Pages

Jumat, 30 Januari 2015

Past & Present: Books I Have Read in 2014 & Holiday, Book Marathon

I owe the picture here
Alhamdulillaah, liburan semester ini akhirnya tiba. Dibanding dua semester sebelumnya, semester tiga memang jauh lebih terasa perjuangannya. Tugas-tugas makin numpuk dan nggak ada berhenti-berhentinya, jadwal padat, dan segala macamnya. Tapi alhamdulillah, berkat pertolongan Allah semuanya bisa dilewati dengan mudah, bisa diatasi satu persatu, meski untuk beberapa hal ada yang selalu harus dikorbankan.

Iya, terkadang kita dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit; yang seringkali memaksa kita untuk memilih salah satu di antaranya. Dengan memilih salah satu, berarti ada yang lainnya yang harus dikorbankan. Mau tidak mau, kita harus benar-benar bijak dalam mengambil keputusan; mempertimbangkan segala sesuatunya terlebih dahulu. Repot juga kalau kita memaksa untuk mendapatkan dua-duanya, tapi ujung-ujungnya malah nggak maksimal.

Meskipun begitu, semester tiga yang ‘membara’ ini banyak memberikan hal-hal baru bagiku. Mulai dari menjaga kekompakan dengan teman-teman sekelas, teman-teman serumah yang menularkan semangat perubahan untuk menjadi pribadi yang lebih baik, juga tugas-tugas dari dosen yang meskipun menguras energi tetapi tetap memberi manfaat dan pelajaran tersendiri. Sebut saja tugas akhir pagelaran drama, yang membuat persahabatan antaranak sekelas menjai semakin erat; tugas Patologi Sosial yang menyeretku untuk mengunjungi Lembaga Sosial Hafara dan mencari tahu latar belakang anak jalanan yang ada di sana; tugas observasi kegiatan dakwah di lingkungan sekitar untuk mata kuliah Sosiologi Dakwah, dan yang terakhir observasi Masjid Pathok Negara untuk mata kuliah Sejarah Dakwah yang menurutku sangat asyik karena begitu turun ke lapangan kami justru seperti sedang melakukan wisata sejarah.

Di masa sibuk itu, hanya sedikit waktu untuk membaca. Waktu senggang lebih banyak diisi untuk mengerjakan tugas, baik tugas kuliah maupun tugas lainnya. Seringkali waktu untuk membaca hanya tersisa sesaat sebelum tidur (itu pun kalau tidak dalam kondisi benar-benar lelah), setelah shubuh, atau waktu-waktu lainnya yang sengaja kupakai karena terlalu jenuh berpikir tentang tugas dan segala hal yang lain. Pada akhirnya, untuk menyelesaikan satu buku saja kadang membutuhkan waktu satu bulan. Dan yah, aku menghabiskan waktu satu bulan untuk membaca novel Bulan Terbelah di Langit Amerika. Di satu sisi, bersyukur juga sih, di sela-sela kesibukan itu alhamdulillaah masih bisa meluangkan waktu untuk membaca. Life is boring without reading. Hehe.

Dan inilah daftar buku-buku yang kubaca sepanjang tahun 2014, mulai dari Januari sampai Desember:

1. The Hunger Games by Suzanne Collins
2. Rembulan Tenggelam di Wajahmu by Tere Liye
3. 4 Ways to Get A Wife by Hyun Go Wun
4. Last Minutes in Manhattan by Yoana Dianika
5. Roma: Con Amore by Robin Wijaya
6. Swiss: Little Snow in Zurich by Alvi Syahrin
7. 7 Laws of Happiness by Arvan Pradiansyah
8. Astravalor Princess by Putu Felisia
9. 99 Cahaya di Langit Eropa by Hanum Salsabiela Rais & Rangga Almahendra
10. Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin by Tere Liye
11. The Catching Fire (The Hunger Games #2) by Suzanne Collins
12. Got Married by Cho Park Ha
13. Marginalia by Dyah Rinni
14. Sukreni Gadis Bali by A. A. Panji Tisna 
15. Udah Putusin Aja! by Felix Y. Siauw
16. Mengejar Angin (The Masterpieces; Antology of Tidar Fiction Festival 2014)
17. Hijabers in Love by Oka Aurora
18. Bulan Terbelah di Langit Amerika by Hanum Salsabiela Rais & Rangga Almahendra
19. Rantau 1 Muara by A. Fuadi
20. Tomodachi by Winna Efendi
21. Hijab Love Stories by FSLDK Indonesia

Selain buku-buku di atas, masih ada buku-buku lain, hanya saja aku merasa tidak bisa mencantumkannya dalam list karena tidak membacanya sampai selesai. Misalnya saja Sepotong Hati yang Baru dan Berjuta Rasanya dari Tere Liye, Rintihan dari Lembah Lebanon-nya Taufiqurrahman Al Azizy, Melukis Pelangi (atau Sejuta Pelangi ya? Lupa, hehe) dari Oki Setiana Dewi, buku-buku kuliah yang hanya dibaca di bab-bab tertentu, dan lain-lain.
Sebagian besar memang fiksi, berupa novel, hehe. Sedangkan fiksi yang bukan novel hanya ada Mengejar Angin, antologi yang memuat cerpenku dan teman-teman yang masuk dalam 20 besar Lomba Cerpen Tidar Fiction Festival (Tiffest), Universitas Negeri Tidar Magelang. Dari sekian banyak fiksi, ada juga beberapa yang nonfiksi, di antaranya Udah Putusin Aja!-nya Felix Y. Siauw, 7 Laws of Happiness dari Arvan Pradiansyah (baca buku ini untuk bahan revisi tugas, recommended), dan Hijab Love Stories dari FSLDK Indonesia. Ketiga buku nonfiksi ini wajib banget buat dibaca, keren asli, hehe). Karena tahun 2014 berhasil menyelesaikan 21 buku, tahun ini aku berharap lebih. Selain itu, semoga bisa banyak menulis juga. Aamiin. :^)

Oke, balik lagi ke awal, soal liburan tadi. Jauh-jauh hari sebelum liburan tiba, aku sudah menyiapkan rencana. Pengalaman dari liburan semester-semester sebelumnya, aku justru lebih banyak di rumah. Melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah, mengobrol dengan orangtua dan keluarga, dan selebihnya adalah membaca. Kalau bosan, aku menyelinginya dengan menonton film, internetan, dan lain-lain. Sesekali silaturrahim, atau ke pantai bersama keluarga (hal yang wajib setiap liburan).

Yah, jangankan orang lain, Ibu saja sampai heran melihat aku betah berlama-lama tidak keluar rumah, hehe. Bukan apa-apa, sejak SMA pun sudah seperti itu keadaannya. Justru semenjak kuliah ini, intensitas pertemuan dengan teman berkurang drastis. Masing-masing memiliki kesibukan sendiri. Sebenarnya ingin mengajar juga sih, cuman nggak tahu juga di mana. Tadinya mau pura-pura ikut ke sekolah tempat Bapak mengajar, tapi baru ingat kalau beliau sudah pensiun. Dan terakhir mendapat tawaran yang sebenarnya adalah sebuah tantangan, tetapi masih ragu juga antara iya dan tidak.

Nah, belajar dari pengalaman itu, aku pun menabung demi mengejar diskon besar-besaran dan pameran buku yang biasanya ada setiap akhir tahun. Buku-buku yang kubeli tersebutlah yang akhirnya menjadi bekalku selama liburan. Selain itu, aku juga ‘menjarah’ buku-buku milik temanku, hehe. Ah, semoga kebaikan hati kalian dihitung pahala di sisi-Nya, aamiin. Jadilah aku pulang dengan membawa 6 buku yang dua di antaranya adalah milikku, yaitu: Heartsease by Ghyna Amanda Putri (dipinjamkan Dandy), Jomblo Sebelum Nikah-nya Ahmad Rifai Rif’an pinjaman dari Hana, Melbourne: Rewind by Winna Efendi dari Fauzi, Salon Kepribadian Muslimah dari Asma Nadia yang dipinjamkan Tuti, dan milikku: Api Tauhid karya Habiburrahman El Shirazy dan Beyond the Inspiration tulisan Ustadz Felix Y. Siauw. Seminggu di rumah, alhamdulillaah sudah tiga buku terselesaikan.

Dari membaca, banyak sekali hal-hal yang sebelumnya tidak kuketahui aku jadi tahu. Membaca juga membuatku lebih kuat. Disadari atau tidak disadari, aku banyak belajar dari tokoh-tokoh dalam novel tentang bagaimana menghargai hidup, kerasnya hidup, dan bertahan serta pelan-pelan menyelesaikannya. Buku-buku nonfiksi lebih banyak memotivasi, memberikan arahan, dan seringkali  ‘menampar’ ketika tahu bahwa apa yang selama ini aku lakukan ternyata salah.

Well, jadilah aku bertekad untuk mengisi liburan ini dengan book marathon, atau anggap saja begitu. Untuk ke depannya, aku ingin lebih banyak membaca nonfiksi, terutama buku-buku motivasi, pengetahuan, dan tentu saja buku-buku agama. Aku juga berharap bisa konsisten menulis, paling tidak dimulai dengan menulis review dari buku-buku yang kubaca atau apa pun yang ingin kubagi di blog. Ah, semoga Allah memudahkan semuanya. Aamiin. 

Senin, 19 Januari 2015

[Book Review] Sepatu Dahlan: Visualisasi Jejak Masa Kecil Dahlan Iskan

taken from Goodreads
Judul: Sepatu Dahlan (Trilogi Novel Inspirasi Dahlan Iskan)
Penulis: Khrisna Pabichara
Penerbit: Noura Books
Terbit: Cetakan XII, Maret 2014
Tebal: 392 halaman
ISBN: 978-602-9498-24-0




“Hidup, bagi orang miskin, harus dijalani apa adanya.”
--halaman 322


Novel Sepatu Dahlan kutemukan secara tak sengaja di deretan rak sastra perpustakaan fakultas. Aku tahu novel ini sejak lama, tapi tak tahu kalau di dalamnya terkisah sebuah perjalanan hidup seorang tokoh sampai seseorang mengatakan kepadaku tentang buku ini. Karenanya, aku memutuskan untuk meminjam lalu membacanya di sela tugas-tugas ujian akhir.

Novel yang menggambarkan kisah perjalanan hidup Dahlan Iskan ini dibuka dengan cerita 18 jam kematian yang dialami Dahlan Iskan ketika harus menjalani operasi pencangkokan liver dan ditutup pula dengan mimpi baru setelah sukses menjalani operasi. Di bab-bab pertengahan kemudian diceritakan bagaimana Dahlan kecil dan keluarganya berjuang menghadapi hidupnya di tengah-tengah kemiskinan yang mendera. Iskan sendiri sebenarnya adalah nama dari sang ayah, yang kemudian menjadi nama belakang dari tokoh ini.

Dahlan kecil hidup dan tumbuh layaknya manusia biasa. Pada akhir ia menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat, dua angka merah bertengger di ijazahnya. Hal itu lantas membuat ayahnya kecewa. Dahlan yang berniat melanjutkan sekolah di SMP Magetan yang pada waktu itu amat terkenal harus mengubur impiannya dan mengikuti perintah ayahnya untuk menempuh pendidikan di Pesantren Sabilil Muttaqien di wilayah Takeran yang berkilo-kilo meter jauhnya dari rumah.

Di Pesantren Sabilil Muttaqien ia kembali bertemu Kadir, kawan seperjuangannya di Sekolah Rakyat. Selain itu ia juga memiliki tema-teman baru seperti Arif dan Imran yang hidupnya berkecukupan. Di sela-sela kesibukannya bersekolah, Dahlan, seperti anak-anak kampung lainnya juga bekerja untuk menyambung hidup. Tak hanya ngangon (menggembala) domba bersama adiknya, Zain, ia juga ikut nguli nyeset di ladang tebu di daerah itu serta menjadi pelatih tim voli anak-anak juragan tebu. Impiannya sederhana, memiliki sepatu dan sepeda.

Ayah Dahlan adalah seorang petani, yang sehari-harinya juga bisa mengambil pekerjaan apa saja untuk menghidupi keluarganya. Ibunya ikut menyokong biaya hidup keluarga dengan membatik. Sementara Dahlan dan adiknya tinggal bersama kedua orangtuanya, kedua kakak perempuannya merantau kuliah dan bekerja di kota. Dahlan dan keluarganya tak akrab dengan beras yang ditanak, tiwul lebih bersahabat dengan mereka. Tak jarang Dahlan dan adiknya menanggung perih rasa lapar, terutama ketika ibunya telah tiada.

Berlatar Kampung Kebon Dalem yang sepi dan jauh di pelosok, Dahlan kecil berusaha menaklukkan impian sederhanya untuk memiliki sepatu dan sepeda. Meski demikian, impian untuk memiliki sepeda tak setinggi impiannya untuk memiliki sepatu. Dengan memiliki sepatu, ia tak perlu menahan perih karena kakinya yang lecet-lecet berjalan berkilo-kilo meter ke sekolah. Dengan memiliki sepatu, ia bisa tampil sebagai kapten tim voli dalam pertandingan final voli melawan SMP Magetan yang dengan bangga semua pemainnya mengenakan sepatu dan kaos tim.

Novel ini begitu menguras emosi. Mengharukan di setiap bagiannya. Bagi kebanyakan orang, memiliki sepatu bukanlah sebuah impian, karena kita mampu mendapatkannya dengan mudah. Tapi bagi Dahlan kecil yang hidupnya untuk sesuap tiwul saja teramat susah, memilikinya perlu perjuangan yang amat keras. Sepatu pertamanya adalah sepatu bekas yang baru dimilikinya ketika kelas 3 SMA setelah sebelumnya ia menggunakan sepatu bekas pinjaman ketika pertandingan final voli yang ujungnya menampakkan jempol dan dipenuhi serabut karena saking rusaknya. Lalu, kapan kita pertama kali mengenakan sepatu? Ah, mungkin ketika dalam gendongan Ibu pun kita sudah bersepatu. :’)

Tidak seperti aku yang harus nyabit setiap pagi, domba Kadir belum terlalu banyak, jadi rumput yang dia sabit sore hari masih cukup hingga dia pulang sekolah. Ketika menuduk, menatap sepasang kakinya, ternyata Kadir masih senasib denganku. Nyeker. Tidak memakai sepatu. Merasa dipandagi sedemikian rupa, Kadir ikut menunduk. Sesaat kami berpandangan, lalu tertawa.

“Masih belum pake sepatu juga to ....”

“Duit dari mana,”sahut Kadir. “Yang belajar kan kita, bukan sepatu.”

Kami tertawa, menertawakan diri sendiri.

Kadir menunduk dan mengamati kakiku. “Kamu juga nyeker?”

“Suatu saat nanti, aku pasti punya sepatu.”

“Aku juga!”
Dialog Dahlan dan Kadir di hari pertama mereka belajar di Pesantren Sabilil Muttaqien, halaman 54

Selain mengaharukan di setiap bagiannya, novel ini juga tak lupa menghadirkan unsur kedaerahannya yang kental lewat perilaku-perilaku yang diperankan oleh setiap tokoh. Latar tahun 60-an digambarkan secara komplit dengan mengangkat tragedi Madiun dan Purwodadi, menggambarkan kekacauan yang terjadi di Indonesia pada masa itu.

Banyak pesan moral yang disisipkan dalam novel ini. Melalui karakter Dahlan kita diajarkan untuk tak pernah putus asa dan harus berjuang keras dalam meraih sebuah impian, tak peduli impian itu sebenarnya hanya sebuah keinginan yang sederhana. Di samping impian yang sederhana, ada sesuatu yang juga perlu diperjuangkan: cita-cita. Sosok Zain begitu menginspirasi kita untuk lebih sabar dalam menjalani hidup di tengah-tengah kemiskinan yang mencekik perut. Sosok Ibu yang yang murah hati, berusaha membesarkan harapan anak-anaknya untuk terus berjuang meraih apa yang mereka inginkan. Sosok Bapak, ah sosok pendiam ini tak kalah hebatnya dengan anak-anak dan istrinya. Dari pendidikan beliaulah tumbuh anak-anak yang mampu bertahan di tengah keputusasaan. Sosok Kiai Irsjad hadir dengan dua kata pamungkasnya: tawadhu dan tawakal. Sementara itu, yang tak kalah menginspirasinya adalah nasihat lembut dari Kakak Dahlan, "Kita boleh miskin harta, Dik, tapi kita ndak boleh miskin iman. Ingat, semiskin apa pun kita, Bapak dan Ibu ndak rela kalau kita meminta-minta belas kasihan tetangga, keluarga, atau siapa saja. Kita harus kuat, harus bisa menolong diri sendiri."

Well, it’s a must read. Gaya penceritaan penulis yang mengalir sangat asyik dan tidak membosankan untuk dibaca. Gara-gara membaca novel ini, aku jadi tertarik untuk menelusuri lagi kisah hidup Dahlan Iskan. :’)


Kamis, 01 Januari 2015

Behind the Scene: Drama “Pancasan” by KaKaI Bi


Dedicated for KaKaI Bi...

Oke, aku hanya ingin mengabadikan sekeping kenangan yang baru saja kita ukir lewat sebuah pertunjukan. Drama. Masih ingat bagaimana kita mempersiapkan semuanya dari awal? Semuanya melalui proses dan perjuangan yang panjang, tentu saja. And, here is it~

Ya, semua proses itu dimulai dari sebuah forum kelas. Menantang hujan deras dan bahkan tak peduli jika itu hari libur, kami sama-sama menepati janji untuk datang dan berkumpul bersama di Sportorium untuk membahas segala hal tentang kelas. Di akhir forum, tercetuslah pembahasan mengenai drama.

“Iya, aku mikir dari kemarin-kemarin. Kenapa kita belum ada pembahasan sama sekali ya tentang drama?” Begitulah ucapan Sulis yang kudengar kala itu.

Ketua kelas kami, Syaiful, pun menawarkan pada forum siapa yang mau menjadi konseptor. Beberapa orang menawarkan diri, di antaranya Sulis, Arif, dan Mbak Rosmania. Dan aku adalah orang terakhir yang menawarkan diri bergabung dalam tim konseptor tersebut.

Pertemuan pertama antarkonseptor tepat pada hari Senin, di tanggal 15 Desember 2014. Saat itu Mbak Ros mengajakku untuk bertemu di perpustakaan bersama Sulis sambil menunggu Arif yang hari itu jadwal siaran radio. Sebelumnya aku dan Mbak Ros sempat membahas konsep yang yang ditawarkan Mbak Ros dengan sisipan unsur konselingnya. Pertemuan siang itu terpaksa gagal mengingat jadwal siaran Arif yang ternyata tak sesuai dengan rencana kumpul kami.

Selepas kuliah sore, kami akhirnya berkumpul berempat. Sulis menawarkan konsep kerajaan ditambah dengan sisipan unsur konseling yang tadi siang telah dibahasnya berdua dengan Mbak Ros. Kami memberikan usul satu sama lain dan terciptalah konsep cerita yang utuh. Masalah dana? Ya, setelah melalui pertimbangan yang matang, kami pun berhasil menentukan nominal yang harus dikeluarkan setiap orang demi terselenggaranya acara tersebut. Keesokan harinya di waktu yang sama, kami kembali berkumpul. Kali ini bersama ketua kelas dan Inggita, yang kami percaya untuk menanggungjawabi soal lighting. Hari itu tim konseptor berbagi tugas, Sulis menjadi koordinator dekorasi, Mbak Ros menulis naskah skenario, Arif sutradara, dan aku mengurusi bagian keuangan serta mendapat PR dari Mbak Ros untuk menulis puisi yang akan dibacakan sewaktu pertunjukan.

Setelah kuliah, kami pun mengadakan sosialisasi ke teman-teman sekelas dibarengi dengan pembagian naskah yang dikerjakan Mbak Ros dalam waktu semalam. Casting dipandu oleh sutradara yang didampingi Fitri. Dilihat dari berbagai kriteria yang telah ditentukan oleh konseptor dengan mengacu pada karakter tokoh dalam cerita, terpilihlah pemeran-pemerannya. Setelah terpilih pemeran-pemerannya, barulah kita memutuskan siapa-siapa yang menjadi tim dekorasi dan properti, paduan suara, pembaca puisi, pewejang akhir, dan dokumentator serta operator.

Latihan pertama dimulai hari Kamis, 18 Desember 2014. Tiap pemeran dipandu sutradara untuk melafalkan dan melakukan penjiwaan terhadap dialognya sendiri dengan benar. Meskipun kami memutuskan untuk menggunakan dubbing, tapi penjiwaan dan pelafalan dialog tetaplah harus dilakukan untuk memudahkan proses rekaman. Saat itu tim konseptor dan semua anak bertanggung jawab atas tugasnya masing-masing. Arif dan Mbak Ros memandu pemain, Sulis dan anggota tim dekorasinya merancang konsep dekor, dan aku mengurus soal keuangan sembari membantu melatih Ega membaca puisi. Di sisi lain, tim penari juga sedang berlatih.

Latihan dilakukan hampir setiap hari jika ada waktu senggang. Keesokan harinya, Arif membagikan pada kami naskah skenario yng kini dilengkapi dengan detail adegan untuk pentas, timing, dan lighting untuk setiap adegan, semuanya dipetakan. Beberapa hari kemudian, kami pun rekaman dan tim dekor mulai membuat properti yang akan digunakan untuk pentas.

Kerja pertama tim dekor adalah membuat tiang-tiang gapura untuk pendopo kerajaan. Tim dekor yang terdiri dari Sulis, Fitria Kie, Oche, Candra, dan Fendi berkumpul dan berbagi tugas. Candra membeli bahan dan alat, sementara Oche dan Fendi memotong dan mengecat gabus yang telah dibentuk dan akan dirangkai menjadi tiang gapura. Aku yang sedari awal melihat kerja tim dekor menganggap mereka kompak sekali. Satu sama lain saling berbagi tugas, kadang jadwal mereka berbenturan dan salah satu tidak bisa hadir. Tetapi, tanpa direncanakan mereka melakukan kerja shift. Pada saat salah seorang ada waktu senggang, maka ialah yang mengambil posisi kerja di waktu itu. Di sisi lain juga mereka tak jarang berkumpul dan bekerja bersama. 

Kerja tim dekor: Oche lagi serius tuh~
Di sela-sela kerja, Sulis mengutarakan idenya padaku, “Aku pengen loh kita itu kayak benar-benar jadi EO. Kita tunjukkan ke penonton, ini loh KaKaI Bi punya acara. Ini loh suguhan drama dari kita. Jadi drama ini bukan hanya karena ada tugas akhir, tapi memang benar-benar kita punya pertunjukan yang dipersembahkan untuk penonton dan di sana kita jadi EO-nya.” Aku hanya mengiyakan, belum paham apa yang dimaksud Sulis sampai ia memberikan gambaran, “Nah, ntar kita bikin co-card buat kru, trus tamu undangan kita kasih snack.”

Yay! Keren sekali membayangkan kami bisa merealisasikan semua itu. This is us. KaKaI Bi. Kita punya pertunjukan. Ini drama kita. Kita EO di sini. Kata-kata itu asli nampol banget. Lagi pula, dari awal sutradara bilang kalau kita jangan terpaku pada kata tugas akhir, tapi benar-benar kita curahkan semuanya karena kita bermaksud mempersembahkan yang terbaik untuk penonton.

Latihan, latihan, latihan. Aku nggak tahu apa yang dirasakan pemain saat itu. Setiap hari mereka harus latihan. Berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain. Pada awalnya basecamp kami adalah Sportorium, tapi akhirnya berpindah-pindah sampai akhirnya ketika gladi kotor kami latihan di Gedung Student Center. Saat itu hari Sabtu. H-2 kami tampil. Di latihan terakhir hari itu, sutradara meminta pemain untuk mengenakan kostum masing-masing untuk proses simulasi, terutama penari, untuk menghindari hal-hal kecil yang menganggu saat pentas nanti. Oh iya, masalah kostum, tim wardrobe alhamdulillah punya link-link tersendiri yang membuat tampilan kami kece badai, hehe. Bahkan ketua kelas dan sutradara jauh-jauh pergi ke Magelang fitting kostum untuk pemain.

Tim penari minus Kinanti plus Panglima Prajurit

Tim paduan suara lagi latihan nih~
 Selain proses latihan, terjadi keseruan juga pada proses take video untuk adegan kesepuluh yang berupa flashback saat Ratu dan Raja memutuskan untuk membuang bayi Kinanti. Kami mengambil lokasi di daerah Mranggen. Kebetulan ada spot-spot yang sangat cocok untuk adegan di video tersebut. Taman kerajaan. Bukit. Hutan. Semuanya berada dalam jangkauan. Di akhir take untuk adegan pertama, aku iseng bertanya pada sutradara, “Rif, kamu kok bisa tau ada spot yang pas banget buat taman kerajaan gini sih?” Jawabnya, “Hehe, iya soalnya kadang kalo aku liat tempat itu pasti aku selalu simpen di otak trus kepikiran ooh kayaknya ini bagus buat adegan ini, ini, ini, kalo pas bikin film.” Aku manggut-manggut.

Sebelum take video, narsis dulu bareng Ibunda Ratu dan Ibu Angkat Kinanti, hehe~
Keseruan-keseruan itu selain dipicu oleh take satu adegan yang jatuhnya bisa beberapa kali, kami juga dilihat oleh orang-orang sekitar yang terpana sambil bertanya-tanya karena kami menggunakan kostum kerajaan di lokasi take video yang notabene sebagian besar adalah bukit dan hutan. 
Usai take adegan 2
“Mereka benar-benar profesional tau. Udah pada dandan semua buat take video pake kostum masing-masing. Makanya Syaiful nggak bisa ke sini buat tanda tangan suratnya,” lapor Fitri di siang menjelang sore itu sesaat setelah ia kembali. Ya, aku memintanya mencari tanda tangan Syaiful untuk surat peminjaman kursi ruang sidang yang akan kami ajukan. Begitu surat lengkap dengan tanda tangan, kami pun naik ke lantai satu. Namun sayang, ternyata kami terlambat karena kantor TU sudah tutup. Pada saat yang sama di tempat yang berbeda, tim dekor tengah bekerja. Mereka membuat kotak amal, pedang, tameng, dan lain-lain. Bahkan khusus tim dekor perempuan sampai menginap di satu rumah untuk menyelesaikan pekerjaan karena banyaknya properti yang kami butuhkan.

Di hari Sabtu saat pemain dan tim paduan suara latihan di SC, Fitri yang merupakan anggota tim dekor dan merangkap humas mencoba mengajukan surat peminjaman Ruang Mini Teater PPB yang nanti akan kami gunakan pentas untuk simulasi latihan sekaligus gladi bersih sebelum pentas. Tapi lagi-lagi semuanya di luar rencana karena pada hari Minggu ruangan tersebut akan digunakan untuk acara.

Sore harinya, sutradara dan Inggita ditemani aku dan Lina meluncur ke Ruang Mini Teater tersebut untuk memastikan segalanya, mulai dari sound system, lighting, panggung, sampai kondisi backstage. Kami memutuskan untuk menyewa sound system dengan patungan antarkelas karena sound system yang ada di sana ternyata tidak memuaskan.

Keesokan harinya, kami pun latihan mengambil tempat di lantai 1 Gedung D setelah pindah dari markas kami sebelumnya di lantai 2 Gedung Student Center. Beruntung saat kami datang kemarin kami sudah melobi satpam untuk diizinkan menggunakan ruangan tersebut untuk gladi. And there we are, kami satu kelas berkumpul di latihan terakhir itu. Tim pemain yang menggunakan kostum masing-masing, tim paduan suara, dan tim dekorasi dan properti.  Saat itu juga tim dekorasi di-briefing sutradara dan melakukan simulasi untuk properti tiap adegan. Sementara itu, koordinator dekorasi dan properti memetakan lokasi properti yang akan diletakkan sesuai dengan tata letak panggung. 


Tim paduan suara: "Hutan, gunung, sawah, laautaan ..."
Scene terakhir gladi kotor: Eh, ada Mas Sutradara (baju putih kiri) :D

Usai latihan, kami duduk berkumpul di lobi Gedung D lantai bawah. Mendengarkan sutradara memberikan arahan, pancaran semangat dan motivasi, serta ingatan akan kerja keras kami selama ini untuk pagelaran tersebut.

“Kawan-kawan, selama ini kita sudah bekerja keras untuk acara ini. Aku tahu, tidak semua dari kalian memiliki jiwa seni dan menganggap ini adalah sebuah tanggungjawab lalu selesai. Hal itu juga yang mungkin membuat kita sering molor dalam hal waktu latihan. Aku sangat mengerti itu. Tapi, kawan, kita sudah berbagi tugas. Dan di sini aku bertanggungjawab atas kalian. Maaf kalau selama ini aku terkesan otoriter atau terlalu mengatur kalian, karena pada saat itulah aku menjalankan tugasku. Jadi, ketika pentas nanti, tampillah dengan legowo, dengan ikhlas, karena saat pagelaran nanti adalah puncak dari semua kerja keras kita selama ini.” Begitulan ungkapan sutradara kami. kami semua diam. Benar sekali, kami sudah bekerja keras dan saat pentas adalah puncak dari semua itu.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Sedari pagi, masing-masing tim sibuk dengan tanggungjawabnya masing-masing. Sejak pukul 6 kami sudah berkumpul. Tim dekorasi sibuk mendekor ruangan dan mempersiapkan semuanya, begitu juga tim pemain. 
 
Tim dekor sedang menyiapkan taman

Naaah, ini dia mini taman hasil karya tim dekor, ada air mancurnya loh~

Sebelum pentas, aku meminta sutradara untuk melakukan briefing terakhir bagi keseluruhan tim. Semua alat komunikasi termasuk jam tangan dikumpulkan dalam satu wadah agar tidak menganggu konsentrasi. Aku, Arif, dan Sulis berbagi tugas. Arif didampingi Fitri dari tim dekor berada di backstage, aku mengkondisikan penari yang akan muncul dari luar, dan Sulis mengkondisikan operator sound dan lighting di sisi kanan panggung. Selama pentas, antara sutradara dan tim operator saling berkoordinasi via telepon genggam untuk menghindari masalah teknis. Selaku koordinator lapangan ketika pentas, Sulis lah yang bertugas menginstruksikan operator dan lighting.

“Gimana, Rif? Aktor oke? Properti oke?” tanya Sulis.

“Oke, semua oke.”

“Oke. Sound lighting, ON!”

Begitulah secara teknis semuanya berjalan dari awal sampai akhir, termasuk pemberian jeda untuk setiap adegan. Baik operator maupun lighting, semuanya sudah di-briefing sejak awal. Meskipun begitu, kesalahan teknis sempat terjadi beberapa kali dan itu di luar kendali kami. Dan ini diaaa, operator sound dan lighting kita~


Dan ini Mas Imam, kru bagian dokumentasi kita

Oh ya, untuk konsep cerita, sesuai dengan yang kukatakan di awal, kami para konseptor menyatukan ide dan terbitlah sebuah konsep cerita yang utuh dengan judul “Pancasan” yang mengambil nama kerajaan dalam cerita kami.

Pancasan menceritakan tentang seorang penari bernama Kinanti yang tampil dengan tariannya pada saat pesta rakyat tahunan istana. Ratu terpukau dan menawari Kinanti untuk bergabung menjadi penari istana. Kinanti pun bersedia dan Ratu tak sedikit pun meninggalkan waktu latihan Kinanti. Penasaran, Ratu meminta Panglima Prajurit untuk mencari tahu tentang latar belakang Kinanti. Tak disangka, Kinanti merupakan anak pertama Raja dan Ratu yang dibuang sewaktu bayi karena syarat yang diberikan Ibu Suri untuk merestui Raja dan Ratu menikah adalah anak pertama harus laki-laki. Kinanti pun mengetahui hal itu dari pertengkaran yang ia dengar dari kamar Raja dan Ratu.

Penasihat Istana memberikan saran terhadap masalah tersebut. Namun, ia sendiri pun tidak sadar jika nasihatnya turut serta memberikan sumbangsih untuk malapetaka besar di wilayah kerajaan Pancasan. Sementara itu, saat dinobatkan menjadi Putri Kerajaan, Kinanti yang dalam hatinya diam-diam ingin melakukan balas dendam terhadap pihak kerajaan yang membuangnya sewaktu kecil pun melancarkan aksinya saat acara tersebut. Semua petinggi istana mati terbunuh oleh hunusan keris pusaka kerajaan yang dipegang Kinanti, kecuali Penasihat Istana yang kemudian menyaksikan sendiri bagaimana bencana tanah longsor itu kemudian meluluhlantakkan kerajaan Pancasan.

Setelah dibacakan puisi dan wejangan akhir mengenai pesan moral dari drama tersebut, tim paduan suara pun masuk dan Prajurit serta Penari turun mencari donasi bagi korban bencana longsor Banjarnegara. Kami memang sengaja mengonsep bencana dalam cerita itu menjadi bencana tanah longsor yang pada saat itu tengah menimpa Banjarnegara. Untuk penggunaan Bahasa Jawa pada saat pembuka dan penutup, kami sendiri memang berniat menghadirkan konsep Jawa yang utuh dalam kerajaan dengan latar klasik tersebut. Karena itu juga semua tarian, musik gamelan, dan percakapan/dialog pun kami atur sesuai dengan konsep tersebut. Penasaran seperti apa? Ini dia videonya~


Well, banyak hal yang kami dapat dalam mempersiapkan drama tersebut. Mulai dari membangun kekompakan, kerja sama, dan belajar membuang semua rasa egois yang menyangkut kepentingn pribadi. Mungkin ini pengalaman baru yang berharga untuk kami semua, dimana banyak dari kami yang berasal dari luar Pulau Jawa dan tidak mengerti tentang budaya Jawa, sedikit banyak dengan adanya drama tersebut kami jadi tahu. Misalnya saja, kami jadi tahu bagaimana gerakan penghormatan ala kerajaan, tata bahasa yang digunakan (sendhiko dawuh, dll.), serta hal-hal kecil seperti cara berjalannya orang-orang kerajaan, dan lain sebagainya.
 
This is us

Ciyeee tim konseptor~

Big thanks to sutradara (Mas Arif), penulis skenario (Mbak Rosmania), tim pemain (Dian dkk.), tim dekorasi dan properti (Sulis dkk.), tim paduan suara (Dina dkk.), tim wardrobe (Fefe dkk.), pembaca puisi, pewejang, tim operator & lighting, serta dokumentator. Ketua kelas KaKaI Bi, Mas Syaiful, atas dukungan dan kemauannya untuk turut berlelah-lelah baik menjadi tim pemain maupun membantu segala kesulitan yang kami hadapi. Pokoknya kalian semua kereeen. Suksesnya acara tersebut adalah kerja keras kita bersama.

Closing team: Makan-makaaan~ (baca: nunggu pesanan lama :D)
Makasih juga untuk pihak-pihak di luar sana yang turut membantu kami: ICC Crew untuk dokumentasinya, UKM Teater Tangga, UKM Tari Sentaka Mudya, Farah Saloon & Wedding Organizer untuk kostumnya yang kece, Ibu Kos Arif (Ibu Tami) atas pinjaman jarik dan sumbangan buah pisangnya (makasih banyak ya, Bu, hehe), KKI A dan C atas kerja samanya, Bapak Satpam di Gedung PPB (makasih, Pak, sudah diizinin pake ruangan plus dengan setia menunggu kami selesai gladi, hehe), serta semua pihak terkait yang tidak bisa kami sebutkan satu per satu. Untuk Pak Imam, dosen kami, terima kasih atas kesempatan yang diberikan untuk kami berkarya, dan semua peserta maupun penonton yang mengapresiasi pagelaran drama kami. Terima kasih atas donasi yang kalian berikan. Donasi yang kami terima ini in syaa Allah akan kami salurkan kepada korban tanah longsor Banjarnegara. Semoga Allah selalu memudahkan langkah kita. Aamiin.