugoreskan pada sehampar bagian
bumi. Aku menciumnya, hujan. Ya, aroma yang kautitipkan itu. Rasanya sama wangi
dengan ketika aku mencium wangi kertas novel-novel kesayanganku, membuat candu.
Ah.
Kapan kau
datang lagi?
*
* *
“Ternyata
semalam dia datang, sama sekali tak terduga.”
“Ah
ya, benar. Apakah kau berpikir dia mendengar dialog kita?”
--mengenang hujan dini hari di tanggal 30 Oktober 2014
