![]() |
| I owe this picture here |
Jemari
itu tengah bertumpu. Pada sederet huruf yang telah dirapalnya ratusan kali,
ribuan kali, jutaan kali. Entah telah berapa kali ratusan kali, ribuan, atau
jutaan kali, tak ada yang sanggup menghitungnya. Ia sungguh tak punya waktu
untuk menghitung hal-hal semacam itu. Lagi pula untuk apa? Toh sia-sia saja.
Setiap kali menumpukan dirinya, seolah itulah pertama kali ia mengalaminya.
Kali
ini, sekelebat rasa yang tiba-tiba menyeruak ke sisinya membuat kemulai
tubuhnya kembali menari. Mencoba menafsirkan rasa abstrak yang dikirim sang
benak. Ia tahu betul ia bisa menuliskan apa yang diinginkan sang benak, meski
semua itu tak sepenuhnya dapat mewakili. Namun jemari bahagia, karena rasa itu
ada ia kini mampu bercerita. Tak boleh terlalu gamblang, itu yang benak minta.
Ungkapkanlah hanya satu kata, katanya lagi.
Jemari
pun mengangguki titah sang benak. Dalam sekejap, tumpuannya bergulir dalam
baris-baris alinea yang sengaja dibuat kacau makna. Siapa peduli yang membaca
mengerti atau tidak? Bukan tugasnya memberi penjelasan atas setiap kata.
Bukankah terka kepala membuat semuanya akan jadi berbeda?
Itulah
sejatinya yang dia inginkan. Setiap jiwa memainkan kartu terka yang sama sekali
tak berisiko terhadap kehilangan nyawa. Bersikukuh begitu karena ia sendiri
tahu, siapa pun pasti pernah merasa. Rasa yang akan membuat siapa pun ingin
berlari menghampiri benak lainnya, tak peduli sejauh apa. Ia—rasa itu—terlalu
menyesakkan ketika tak ada cukup mantra yang menjadi pusaka. Seperti larut
dalam aliran darah setiap sel dalam tubuh. Semuanya akan terasa begitu cepat,
tanpa aba-aba, lalu tahu-tahu menjadi kuasa.
Menyedihkan,
memang. Tetapi jemari itu mencoba mengarahkan sang benak untuk terbiasa,
seperti sebelum-sebelumnya ketika ‘serangan’ itu muncul tiba-tiba. Apa pun itu,
jemari tengah berusaha membantu supaya rasa itu turut reda, meskipun ia tahu di
satu sisi ia dan benak terkadang menikmatinya juga. Merasa bahagia atas parsel
yang dikirim Tuhan secara tak terduga dan berusaha memaknainya, itu saja.
Kisahnya
hampir usai. Jemari dipenuhi kebimbangan dalam pikirnya. Bagaimana mungkin ia
membiarkan pembaca hanya mengandalkan terka? Ah, mungkin tidak apa-apa jika ia
menuliskan satu kata saja seperti yang disarankan sang benak, meski ia sendiri
lebih suka melihat pembaca dengan gelengan kepala tanda tak paham makna.
Jemari
menghitung mundur, bersiap menuliskan kata pamungkas yang tak lekang dalam
rapalannya.
Rindu.
Kepada
siapa, mungkin ada yang bertanya? Ah, bukankah tak penting bagimu kepada siapa?
Sudah cukup, satu kata saja. Selebihnya sila diterka.
Jemari Evnaya Sofia di 26 Oktober 2014
