Pages

Jumat, 12 Februari 2016

Catatan Pertemuan: Tips Menulis dan Dakwah Ala Kang Abik

Satu di antara sekian banyak nikmat yang Allah berikan padaku adalah dipertemukannya aku dengan orang-orang hebat. Orang-orang yang tak hanya memiliki karya dan prestasi, tetapi juga mampu menginspirasi banyak orang. Dan mengalami itu, aku jadi banyak belajar. :’)

Rabu, 10 Februari 2016, untuk pertama kalinya aku bertemu Kang Abik atau yang dikenal juga dengan Ustadz Habiburrahman El Shirazy. Tentu nama tersebut bukan lagi nama yang asing bagi masyarakat Indonesia, terutama bagi mereka yang selalu menunggu karya-karya fenomenal dari beliau.

Aku sendiri mengenal nama beliau sewaktu kelas 6 SD. Waktu itu kakakku pulang membawa novel Ayat-ayat Cinta. Aku membaca kaver belakangnya ada banyak sekali komentar positif mengenai novel tersebut. Pada awalnya aku tidak tertarik, karena waktu itu bacaanku adalah Majalah Bobo dan novel anak-anak terbitan Tiga Serangkai. Berhubung aku punya 3 kakak perempuan yang sering heboh satu sama lain setiap usai membaca bab-bab dalam novel itu, aku jadi penasaran, hehe. Kata mereka aku nggak boleh baca novel itu, karena itu novel untuk orang dewasa dan aku masih belum cukup umur. Berhubung aku sangat penasaran, jadilah di sela-sela persiapan UN SD waktu itu aku diam-diam membaca novel itu, hehhe.

Di sisi lain, novel tersebut kemudian dipinjamkan ke teman-teman mereka. Jadi aku harus menunggu sampai novel itu dikembalikan untuk bisa melanjutkan membaca. Tetapi akhirnya aku berhasil menyelesaikannya. Dan WOW! Aku takjub. Novelnya keren banget. Kalau sebelumnya aku sudah menamatkan novel anak-anak terbitan Tiga Serangkai yang isinya kebanyakan tentang perjuangan seorang anak untuk meraih mimpinya, berjuang di tengah kemiskinan, menjadi juara di sekolah, sekarang aku membaca novel romansa dewasa. Suatu loncatan yang sangat tajam, mengingat aku masih berstatus anak SD, hehe.

Tetapi, yang kusyukuri sekali setelah banyak mengingat masa-masa setelah aku lulus SD sampai akhirnya jadi remaja adalah bahwa tanpa sadar apa yang kubaca itu mempengaruhi masa remajaku. Aku bersyukur sekali novel romansa pertama yang kubaca adalah novel yang sangat kental dengan nilai-nilai Islam. Aku merasa lebih terjaga dan ‘aman’ dalam menghadapi masa-masa remaja yang labil itu. Jadi, kalau ada yang bilang ‘kamu adalah apa yang kamu baca’ alias you are what you read itu barangkali benar, karena sedikit banyak aku mengalaminya. :))

Yah, itu sekilas bagaimana awalnya aku mengenal Kang Abik. Maaf kalo kepanjangan, hehe. Kembali ke topik awal, jadi aku ketemu Kang Abik itu di acara Syariah Fest 2016 di UGM. Tempat acaranya tadinya adalah di panggung utama di area masjid kampus. Berhubung siang itu hujan dan kondisi tempat yang tidak memungkinkan, akhirnya acara dipindahkan ke lantai dasar masjid.

Acara tersebut sebenarnya adalah acara bedah buku Ayat-ayat Cinta 2, tetapi dalam kesempatan itu juga Kang Abik memberikan tips-tips dan motivasi untuk terus menulis. di antaranya:

Kejenuhan dalam menulis, bisa dipegaruhi oleh kondisi dan situasi tempat kita menulis. ciptakanlah suasana yang nyaman, dan menulislah di tempat lain jika kamu bosan di ruangan itu. Misalnya saja di masjid, di bandara ketika menunggu pesawat, dan lain-lain. Selain itu juga konsep yang cerita yang belum utuh, itu membuat kita mandeg atau buntu di tengah jalan. Atau barangkali memang pada dasarnya kita butuh refresh pikiran, dan ketika itu terjadi, maka lakukan saja. Beralih dari satu tulisan ke tulisan lain juga bisa menjadi solusi alternatif, karena Kang Abik sendiri, dalam waktu yang sama kadang menulis lebih dari satu novel.

Menulis itu adalah skill, bukan knowledge. Jadi siapa pun yang memang berniat bisa menulis, maka ia harus sungguh-sungguh berlatih. Menulis adalah pekerjaan yang bisa dilakukan siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Tapi tentu saja, sebelum memulai paling tidak kita juga harus tahu teorinya.

Dalam menciptakan seorang tokoh dalam novel, maka tuliskan secara detil ciri-ciri dari tokoh tersebut. Karakternya, warna kulitnya, rambutna, usianya, pandangan hidup si tokoh, dan segala hal yang berkaitan dengannya. Kang Abik sendiri dalam menciptakan tokoh Fahri sampai membayangkan wajahnya. Hal itulah yang nantinya akan membuat tokoh kita benar-benar hidup dalam cerita yang kita buat. Selain itu, setiap kali menceritakan si tokoh, masuklah ke dalam jiwanya. Miliki perasaan dan pikiran-pikirannya. Bahkan Kang Abik pun kadang menangis sendiri ketika menuliskan adegan-adegan yang ada dalam cerita. Beliau membayangkan bagaimana cemburunya Aisha ketika Fahri harus menikahi Maria.

Dramatisasi itu penting, agar pembaca bisa menghayati betul apa yang dialami tokoh-tokohnya. Dramatisasi ini menjadikan tulisan kita indah dan mengena di hati pembaca. Lalu, apakah orang-orang yang cenderung ke eksak, tidak memiliki basis sastra, dan lebih banyak berkecimpung dengan hal-hal yang bernilai pasti juga bisa menulis sastra dan membuat tulisan memiliki sisi dramatis? Kang Abik menjawab, tentu saja. Karena setiap orang memiliki perasaan dan pernah merasakan. Hanya saja mungkin terlalu susah untuk mengungkapkannya, karena itu... perbanyaklah kosakata dengan membaca.

Ide menulis bisa didapatkan dari mana saja. dari berita yang kemudian kita modifikasi, dari peristiwa yang terjadi di sekitar kita, atau dari cerita-cerita atau curhatan orang lain kepada kita. Semua itu bisa menjadi ide dasar yang bisa kita kembangkan. Ide harus dicari dan kita tidak bisa hanya menunggu.

Dalam menulis novel, kita harus banyak membaca referensi agar karya yang kita hasilkan berkualitas. Kang Abik sendiri banyak membaca kitab-kitab para ulama dalam bekalnya menulis AAC. Materi-materi keislaman itu kemudian disampaikan dalam dialog para tokohnya. Agar mudah dipahami pembaca, maka dialog-dialog tersebut harus dibuat sedemikian rupa dan masuk akal. Tentu kita tidak bisa membahasakan bahasa buku secara llangsung ke dalam dialog.

Well, hanya itu sih yang kuingat tentang tips menulis yang sempat dipaparkan Kang Abik mengingat aku tidak mencatat dan lebih memilih fokus mendengarkan. Hehe. Selain pelajaran berharga mengenai tips menulis di atas, ada beberapa pemaparan beliau yang menurutku sangat berarti. Kang Abik sempat mengatakan yang intinya kira-kira begini: “Untuk berdakwah, cukup berprestasi di bidang Anda!”

Dan itulah yang selama ini beliau lakukan. Berdakwah melalui karya. Karya-karya yang tak hanya dikenal Indonesia, tapi juga dunia. Beliau pun bererita tentang temannya yang merupakan seorang dokter di Jepang. Ketika dunia geger oleh perilaku oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dengan dalih jihad dan Islam menjadi tertuduh, banyak pertanyaan yang harus dijawab dokter tersebut ketika bekerja di negara yang notabene sebagian besar penduduknya bukan Muslim. Untuk menjauhkan Islam dari tuduhan, banyak pula yang harus dijelaskan dokter tersebut. Tapi semua berbalik ketika ada konferensi dokter di negara itu, dengan menghadirkan seorang dokter yang sangat ahli di bidangnya menjadi pembicara. Semua pertanyaan dan tuduhan itu seolah lenyap seketika, hanya karena dia seorang Muslim. Yes, because he is a Moslem. Dan itu menurut Kang Abik sudah menjadi dakwah yang luar biasa; dengan menunjukkan bahwa seorang Muslim mampu berprestasi.

Mungkin pernyataan tersebut sudah sering kita dengar dari siapa saja. Tapi bagiku pribadi, rasanya sangat berbeda ketika yang menyampaikan adalah Kang Abik. Mengapa? Karena aku suka menulis, dan ingin menjadi penulis. Sementara, Kang Abik adalah seorang penulis. Berprestasi pula. Dari situ aku paham betul, kelahiran karya-karya Kang Abik bukan saja karena beliau suka menulis dan seorang penulis, tetapi lebih jauh lagi... menulis untuk tujuan dakwah.

Mungkin begitulah seharusnya aku menulis, kita menulis. Karenanya kita harus terus belajar; aku ingin terus belajar. Hal sederhana seperti yang dipaparkan Kang Abik itu, paling tidak, sudah menjawab dan membantu meyakinkanku atas pertanyaan yang selama ini belum kuyakini sepenuhnya jawabannya. Terima kasih. :’)

Ketutupan ikhwan, Kang Abiknya nggak keliatan deh, hehe. Maafkan. :)