Pages

Kamis, 21 April 2016

Berhenti Patah

“Nainna?” 

Aku mengangkat kepala. Sosokmu menjulang di sana. Napasku tertahan. Mataku mengerjap, sementara kamu dengan entengnya menarik kursi satu-satunya yang masih tersisa di kafetaria ini—tepat di hadapanku.
“Kamu sendiri?” tanyamu.
“Seperti yang kamu lihat,” kataku, berusaha menyuguhkan seulas senyum.
Kalau boleh kukatakan, aku tidak suka sesuatu yang membuatku merasa terjebak. Terutama di tengah keramaian, dengan cuaca yang tak bersahabat dan menghalangiku pergi ke mana-mana seperti ini, Seolah itu tak cukup, kamu tepat di depan mataku, menciptakan keheningan-keheningan yang canggung.
Aku memang tidak suka banyak bicara, tapi aku lebih tidak menyukai keheningan yang diciptakan dua orang ketika mereka bahkan bisa berbicara banyak hal. Dan itu yang kamu sedang lakukan. Satu menit yang diam terasa panjang. Jadi, kuatur irama jantungku dan berusaha menarik pita suaraku untuk kemudian menggumam, “Hujan di luar deras sekali ...”
Kamu mengangguk, lalu mengalihkan kepalamu dari jendela kafetaria yang kabur setengah berembun. “Itu sebabnya perkumpulan klub dibatalkan. Terlalu malas untuk keluar di saat seperti ini, bukan?” Senyummu miris.
“Tentu. Hujan seperti ini akan lama, Kai,” ujarku.
“Begitu? Hmm.”
Percakapan yang minim, ketegangan yang membuatku jengah, dan ketidakbanyak bicaraanmu itu, sejenak muncul sebuah pemikiran; apa kamu bahkan merasa tegang atau memang sedang tidak ingin bicara?
Aku harus mengakui aku bahagia ketika yang di depanku itu kamu; meski bersamamu ada keheningan-keheningan yang tidak kusuka itu. Secara sadar, aku tahu, aku tidak seharusnya merasa seperti itu. Kamu bukan seseorang yang seharusnya kujatuhi, tetapi perasaanku jauh telah berlari dari batas kendali. Aku tidak mampu memegang kemudi.
Setelah waktu yang panjang, dan pertemuan-pertemuan tanpa sengaja dengan dialog-dialog kecil itu, aku semakin menyadari bahwa setiap kali perasaan itu bertambah setiap kali itu pula sebuah kesalahan itu tak mau menyerah. Ia bersama seperti dua sosok yang berjalan beriringan.
Lalu suatu ketika, di senja yang cerah—jauh bertentangan dengan hujan deras waktu itu—aku menemukan alasan untuk berhenti; dari cerita orang-orang tentangmu yang sebenarnya sudah banyak kuketahui. Bahwa tidak seharusnya aku menjatuhkan diri. Bahwa kau barangkali bukan seseorang yang tepat untuk aku di kemudian hari.
“Dia menyukai orang itu.”
“Orang itu juga menyukainya.”
Untuk hal-hal semacam itu, aku seharusnya memang tidak banyak menangis. Sesuatu yang membuatku lelah. Sesuatu yang kemudian menimbulkan bekas-bekan tetesan dalam Intelegensi Embun Pagi-ku yang wangi dan baru terjamah; ketika pemikiran yang cemerlang dibutuhkan untuk membacanya.
Hei, memangnya siapa kamu?
When I tell you this, it’s not a fiction. It’s not only in my imagination. For real, I feel that I have fallen for you. It’s real. My feeling is real. But I can’t say it as real, even in every time I open my eyes, you’re there—and I pretend nothing happens.
Lalu, setelah ketidakpura-puraanku itu, aku akan menghentikan semuanya. Ya, aku akan berhenti,
... untuk patah.   
*
Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tantangan menulis Flashfiction dari tulisan di blog-nya Mbak Tutut Laraswati yang berjudul P A T A H (klik aja di judulnya yang ‘patah’ untuk membacanya ya). Well, wish me luck—(meski entah yang kutulis ini flasfiction atau bukan, hehe).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen, yuuuk ;))