Pages

Minggu, 31 Desember 2017

Anak-anak Cinta dan Ketakutan-ketakutannya


Sedari dulu yang kuingat tentang membaca adalah selalu perasaan menyenangkan. Belajar juga demikian, terutama jika itu berkaitan dengan sesuatu yang aku memiliki ketertarikan tersendiri untuk mengetahuinya (bukan berarti aku hobi belajar lho ya, hehe). Tetapi belakangan ini, aku seringkali ketakutan setiap kali menutup buku, pulang dari majelis ilmu, atau usai menonton atau mendengar rekaman kajian.

Itu hal-hal menyenangkan yang seharusnya tak membuat banyak orang ketakutan, bukan? Namun yang terjadi padaku justru sebaliknya.

Ketakutan itu muncul tiba-tiba, bahkan saat buku itu tengah terbuka di hadapanku. Saat itu aku begitu menikmati bacaanku, begitu takjub bahwa dari apa yang kubaca diri ini tidaklah ada apa-apanya. Semakin membaca semakin merasa bahwa banyak sekali hal penting di dunia ini yang belum kuketahui; masih banyak yang harus dipelajari. Mahasuci Allah yang ilmu-Nya melampaui langit dan bumi, yang jika lautan sebagai tintanya tidak akan pernah cukup untuk menuliskan kalimat-kalimat-Nya, bahkan jika ditambahkan dengan yang semisalnya pun (QS. Al-Kahfi: 109).

Kemudian, dalam jeda ketakjuban itu, tersuarakan begitu saja dari dalam hati, “Yaa Allaah, apakah ini akan berhenti sampai padaku saja? Sesungguhnya aku takut ilmuku bertambah, tapi hanya untuk diriku sendiri. Sesungguhnya aku takut kebaikanku bertambah, tapi itu tidak menyelamatkan apa pun dan siapa pun.” :((

Jadi sejak itu aku merasa bertanggung jawab terhadap semua yang kubaca, semua yang kupelajari, semua yang kutonton. Bahwa apa pun, jika itu bernilai kebaikan, maka sudah seharusnya aku membaginya juga untuk orang lain. Katakan benar jika benar, katakan salah jika salah. Mengajak, menasihati dalam kebaikan. Dan terhadap semua kebatilan yang terjadi, kita harus mengingkarinya.

Masalahnya adalah sepertinya syaithan tak tinggal diam. Ia selalu berusaha menerbitkan keraguan sehingga muncul pemikiran-pemikiran seperti:

Apakah kamu sanggup melakukannya?
“Bagaimana jika suatu ketika kamu melakukan kesalahan, lalu orang-orang justru mencelamu? Seperti, “Ah, dia mah jago ngomong doang. Buktinya tuh sekarang, ...” Dan sebagainya sampai dikeluarkan dalil, kaburo maqtan ‘indallaahi an taquuluu maa laa taf’aluun, sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan (QS. Ash-Shaff: 3). Nah lho~

Apakah harus kamu yang melakukannya?
“Udahlaaah, kan masih ada orang lain. Ada Ustadz itu tuh yang ahli banget kalo ngomongin tentang pergaulan remaja Islam dalam syariat. Ada Ustadz anu juga kan, waah beliau mah ilmu tafsir, fiqih, muamalah, semuanya jago. Trus ada Ustadzah itu juga, yang maa syaa Allah keilmuannya luar biasa. Ntar kalo kamu yang ngomong, salah-salah lagi. Kamu mah apa, butiran debu, keliatan juga nggak. Alih-alih ntar dibilang sok alim, riya’, dan sebagainya. Ya kan?”

Apakah harus sekarang?
“Sekarang banget nih? Yakin udah ada ilmunya? Coba deh direnungkan dulu, kali lain kali bisa lebih cetar penyampaiannya. Kan bisa lebih ngena juga ke orang-orang yang kita pengen mereka dengar apa yang kita sampaikan.”  

Well, ada yang pernah mengalami hal yang demikian? Hm, bagiku itu sesuatu yang dilematis, di satu sisi ingin bertanggung jawab dengan sedikit ilmu yang kudapat, di sisi lain aku merasa belum cukup mampu dan tidak pantas menyampaikannya karena ada yang lebih ahli. Juga masalah waktu. Ketika mengalami keraguan itu, aku berusaha berpikir lebih keras; ini aku yang memang belum mampu karena baru hanya sekadar bisa memahami untuk diri sendiri dan timing-nya yang belum pas atau syaithan yang seolah-olah membuatnya terasa demikian?

Memang terasa rumit, ketika kita tidak berpikir dengan jernih dan menyertakan Allah dalam segala prosesnya. Jadi mohonlah petunjuk dari Allah, mana yang sebenarnya yang tepat untuk kamu lakukan.

Lepas dari apa pun, ketika kamu merasa belum cukup mampu untuk menyampaikan suatu kebaikan atau ilmu yang kamu punya, maka tugas kamu adalah terus belajar. Jangan hanya karena merasa kamu bertanggung jawab terhadap semua hal yang ada pada dirimu, kamu lantas berhenti, takut jika tanggung jawab itu menjadi semakin besar.

Dan kalau belum-belum saja kamu sudah berpikiran macam-macam, takut di-bully, dikatain sok alim, maka sadarilah bahwa saat itu juga kamu tengah memprasangkakan sesuatu yang buruk dan belum tentu terjadi terhadap dirimu sendiri. Jangan berpikiran kalau kamu takut dicela jika suatu saat melakukan kesalahan, ingat kita bukanlah malaikat. Manusia tempatnya salah dan lupa. Tapi bukan berarti juga itu jadi alibi terus tanpa ada usaha memperbaiki diri, ya kan nggak gitu juga keleuss. Karena tugas kita setelah mencari ilmu, mengkaji Islam, adalah mewujudkankannya dalam setiap perilaku kita.

Ingatkah kita tentang perkataan Bunda Aisyah ra mengenai akhlak Rasulullah saw.? Akhlak Rasulullah seperti Al-Qur’an. Itu karena Al-Qur'an tak hanya ada dalam dada beliau saw, tapi juga termanifestasikan dalam segala bentuk perilaku beliau dalam kehidupan sehari-hari.

Lalu, ketika kamu merasa masih ada orang lain yang bisa menyampaikannya tanpa harus ikut serta, ketahuilah bahwa cuma jadi penonton aja sama sekali nggak keren. Sudah saatnya kamu ikut dalam perjuangan, sudah saatnya kamu ambil bagian. Ingat, syurga itu tidak bisa diraih dengan cara biasa-biasa saja. Ah yang penting udah shalat, udah menutup aurat, udah berbuat baik. Duh, padahal siapa yang bisa menjamin apa yang kita anggap ‘cukup’ dan ‘telah baik’ di mata kita itu telah cukup dan baik juga di mata Allah swt.? :(

Padahal Allah swt. berfirman:


كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ


Artinya: Kalian (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. ‘Ali Imran: 110)

Bahwa manusia disebut sebagai umat terbaik ketika ia: menyeru kepada kebaikan, mencegah kepada yang mungkar, dan syarat yang paling penting tentu harus beriman. Tanpa keimanan kepada Allah, maka akan gugurlah semua kebaikan itu. Dan tentu keimanan ini juga mengandung konsekuensi mematuhi perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya. :))

Dan yang namanya mengajak kebaikan, itu sungguh tidak mudah. Apalagi dalam mencegah kemungkaran, sampai-sampai dalam sebuah haditsnya Rasulullah saw. bersabda: “Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)

Nah kan, kalau tidak mampu dengan tangan atau kekuasaan, maka dengan lisan, kalau tidak mampu dengan lisan, maka dengan hati. Dan cukuplah pilihan terakhir menunjukkan betapa lemahnya iman kita. Bukan kita tidak mampu, tapi tidak ada usaha. Jangan merasa nggak pede, takut dibilang riya’, atau merendahkan dirimu sendiri padahal kamu mampu melakukannya. Riya’ itu ketika kamu melakukan sesuatu karena orang lain dan tidak melakukan sesuatu karena orang lain, bukan karena Allah swt. Jadi kalaupun tiba-tiba muncul ada rasa bangga, ingin dipuji, buru-buru istighfar dan luruskan niat, oke? Kadang-kadang memang harus dipaksa dulu supaya terbiasa, ya kan?

Setelah itu, jangan menunda-nunda untuk menyampaikan kebaikan ataupun mencegah kemungkaran, syaithan itu nggak mau aja kalau kamu berbuat baik. Jadi kalau sekarang syaithan membuatmu ragu dengan waktunya, besok-besok ia akan membuatmu lupa dengan semua itu. Kan nggak lucu juga sekalinya udah ingat, tapi di dalam kubur, naudzubillaahi min dzaalik. :(( Sekali lagi, dalam hal ini, mintalah petunjuk dari Allah. Juga ikhtiarnya jangan lupa (dengan menambah ilmu tadi), serta tunjukkan akhlak baik kita sebagaimana yang Rasulullah saw. ajarkan. Kalau memang sudah saatnya, maka Allah yang akan memampukan. Bukankah Allah mahakuasa terhadap segala sesuatu?

Dan ketahuilah, jalan dakwah adalah jalannya para Nabi dan Rasul. Mereka berdakwah dengan cinta, dengan penuh kelembutan, namun juga tegas pada kemungkaran. Sekecil apa pun, jika disertai dengan keikhlasan, maka akan bernilai di sisi Allah swt. Terakhir, izinkan aku mengutipkan potongan sajak dari Rumi dalam buku Serial Cinta karya Anis Matta yang sedang kubaca, yang entah kenapa kemudian menjadi inspirasi awal tulisan ini:
 
Jalan para nabi kita adalah jalan cinta | Kita adalah anak-anak cinta | Dan cinta adalah ibu kita

Well, keep hamasah, Anak-anak Cinta! Jangan takut lagi ya. :))