Pages

Senin, 24 Desember 2018

Cara Memahami Hujan #3


Menunggu selalu merupakan pekerjaan yang memakan waktu. Entah lama atau sebentar, tetap ada detik-detik yang kemudian tidak akan pernah bisa diulang. Setiap harinya, matahari perlu menunggu untuk bisa disebut terbit dan terbenam. Dan perlu masing-masing dua kali dalam setahun singgah tepat di atas khatulistiwa untuk kemudian bisa disebut sebagai vernal atau autumnal equinox.

Untuk musim yang tak sejalan—tentang terik kemarin-kemarin yang terasa begitu panjang, perkara menunggu hujan juga demikian. Mendung-mendung yang pekat hanya sebuah pertanda dan bukan merupakan jaminan. Tidaklah apa-apa yang ada di semesta ini berjalan tanpa ada yang menggerakkan. Semua menunggu titah-Nya.

Tetapi, Allah memberitahu kita sebuah rahasia. Bahwa perkara menunggu bukan berdiam diri, melainkan sembari mengupayakan. Demikian yang terjadi bila hujan tak kunjung datang. Membasahkan lisan dengan istighfar menjadi semacam upaya, sebagaimana yang dahulu Khalifah Umar bin Khattab lakukan ketika salat meminta hujan.

Istighfar adalah upaya mengetuk pintu langit bersebab apa-apa yang berasal dari langit cenderung bersifat rahmat. Hujan senyatanya adalah demikian. Ia mengubah terik menjadi sejuk. Membungkam debu untuk kemudian menguar sebagai petrikor. Menumbuhkan bebijian menjadi dahan-dahan hijau. Atau dalam bentuk-bentuk yang sederhana, kedatangannya merupakan suatu kebahagiaan tersendiri yang sulit diungkapkan kata-kata.

Maka lihatlah kelak, sejauh apa lisan kita basah oleh istighfar. Yang dengannya Allah telah jaminkan curahan hujan dari langit. Yang dengannya Allah akan luaskan rezeki kita, perbanyak anak-anak kita, dan sejahterakan kehidupan kita melalui kebun-kebun yang hijau dan sungai-sungai yang mengalirkan air untuk kehidupan. Lalu, dengan seruan beristighfar ini pulalah Nabi Nuh ‘alaihissalaam menasihati kaumnya. Yang mengeluh akan kekeringan, kemiskinan, dan kurangnya keturunan. Tetapi mereka tak kunjung beriman, meski dakwah berlangsung siang malam.

Di sisi lain, membasahkan lisan dengan istighfar juga bukan hanya perkara apa yang akan kita dapat, melainkan tentang keutamaan istighfar itu sendiri. Dan yang terpenting, fakta bahwa dosa-dosa kita terlampau banyak. Maka istighfar terselip sebagai bacaan setiap usai salat, dalam zikir pagi dan petang, dan menjadi sesuatu yang harus senantiasa kita lisankan dalam setiap kesempatan.

ثُمَّ إِنِّي دَعَوْتُهُمْ جِهَارًا (٨) ثُمَّ إِنِّي أَعْلَنْتُ لَهُمْ وَأَسْرَرْتُ لَهُمْ إِسْرَارًا (٩) فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (١٠) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (١١) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (١٢)

Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan, kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam. Maka aku katakan kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun, dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS.Nuh: 8-12).
*

... terinspirasi setelah menonton video tadabbur Al-Qur’an dari Ustadz Bachtiar Nasir: Meraih Kebahagiaan. Kemudian aku teringat bahwa beliau ada kajian tadabbur QS. Nuh, jadilah aku mendengarkan kajian tadabbur beliau QS. Nuh: 11-15 itu di sini. Kebetulan, aku sendiri juga memiliki buku Ustadz Bachtiar Nasir yang berjudul “Tadabbur Al-Qur’an: Panduan Hidup Bersama Al-Qur’an (Juz 29 & 30)” yang kubaca sebelum menulis ini. Terima kasih. ^^

Senin, 19 November 2018

Cara Memahami Hujan #2


Bagiku, salah satu bagian penting dari sesuatu adalah tentang bagaimana cara memahaminya. Ketika orang-orang ingin membuat kita dengan mudah memahami sesuatu, mereka akan memberi kita perumpamaan-perumpamaan. Seperti mengatakan perlunya sikap rendah hati dengan mengumpamakan padi yang semakin berisi semakin merunduk. Seperti menyamakan batu yang retak karena tetes demi tetes air terus jatuh di atasnya untuk sebuah usaha yang gigih.

Hal-hal demikian terkadang memang diperlukan, yang dengannya segala sesuatu terasa lebih dekat. Yang dengannya kita bisa melihat apa-apa yang terjadi di luar diri kita secara nyata. Yang dengan itu, kita akan jadi lebih memahami hakikat sesuatu. Atau peristiwa. Apa saja.

Maka pahamilah hujan. Yang dalam terik berkepanjangan, menantinya membutuhkan kesabaran. Akankah tiba hari ini? Sesungguhnya tak ada yang benar-benar pasti kecuali hal-hal yang telah menjadi jaminan.

Hidup setelah matinya; tanaman yang kita tanam, zaitun, anggur, dan berbagai macam buah-buahan. Hidup setelah matinya; hujan adalah rahmat yang memuat pesan dari langit. Perumpamaan yang dengannya Allah ingin kita memahami hakikat sesuatu.

وَاللَّهُ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ

“Dan Allah menurunkan air (hujan) dari langit, dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi yang tadinya sudah mati. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran).” (QS. An-Nahl: 65)

Maka pahamilah hujan. Yang tanpanya, bumi tidak akan mampu bertahan. Yang dengannya, Allah ingin kita memahami ayat sebelumnya bahwa ibarat bumi yang mati, demikianlah yang terjadi pada peradaban manusia jika tidak Allah turunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk juga rahmat.

وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
“Dan Kami tidak menurunkan kitab (Al-Qur’an) ini kepadamu (Muhammad), melainkan agar engkau dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu, serta menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nahl: 64)

Pahamilah hujan, yang dengan kuasa-Nya Allah sendiri yang menyebarkannya di permukaan bumi. Maka tidak dengan Al-Qur'an, Allah hanya menurunkannya pada satu manusia, Muhammad saw. Betapa istimewanya. Yang agar dengan Al-Qur'an itu peradaban manusia kembali hidup dan tertata, akhlak dan moral menjadi baik. Maka, Nabi Muhammad saw. perlu mengajarkannya ke para sahabat, sahabat ke tabi’in, tabi’in ke tabiut tabi’in, begitu seterusnya sampai kita hari ini.

Kemudian...

يُنْبِتُ لَكُمْ بِهِ الزَّرْعَ وَالزَّيْتُونَ وَالنَّخِيلَ وَالأعْنَابَ وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dengan (air hujan) itu Dia menumbuhkan untuk kamu tanam-tanaman, zaitun, kurma, anggur, dan berbagai macam buah-buahan. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir.” (QS. An-Nahl: 11).

Hujan menumbuhkan yang kita tanam, zaitun, kurma, dan anggur, yang selanjutnya perlu kita rawat. Meski demikian, entah di kedalaman hutan atau bahkan tempat-tempat yang kita tak pernah berpikir manusia bisa menjamahnya, selalu ada berbagai tumbuhan yang tumbuh karena hujan tanpa perlu sedikit pun usaha kita untuk merawatnya.

Maka demikianlah Al-Qur'an itu bagi kehidupan manusia. Adalah kewajiban kita untuk terus mendakwahkan ayat-ayat-Nya, menebar benih-benih kebaikan untuk mengajak manusia mengamalkannya. Kita tidak pernah tahu kelak benih mana yang akan menumbuhkan keimanan di hati seseorang. Seperti ketika Allah menyebut zaitun, kurma, dan anggur, di surah An-Nahl ayat 11, maka semuanya ibarat benih kebaikan yang berusaha kita rawat dan kelak akan menumbuhkan keimanan pada orang-orang terdekat. Sementara ketika Allah mengatakan “wa min kulli-tstsamaraat (berbagai macam buah-buahan)”, maka itulah benih kebaikan yang dengan cara Allah bisa tersebar kepada seseorang yang kita bahkan tidak berpikir pernah mengenalnya.

Meski usaha yang aku, kamu lakukan untuk menebar benih kebaikan barangkali hanya sedikit, terus lakukan dan jangan pernah berhenti. Itu akan tetap berarti bagi orang-orang terdekat, atau orang-orang yang entah berada di mana. Cukup lakuakan tugas kita sebagai umat terbaik, lalu biarkan hidayah Allah bekerja bagi siapa yang Dia kehendaki.

Dan semoga dengan itu, Allah hidupkan kehidupan kita dengan rahmat Al-Qur'an. Allah tumbuhkan keimanan kepada ayat-ayat-Nya sebagaimana Allah tumbuhkan bumi yang tadinya mati dengan hujan.

* * *
—terinspirasi dari video lecture Ustadz Nouman Ali Khan Kemiripan Al-Qur’an dan Hujan oleh NAK Indonesia yang kutemukan beberapa saat setelah menulis Cara Memahami Hujan #1. Kemudian, aku juga menonton versi lengkapnya: The Impact of the Qur'an on Our Lives. Sungguh, apa yang kutulis tidaklah ada apa-apanya dibanding penjelasan Ustadz Nouman Ali Khan mengenai Al-Qur’an, hujan, dan bagaimana pengaruhnya bagi kehidupan manusia di bumi. Materinya sangat kaya dan benar-benar memberikan pemahaman baru tentang sesuatu yang mungkin kita tidak pernah pikirkan sebelumnya. Recommended!


Sabtu, 22 September 2018

Cara Memahami Hujan


Kelak bila hujan datang, katakan bahwa di mentari sendu di hari itu, di embusan angin yang dinanti putik bunga itu, tercium wangi tanah basah. Atap bumi yang berubah warna kini terlihat kontras dengan lautan dalam, tempat orang-orang mengunci perasaannya.
 
Kelak, bila hujan datang, orang-orang akan tahu bahwa apa yang selama ini disimpannya di kedalaman lautan itu, telah menguap oleh terikan napas matahari. Menjadi gegumpal kapas putih, diterbangkan angin, lantas mengondensasi sebelum turun sebagai buliran air yang menderas.

Ada yang luruh oleh tinta di atas kertas itu, ada yang luruh di bawah hujan di bawah mata itu; menuju hati.

Demikian cara orang-orang memahami hujan. Demikian caraku memahami hujan, pada awalnya.

Kelak, ketika hujan datang, dan kita sudah memahami beberapa hal, kita akan mengerti bahwa dalam lirih doa-doa di antara itu, dalam pinta-pinta kita tentang kehidupan itu, ada hal lain yang luput dari pencarian, hilang dari ingatan.

Apa tepatnya doamu ketika hujan?

Menikah segera? Daftar buku impian? Perjalanan menyenangkan? Atau hal-hal kecil seperti berharap secangkir cokelat panas?

Tidak apa-apa. Katakan sebanyak yang kau mau. Kita memang harus meminta banyak hal, karena Dia sungguh Mahakaya. Tapi bagaimana bisa kita lupa bahwa sekeras apa pun kita meminta kehidupan, kematian adalah niscaya. Dan kebangkitan setelahnya adalah pasti.

Hujan seperti itu. Ia menghidupkan. Kelak kita akan menyaksikan, petrikor yang menguar di batas penciuman kita lantas mengubah dirinya menjadi aroma segar rerumputan, jatuh sebagai tetes embun dari pucuk dedaunan.

Maka demikian, Allah menghidupkan bumi yang mati dengan hujan-Nya, agar kita mengambil pelajaran bahwa kelak, semudah itu Ia membangkitkan kita dari kematian.

Begitu, cara memahami hujan.

وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ حَتَّى إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالا سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَيِّتٍ فَأَنْزَلْنَا بِهِ الْمَاءَ فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ كَذَلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتَى لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.” (QS. Al-A’raaf: 57)
*

Solo, 19 September 2018
―menjelang dan setelah hujan pertama sore itu,

Evnaya Sofia

Jumat, 17 Agustus 2018

Renungan Hari Kemerdekaan RI ke-73: Menyiapkan Generasi untuk Masa Depan


Belajar memahami apa yang terjadi hari ini adalah ikhtiar untuk memahami sejarah hari ini di masa depan.

Kita tidak tahu seperti apa sejarah hari-hari ini akan ditulis di masa depan. Kelak, anak-anak kita akan bertanya, “Apakah benar dahulu terjadi demikian? Apakah benar peristiwanya demikian?” Aku sendiri banyak menanyakan itu pada ayahku, dan betapa beliau mampu menjelaskannya sebagai seseorang yang pernah hidup di masa itu.

Memori masa kecilku merekam sebuah peristiwa yang tidak kuketahui apa maknanya, tergambar dengan jelas bayangan ketika ayahku menggelindingkan drum-drum minyak tanah jualan kami ke belakang rumah setelah  mengosongkan minyaknya dari drum-drum itu, karena kalau-kalau minyak-minyak itu menjadi suluh untuk membakar rumah kami yang begitu mudah dijangkau karena tepat berada di pinggir jalan lintas kabupaten. Dan soal mengapa kami harus mengungsi tidur di rumah kakek yang jauh dari jalan lintas tersebut. Kata beliau, “Oh, itu zaman ninja. Waktu itu terjadi pembantaian pada para ulama. Mirip seperti yang terjadi belakangan ini.” Kemudian suatu kala, saat aku bertanya perihal sekte-sekte tertentu dalam agama yang dianggap sesat namun masih banyak pengikutnya, beliau mengatakan, “Dulu waktu Evi masih kecil, Bapak bahkan pernah mengalami ‘ketegangan’ yang jauh lebih daripada ini.” Beliau lalu menceritakan pengalamannya, pun demikian cerita dari Ibu.

Setelah dewasa, dalam usaha untuk memahami banyak hal, barulah aku mengerti bahwa setiap apa pun dari keduanya adalah pendidikan terbaik untuk anak-anaknya. Teringat ketika menjelang keberangkatanku untuk menimba ilmu ke Jogja, beliau menyodorkan buku yang aku lupa persisnya apa judulnya, tapi kalau tidak salah, “Bunga Rampai Aliran Sesat di Indonesia”. Aku tak habis pikir, kekhawatiran beliau bahwa aku akan ikut organisasi macam-macam terkesan berlebihan (waktu itu lagi marak-maraknya soal Gafatar kalau tidak salah). Juga, bacaan seperti itu terlalu berat untukku yang saat itu belum terbiasa membaca buku selain buku-buku fiksi. Pada akhirnya buku itu justru tak pernah terbaca hingga hari ini.

Kemudian ketika semester dua, aku mendapat tugas makalah yang luar biasa, kebetulan itu sekaligus tugas untuk akhir semester. Karena sulit mengumpulkan referensi, aku memilih untuk mengerjakannya di rumah. Kampus sudah libur, sementara deadline tugas juga di antara waktu libur itu. Betapa kemudian aku merasakan manfaat dari ‘harta berharga’ ayahku. Ketika aku bertanya referensi tentang suatu topik yang harus kutulis dalam makalah, beliau dengan sigap beralih ke koleksi buku-bukunya sembari mengatakan, “Oh itu, iya itu ada di buku ini.” Aku takjub, membuktikan seorang pembaca sejati yang bisa langsung konek dengan buku yang pernah dibacanya. Dengan segala keterbatasan teknologi, ketaktersediaan toko buku yang benar-benar lengkap di kota kami, tak membatasi ruang beliau untuk belajar. Tak hanya menyiapkan buku-buku sebagai aset generasi, juga pola pikir dan penanaman keimanan yang lahir dari kedalaman pengetahuan. Melihat diriku hari ini adalah tentang apa yang berusaha kedua orangtuaku wujudkan pada anak-anaknya.

Hal yang sama kutemukan dalam buku Prophetic Parenting: Cara Nabi Saw. Mendidik Anak karya Dr. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid dikatakan bahwa salah satu dukungan yang baik terhadap anak adalah mendukung anak untuk melakukan kebaikan, misalnya mendorong mereka untuk membeli buku-buku dan mewariskan kepadanya buku-buku yang kita miliki (hlm. 193). Maa syaa Allah, dan bukankah hari ini kita juga hidup dari kitab-kitab warisan para ulama? Dari pemikiran-pemikiran mereka?  Maka sama pentingnya untuk memahami pula apa yang bisa kita pelajari dari ulama dan para intelektual hari ini.

Lantas, jika kita hari ini hanya mengedepankan menjadi hits demi sebuah popularitas, sekadar mengikuti gaya kekinian tanpa menggali ilmu yang ada di dalamnya, dan lupa bahwa setiap diri kita... yang paling dasar, bertugas menyiapkan generasi selanjutnya, akan bagaimana kita di hadapan anak-anak kelak? Bagaimana menjelaskan semua peristiwa-peristiwa hari ini kelak jika kita tidak berusaha memahaminya sejak kita adalah bagian di dalamnya?

Padahal, salah satu tujuan pembentukan keluarga menurut Al-Qur’an adalah untuk melahirkan keturunan-keturunan yang baik (QS. Ash-Shaffat: 100-101, QS. Al-Furqan: 74). Jangan pernah menyerah oleh kegilaan-kegilaan yang terjadi hari ini, karena suatu saat di masa depan, anak-anak kita akan tumbuh dan dibesarkan oleh teknologi dan dunia yang lebih gila dari hari ini. Sudah selayaknya bagi kita hari ini untuk terus belajar, mengkaji, memahami, agar kelak lahir generasi-generasi yang beriman, tangguh, dan penuh budi pekerti; mencintai agama, nusa, dan bangsanya.

Anak-anakku, semoga kelak kalian demikian. :’)

Dirgahayu Republik Indonesia ke-73, aku merenung banyak di peringatan kemerdekaanmu hari ini. Aku barangkali bukan warga negara yang bisa memberikan banyak hal dibanding dengan apa yang telah engkau berikan kepadaku; tapi kelak, akan ada anak-anak bangsa yang jauh lebih bisa memahamimu dibanding aku hari ini. :')


Minggu, 18 Februari 2018

Wasiat dari Syaikh dan Sedikit tentang Perempuan



Selain sebagai teman berantem lempar-lemparan sandal, rebutan remote televisi, rebutan jatah makanan dari Bapak kalau beliau pulang dari suatu acara atau pengajian, salah satu hikmahnya punya adik laki-laki yang usianya tidak beda jauh denganku adalah aku bisa belajar banyak darinya.

Dari percakapan-percakapan dengannya, aku bisa mengetahui beberapa hal terkait perempuan dalam pandangan laki-laki. Seperti beberapa hari lalu setelah aku mengintip WA Stories miliknya. Dari fotonya itu aku melihat ia berdiri di depan salah seorang syaikh yang terlihat sedang menandatangani sebuah buku. Aku chat dia.

Ngengken ne cuy? Ngedeh ttd o? (Ngapain nih cuy? Minta ttd ya?)” tanyaku.

“Pastilah... Minta ttd sama ulama, bukan sama artis.”

Jleb. 

“Haha, mantaaap djiwa. Trus apa tuh kata-kata yang ditulisin beliau?” 

“Itu yang ada di status.”

“Evi gak bisa baca Arab gundul (baca: tanpa harakat).”

“Nasihat takwa, sama nasihat untuk ghodul bashor (menundukkan pandangan).”

“Ih, kok bisa pas gitu nasihatnya? Wkwk~”

“Soalnya beliau sangat memahami godaan para pemuda, wkwkwk. Di bookfair banyak akhwat." 

“Nah, nah, jangan curi-curi kesempatan sekalipun cuma bayangan di bookfair.”

“Ya Allaah, godaan itu berat. Nggak cuma di bookfair, di bus juga kadang.”

“Nunduk dooong~” 

“Ya merekanya sih tertutup. Matanya aja yang kelihatan, tapi berias (dandan).” 

Jadi barangkali memang sangat pas, ketika diwasiatkan kepada adikku kalimat ini oleh Syaikh Wahid Abdussalam Bali (yang kudengar dari adikku merupakan salah satu ulama dan penulis terkenal di Mesir):




Bisa baca nggak? Kalo nggak, berarti kita sama, hehehe. Ini nih, ditulisin adikku:


أُوْصِي نَفْسِي وَ إِيَّاكَ بِحِفْظِ اللِسَانِ، وَ غَضِ البَصَرِ، وَ مُرَاقَبَةِ اللهِ، الفَقِير اِلَى الله، وَاحِيد بَاليِ ٩ ١٤٣ه

“Aku mewasiatkan kepada diriku dan kepadamu untuk menjaga lisan, menundukkan pandangan, dan mendekatkan diri kepada Allah.” --Wahid Bali, 1439 H

Maa syaa Allah, wasiat yang luar biasa. Baarakallaahu fiikum Syaikh. Semoga selalu menjadi pengingat bagi adikku, bagiku, dan bagi siapa pun yang membaca ini. kembali ke soal percakapanku dengan adikku, barangkali kelihatannya itu hanya percakapan biasa. Tetapi bagiku, percakapan itu memiliki makna yang sangat dalam, juga menjadi sebuah peringatan keras. Tentang bagaimana seorang perempuan seharusnya menempatkan dirinya ketika berada di luar rumah. Tentang bagaimana seharusnya laki-laki mengambil alih dunianya ketika dihadapkan pada sesuatu yang bukan seharusnya ia pandang.

Dear akhawaat, kalau kamu mengatakan bahwa perintah menundukkan pandangan itu hanya untuk laki-laki saja, maka kamu salah. Ketahuilah bahwa di samping laki-laki (QS. An-Nur: 30), perempuan juga dihadapkan pada perintah yang sama terkait menundukkan pandangan itu (QS. An-Nur: 31). Bahkan untuk perempuan lebih detail lagi daripada itu. Menjaga auratnya kecuali yang biasa tampak, mengulurkan jilbabnya, juga menjauhkan diri dari segala perasaan ‘ingin dilihat’ oleh yang bukan mahram. 

Sampai di situ kemudian timbul pertanyaan, kenapa sih Islam ngekang kita banget sebagai perempuan? || Ya nggak laaah, kamunya aja yang suka gagal paham. :p Makanya jangan lebih suka kepoin artis daripada kepoin Ustadz/Ustadzah yang luar biasa ilmunya. :p

Permasalahan yang katanya Islam terlalu mengekang perempuan ini bahkan telah selesai jauuuuh sebelum kita-kita ini dilahirkan. Buktinya? Ini nih, aku pernah membaca hadits ini di buku Prophetic Parenting: Cara Nabi Saw. Mendidik Anak karya Dr. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid yang best seller itu. Sekalian saja yaa kukutip persis hadits-nya di sini karena menurutku hadits ini lua biasa sekali. Diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab Shahih-nya.

Dari Asma’ binti Yazid Ibnus Sakan ra. bahwasanya ia datang menghadap Nabi saw. yang saat itu berada di tengah-tengah para Sahabat. Dia (Asma’) katakan, “Sesungguhnya aku adalah utusan kaum wanita kepadamu. Tidak ada seorang wanita pun melainkan berkata seperti perkataanku dan berpendapat seperti pendapatku, bahwasanya Allah swt. telah mengutusmu membawa kebenaran kepada kaum laki-laki dan wanita. Kami beriman kepadamu dan mengikutimu.

Sesungguhnya kami, kaum wanita, terkurung dan terkungkung di rumah-rumah kalian, menjadi pemuas syahwat kalian dan anak-anak kalian. Sementara, kalian wahai kaum laki-laki, diberi kelebihan atas kami dengan shalat Jumat, shalat jenazah, dan jihad di jalan Allah. Apabila kalian pergi berjihad, kamilah yang menjaga harta kalian dan mendidik anak-anak kalian. Maka, amalan apa (yang dapat kami lakukan) sehingga kami mendapatkan pahala seperti pahala kalian, wahai Rasulullah?”

Rasulullah saw. berpaling ke arah para Sahabat kemudian bertanya, “Pernahkah kalian mendengar perkataan seorang wanita yang lebih baik dari pertanyaan wanita ini tentang perkara agamanya?” Mereka menjawab, “Tidak, wahai Rasulullah.” Rasulullah saw. bersabda, “Pergilah wahai Asma’ dan sampaikanlah kepada para wanita yang mengutusmu, bahwasanya pelayanan yang baik dari salah seorang di antara kalian kepada suaminya, mencari keridaannya, dan mengharap kepuasannya, memiliki pahala yang sama dengan yang engkau sebutkan.”

Maa syaa Allah~ bagian mana coba yang kelihatannya nggak baik untuk perempuan? Bahkan aktivitasnya di rumah saja pahalanya bisa sedemikian. Justru itu adalah bentuk penjagaan Islam untuk perempuan. Bukankah perempuan shalihah itu adalah perhiasan dunia?

Kalau di media sosial gimana? Kalo nggak ikutan update gitu, ntar jadi kuno dong~

Nah, coba deh kalian kepoin Youtube-nya Hijab Alila. Aku pernah lihat tim mereka bahas tentang #WanitaBersosmed (ini PR juga buatku karena aku belum nonton secara lengkap, hehe).

Hm, sejauh yang kualami sih, di era media sosial ini hal itu menjadi sesuatu yang dilematis. Kita sebagai perempuan juga ingin menjaga diri, tapi ingin dakwah juga. Di dunia nyata, kita juga ingin berkontribusi untuk masyarakat. Karena di zaman yang kritis ini, aku pribadi, merasa bersalah jika mendiamkan semua yang kuketahui padahal itu adalah sebuah kebaikan. Sekarang hanya masalah eksekusinya yang bagaimana, iya kan? 

Lalu, bagaimanapun aku akan selalu berusaha mengingat kata-kata Ustadz Bachtiar Nasir yang dalam kajian Tadabbur Al-Qur’an tentang kisah Maryam Ibunda Nabi Isa as., yang sangat taat beribadah di mihrab dan menjaga kesuciannya, kemudian Allah menurunkan untuknya makanan dari langit. Dari situ kita mendapat pelajaran bahwa, perempuan sejatinya bisa memperoleh rezeki dengan menyucikan dirinya. Dan itu juga yang menjadi salah satu sebab kewajiban mencari nafkah ada pada laki-laki, karena perempuan bisa mendapatkan rezekinya di rumah dengan menyucikan dirinya. Maa syaa Allah. Tapi ini bukan berarti perempuan tidak boleh bekerja loh ya, perempuan boleh bekerja selama itu baik bagi dirinya, tidak banyak mudharatnya, seizin suaminya kalau sudah menikah, dan yang paling penting tetap harus menjaga kesuciannya.

Maa  syaa Allah, memang Allah menciptakan perempuan dan laki-laki itu untuk saling melengkapi. Dan hukum-hukum-Nya disesuaikan dengan fitrah mereka. Nah, trus kalo LGBT, siapa melengkapi, siapa yang dilengkapi ya? Uhm, tapi sejujurnya yang lebih parah sih pendukungnya.

Sekian~ ^^