Pages

Selasa, 27 Desember 2016

Orang-orang Takut

Dunia ini dipenuhi orang-orang takut. Ada banyak hal yang membuat ketakutan itu menjadi logis. Dan memang perlu menjadi orang-orang takut agar kita dapat tetap hidup.

Hari ini kita mengalami itu.  

Kita hidup di masa dunia bahkan terlalu mudah untuk berada dalam genggaman. Kita hidup di masa ketika menyuarakan kebenaran berbalik menjadi sebuah ancaman. Kita hidup di masa bahwa untuk dapat bertahan hidup, kita seolah harus selalu diam.

Suara kita habis ditelan uang dan barang-barang. Dan kita yang selalu enggan mencari tahu, berpura-pura tak tahu, berpikir bahwa akan ada orang-orang yang bersedia berjuang dengan sukarela tanpa perlu kita ikut serta. Kita adalah penggemar film sejati yang hanya mau duduk di kursi paling atas, menunggu bagaimana semuanya berjalan, lantas  menyuarakan tepuk tangan paling keras. Kita hari ini, seperti itu; menjadi orang-orang takut itu.

Sampai kemudian aku melihat orang-orang takut lainnya, di suatu hari ketika makna takut menjelma dalam bentuk paling hakiki.   

Aku melihat mereka turun ke jalan dan dengan lantang menyerukan pembelaan. Mereka yang takut, tapi tak pantang pada ancaman dan keterasingan. Mereka yang takut, namun cukup berani untuk kehilangan segalanya.  

Pada akhirnya kita tahu, bahwa ketakutan yang demikian justru akan melahirkan keberanian pada saat yang sama. Ketakutan yang demikian justru membuat mereka semakin mengerti bahwa ada hal-hal di dunia ini yang bahkan bisa tak berarti apa-apa. Akan membuat terus hidup, ketakutan yang demikian itu.

Orang-orang takut.
Kita yang takut kehilangan segalanya, mereka yang takut kehilangan Rabb-Nya. 

Selasa, 08 November 2016

Pembelajaran dari Masa Lalu

“Why are you interested to old people?”

Pertanyaan itu muncul tiba-tiba. Aku terhenyak, sedikit tak menyangka bahwa seseorang akan bertanya demikian. Aku mampu menjawab dengan baik bila yang bertanya adalah orang lain. Aku akan dengan mudah mengatakan bahwa ketertarikanku pada orang-orang lanjut usia awalnya adalah sebatas urusan akademik; tertarik untuk mengetahui permasalahan mereka sehingga aku bisa mengangkatnya menjadi sesuatu yang bisa kutulis dalam skripsi.  

Namun yang bertanya kali ini bukan orang lain, tetapi laki-laki tua itu, yang merupakan salah seorang dari sekian residen di balai pelayanan sosial lansia tersebut. Dan mengalami suatu masa yang kusebut pembelajaran selama tiga bulan di balai pelayanan tersebut, aku sungguh tidak bisa mengatakan bahwa ketertarikanku semata-mata hanya urusan akademik. Jauh daripada itu, aku menemukan banyak hal, termasuk ketertarikan itu sendiri.

Aku mulai bisa mengidentifikasi bahwa ketertarikan yang berdampak pada pengharapanku akan suatu hal sebenarnya bukan ketertarikan sejati. Dalam artian, jika aku berharap sesuatu maka berarti aku tidak ikhlas dalam menjalankan tugas, sampai akhirnya minggu pertamaku di sana itu benar-benar membuatku berpikir bahwa banyak hal yang menunggu untuk diselesaikan. Ada banyak persoalan yang butuh untuk ditangani. Pelan-pelan, hal itu mengubahku bahwa semua itu bukan semata-mata soal akademis, bukan semata-mata soal nilai, akan tetapi lebih daripada itu ini soal kepedulian.  

Jadi, dengan Bahasa Inggris-ku yang terbata aku pun mengatakan, “It because I can learn many things, from you and from all of the people here.”

“What things?”

“Many things; life lessons, history of our country that I didin’t know and hard for me to remember, wisdom, and how to survive and break the limits.”

Yeah, but you have to know that we came from different background stories; educational background, family, and status. And what we get today is what we did in the past. Apa yang kita alami di masa tua adalah hasil dari apa yang kita lakukan sewaktu muda. Kalau masa tua penuh kepayahan, mudah sakit, itu masa mudanya gimana?”

Aku tersentak. Itu seperti kata pepatah, bahwa apa yang kita tanam maka itu pulalah yang akan kita tuai. Laki-laki tua itu lalu kemudian menjelaskan bahwa untuk mendapatkan tubuh yang sehat di masa tua, ia mengalami masa muda yang cukup payah karena harus menahan diri terhadap godaan makanan lezat yang di lain sisi kurang baik untuk kesehatan.

“It’s Sunday, anyway.” Aku menyebutkan nama hari, karena seperti yang kutahu, laki-laki tua itu tidak bisa mengenali hari tanpa melihat notifikasi yang ada di layar jam tangannya.  

“Oh ya? True. It’s Sunday,” katanya, setelah mengecek jam tangannya.

Yeah, while everyone having vacation, ...” Aku ingin mengatakan bahwa bahkan ketika orang-orang menghabiskan hari Ahad dengan jalan-jalan, aku hanya ingin pergi ke sana. Ke balai pelayanan sosial lansia itu. Maksudku, kemarin-kemarin itu aku benar-benar sedang futur, dan aku punya pemikiran bahwa barangkali dengan pergi ke sana aku akan merasa sedikit lebih baik.

Seolah paham apa yang kumaksud, laki-laki itu tua itu kemudian melanjutkan, “... and you are here. What makes you impressed with us?”

Lagi-lagi aku terhenyak. Aku tidak pernah mengantisipasi untuk pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Memang dari beberapa residen, sering aku mendapati mereka bertanya, yang bahkan aku sendiri kesulitan untuk menjawabnya. Pertanyaan-pertanyaan atau bahkan pernyataan yang butuh pemikiran mendalam, butuh perenungan bahwa hal-hal semacam itu sejatinya bukan pertanyaan maupun pernyataan biasa.  

Aku menjawab, “I’m impressed with how you all survive, how you all spend this life, and how you all can live together here. Some may have bad life stories in the past, but it amaze me they can stand on their life till this day.”

Laki-laki tua itu mengangguk-angguk, meski aku sendiri merasa tidak cukup mengatakannya hanya dalam beberapa baris kalimat. Aku terlalu gagu berbicara dengan Bahasa Inggris-ku yang pas-pasan.

“So now, what you have got?”

Errr.

“Life lessons,” aku menjawab dengan yakin. “And it would be the things that can guide me, the things that can help me to face my future life. We often hear that experience is the best teacher. Ya, pepatah berkata seperti itu. Aku percaya bahwa itu benar, karena dari pengalaman kalian, aku banyak belajar.”

Laki-laki tua itu kembali mengangguk. Aku memintanya mengecek jam tangannya kembali.

“It’s 12.10.”

“Nah, it’s time you have a lunch,” aku mengingatkan.

Yeah. So, have you take your lunch?” tanyanya.

Yes, I have.”

Is it a lunch or a late breakfast?”

Aku tertawa. Yes, it’s a late breakfast, anyway.


Sabtu, 05 November 2016

#AksiBelaQuran: Mengapa Tidak Percaya pada Ulama?

Dua hari kemarin, aku turut memantau informasi terkait #AksiBelaQuran 4 November 2016. Mulai dari persiapan umat Muslim yang akan melakukan aksi hingga akhirnya aksi tersebut berakhir. Pun para ulama yang tengah berada di tengah ratusan ribu umat Muslim dari berbagai daerah di seluruh Indonesia itu pun secara aktif melaporkan perkembangan di lapangan. Juga akun-akun organisasi masyarakat Islam melakukan semacam live report.

Hati siapa yang tidak tersentuh melihat ratusan ribu umat Muslim yang bersatu padu menyuarakan aspirasi untuk membela kitab-Nya? Jauh dari apa pun, itu sungguh peristiwa paling heroik yang pernah aku lihat terjadi di negeri ini.

Al-Qur’an adalah pandangan hidup kami. Al-Qur’an adalah pedoman kami dalam menentukan langkah. Al-Qur’an adalah yang kami harapkan akan melindungi kami dari terik matahari dalam jengkal tangan di Padang Mahsyar kelak. Lantas ketika ia dihinakan, tidak ada alasan untuk kami tidak bergerak.

Aku tahu, dalam kapasitasku yang serba terbatas ini, aku adalah yang tidak turut serta dalam aksi tersebut. Tapi pun seandainya Allah izinkan, maka alangkah bahagianya jika bisa berjuang bersama para ulama di sana. Beruntunglah mereka yang Allah mampukan untuk turut memperjuangkan agama-Nya di sana. Beruntunglah mereka yang Allah gerakkan hati dan langkahnya untuk sampai di sana.

Namun demikian, betapa diri ini malu karena yang aku lakukan ini barangkali adalah selemah-lemah iman. Banyak hal yang membuatku maju muundur, dan aku tidak tahan untuk tidak menulis ini. Hingga akhirnya kumantapkan hati, kumohon petunjuk dan bimbingan Allah, agar aku paling tidak bisa melakukan satu hal kecil untuk membela-Nya.

Adalah suatu hal, ketika pada akhirnya #AksiBelaQuran tersebut mengundang kontroversi; pro, dan kontra yang bahkan dari kalangan umat Muslim sendiri. Ketika sebagian besar ulama bersatu dalam sikap untuk menyuarakan aspirasi agar kasus penistaan Al-Qur’an itu diproses sesuai hukum, ketika itu merupakan sebuah aksi untuk membela pedoman hidup kita sebagai Muslim, dan yang paling penting ketika yang melakukan aksi itu adalah para ulama dengan kapasitas keilmuan yang sebaiknya dijadikan rujukan pendapatnya dalam mengambil hukum, mengapa kita tidak percaya? Mengapa harus berseberangan pendapat dengan mereka?

Sedang kita tidak tahu apa-apa, sedang pemahaman kita terhadap agama sangatlah minim, sedang untuk membaca Al-Qur’an saja kita masih sering malas, sedang hati kita penuh dengan kedengkian, lalu di mana letak kepantasan kita untuk berpendapat berseberangan dengan para ulama?

Mereka, para ulama, adalah orang-orang dengan kapasitas keilmuan yang jelas. Hafal Al-Qur’an, paham hadits, menguasai fiqh, yang ibadahnya selalu terjaga, yang lisannya tak pernah mengucapkan dusta, lantas kapasitas apa yang kita miliki untuk berlainan sisi dengan mereka? Mengapa kita tidak juga percaya?

Aku pribadi tidak memiliki kapasitas apa pun dalam hal ini, hanya saja sesuatu yang kutahu sedikit ini menggerakkan hatiku untuk menyampaikan hal yang menurutku benar. Bahwa segala persoalan sejatinya harus dikembalikan pada Al-Qur’an. Allah swt. berfirman:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

Artinya: Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu. (QS. Al-Ma’idah: 48).

Lalu siapa yang paham akan Al-Qur’an? Siapa yang mengerti tafsir Al-Qur’an? Maka jawabannya adalah para ulama. Ustadz Nuzul Dzikri, Lc. dalam sebuah kelas pembelajaran Bimbingan Islam menyampaikan bahwa permasalahan-permasalahan besar sebaiknya dikembalikan pada ulama. Allah swt. berfirman:

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الأمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الأمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلا قَلِيلا

Artinya: Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya mengetahuinya dari mereka . Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja. (QS. An-Nisaa’: 83) .

Maka, dalam hal #AksiBelaQuran, bagaimana mungkin kita berseberangan pendapat dengan para ulama yang sehari-harinya penuh kedekatan dengan Al-Qur’an? Tidakkah kita dengan kapasitas keilmuan yang minim ini percaya pada mereka yang ‘alim?

Waallahu ‘alam bisshawab.

—catatan kegelisahan seorang pembelajar,
aku.

Kamis, 03 November 2016

Selamat Jalan, Babah...

Ketika terbangun, tiba-tiba aku mendapati ponselku berkedip-kedip. Satu pesan masuk dari Bapak. Sebuah berita duka. Sesaat aku hanya memandangi layar itu. Pikiranku beralih ke mana-mana.

Menjalani program magang di balai pelayanan sosial lansia membuatku merefleksikan banyak hal, termasuk yang paling lekat dalam hal itu yaitu kematian—meski kematian sebenarnya tidak menggunakan kriteria apa pun untuk datang pada seseorang. Kamis lalu, aku mendengarkan penuturan seorang Mbah Putri yang bahwasanya selama 3 tahun tinggal di balai pelayanan lansia tersebut ia telah menyaksikan kurang lebih 12 kematian.

Dan tiba-tiba saja pagi ini, aku mendapati diriku mendengar 3 kabar kematian sekaligus, yang salah satunya adalah nenekku sendiri. Aku setengah kaget membaca pesan bapakku itu. Padahal baru kemarin kami saling mengabari dan ketika aku menanyakan keadaan Nenek, Bapak menjawab bahwa beliau masih tidak mau makan (kurang lebih 2 minngu ini aku dikabari bahwa beliau sedang sakit) .

Sejujurnya aku merasa agak tidak enak. Aku sedang dalam proses melakukan pendampingan di salah satu balai pelayanan sosial untuk lansia, sementara di sana barangkali nenekku membutuhkan cucu-cucunya. Perasaan itu muncul ketika aku tahu bahwa sebagian besar masalah yang dialami para lansia yang tinggal di balai pelayanan sosial tersebut adalah kesepian. Setiap kali aku dan temanku datang, mereka akan langsung menyambut ceria. Lalu, saat aku mengatakan bahwa masa pendampingan kami hampir habis, salah seorang Mbah Putri langsung menangis. Dan yang lainnya mengatakan dengan terang-terangan bahwa tanpa kehadiran mahasiswa yang melakukan praktik di sana mereka sungguh kesepian.

Jadi aku berpikir, bagaimana keadaan nenekku di sana?

Aku bersyukur ibuku termasuk yang cukup sering menyuruh anak-anaknya untuk mengunjungi Nenek. Setiapkali aku pulang, mengunjungi Nenek adalah satu kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan. Dan saat ini, saat cucu-cucunya jauh, kabar itu datang. Aku di Yogyakarta sementara adikku di Sukabumi sana—yang bahkan untuk mengabarinya saja cukup sulit karena berarti kami harus menelepon nomor kantor ma’had-nya karena peraturan tidak memperbolehkan mahasantri untuk membawa ponsel.

Lalu, ketika cucu-cucu yang lain saat ini hadir di perpulangan Babah (ya, aku memanggil nenekku dengan panggilan Babah, katanya itu tradisi untuk keturunan Arab—sama halnya ketika memanggil paman dengan panggilan Ammi), aku berada dalam kondisi yang benar-benar tidak memungkinkan untuk pulang.

Babah Mah (nama lengkapnya Fatmah binti Salim Basnan), begitu kami memanggilnya, meninggal pada usianya yang 105 tahun pukul 02.30 tadi. Allahummaghfirlahaa warhamha wa’aafihaa wa’fuanhaa. Selamat jalan, Bah. Semoga Allah permudahkan perpulanganmu ini, semoga Allah tempatkan engkau di tempat terbaik di sisi-Nya, semoga Allah bentangkan kenikmatan-Nya di sana.

Seperti engkau, semoga kami pun semakin giat mempersiapkan perpulangan itu.

Dari aku,
—cucumu yang jauh.
*

P.S.: aku berpikir untuk menulis soal refleksi kematian yang lebih ke a note to myself atau self reminder, tapi barangkali waktunya tidak sekarang.

Rabu, 02 November 2016

Saat Tidak Tahu Harus Menulis Apa

Bahkan, saat kamu tidak tahu harus menulis apa, tulislah bahwa kamu tidak tahu kamu harus menulis apa. 
Aku menulis ungkapan itu di Twitter kemarin. Itu bukan sesuatu yang tiba-tiba, melainkan untuk menulis ungkapan itu ada serangkaian proses panjang (panjang?) yang di belakangnya. Berupa keresahan betapa tidak produktifnya diriku dalam menulis ketika seharusnya aku bisa menulis banyak hal mengingat waktuku juga cukup luang.  

Aku tidak ingin menyalahkan siapa pun atau apa pun karena sebenarnya masalahnya ada pada diriku sendiri. Tapi sungguh, soal skripsi dan laporan magang yang masih on process itu membuat pikiranku merasa bersalah jika meninggalkan keduanya—meskipun pada akhirnya tak tersentuh juga dan aku melarikan diri dengan membaca. Jadi setiap kali aku ingin menulis sesuatu yang bukan soal skripsi atau laporan magang, selalu muncul pikiran, “Daripada nulis ini, mending kerjain laporan—mending kerjain skripsi.”

Untuk sesuatu yang bersifat individual, aku kadang terlampau perfeksionis. Buatku tidak masalah jika aku harus berkeras membaca jurnal Bahasa Inggris, menerjemahkannya semampuku, untuk mendapatkan rujukan yang menurutku valid dan sesuai dengan yang kuinginkan. Tapi sejujurnya itu lumayan bikin pikiran jadi sesak juga sih, karena otakku jadi dipaksa untuk kerja maksimal. Dan otak yang terlalu lelah itu bikin mood menulis jadi turun; susah dapat ide dan susah menuangkan pikiran ke dalam kata-kata. Kalau sudah begitu, solusi paling amanku adalah membaca. Paling tidak, aku bisa mengisi waktu luangku dengan hal-hal yang bermanfaat. Paling tidak, membaca adalah obat untuk menulis.

Lalu, ketika Hari Blogger Nasional diperingati beberapa hari yang lalu, aku seolah mendengar blog-ku berteriak nyaring minta diisi. Dan yah, aku nggak ada posting apa pun selama bulan Oktober kemarin itu. Aku memang bukan blogger aktif, hanya seseorang yang kebetulan suka menulis dan punya blog. Tapi tetap saja, tidak mengunjungi rumah ini dengan membawa tulisan membuatku merasa tidak produktif.

Lalu, ketika aku merasa perasaanku sedang tidak cukup baik soal ketidakproduktifan dan berbagai hal lain lagi, aku merasa menulis adalah media katarsis yang cukup ampuh—di samping berdoa. Dan itu efektif sekali untuk melegakan perasaan. Seperti sekarang ini. Rasanya melegakan sekali bisa menulis, bahkan di saat aku tidak tahu harus menulis apa. :))



Kamis, 25 Agustus 2016

Penjagaan dari Allah

Suatu ketika, seorang teman datang kepadaku dan bercerita banyak hal tentang kehidupannya; hal-hal mendalam yang tidak pernah diceritakannya kepada siapa pun. Rahasia-rahasia yang dahulu berusaha disimpannya rapat-rapat sebelum mengatakannya padaku waktu itu.


Ada orang-orang yang memang biasa saling berbagi rahasia. Ketika itu terjadi, maka itu menunjukkan kedekatan keduanya. Dan memang sedekat itulah kami. Jadi ketika dia datang dan mulai bercerita banyak hari itu, aku diam mendengarkan. Sampai ceritanya selesai, sampai ia tidak punya apa-apa lagi untuk dikatakan lagi selain bertanya, “Jadi menurutmu, aku harus bagaimana?”

Persoalannya sederhana, tapi cukup pelik juga untuk satu hal yang melibatkan perasaan. Aku membayangkan aku akan sama bingungnya jika berada di posisinya. Ada satu masalah yang harus diselesaikannya, dan itu lama sekali sejak masalah itu terjadi—yang seharusnya ia bisa mengambil keputusan secepat mungkin setelah peristiwa itu terjadi.  

Aku berpikir lama untuk satu pertanyaan itu. Jadi ketika aku mengatakan hmm dan tak kunjung bersuara lagi, dia menyela, “Melihatmu berpikir keras seperti itu, aku jadi menyesal... seharusnya aku meralatnya sesegera mungkin setelah hari itu.”“Ya, kamu memang seharusnya langsung mengatakannya hari itu. Atau meralatnya setelah kamu sadar mengatakan itu,” kataku. Aku tidak bermaksud menyalahkannya ataupun tidak menaruh empati pada sesalnya, hanya saja kita butuh keterbukaan untuk menemukan penyelesaian.

“Benar kan,” desahnya. “Aku memang seharusnya melakukan itu.”

“Aku tidak memiliki solusi lain selain ...”

“Apa?”

“... kamu harus menjelaskannya kepada orang itu bahwa persetujuanmu ketika itu barangkali tidak bisa dianggap serius. Kamu hanya terlalu mempertimbangkan banyak hal ketika ingin mengatakan tidak.”

“Ev, itu nggak mungkin! Kamu yang bener aja dong,” sungutnya

“Yah, mau bagaimana lagi kan? Itu sudah memakan waktu yang sangat lama. Kamu harus melakukannya jika tidak ingin membuatnya menjadi lebih lama lagi.”

“Iya, aku tahu. Tapi kan ...” Ia mendesah, sedikit frustrasi.

“Aku paham itu sangat berisiko, tapi itu satu-satunya solusi yang bisa kutawarkan.”

“Maksudku adalah,” katanya, setelah mengambil napas beberapa kali, “jangan-jangan, cuma aku yang menganggapnya seperti itu? Barangkali semuanya sudah selesai, menurut dia.”

“Tapi ceritamu nggak mengatakan seperti itu,” tukasku.

“Iya, sih, tapi kadang-kadang aku berpikir itu cuma perasaanku saja,” ungkapnya. “Aku yang baper, tahu maksudku kan?”

Aku mendesah. “Bisa jadi.”

“Kamu benar-benar tidak ada solusi lain selain itu? Aku tidak mungkin melakukan itu, Vi. Dan aku juga tidak mungkin melibatkan orang lain sebagai perantara di sini,” ujarnya. “Paling tidak, seharusnya ada solusi yang bisa membuatku tetap terjaga.”

Terjaga.

Ah ya, benar juga. Bagaimanapun, kehormatan seorang perempuan dipertaruhkan di sini. Ketika dia harus menjelaskan semuanya karena menurutnya ada hal yang belum selesai sementara di sisi lain lawannya ternyata berpikir urusan mereka telah selesai dan mengatakan bahwa ketidakselesaian itu hanya perasaan temanku saja, maka tentu ia akan merasa malu—meski bisa dikatakan ia memiliki 80% untuk keyakinan bahwa semua itu belum selesai.

Tapi tetap saja kan, itu berisiko. Dan lawannya bisa saja mengelak, sekalipun temanku benar soal keyakinannya itu. Jadi, memang harusnya ada solusi yang mampu menjaga.

“Kalau begitu, kayaknya kamu harus langsung tanya sama Allah deh,” ujarku. “Aku angkat tangan.”

Dan kami tidak menemukan apa-apa hari itu, selain pernyataan ‘harus langsung tanya sama Allah’ dariku yang kemudian diiyakannya.
* * *

Lama sekali berlalu sejak ia datang kepadaku hari itu. Aku tidak tahu apakah dia sudah mendapatkan jawabannya atau apa mengingat kesibukan kami masing-masing, sampai suatu malam dia menelepon dan membicarakan soal itu lagi. Seperti biasa, aku menanyainya kabar, dan begitu pun sebaliknya, sesederhana ketika aku dan dia bertemu di lobi atau di mana pun yang memaksa kami hanya bertukar hai karena terburu-buru.

“Ev, bayangkan suatu ketika kamu terbangun pagi-pagi ...”

“Itu tidak perlu dibayangkan, aku melakukannya setiap hari,” candaku.

“Ini serius, Evi! Coba dibayangkan saja,” dengusnya. Aku tertawa, dan mengiyakan, karena lagi-lagi ini karena soal itu.

Dia mengambil napas, dan memulai, “Bayangkan, suatu ketika kamu terbangun pagi-pagi ...”

“Ya,” responsku, dan aku benar membayangkannya.

“... dan kamu benar-benar terbangun pagi-pagi itu, Jadi ini bukan aktivitas harian yang biasa dilakukan semua orang, tapi lebih seperti ketika ada sesuatu yang menyentakmu tiba-tiba, atau membuatmu terjaga.”

Aku membayangkannya.

“Dalam kondisi setengah sadar, kamu beranjak ke pintu, hendak mengambil air wudhu. Kamu berjalan dan kakimu menggesek sesuatu. Kamu mengucek mata beberapa kali untu mengetahui bahwa itu adalah sebuah amplop. Berwarna pink lembut, dan sangat cantik.”

“Waaah. Ada logo Hogwarts-nya nggak?” Aku menyebutkan salah satu nama sekolah sihir di seri Harry Potter.

Dia tergelak, kemudian menanggapi leluconku, “Hogwarts nggak mungkin menerima murid seperti kamu. Lagi pula, amplopnya nggak mungkin berwarna pink kan?”

Mau tak mau aku tertawa juga. “Oke, lanjutkan,” kataku. “Kalau aku nggak merespons, berarti aku sedang membayangkannya, oke?”

Dia melanjutkan, “Kamu mengambil amplop itu, mengeluarkan isinya, dan taraaa... Itu adalah undangan sebuah pertunjukan!”

Yang benar saja, aku jarang menonton pertunjukan. Tapi aku membayangkannya.

“Undangan itu terlihat misterius. Kamu kaget, sekaligus penasaran. Jadi seketika itu juga, kamu memutuskan untuk datang, meski kamu tidak tahu siapa saja di bumi ini yang mendapat undangan demikian dan kamu bakal terancam terasing di tengah orang-orang yang tidak kamu kenal. Tapi kamu memang menyukai itu, berada di tengah-tengah orang asing yang tidak kamu kenal. Kamu menyukai gagasan itu karena kamu tidak perlu repot memikirkan apa yang orang lain ketahui darimu, apa yang orang lain pikirkan tentangmu.

“Tapi ternyata kamu salah ...”

Hm?

“Tidak ada orang asing di situ. Dan tidak ada siapa pun, kecuali kamu.” Dia berhenti sejenak, mengatur napas. Dan sekarang aku membayangkan itu seperti sesuatu yang menakutkan, mencekam—yang ternyata salah.

“Kamu adalah tamu spesial,” katanya. “Seolah tahu tempatmu di mana, kamu melangkah masuk ke ruangan di alam gedung itu dan menaiki undakan, duduk di kursi paling tinggi agar sejajar dengan layar besar yang berkedip-kedip mengucapkan selamat datang. Saat itu kamu berpikir itu bukanlah undangan pertunjuka, tapi undangan menonton film di bioskop. Dan lagi-lagi kamu salah, karena di tempat yang terpisah dengan ruangan itu, semua pemeran telah bersiap-siap naik ke atas pentas. Kamu hanya diperbolehkan menonton lewat layar itu, karena suatu hal yang nanti akan kamu ketahui sendiri.”

Aku mengatur bantal dan merebahkan tubuh di kasur, masih mendengarkan. Dan membayangkan.

“Itu pertunjukan yang seharusnya menguras air mata, tapi kamu tidak menangis. Kamu hanya mengeluarkan air mata, yang tidak sampai semenit—jadi yah, aku tidak ingin menyebut itu sebagai menangis. Dan ketika pertunjukannya usai, kamu terdiam cukup lama untuk kemudian tersenyum tipis dan bersyukur dalam-dalam.”

Aku tidak tahan untuk tidak bertanya. “Kenapa aku melakukan itu? Maksudku, yah, ini aku yang sedang tidak membayangkan yang bicara, kamu bahkan tidak menceritakan detail pertunjukannya.”

“Kamu bersyukur karena kamu tidak terlibat dalam pertunjukan itu; karena kamu bukan pemeran. Sutradaranya, penulis skenarionya, dan yang mengatur semuanya ingin agar kamu tetap terjaga.”

Tunggu, aku ingat satu kata kunci itu. Terjaga.

“Persoalan dari kehadiran orang lain yang mengambil peran, itu adalah sebuah konsekuensi dari bagaimana orang itu memilih jalan hidup. Kamu sudah memilih jalan hidupmu sendiri; memilih untuk melibatkan-Nya dalam segala hal. Seperti bertanya tentang cara untuk menyelesaikan persoalan itu, memohon agar Dia memberikan keberanian dan kekuatan jika kamu memang harus melakukannya, serta tetap menjagamu dalam keadaan apa pun.”

Aku terdiam, memaknai kalimat itu perlahan dan dalam-dalam. Aku hampir menangis, dan sudah meneteskan air mata ketika mengatakan, “Sutradaranya, penulis skenarionya, yang menyiapkan pertunjukan itu, Dia mencintaimu.”

“Ya,” katanya. “Padahal aku baru belajar mencintai-Nya, tapi aku sudah mampu merasakan kasih sayang-Nya sebesar itu. Allah benar-benar menjagaku. Dan mungkin ketidakberanianku mengatakan itu adalah cara Allah mencegahku, dan untuk itu Dia memintaku menunggu.”

Aku mengusap pipiku, lalu berujar, “Selamat ya. Sekarang kamu bisa memiliki harapan yang banyak.”

“Ev,” panggilnya. “Kalau suatu saat kamu menghadapi persoalan yang sama dan satu-satunya cara yang bisa kamu lakukan untuk menyelesaikannya adalah dengan konsekuensi kamu tidak terjaga, serahkan saja semuanya pada Allah. Pasti ada cara lain untuk itu, dan kamu tidak perlu turun tangan untuk jadi pemeran. Allah sudah mengatur skenario-Nya. Dan, terima kasih sudah mendengarkan.”

Dan, terima kasih sudah berbagi.
* * *

Hai, terima kasih sudah membaca. Dan berkunjung ke blog ini. :)) Yah, aku tidak menyangka tulisannya akan sepanjang ini, tapi kemudian semuanya mengalir begitu saja, hehe. Uhm—tulisan ini sebenarnya kisah nyata, tapi tentu saja... analogi soal ‘pertunjukan’ itu adalah murni karanganku saja, hehe. Bukan apa-apa, aku cuma ingin menunjukkan sesuatu yang menurutku penting untuk dipahami tapi kulakukan dengan cara yang kubisa. Maksudku, aku nggak mumpuni untuk memaparkannya dalam bentuk artikel atau apa pun yang bentuknya bukan seperti fiksi—dan barangkali aku akan menulis ini dalam bentuk fiksi yang utuh suatu saat nanti. Jadi, begitulah akhirnya. Lagi pula, ini juga semacam pengingat untuk diriku sendiri. :))