Pages

Rabu, 31 Mei 2017

Mengakrabi Kematian

Kematian itu dekat.
Dibanding denganmu, kematian lebih dekat denganku.
Dan dibanding denganku, kematian lebih dekat denganmu.

Entah mengapa, belakangan ini aku lebih sering berpikir tentang kematian. Setiap kali berada di tengah jalan raya yang penuh kendaraan, aku takut kalau-kalau kematianku tiba dengan cara yang tidak aku inginkan. Ya Allah, jangan ambil aku dalam keadaan seperti ini, di tempat ini.   

Kematian seperti sesuatu yang diam-diam berusaha mengakrabiku. Aku dihadapkan pada hal-hal yang secara tak sengaja membawaku pada keakraban dengannya. Diingatkan oleh orang-orang tentangnya. Melihat orang-orang yang dijemput dengan mudah olehnya.

“Mbaaak, kemaren itu simbahnya ada yang meninggal. Dalam satu hari itu ada 3 orang yang meninggal,” ungkap ibu pekerja sosial sekaligus pembimbing magang dan skripsiku di balai kepadaku suatu ketika, setelah jeda yang cukup lama aku tidak datang ke sana. 

Innalillaahi wa innailahi raaji’uun. Beruntun gitu ya, Bu?”

“Iya, Mbak, kalo satu ada yang meninggal yang lainnya kayak ngikut gitu lho.”

Lalu,

“Itu Mbah D kemarin meninggal, yang kamarnya di situ itu ...” Sembari menunjuk sebuah pintu, laki-laki tua itu melanjutkan, “Tau kan?”

Aku mengangguk, mengikuti arah telunjuknya. Tiba-tiba hatiku sedikit gerimis. Aku tidak mengenal dengan baik laki-laki yang dahulu menghuni kamar yang kini telah ditinggalkan pemiliknya itu. Tapi aku kerap melihatnya duduk di beranda, tersisihkan dari yang lain karena ketidakmampuannya untuk memahami dan merespons setiap kata yang berusaha diucapkan orang lain kepadanya. Aku hanya mencium jemari keriputnya yang tak pernah tersentuh oleh air setiap kali kulihat ia duduk. Tapi toh hal-hal yang demikian singkat itu ternyata juga membekas dalam diriku.  

“Setiap saya lama nggak ke sini, selalu ada yang meninggal ya,” kataku, lebih pada diri sendiri. Aku berpaling pada laki-laki tua itu, “Mbah nggak sedih? Nggak nangis?”

Laki-laki tua itu tersenyum. “Yang namanya di tempat seperti ini, kalo simbah-simbah ada yang meninggal itu ya wes biasa, Mbak. Bukan sesuatu yang bisa ditangisi.”

Ah iya. Bagi mereka kematian ialah sesuatu yang teramat dekat. Mereka terbiasa kehilangan satu dua teman dalam waktu sehari, atau bahkan ada kematian yang hanya selang beberapa menit saja jedanya. Kematian menjadi sesuatu yang biasa karena ia seolah ada di akhir fase kehidupan manusia. Padahal, seperti yang kita ketahui, tidak selalu demikian.

“Simbah-simbah di sini itu, ibarat tinggal menunggu waktu saja ...”

Kematian mengintai kita kapan saja, di mana saja, dan tak peduli jika kita menginginkan kehidupan yang panjang. Lantas, mengetahui itu, sudahkah kita mempersiapkan segalanya? Kita adalah orang-orang yang mengetahui dengan pasti bahwa kita tidak akan pernah bisa siap dengan kedatangannya. Dosa yang menggunung, kebaikan yang hanya setitik. Masih, kita enggan bergerak. Masih, kita enggan berjuang. Masih, kita enggan belajar.

Aku berpikir barangkali Allah memanjangkan usia-usia kita agar kita dapat lebih banyak lagi belajar, lebih banyak lagi memperbaiki diri, lebih banyak lagi berdakwah, dan yang paling hakiki, lebih banyak lagi beribadah kepada-Nya. Barangkali tidak banyak yang bisa kita lakukan dengan segala keterbatasan ini, karenanya segala sesuatu butuh diperjuangkan. Kita harus memperjuangkan diri kita menjadi baik, menjadi layak untuk didekati oleh kematian. Kita dilahirkan dalam keadaan fitrah, suci, maka dalam keadaan demikianlah seharusnya kita kembali.

Waktu adalah kesempatan yang tidak bisa dibeli. Manfaatkan selagi kita bisa. Jadikan kematian sesuatu yang akrab dengan diri kita, yang lekat dalam ingatan. Karena selamanya, dengan keburukan yang kian memuncak, dan kebaikan yang terus melandai, kita tak akan pernah benar-benar siap. Suatu ketika, ia akan datang. Dan kita pasti kembali.

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلا يَسْتَقْدِمُونَ
“Dan setiap umat memiliki ajal (batas waktu). Apabila ajal-nya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.” (QS. Al-A’raaf: 34)

Kematian adalah perpulangan
Dengan cara apa kita ingin pulang?
Dalam keadaan seperti apa kita akan pulang?


Yogyakarta, 5 Ramadhan 1438 H
dalam upaya mengingatkan diri sendiri.   

Selasa, 16 Mei 2017

Untukmu Kutulis Sajak Ini

dari sepasang bingkai kaca
kutemui kau dalam mata yang merupakan pagi
api telah bereinkarnasi
menjadi semangat yang kautanam dalam jeriji

jangan berhenti
dunia memang akan terik dengan sendirinya
dan keras, seperti batu yang disimpan orang-orang dalam kepalanya
kau sepercik dingin tertinggal dari pagi buta
yang kuteduhkan di katupkatup petang usia
hidup yang baik, Nak
sampai waktu hendak pamit dari tangan kita

@evnaya_sofia | Yogyakarta, 15 Mei 2017

Aku sedikit tidak percaya aku bisa menulis puisi. Yah, setidaknya begitulah aku menganggap tulisan di atas itu; sebagai puisi. Sejujurnya selama ini aku menganggap diriku tidak bisa menulis puisi. Karena setiap kali berusaha menulis puisi dan membacanya, aku justru tidak bisa merasakan kata-kataku sendiri. Ada satu yang tidak pernah bisa kumengerti dari puisi: magisnya. Dan siapa pun yang berusaha ‘membaca’ puisi, pasti akan mengerti apa yang kumaksud dengan ‘magis’ itu.

Puisi di atas itu kutulis dalam waktu kira-kira duapuluh menit, dalam kondisi yang sangat ‘penuh’. Entah, hukum the power of kepepet sepertinya sangat berlaku dalam hal ini. Berawal dari kunjunganku ke balai pelayanan sosial untuk lansia itu lagi, setelah disibukkan dengan penyusunan skripsi dan serangkaian persiapan menjelang ujian pendadaran. Seorang pekerja sosial sekaligus pembimbingku balai itu bercerita bahwa mereka baru saja selesai mengadakan berbagai macam lomba untuk memperingati Hari Lanjut Usia Nasional (HALUN) yang sebenarnya jatuh setiap akhir Mei, namun diperingati di balai pada pertengahan bulan. Pembimbingku menginginkan agar ada salah seorang simbah yang melakukan stand up comedy, atau melawak, dan semacamnya, namun beliau kesulitan untuk bahan materinya. Waktu itu aku berpikir, mengapa tidak membaca puisi saja? Beliau pun menyerahkan keputusan itu padaku, jika aku memang sempat untuk datang dan mendampingi simbah.

Qadarullaah, aku baru memiliki waktu luang justru H-1 acara HALUN di panti akan dilaksanakan. Di sela-sela aktivitasku kemarin, aku memang sudah berusaha mencarikan puisi yang sekiranya bisa dibaca oleh simbah-simbahku tersayang itu. Aku tidak menemukan puisi yang kuinginkan, selain kemungkinan bahwa mereka baiknya membawakan puisi-puisi perjuangan. Jadi kemudian kuputuskan untuk menuliskannya sendiri; dengan membayangkan diriku adalah mereka. Dengan mengingat semua pengalaman emosional bersama mereka; membayangkan cara mereka memandang, berkata-kata, bercanda, sampai memberikan nasihat kepadaku dan setiap anak muda yang bertugas di sana.

“Kamu besok jangan seperti itu. Hiduplah dengan baik, segala yang kita terima ya disyukuri. Di umurku yang hampir satu abad ini, sudah banyak yang aku rasakan.”

Puisi itu lalu kuberikan pada seorang simbah yang menurutku bisa membacakannya. Ia mengambil kacamatanya begitu menerima uluran kertas berisi teks puisi dariku, dan membacanya.

“Ini karyanya siapa?”

Aku senyum-senyum.

“Wah, besok jadi penyair ya.” Masih senyum.

“Kok nggak ada judulnya ini?”

“Ngg, aku bingung mau kasih judul apa. Hehehe,” kataku. “Mbah mau baca kan? Mau ya?”

“Nggak ah, malu.”

Yaaaah. Sedikit kecewa sebenarnya, hehe, tapi yaa setelah melalui serangkaian proses negosiasi, aku bisa mengerti. Lagi pula, tidak ada yang lebih menyenangkan selain daripada aku akhirnya bisa menulis sesuatu dari sudut pandang mereka; puisi tadi.

Aku tahu mungkin puisi itu akan menjadi puisi yang tidak pernah terbaca oleh mereka. Tetapi diberikan kesempatan mengenal mereka, ikut merasakan duka, cinta, dan pengalaman mereka rasanya sudah lebih dari cukup dan menjadi sesuatu yang harus selalu kusyukuri.

Dengannya, suatu saat, aku akan bisa menulis lebih banyak lagi.
***

Mbah, maaf aku akhirnya benar-benar tidak bisa hadir seharian tadi. Selamat Hari Lanjut Usia Nasional; semoga menjadi lansia yang sehat, semangat, mandiri, mampu berkarya, dan pastinya semakin taat pada-Nya, serta berguna bagi nusa dan bangsa. Terima kasih telah memberiku banyak hal; doa, pengalaman, motivasi, dan nasihat-nasihat. Semuanya akan menjadi bekal bagiku dalam menjalani kehidupan. Dan atas semuanya, terima kasih telah dan selalu berusaha keras mengingat namaku, yang aku tahu tidak pernah mudah. :)