Dari semalem dah siap mental banget buat komprod hari ini. Kebetulan hari ini planning-ku adalah ngurus sesuatu ke bank. Ini untuk ketiga kalinya aku ke bank, setelah yang pertama dan kedua gagal penuh drama. Padahal cuma mau ngurusin pin ATM yang keblokir doang. Tapi entah kenapa prosesnya kek suliiit bangett. Mulai yang ngantri lama lah, petugasnya ga ada lah, sampe akhirnya hari ini selesai dan ternyata "cuma gitu doang".
Selasa, 08 September 2020
Komunikasi Produktif #6: Kelepasan
Cuma gitu doang, karena proses hari pertama dan kedua itu rasanya percuma banget. Waktuku bener-bener kebuang sia-sia kalo tau pada akhirnya ternyata ga seribet di awal. Aneh emang. Jadi rencana komprod hari ini bareng petugas bank akhirnya gagal deh, karena toh pada akhirnya ga ketemu lama dan ga bisa nanya atau ngobrol soal keluhan kemarin-kemarin.
Tapi nyatanya gagal di sesuatu yang ga dipersiapkan. Entah kenapa tadi rasanya ga bisa mengerem emosi yang bergejolak sewaktu anak-anak ada yang becanda ketika murojaah. Mungkin karena suasana di luar emang ga kondusif buat belajar di siang terik (ruang biasa disiapin buat acara), maka anak-anak jadinya banyak yang konsen. Apalagi mereka juga dah tau kalo hari ini bakal pulang lebih awal. Intinya kita semua pada galfol deh keknya, hmm.
Mendadak aku ga bisa menahan diri buat ga jutek ke anak yang melanggar, padahal biasanya ga gitu amat. Kalo udah kayak gini tuh rasanya ngerasa bersalah banget, huhu. Untungnya abis itu langsung keinget, dan akhirnya bisa normal lagi. Walau anaknya sempat agak diam melihat sikapku. Hmm.
Aku beneran lepas kontrol deh keknya soal poin komprod yang mengambil jeda gitu, jadinya reflek negur dan emosi sedikit muncul. Ga ada menatap mata, ga ada dengan lembut, yang tadi itu tegas tapi mungkin ga enak di telinga anak. Huhu. Rencana besok aku bakal memperbaiki ini, terutama eye contact sih yang jarang banget.
So, bintangku hari ini: 🌟🌟.
#harike6
#tantangan15hari
#zona1komprod
#pantaibentangpetualang
#institutibuprofesional
#petualangbahagia
Senin, 07 September 2020
Komunikasi Produktif #5: Jangan Paksa
Hari ini ketemu anak-anak lagi~
Pas di jam 2 siang tadi listrik lagi mati. Walau berada pada ruangan dengan pintu dan jendela lebar, udara di dalam tetaplah rasanya panasss banget tanpa kehadiran tiga nyala kipas angin. Dari awal mereka dah minta belajarnya di luar aja, tapi karena besar risikonya mereka ga konsen, aku tetap kekeuh supaya mereka belajar di dalam ruangan saja.
Hanya tahan 30 menit aja. Abis itu mereka ga tahan dan protes minta belajar di luar. Katanya keringat mereka sampe netes-netes saking kepanasannya. Apa aku juga kepanasan? Gerah? Pastinya. Tapi ya ga mungkin juga diungkapkan, karena pada saat itu aku tidak ingin mencontohkan kepada mereka suatu hal bernama "mengeluh".
Di sinilah poin komprodku. Komprod dengan diri sendiri bahwa aku ga boleh mengeluh untuk menguatkan alasan mereka tidak boleh belajar di luar. Kalo belajar di luar, hmm ga yakin bisa konsen. Apalagi yang anak-anak level 2 juga sedang di luar. Pasti jadi makin rame dan makin ga konsen.
Apa dengan menyimpan keluhanku mereka lantas mau tetap belajar di dalam? Ternyata nggak, haha. Bener-bener tantangan ini mah. Udara yang luar biasa panas bikin mereka makin ga betah. Aku sudah berusaha mengomunikasikan kepada mereka agar tetap berada di dalam dengan pertimbangan lebih fokus tadi, tapi di sisi lain juga tidak bisa memaksakan keinginanku karena ada faktor lain yang membuat tidak nyaman.
So, poin komunikasi produktifku kali ini adalah berusaha tidak memaksakan keinginanku kepada anak-anak. Lebih daripada itu aku juga belajar sabar karena apa yang menurutku ideal saat itu benar-benar tidak bisa dipaksakan harus demikian.
Bintangku hari ini, hmm, 3 bintang saja sepertinya. Mari belajar lebih sabar lagi besoook, latihan komprod dengan CS bank, karena sepertinya aku harus mengurus sesuatu ke bank besok.
#harike5
#tantangan15hari
#zona1komprod
#pantaibentangpetualang
#institutibuprofesional
#petualangbahagia
Minggu, 06 September 2020
Komunikasi Produktif #4: Senormal Mungkin
Weekend itu biasanya momen buat charger diri, setelah sepekan berkegiatan, sibuk ngurus ini itu, dan lain hal. Nyatanya ga bisa gitu-gitu amat juga ya, haha. Padahal diriku maunya diem-diem bae.
Berkaitan dengan komprod, ada beberapa yang curhat ke diriku. Padahal rasanya dah overwhelmed banget dan lagi ga pengen ngomong sama siapa pun. Cukup komprod ke diri sendiri aja. Tapi, kalo dipikir-pikir, aku selalu berdoa agar bisa jadi orang bermanfaat. Maka inilah ladang pahala itu.
Ingat akan hal itu, aku jadi mikir lagi. Walau pikiran rasanya lagi "penuh" banget dan butuh diistirahatkan sebentar, aku berusaha menanggapi semua hal yang disampaikan kepadaku sebiasa mungkin. Senormal mungkin. Tarik napas banyak-banyak. Karenaaa, kata-kata yang kita keluarkan akan mencerminkan diri kita.
So that's it. Berusaha ikhlas, komprod dengan diri sendiri untuk melakukan peran dengan sebaik mungkin. Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar. Rencana besok mungkin masih akan memperbaiki komprod dengan diri sendiri lagi, terutama perihal berpikir positif. Juga bakal komprod dengan anak-anak karena ada suatu hal yang harus dikomunikasikan.
#harike4
#tantangan15hari
#zona1komprod
#pantaibentangpetualang
#institutibuprofesional
#petualangbahagia
Sabtu, 05 September 2020
Komunikasi Produktif #3: Menjeda, 7-38-55
Hari ini lagi ga nafsu makan banget. Dari pagi cuma sarapan nasi yang dibeliin Ibuk. Siang cuma sebatas ngemil. Ada tukang bakso, tapi lagi ga pengen. Pengen makan ketupat sayur tapi ternyata abis. Padahal siang tadi Ibuk ga ada, jadi harusnya bisa beli sesuatu tanpa ada rasa ga enak kalo masakan di rumah ga dimakan. Yaudah deh, akhirnya cuma ngemil aja. Mau dipaksain makan juga ga bisa.
Malam ini, tiba-tiba pengen pecel lele, haha. Emang kadang suka aneh aku tuh. Tapi masalahnya, gimana bilang ke Ibuk? Takut aja gitu beliau marah karena ga mau makan masakan di rumah. Ini sesuatu yang berisiko sih sebenernya, karena pastinya diriku juga ingin menjaga perasaan Ibuk. Lain halnya kalo Ibuk juga kondisinya ga nafsu makan, jadi bisa kan sekalian nawarin juga mau beli apa.
Karena dah buntu harus gimana, yaudah mari kita coba tanya aja. Kurasa ini waktu yang tepat, di rumah lagi rame, Ibuk lagi santai, dan kemungkinan untuk marah kelihatannya sangat kecil...
Aku: "Ibuk, udah makan belum?"
Ibuk: "Belum."
Aku: "Ibuk mau bakso atau apa?"
Ibuk: "Ngapain beli-beli, makanan di rumah banyak."
Aku: "Mmm ..."
Tarik napas, kasih jeda, berusaha menjelaskan dengan sesimpel dan selembut mungkin dengan kaidah 7-38-55. Aku juga terbantu banget dengan Bapak sewaktu komprod perihal ini ke Ibuk, karena rupanya Bapak juga lagi ga nafsu makan. Alhamdulillah, sukses walau tadi sempat maju mundur dan rada overthinking. Komprodku kali ini kurasa poin pentingnya adalah perihal memilih waktu yang tepat, karena pas banget juga momennya tepat. Ga kebayang kalo pas Ibuk ga lagi santai, mungkin hasilnya bakal beda. Dan kaidah 7-38-55, masya Allah, it works.
So, okelah ya, kalo kali ini bintangku nambah 1 dari kemarin, hehe. Besok belum tau mau komprod apa, tapi rencana tetap adalah komprod ke diri sendiri. Semoga ada tambahan hal lain lagi. ^ ^
#harike3
#tantangan15hari
#zona1komprod
#pantaibentangpetualang
#institutibuprofesional
#petualangbahagia
Jumat, 04 September 2020
Komunikasi Produktif #2: Yang Tak Terduga...
Kzl ga sih kalo sesuatu yang sudah direncanakan dengan matang trus tetiba harus berubah haluan? Pastinyaaa, tapi... berhubung aku tu sekarang lagi belajar mengubah kata "masalah" menjadi "tantangan", aku "berusaha" menjalaninya dengan aman damai sentosa. Serenteng to-do list pagi hari yang terencana terpaksa harus bergeser jamnya.
Dan bukan hidup namanya kalo dalam prosesnya ga ada jungkir balik, terutama buat seseorang tipikal well-prepared macam diriku ini. Sebel karena pergeseran waktu pastinya berdampak buat kegiatan lainnya. Sebel karena hal yang tak terduga itu seringnya memicu emosi negatif. Hm, oke... Kalo ga disikapi dengan baik ini bakalan lebih lama kelarnya.
Berusaha untuk santuy, selow, woles, apa pun itu, tapi susah juga ya ternyata. Tarik napas, hembuskan, begitu berulang-ulang... Dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang... Ah ya! Cuss, putar murottal. Nyimak, ngedengerin, ngikutin sambil lipat baju dan beberes kamar. Selesai satu juz selesai juga satu pekerjaan. Masya Allah, nikmatnya. 🖤
Pekerjaan selanjutnya adalah pekerjaan yang membutuhkan diriku untuk mobile, jadi ga bisa bawa-bawa HP untuk murottal. Kerasa banget capeknya. Emosi negatif naik lagi, yaudahlah dibawa makan nasi dulu yak daripada makan hati, hitung-hitung buat ambil jeda. Gapapa kok kalo karena ambil jeda, pekerjaan jadi tertunda sebentar. Gapapa, ga semuanya harus selesai dalam sekejap mata. Ya namanya manusia, hanya bisa berencana selebihnya Allah yang menetukan. Harus siap menghadapi hal-hal di luar ekspektasi.
Dari jeda itu jadi kebawa mikir, begini yaa rutinitas jadi mamak-mamak. Kalo ga tau ilmunya, rutinitas macam ini bisa bikin emosi negatif cepat naik. Nah kali ini, itung-itung diriku dapat kesempatan berlatih. Mari jangan disia-siakan. Ini ladang pahala juga, ya kan?
Alhamdulillah, setelah proses pergolakan batin, mengambil jeda, semuanya kemudian bisa dikontrol dengan baik. Fiuhh... Gimana sih ya caranya melakukan rutinitas dengan bahagia? Keknya masih harus latihan terus. Tapi yang kali ini insya Allah not bad lah ya.
Dan mari kita belajar lagi tentang ini besoook~
Semangattt, sobatualang semua ^^
#harike2
#tantangan15hari
#zona1komprod
#pantaibentangpetualang
#institutibuprofesional
#petualangbahagia
Kamis, 03 September 2020
Komunikasi Produktif #1: Mulai dengan Berdamai pada Diri Sendiri
Hari pertamaaa, masya Allah ndredeg dirikuuu~ bolak-balik baca materi, berusaha inget-inget lagi apa yang disampaikan kakaWI di acara Api Unggun dan Bincang Tantangan. Alhamdulillah, hari ini aku mendapatkan banyak sekali temuan untuk berlatih tantangan Komunikasi Produktif (selanjutnya kusingkat komprod ya). Tapi kuceritakan dua hal saja ya, kalo semua kebanyakan. 😂
Pertama, aku tuh tipikal yang suka kepikiran kalo ada sesuatu yang harus dikerjain tapi belum beres, walau kadang suka menunda juga. Ujung-ujungnya jadi kagak konsen ngerjain sesuatu yang sedang di depan mata. Maka dari pagi udah siapin mental bangettt, berusaha berkomunikasi ke diri sendiri, "Gapapa kalo belum bisa kerjain tugas sekarang. Gapapa, kok, kalo malem baru setor tugas. Gapapa kalo yang lain pada gercep. It's okay, waktunya masih panjang, asal jangan sampe ga setor ya. Yuk, fokus!"
Intinya harus berdamai dulu dengan diri sendiri kalo pada akhirnya ada hal-hal yang ga bisa dikerjakan secara sempurna. Yang jauh lebih penting proses belajar dan tekad menyelesaikan sampai akhir, kan? Alhamdulillah, komprod dengan diri sendiri perihal ini bisa dilakukan dengan baik walau ketika liat timeline dan WAG masih ada bisikan-bisikan kecil di hati macam, "Ih, kok orang-orang pada gercep yak?"
Haha, masih butuh latihan terus keknya, gaisss.
Buatku komprod dengan diri sendiri perihal di atas itu penting banget. Bukan untuk menurunkan kualitas, tapi lebih ke berdamai dengan diri sendiri. Berdamai dengan keadaan, bahwa ada hal-hal yang sudah menjadi rutinitas dan ga bisa digeser waktunya. Di luar diri sendiri, juga karena playground tantanganku yang lain baru bisa kudatangi siang hari.
Nah, yang kedua... Kudatangi playground tantanganku. Pas sampe gerbang, para krucil kesayangan dah pada laporan aja, "Ustadzah, ini loh blabla ..." Dan segala macemnya. Cekgu berusaha menahan napas, berusaha tidak menerima mentah-mentah info sebelum clear and clarify. Pas diklarifikasi ke anaknya, ini sih langsung bisa beres, entah apa bawaannya jadi woles aja gitu ngadepinnya. Ah ya, mungkin karena ingat lagi latihan komprod. Dan sukses dong. Eh tapi ini mah ga seru kalo ga ada yang menahan emosinya gitu yak, jadi ga kuanggap sebagai tantangan deh. 😂✌
Maka inilah bagian itu... Dia datang dengan cerianya, sambil mengulum permen, padahal kelas udah mulai. Aku yang lagi riweh karena baru keinget speaker murottal ketinggalan jadi sedikit kebawa emosi yang kututupi sebaik mungkin, "Ayo, permennya dihabiskan."
Laaah, dianya senyum-senyum. Oke, tahan napas, ish bawaannya udah mau nyuruh keluar ajaaa, sampai akhirnya teori komprod tetiba muncul di kepala, "Permennya mau dihabiskan sekarang atau dibuang?"
"Eh ga boleh buang makanan, Ustadzah. Kan mubazir," anak lainnya mengingatkan.
Oh iya. Duh. Maafkan ya. Salah deh ngasih opsinya. 😂 Yaudah kembali ke awal, tapi lebih bijak kalimatnya, "Ustadzah mau kamu habisin permenmu sekarang. Dikunyah." Sedetik kemudian terdengar suara permen beradu dengan gigi geraham dari mulut anak itu. Apakah setelah itu kemudian dunia aman damai sejahtera?
Oh tidak, dengan cerianya ia kembali menunjukkan bahwa ia tidak kooperatir walau kelas akan dimula. Aku teringat aku harus "menyetel" anak ini sejak awal supaya dia bisa fokus murojaah dan mengeluarkan suara. Let's keep it short and simple, "Mau main di luar atau murojaah?"
"Murojaah." Tapi sambil nyengir.
Kuulang pertanyaan yang sama, tapi responnya juga masih sama. Kutatap matanya tak berkedip. Memberitahunya bahwa aku serius. Da masih nyengir juga, walau jawabannya tak berubah. Hampir-hampir intonaai meninggi, dada ini sudah bergejolak karena emosi mulai membuatnya sempit, tapi tahannn... lagi latihan komprod, wkwk. Sampai entah pertanyaan ke berapa baru kudapati janji bahwa kali ini ia akan sungguh-sungguh. Dan yeaayyy, dia beneran konitmen dong sampai akhir. Masya Allah, suaranya kenceng, murojaahnya serius. Manteplaaa wkwk.
Puasss? Belooom, aku menetapkan standar 5 ⭐ hanya kalau semua sudah tidak ada drama tahan emosi yang bergejolak dan bisa melakukan dengan bahagia. So, dapat 3 bintang udah lumayan banget ya, diriku.
Tantangan komprod untuk besok mungkin masih sama dengan hari iniii, komprod dengan diri sendiri dan anak-anak, mungkin pada anak yang sama, supaya apa yang tadi dilakukannya jadi habit. Atau ke anak yang lainnya, kalo ada sesuatu yang perlu di-komprod-kan. 😂
Sampai jumpa tantangan esok hari, sobatualang~ ^^
Kamis, 07 Mei 2020
Misi Penyelaman: Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga Itu...
Seperti judulnya, kali ini para Matrikans diajak menyelam ke dasar samudera. Di misi penyelaman pertama ini, kami ditugaskan untuk mencari makna: Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga. Sehari sebelum misi ini diluncurkan, para Bunda Widyaiswara memberi kami bekal mengenai makna "Ibu Profesional; Kebanggaan Keluarga" menurut pendapat mereka masing-masing. Masya Allah, bekalnya sangat komplit dan sukses memberi pencerahan. Terima kasih yaaa, Bunda-bunda WI kesayangan~ ❤
![]() |
| Image from Canva. Edited with Canva. |
Daaan, setelah menyelami dasar samudera selama 2 hari, akhirnya aku menemukan makna yang kucari. Dan menurutku pribadi,
Ibu Profesional Kebanggan Keluarga itu adalah...
Seseorang yang dia memiliki kompetensi pada peran yang ia jalani, baik sebagai istri, ibu, maupun perempuan yang hidup dalam masyarakat. Ia yang memegang teguh fitrah kemanusiaan yang diberikan Rabb-Nya dalam menjalankan peran-peran tersebut. Sebagai istri, ibu, maupun perempuan dalam masyarakat, ia berkomitmen penuh atas hak dan kewajiban yang ia harus tunaikan dan selalu bergerak untuk meningkatkan kapasitas dengan membekali dirinya dengan ilmu. Karena apa? Karena dengan ilmulah peradaban itu dibangun.
Bila seseorang telah berupaya menjadi ibu profesional, maka ia secara otomatis ia akan menjadi kebanggaan keluarga. Keluarga akan bangga atas semua usaha yang telah ia lakukan; kehadirannya dalam rumah, perannya dalam pengasuhan, pelayanannya bagi anggota keluarga, serta kemauan kerasnya untuk memperbaiki diri dan terus belajar. Kelak, dari kebanggan keluarga itu, dari tawa riang dan bahagia anggota keluarga itu, doa-doa akan dilangitkan. Doa suami yang rida kepada istrinya, doa anak shalih dan shalihah yang cinta pada ibunya, doa orang-orang sekitar yang menerima kebermanfaatannya dalam masyarakat... Masya Allah.
Barangkali, perjalanan menjadi "Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga" bukanlah hal yang mudah. Perlu pengorbanan yang tidak sedikit untuk terus berkomitmen pada waktu dan kemauan untuk belajar. Tapi percayalah, siapa pun kita di dunia ini, kita sesungguhnya sedang memikul amanah masing-masing. Sebagai perempuan, maka amanah dari Allah yang kita akan pegang adalah sebagai istri, ibu, anak dari orangtua, dan seseorang yang ditunggu kontribusinya dalam masyarakat. Semua peran itu tidak bisa dijalankan tanpa ada proses belajar untuk mencapai kompetensi profesional.
Terima kasih, Institut Ibu Profesional, telah menjadi wadah untuk terus meningkatkan kapasitas diri ini~ 😭 Semoga amanah Allah ini bisa dijalankan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan yang Allah inginkan. 😭🤲
#navigasidanberaksi
#matrikulasibatch8
#institutibuprofesional
#belajardarirumah
Rabu, 29 April 2020
Aliran Rasa: Setelah Kompas Peradaban di Tangan, ...
Alhamdulillah, empat misi dalam kelas Matrikulasi IIP batch 8 yang dimulai dari misi tiket dan paspor sampai misi membumikan CoC telah selesai dijalankan. Dan akhirnya...
![]() |
| Dok. Matrikulasi IIP Batch 8 |
Alhamdulillaah, bekal kini bertambah. Yang tadinya ada Bekal Pertama, Mutiara Ibu Profesional, sekarang bertambah satu lagi: Kompas Peradaban. 😍
Gak nyangka sih bisa di tahap ini, meski sebenarnya perjalanan masih jauuuh sangat panjang. Tapi yaa perubahan itu sedikit banyak bisa dirasakan; mendadak misalnya punya teman-teman baru sesama Matrikans yang berasal dari berbagai daerah, mendadak timeline di akun Facebook-ku dipenuhi postingan-postingan inspiratif para Widyaiswara maupun Matrikans, mendadak punya grup WA baru bernama HIMA IIP regional Bali, mendadak majelis-majelis ilmu bertaburan sampe rasanya bingung mau ikut yang mana karena bagus-bagus semua... Masya Allah.
Ketika pertama kali masuk ke WAG HIMA IIP regional Bali rasanya deg-degan sekaligus excited banget. Ya gimana ya, seneng aja gitu kan bisa sama-sama berjuang bareng teman-teman regional. Apalagi tujuannya sama-sama untuk menemukan versi terbaik diri kita, meningkatkan kapasitas diri kita. Sampe akhirnya... grup Matrikulasi pun dibuka. Wih, lebih deg-degan lagi, tapi ya tetep excited, karena yesss... satu gerbang ilmu lagi telah terbuka.
Dan saat itu adalah saat yang tepat, karena aku sendiri udah ga sabar melakukan sesuatu yang baru. Ditambah lagi, timing sangat mendukung karena aku lagi bingung gimana caranya agar waktu #dirumahaja bisa termanfaatkan dengan baik. Misi demi misi menunggu untuk dipecahkan. Penjelajahan samudera dimulai. Navigasi dan Beraksi, itu tagline-nya. Terkait maksudnya, belum begitu paham, tapi kalau dihubungkan dengan semua misi dalam bahtera yang sudah dilakukan, sejauh ini memang ada keterkaitan.
Semua tahap pembelajaran dan tugas dalam IIP begitu matang dan terkonsep, ini jenius banget sih menurutku. Jadi kayak ga berasa lagi kuliah. Ya main-main aja gitu. 😂 Kayak lagi beneran berpetualang di tengah samudera, dipandu para Widyaiswara yang ceria, teman-teman yang seru sebagai support system, plus misi-misi yang menantang... Aaa, keren bats. Wkwk.
Tiap Senin selalu deg-degan, kali ini bakal dikasi bekal apa lagi yak? Selasa, misi hari ini bakal ngapain lagi ya kitaa? Liat yang lain udah pada gerceeep naklukin misinya, duhh kepancing deh akooh. Jadi pengen ikutan gercep juga kaan. Haha. Etapii tiap misi bukan sembarang misi ya, gaes. Kita ga sembarang disuruh nyebur ke samudera buat cari kerang istimewa, dapet, trus udah. Ya, semuanya melibatkan usaha, pemikiran, dan pemaknaan tersendiri. Ini bener ga? Ini baik ga? Ini bermanfaat ga? Pokoknya harus dikroscek-kroscek lagi pake bekal-bekal yang udah dikasih.
Dan yaa... Di setiap misi yang sudah kita kerjakan selalu ada peran para Widyaiswara tersayang. Yang dengan senang hati berbagi bekal, yang sigap membantu, yang meluangkan waktu memberi apresiasi di kolom komentar... Masya Allah. Terima kasih bimbingan dan apresiasinya Bunda-bunda WI sekalian. 😭🙏 Maaf kalo belum sepenuhnya bisa jadi Penjelajah Samudera yang baik. 🙏
Akhirnya, semoga kompas peradaban yang sekarang di tanganku ini bisa menjadi panduanku dalam #navigasidanberaksi selama penjelajahan samudera ini berlangsung. Semoga kita menjadi penjelajah yang tangguh ya, manteman. Yuk, semangat yuk! ✊
#navigasidanberaksi
#matrikulasibatch8
#institutibuprofesional
#belajardarirumah
Rabu, 22 April 2020
Misi #4: Membumikan Code of Conduct (CoC)
Yay! Alhamdulillah, setelah menaklukkan misi sebelumnya, kerang istimewa berhasil dibuka. Sebutir mutiara Ibu Profesional menyembul dari sana. Cantiknyaaa. 😍
![]() |
| Dok. Matrikulasi IIP Batch 8 |
Tapi... Layar masih berkibar. Samudera masih begitu luas untuk dijelajahi. So, masih ada misi selanjutnya dongs. Ini diaaaa~~
![]() |
| Dok. Matrikulasi IIP Batch 8 |
Untuk menaklukkan misi tersebut, kemarin para Matrikans mendapatkan bekal lagi untuk menjelajahi samudera dan berbagai petualangan lainnya ke depan, yaitu: Code of Conduct (CoC) Institut Ibu Profesional.
Apa itu CoC? Nah, CoC ini merupakan pedoman perilaku bermartabat yang di dalamnya berisikan aturan yang dibuat, dipahami, dan disepakati hingga menjadi komitmen bersama. Selain sebagai pedoman perilaku bermartabat, CoC ini juga dibuat untuk mencegah terjadinya perilaku nista maupun sebagai referensi untuk menghadapi segala tantangan yang terjadi berupa benturan atau gesekan selama proses menimba ilmu.
Pedoman perilaku dalam Code of Conduct ini kemudian dijabarkan menjadi 4 hal, yaitu: perilaku bermartabat, berbagi dan melayani, membangun integritas yang tinggi, dan taat prosedur. Nah, keempat hal ini secara otomatis melatih kita agar selalu menempatkan adab yang baik dalam berbagai kesempatan, tidak pelit berbagi dan selalu haus akan ilmu, dan pastinya harus taat pada aturan yang berlaku juga dong yaa. ^^
Menyandang status sebagai mahasiswa IIP, ada juga nih bekal CoC yang harus didekap erat-erat, hehe.
1. Memiliki Adab yang Baik.
"Action speaks louder than words. Good character is shown through good manners. It doesn't matter how angry, upset, or sad you are. Always be respectful and polite to others. Your mood should never dictate your manners." -- Dr. Bilal Philips
Semoga selalu bisa menempatkan adab yang baik dalam berbagai kesempatan, khususnya dalam menimba ilmu di IIP, wahai diriku.
2. Aktif dan Bertanggungjawab.
Senantiasa aktif dalam setiap pembelajaran di IIP baik secara online maupun offline. Aktif bertanya bila ada yang tidak dipahami, aktif merespon dan memberikan tanggapan terkait materi, serta bertanggungjawab penuh atas setiap tugas yang harus dikerjakan.
3. Publikasi yang Bermartabat dan Bertanggungjawab.
Nah, menurutku ini adalah salah satu upaya untuk meraih keberkahan ilmu. Sharing is caring katanya, tapi tetaaaap ada hal-hal yang harus diperhatikan ya, Temans. Misalnya saja: mempublikasikan hal-hal yang tidak menyangkut privasi orang lain, mencantumkan sumber dan/atau meminta izin ketika akan membagikan suatu publikasi yang bukan milik kita pribadi.
Kemudian, untuk membumikan nilai-nilai CoC tersebut, maka aksi yang akan kulakukan adalah:
1. Senantiasa meluruskan niat, merasa haus akan ilmu, dan menyediakan waktu untuk menyimak materi perkuliahan.
2. Berusaha untuk aktif (merespon, tidak silent reader) dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan.
3. Mencatat materi yang didapat dalam agenda khusus (atau blog) dengan mencantumkan sumbernya serta mengamalkannya dalam kehidupan nyata.
Menurutku, ketiga aksi tersebut benar karena telah sesuai dengan CoC poin 1, 2, 3 penjabaran pedoman perilaku bermartabat.
Ketiga aksi tersebut baik karena tentunya dengan cara itulah keberkahan ilmu bisa didapat.
Ketiga aksi tersebut bermanfaat karena dengan cara itu aku akan mampu meningkatkan kapasitasku sebagai pembelajar yang kelak akan berperan sebagai istri, ibu, maupun perempuan yang berkontribusi dalam masyarakat.
Semoga dirikuuu juga teman-teman Matrikans diberikan kemudahan dalam menjalankan aksi tersebut ya. 🤲 Yuk, semangattt! Daaan... sampai jumpa di misi berikutnyaaa. ✊🔥
#navigasidanberaksi
#matrikulasibatch8
#institutibuprofesional
#belajardarirumah
Selasa, 14 April 2020
Misi #3: Membuka Kerang Istimewa
Kerang istimewa sudah ditemukan, trus langsung bisa dibuka aja gitu?
Wohooo~ Ternyata tidak semudah itu, diriquuu. Ada teka-teki yang harus kamu pecahkan.
Apa teka-tekinya? 😱
Jawabannya ada di postingan ini, ehehe. Baca terus yaa. ^^
Oke, alhamdulillaah, aku... (perasaan kemarin di misi kedua bilangnya saya, eh tapi gapapalah ya :p) sudah berpartisipasi menyuarakan pendapat soal teka-teki tersebut (walau nomor 5 jawabanku sepertinya kurang tepat, hehe). Tadinya diriku ga terlalu ngeh kalo teka-teki untuk membuka kerang istimewa tersebut berkaitan dengan prinsip dalam berkomunitas dan belajar di Ibu Profesional. Baru setelah melihat pengumuman misi hari ini diriku takjub, wow... alangkah kreatifnya para Widyaiswara (WI) Matrikulasi IIP batch #8 ini dalam menyusun games yang di dalamnya terdapat pembelajaran. 😍👏
Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung... Gitu kata peribahasa. Maka, ketika kita memutuskan untuk masuk ke dalam suatu ranah, pasti di dalamnya terdapat aturan yang harus dipatuhi. Bisa jadi setiap ranah tersebut berbeda aturannya dengan ranah lainnya. Begitu juga dengan Ibu Profesional ya, manteman. Ada prinsip-prinsip berkomunitas yang harus dijunjung.
SEMUA BOLEH, kecuali yang tidak boleh, yaitu:
SEMUA BOLEH, kecuali yang tidak boleh, yaitu:
1. KRITIK tanpa solusi.
Di Ibu Profesional, kita diarahkan untuk selalu fokus pada solusi, bukan kritik tak berujung yang pada akhirnya tidak membuahkan hasil apa pun. Saat permasalahan itu ada, saat jiwa kritismu terpompa, kenapa ga sekalian mikirin solusi? Yuk yuk, kita ambil bagian~ ✊🔥
2. GHIBAH-FITNAH club.
Ghibah adalah ketika kita membicarakan keburukan seseorang yang ia tidak suka apabila hal itu didengar oleh orang lain,sekalipun benar dan sesuai dengan kenyataan. Nah, apalagi jika tidak benar, maka hal tersebut sudah menjurus pada fitnah. Kedua hal tersebut sangat dilarang dalam komunitas Ibu Profesional. Sebaliknya, proses tabayyun harus selalu dikedepankan oleh setiap anggota. No ghibah-fitnah club pokoknya ya, marii kita sharing-sharing club ajaaa. 😎
3. Menyinggung SARAT.
Eh, apaan tuh SARAT? SARAT itu adalah... SUKU-AGAMA-RAS-ANGGOTA TUBUH. 🤗 Nah, menyinggung sarat ini sangat tidak diperkenankan di komunitas Ibu Profesional. Yuk, saling mengingatkaaan ya. ^^
4. Membahas masalah KHILAFIYAH.
Perbedaan itu niscaya. Dalam komunitas Ibu Profesional ada banyak kepala. So, mari kita hindari membahas masalah khilafiyah yang memicu jurang perbedaan di antara kita menjadi semakin dalam, eaa. Ingat-ingaaat, kita kan mau belajar bareng. ☺
5. Konflik KEPENTINGAN.
Di Ibu Profesional, tujuan setiap anggota adalah belajar untuk menemukan versi terbaik dirinya untuk menebar manfaat bagi sekitar. Cukup fokus itu saja dan jangan ada konflik kepentingan. Oke oke? 👌
Gimana, gimanaa? Itulah jawaban teka-tekinya. Hehe.
Diriku sih yakin jawaban teka-teki merupakan koentji untuk membuka kerang istimewa dalam misi bahtera kali ini~ 😆 Aku juga yakin prinsip-prinsip berkomunitas tadi benar, baik, dan bermanfaat karena tentu di dalamnya terdapat banyak kemaslahatan bagi para anggota. Membuat kita semua bisa lebih fokus untuk belajar, berpikir, dan berkontribusi. Yuk, semangatttt!!
Well, terima kasih untuk para Widyaiswara Matrikulasi IIP batch #8 atas cerita-ceritanya sehingga kami bisa terbantu memecahkan misteri teka-teki untuk membuka kerang istimewa ini~ ❤ Gak sabar untuk misi selanjutnyaaa~ Yay! ✊🔥
--Evi Sofia Inayati, Mahasiswa IIP Regional Bali 🤗
#navigasidanberaksi #matrikulasibatch8 #institutibuprofesional #belajardarirumah
Selasa, 07 April 2020
Misi #2: Menemukan Kerang Istimewa~ ^o^
Bismillaahirrahmaanirrahiim...
Assalaamu'alaykum, semua ^^ Perkenalkan, saya Evi, mahasiswa Institut Ibu Profesional regional Bali.
Setelah melewati proses pendaftaran, tahap Foundation, dan menyelesaikan misi pertama berupa paspor dan tiket, alhamdulillah sekarang saya sudah berada di atas bahtera Matrikulasi Ibu Profesional batch #8, dan sedang dalam misi menemukan kerang istimewa...
Ha? Kerang istimewa? Benda apa itu? 😃
Nah, kaaan, Institut Ibu Profesional (IIP) memang penuh kejutan. Abis dibagi-bagiin peti harta karun dan melihat kerang istimewa para Widyaiswara, maka sekarang giliran saya menjalankan misi ini untuk menemukan kerang istimewa saya sendiri.
Alhamdulillah, kita semua sudah diberi bekal untuk menaklukkan misi ini, yaitu:
"BENAR-BAIK-BERMANFAAT"
Merupakan triple fast test untuk melatih sceptical thingking ketika menerima informasi baru di era digital; apakah benar? Apakah baik? Apakah bermanfaat?
Tapi sebelumnya, saya akan sedikit bercerita tentang awal perkenalan saya dengan Ibu Profesional (IP). Saya lupa persisnya kapan mengenal komunitas ini; apakah lebih dulu mengetahui Ibu Septi baru kemudian mengetahui tentang IP atau sebaliknya, yang jelas saya merupakan penikmat kuliah-kuliah Whatsapp yang diselenggarakan oleh komunitas regional Ibu Profesional. Dari kuliah-kuliah tersebut saya mendapatkan banyak sekali ilmu baik mengenai parenting maupun perihal kerumahtanggaan.
Sekitar tahun 2018 lalu, saya kemudian mengetahui mengenai program Matrikulasi ini dari hasil stalking akun medsos IP. Penantian itu kemudian terbayar hingga saya mendaftar menjadi anggota di bulan November 2019 kemarin. Dan ya, seperti yang saya katakan tadi, sekarang saya sudah berada di atas bahtera Matrikulasi IIP batch 8 dan dalam misi menemukan kerang istimewa.
Kerang istimewa itu, tentu saja berkaitan antara saya dan IIP.
Saya tahu IIP adalah tempat yang benar. Saya stalking semua akun medsos IIP, mengikuti kuliah online dari komunitas regionalnya, melalui tahap Foundation, berkenalan dengan para ibu hebat pembelajar yang menjadi fasilitator, berinteraksi dengan sesama mahasiswa IIP regional Bali, dan sampai detik ini tidak ada yang membuat saya menyesal telah bergabung. Justru ini merupakan kesempatan luar biasa yang sangat saya syukuri. In syaa Allah belajar di IIP merupakan ikhtiar saya untuk menemukan versi terbaik diri saya; sebagai (calon) istri, (calon) ibu, juga sebagai perempuan yang bisa berperan dan berkontribusi dalam masyarakat.
Saya yakin IIP juga tempat belajar dan berkembang yang baik untuk saya. Di IIP, segala sesuatunya diberikan secara bertahap, berjenjang, dan itu menurut saya menarik sekali. Seperti tahapan misi ini misalnya, saya seperti diarahkan berenang menuju dasar diri, menemukan landasan yang kokoh sebagai navigasi menjelajahi samudera Matrikulasi. Kelak landasan ini, navigasi inilah yang akan menguatkan dan menjadi petunjuk dalam perjalanan saya di atas bahtera.
Kemudian, saya juga tahu betul bahwa IIP adalah tempat yang bermanfaat. Sedikit banyak saya sudah merasakannya dari sebelum bergabung (sebagai penikmat KulWap), dan lebih-lebih lagi setelah bergabung sebagai mahasiswa. Di IIP saya mendapatkan keluarga baru, support system, para bunda hebat yang dengan senang hati senantiasa berbagi ilmu, maa syaa Allah... Jelas semua itu akan membantu dan sangat bermanfaat untuk saya dalam upaya menjadi versi terbaik diri saya.
Sejauh ini saya baru hanya bergabung dengan Institut. Meski demikian, ada banyaaaak sekali ragam kegiatan dalam IIP, mulai dari kuliah Whatsapp, Telegram, kegiatan internal HIMA regional, seminar offline, sampai wisuda offline (wah ga sabar!). Untuk komunitas? Ah, semoga saya bisa bergabung juga ke depannya.
Nah, inilah misi kedua~ 😆 Alhamdulillaah, kerang istimewa sudah ditemukan! Yay. Yuk, semangat untuk misi-misi selanjutnyaaaa~ ✊
#navigasidanberaksi #matrikulasibatch8 #institutibuprofesional #belajardarirumah
Minggu, 23 Februari 2020
Qur'an Journaling #8: Kedermawanan Kaum Anshar
وَالَّذِينَ تَبَوَّؤُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَخَصَاصَةٌ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَالْمُفْلِحُونَ
Dan orang-orang (Anshar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-Hasyr: 9)
Ayat 9 dari surah Al-Hasyr ini menjelaskan tentang keutamaan kaum Anshar. Bila kita membaca ayat-ayat sebelumnya, maka kaum Anshar ini merupakan salah satu yang disebutkan oleh Allah mendapat harta rampasan, baik melalui peperangan maupun tidak. Namun, sesuai tema Qur'an Journaling dari @thequranjournal.id, kita hanya akan membahas satu hal yang berkaitan dengan kaum Anshar ini, yaitu sikap dermawan (generosity).
Menurut Buya Hamka, ada lima keutamaan dan pujian bagi kaum Anshar yang disebutkan Allah dalam ayat ini:
1. Dalam keimanan, mereka menunggu saudara mereka, Muhajirin, di kota mereka.
2. Mereka mencintai kaum Muhajirin yang datang berhijrah ke Madinah.
3. Orang-orang Anshar tidak merasa dengki atau iri hati terhadap Muhajirin yang mendapat lebih banyak bagian dalam harta rampasan.
4. Orang-orang Anshar lebih mengutamakan kaum Muhajirin daripada diri mereka sendiri.
5. Mereka berhasil mengatasi sifat kikir sehingga menjadi orang-orang yang beruntung.
Lebih detail lagi, terkait beberapa keutamaan di atas, Ustadz Nouman Ali Khan banyak menjelaskan hal menarik yang baru kuketahui. Well, hampir dua per tiga Al-Qur'an itu diturunkan di Makkah, Rasullulah berdakwah di sana lebih dari satu dekade, yang mana di antara orang-orang yang beliau sampaikan dakwahnya itu adalah keluarganya sendiri. Tapi lihat apa yang terjadi? Sebagian mereka justru nggak percaya, nggak mendengarkan, nggak beriman.
At the same time, kaum Anshar ini bukan orang-orang yang dari awal berinteraksi dengan Rasulullah, bukan keluarga Rasulullah, bukan seperti Muhajirin yang mereka adalah assabiqunal awwalun... tapi mereka menerima Rasulullah dan kemudian beriman atas kerasulannya. وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ, Allah mengapresiasi mereka yang telah memiliki bibit iman di dalam hati bahkan sebelum hijrahnya Rasulullah.
Trus, biasanya nih, imigran itu cenderung ga disukai karena justru menambah masalah suatu negara, apalagi negara yang didatangi itu adalah negara yang perekonomiannya sedang berkembang dan bukan negara maju. Tapi beda sama orang-orang Anshar ini, mereka justru cinta banget, senang banget, sewaktu kaum Muhajirin datang. Mereka ga ada perasaan dengki sama pengutamaan harta rampasan yang diberikan pada kaum Muhajirin.
Dan saking cintanya, mereka rela berkorban untuk Muhajirin. خَصَاصَةٌ, pengorbanan mereka tuh ibarat mereka lebih memilih memberi makan orang-orang Muhajirin meskipun mereka sendiri lagi lapaaar banget sampe rasanya mau mati. 😭Mereka mengutamakan Muhajirin dalam hal apa pun meski mereka juga lagi kesusahan, lagi menghadapi situasi yang gentiiing banget. Dan bersikap dermawan saat lagi sempit ini lebih utama dibanding saat kita memberikan sesuatu yang paling kita cintai. Maa syaa Allah.
Kalo kita, seringnya baru sedekah kalo udah lebih aja, kalo kita sendiri udah merasa tercukupi. Nolongin orang ya kalo pas lagi ga sibuk aja. Kalo ga rugi-rugi amat di kitanya, baru deh kita mau berkorban. Kan jleb. 😩
Bahkan nih, ketika kita mampu berbuat baik, mampu sedekah, mampu menolong orang lain, seringnya dalam hati kita timbul perasaan superior, merasa hebat. Orang-orang Anshar ga kayak gitu, mereka ga kikir. Ketika bisa bantuin meskipun lagi genting, mereka sama sekali ga merasa superior. Makanya, Allah sebut mereka sebagai orang-orang yang beruntung.
[] Referensi:
1. Tafsir Al-Azhar.
Jumat, 21 Februari 2020
Rumus Baku Mencintai
Katamu kamu mencintai dirimu sendiri. Dengan penalaranmu, pikiranmu tentang baik dan buruk, pertimbanganmu mengenai plus dan minus, kamu telah mengusahakan segala yang terbaik untuk dirimu sendiri. Kamu begitu yakin dengan itu.
Katamu kamu mencintai dirimu sendiri. Di antara penat yang membabat, kamu meluangkan waktu untuk hal-hal yang kamu sukai; membaca, piknik seorang diri, atau sekadar duduk memandangi langit ujung dini hari. Kamu menemukan lagi dirimu di keheningan itu.
Katamu kamu mencintai dirimu sendiri. Setelah semua hal yang kamu lakukan, kamu diam-diam membiarkan pikiranmu melukai dirimu sendiri. Kamu menyerahkan dirimu terjebak pada perihal yang tak layak kamu lakukan. Kamu lalai, yang itu kemudian membuat waktu berlari tanpa kamu sadari.
Katamu kamu mencintai dirimu sendiri, nyatanya tak selalu demikian.
Dirimu adalah kamu, bahkan kesatuan itu tak bisa mengupayakan cinta terbaik untuk dirimu sendiri. Kamu tidak bisa mencintai dirimu sendiri dengan sempurna sebagaimana yang kamu harap dan usahakan selama ini. Kamu tetap membutuhkan "kekuatan" lain di atas semua itu.
Maka, ada yang jauh lebih mencintaimu bahkan melebihi dirimu sendiri. Lebih dari yang bisa kamu ketahui, lebih dari yang bisa kamu nalar, lebih dari yang bisa kamu rasakan. Yang mencintaimu paling dahulu, sebelum kamu diciptakan.
Maka, ada yang jauh lebih mencintaimu melebihi dirimu sendiri. Siang malamnya dihabiskan untuk menghidupkan cahaya yang saat ini telah kamu terima. Tetes keringat, darah, harta, bahkan nyawa dikorbankan agar kamu bisa hidup dengan baik. Dia mencintaimu sebelum temu, sebelum tahu siapa kamu.
Karenanya, jangan pernah percaya bila seseorang mengatakan kepadamu, "Aku adalah orang yang paling mencintaimu di dunia ini." Bagaimana mungkin, dia bahkan tak bisa mencintai dirinya sendiri sehebat itu. Ia jelas telah kalah.
Oleh-Nya, kita kemudian diberitahu mengenai rumus baku mencintai:
Allah + Rasul-Nya = ∞ (tak terhingga).
Dengan cara itu, kamu akan bisa mencintai dirimu sendiri lebih baik dari sebelumnya. Hanya bila berlandaskan itu, seseorang baru boleh mencintaimu. Dan hanya bila telah menerapkan itu, kamu baru boleh jatuh cinta kepadanya.
Rabu, 05 Februari 2020
[Untitled] Act 1
Musim dingin mulai memasuki masa-masa puncaknya. Jika bukan karena kerja keras para pekerja kebersihan, hampir mustahil bagi Rania bisa berkendara melewati sepanjang jalan protokol yang dipenuhi gundukan salju mengingat ini musim dingin pertamanya di negara itu. Sebelum tiba dan menetap di wilayah lingkaran arktik itu, ia pernah membaca bahwa salju bahkan bisa mencapai betis orang dewasa bila sedang parah-parahnya. Maka terbilang cukup nekat, karena kalau saja Rania bisa sedikit menunggu, baik Emilie maupun Gunnar tentu tak akan membiarkannya pergi sendirian.
Ia bukan tak takut atau apa, tapi ini masalah tanggung jawab. Selagi ia masih bisa menyelesaikannya, tak sampai hati rasanya jika meminta Gunnar dan Emilie mengantarnya setelah bekerja seharian. Lagi pula, saat itu Maiken dan Odin tidur cukup nyenyak. Ia bisa menggunakan waktu luang itu untuk berbelanja. Tak akan butuh waktu lama, Emilie dan Gunnar memiliki semacam master list kebutuhan rumah tangga yang bisa ia gunakan setiap kali berbelanja. Ia hanya tinggal mengecek beberapa barang yang habis dan membelinya di supermarket langganan keluarga itu.
Rania baru saja tiba dari REMA 1000 dan sedang memindahkan belanjaannya ke beberapa kompartemen, ketika tiba-tiba pintu rumah host family-nya diketuk dengan tergesa. Host family-nya jarang menerima tamu, hampir seluruh penduduk yang tinggal di wilayah itu sibuk bekerja di luar rumah. Kalaupun ada, itu pasti Grandma. Wanita lanjut usia--namun masih cukup kuat untuk diajak hiking--yang tinggal berdampingan dengan host family-nya.
Ia mengenal Rania beberapa hari setelah gadis itu tiba. Mereka cukup dekat, sesekali ia mengajak Rania mengobrol jika dilihatnya gadis itu tengah mengajak Maiken dan Odin bermain di halaman depan. Pun tak jarang mereka diundang ke rumah wanita untuk sekadar minum teh dan menikmati waffle buatannya.
"Rania... Rania... Kau ada di dalam? Tolong bantu aku!" Suara Grandma beradu dengan ketukan pintu, seiring Rania berjalan melewati ruang tengah menuju depan.
"Rania, tolong aku!" Napasnya terengah, seolah pasokan oksigen dalam paru-parunya sebentar lagi akan habis. "Seseorang... seseorang... mati di kabinku!"
Rania spontan berjengit. Kalimatnya tertahan di ujung lidah, namun Grandma buru-buru meralat, "T-tentu a-aku t-tidak berharap demikian! Tapi sungguh, orang itu seperti terlihat tak bernyawa!"
Rania menyambar snowsuit dan boots anti airnya, tanpa membuang waktu berlari mengikuti Grandma. Hampir saja ia terpeleset. Kepanikan membuatnya lupa bahwa halaman yang beku membuatnya menjadi licin. Mereka masuk ke dalam kabin milik Grandma dan tergesa berlari melewati lorong yang menghubungkan deretan kamar dengan ruang tengah. Di pintu nomor dua koridor sebelah kanan itu Grandma memberi isyarat untuk membuka pintu. Alih-alih menyadari isyarat Grandma, Rania justru reflek mendobraknya.
"Auww!" Suara seseorang mengaduh dari dalam seiring pintu menjeblak terbuka. Ya Tuhan, Rania bahkan lupa kalau pintu itu tentu tak mungkin terkunci setelah apa yang dikatakan Grandma soal seseorang mati dalam kabinnya tadi.
Tapi tunggu! Yang terdengar mengaduh itu jelas suara manusia! Bukan ruh yang sedang bergentayangan (oke ini sebenarnya tak mungkin, tapi pikiran Rania begitu kacau), karena sesaat kemudian Rania dengan pasti melihat tubuhnya menjulang membelakangi pintu.
Grandma begitu shock di belakang Rania, bersandar pada dinding koridor sebelah kiri. Gerakan tangannya mengusap dada naik turun untuk melegakan sumbatan paru-paru terdengar begitu jelas di telinga Rania.
Seolah semua hal tadi belum cukup mengejutkan baginya, seseorang yang tengah menjulang di hadapannya kini menatapnya, untuk kemudian berbisik pelan, "A-u-ri-ga?"
Rania menelan ludah. Ia tidak sedang bermimpi. Tangkapan matanya begitu jelas membentuk bayangan laki-laki itu. Itu memang dia, si Beta Tauri.
"Auriga?" Kini laki-laki itu yang terlihat tak yakin dengan apa yang dilihatnya, memanggilnya dengan nama yang Rania sebutkan saat mereka berkenalan dahulu.
"Rania."
Laki-laki itu mengernyit tak mengerti. Apakah gadis itu sedang berusaha mengoreksi ucapannya? Ia yakin tak sedang mengigau, ini benar gadis yang bertemu dengannya pada peristiwa Gerhana Matahari Total di Ternate beberapa bulan lalu. Dan di tempat ia menginjakkan kaki sekarang, yang beribu kilometer jaraknya dari tempat awal mereka bertemu, laki-laki itu yakin yang berdiri di hadapannya masih gadis yang sama.
"Rania. Namaku Rania."
Butuh beberapa detik bagi laki-laki itu untuk mencerna informasi yang baru saja ia terima, sebelum berucap, "Jadi... bukan Auriga?"
Rania mengangguk, sekilas menatap ujung kakinya yang dibalut kaus kaki tebal, untuk kemudian dengan raut bersalah mengatakan, "Maaf, sudah membuatmu bingung." Ia mengambil jeda, dan mengakui, "Aku hanya, hm, tidak terbiasa memberitahu identitasku pada orang asing."
Sebongkah kecewa menelusup halus ke dalam jantung laki-laki itu, Rania membaca itu dari raut wajahnya. Memang salahnya tak menyebutkan nama sebenarnya, lebih-lebih pada seseorang yang telah menolongnya waktu itu. Rania seringkali berpikir ada banyak orang yang mungkin hanya akan ia temui sekali seumur hidup, namun ternyata laki-laki ini tak masuk dalam kategori itu.
"Hei, apa yang kalian bicarakan di belakangku?!" Suara serak Grandma menginterupsi jeda keheningan yang terasa canggung. Kepanikannya telah reda dan ia sadar sepenuhnya sekarang.
"Oh, maafkan aku, Grandma. Setelah apa yang kau katakan, aku hanya sedikit tidak percaya dengan apa yang kulihat," ujar Rania. Tentu yang dimaksudnya dengan "tidak percaya dengan apa yang kulihat" bukan semata-mata bahwa seseorang itu ternyata masih hidup, melainkan juga karena ia mengenal laki-laki itu.
Grandma melangkah, posisinya kini sejajar dengan Rania. "Maafkan aku, Rania. Aku begitu panik karena semalam laki-laki ini datang dengan gigil yang mengkhawatirkan. Ia sempat tersesat sebelum menemukan kabinku. Tubuhnya begitu kaku, setiap kali bicara suara giginya bergemeretak kencang. Hampir saja kukira aku sedang berhadapan dengan zombie!"
Satu prinsip hidup Grandma: kejujuran berada di atas segalanya. Ia bahkan tak segan memperumpakan tamunya seperti zombie, dan itu diperdengarkan langsung di hadapannya. Tapi respons laki-laki itu sungguh di luar dugaan. Ia justru tertawa mendengar kejujuran Grandma. "Kukira memang aku separah itu, Gran--aku tentu boleh memanggilmu Grandma?"
Grandma mengangguk. Ia memang biasa dipanggil seperti itu oleh siapa pun, termasuk tamu-tamu yang datang menginap di kabinnya. "Jadi, apa yang kau lakukan tadi? Pintumu tak terkunci saat aku mengetuk. Aku bahkan begitu panik ketika melihatmu tersungkur tak bergerak sehingga mengira kau mati."
Dahi laki-laki itu mengerut. Ia jelas bingung dengan pernyataan wanita tua di hadapannya. "Tersungkur?"
"Maaf, Grandma, apa kau bisa menunjukkan kepadanya seperti apa yang kau maksud tersungkur tadi? Laki-laki ini sepertinya tak mengerti maksudmu," Rania membantu menjelaskan.
"Oh, baiklah." Wanita itu kemudian merundukkan tubuhnya yang sedikit gemuk ke lantai, menunjukkan apa yang tadi dilihatnya dari laki-laki itu sampai ia mengira tamunya telah mati. Dan demi melihat cara wanita itu merundukkan tubuhnya di lantai, baik Rania maupun laki-laki itu hampir saja meledakkan tawa.
Rania menggiring wanita itu, yang kemudian diikuti si lelaki, menuju ruang tengah. Mereka duduk saling berhadapan, sementara gantian wanita itu yang kini terlihat bingung.
"Saat kau melihatnya tadi, laki-laki ini sedang beribadah. Kami menyebutnya salat, dan ia sedang bersujud. Ia seorang Muslim sepertiku, seperti Emilie juga Gunnar," papar Rania, sembari menahan tawa.
Berbanding terbalik dengan keseganannya menertawakan tingkah Grandma, wanita itu justru spontan tertawa. Dengan malu ia merutuki kebodohannya. Emilie dan Gunnar memang telah berpindah keyakinan beberapa bulan sebelum Rania tiba, tapi baik ketika berinteraksi dengan kedua orang itu maupun Rania, ia tidak pernah tahu bagaimana cara mereka beribadah. Dirinya sendiri bahkan juga bukan seseorang yang taat beragama.
Mereka kemudian asyik berbincang. Grandma penasaran karena Rania dan tamunya terlihat seperti sudah saling mengenal. Rania mengatakan bahwa mereka bertemu pada acara pengamatan Gerhana Matahari Total di Ternate dan laki-laki itu sempat menolongnya dalam suatu hal, yang kemudian diiyakan pula oleh laki-laki itu.
Lima belas menit mengobrol, Grandma tersadar kalau ia tadi sedang memasak sup saat mengunjungi kabin untuk menawarkannya pada laki-laki itu. Tapi apanyang dilihatnya membuatnya panik, dan beruntungnya laki-laki itu masih hidup. Ia tidak bisa membayangkan sesuatu yang mengerikan terjadi di dalam kabinnya. Wanita itu lantas beranjak menuju dapur, dan kesempatan itu digunakan juga oleh Rania untuk pamit. Lagi pula, ia khawatir Maiken dan Odin sudah bangun.
Rania sedang mengenakan sepatu boots-nya ketika ia kemudian mendengar laki-laki itu berujar, "Baiklah, namamu Rania. Bukan Auriga. Aku akan mengingatnya."
Rania mengucap terima kasih tanpa suara.
"Kalau namaku, masih ingat?"
Alnath. Namamu Alnath. Namun, kalimat itu hanya menggumam dalam dirinya, dan yang diucapkan bibirnya justru, "Tentu."
"Ya, dari dulu namaku selalu seperti itu." Laki-laki itu mengulas senyum, yang bagi Rania justru terlihat dipaksakan.
Rania berbalik memunggungi laki-laki itu dan berjalan menyeberangi halaman. Entah mengapa, perasaannya mendadak kacau. Laki-laki itu bisa saja tertawa, berkelakar, terlihat tak kehabisan topik bicara, saat mereka berbincang bersama Grandma tadi. Tapi, kekecewaan yang Rania sempat tangkap dari wajahnya tadi seperti menyiratkan sesuatu. Dan senyum yang dipaksakan itu, laki-laki itu jelas sedang menyindirnya.
Entah bagaimana, jauh di dalam hatinya Rania merasa bahwa kekecewaan itu berkaitan dengan dirinya. Bukan hanya karena soal nama, tapi seolah lebih dari itu.
Bersambung ...
Langganan:
Postingan (Atom)














