Aku mengangkat kepala. Sosokmu menjulang
di sana. Napasku tertahan. Mataku mengerjap, sementara kamu dengan entengnya menarik
kursi satu-satunya yang masih tersisa di kafetaria ini—tepat di hadapanku.
“Kamu sendiri?” tanyamu.
“Seperti yang kamu lihat,” kataku,
berusaha menyuguhkan seulas senyum.
Kalau boleh kukatakan, aku tidak suka
sesuatu yang membuatku merasa terjebak. Terutama di tengah keramaian, dengan
cuaca yang tak bersahabat dan menghalangiku pergi ke mana-mana seperti ini, Seolah
itu tak cukup, kamu tepat di depan mataku, menciptakan keheningan-keheningan
yang canggung.
Aku memang tidak suka banyak bicara,
tapi aku lebih tidak menyukai keheningan yang diciptakan dua orang ketika
mereka bahkan bisa berbicara banyak hal. Dan itu yang kamu sedang lakukan. Satu
menit yang diam terasa panjang. Jadi, kuatur irama jantungku dan berusaha
menarik pita suaraku untuk kemudian menggumam, “Hujan di luar deras sekali ...”
Kamu mengangguk, lalu mengalihkan
kepalamu dari jendela kafetaria yang kabur setengah berembun. “Itu sebabnya perkumpulan
klub dibatalkan. Terlalu malas untuk keluar di saat seperti ini, bukan?” Senyummu
miris.
“Tentu. Hujan seperti ini akan lama,
Kai,” ujarku.
“Begitu? Hmm.”
Percakapan yang minim, ketegangan
yang membuatku jengah, dan ketidakbanyak bicaraanmu itu, sejenak muncul sebuah
pemikiran; apa kamu bahkan merasa tegang atau memang sedang tidak ingin bicara?
Aku harus mengakui aku bahagia ketika
yang di depanku itu kamu; meski bersamamu ada keheningan-keheningan yang tidak
kusuka itu. Secara sadar, aku tahu, aku tidak seharusnya merasa seperti itu. Kamu
bukan seseorang yang seharusnya kujatuhi, tetapi perasaanku jauh telah berlari
dari batas kendali. Aku tidak mampu memegang kemudi.
Setelah waktu yang panjang, dan pertemuan-pertemuan
tanpa sengaja dengan dialog-dialog kecil itu, aku semakin menyadari bahwa
setiap kali perasaan itu bertambah setiap kali itu pula sebuah kesalahan itu
tak mau menyerah. Ia bersama seperti dua sosok yang berjalan beriringan.
Lalu suatu ketika, di senja yang
cerah—jauh bertentangan dengan hujan deras waktu itu—aku menemukan alasan untuk
berhenti; dari cerita orang-orang tentangmu yang sebenarnya sudah banyak kuketahui.
Bahwa tidak seharusnya aku menjatuhkan diri. Bahwa kau barangkali bukan
seseorang yang tepat untuk aku di kemudian hari.
“Dia menyukai orang itu.”
“Orang itu juga menyukainya.”
Untuk hal-hal semacam itu, aku
seharusnya memang tidak banyak menangis. Sesuatu yang membuatku lelah. Sesuatu
yang kemudian menimbulkan bekas-bekan tetesan dalam Intelegensi Embun Pagi-ku
yang wangi dan baru terjamah; ketika pemikiran yang cemerlang dibutuhkan untuk
membacanya.
Hei, memangnya siapa kamu?
When I tell you this, it’s not a
fiction. It’s not only in my imagination. For real, I feel that I have fallen
for you. It’s real. My feeling is real. But I can’t say it as real, even in
every time I open my eyes, you’re there—and I pretend nothing happens.
Lalu, setelah ketidakpura-puraanku
itu, aku akan menghentikan semuanya. Ya, aku akan berhenti,
... untuk patah.
*
Tulisan ini dibuat
untuk memenuhi tantangan menulis Flashfiction dari tulisan di blog-nya
Mbak Tutut Laraswati yang berjudul P A T A H (klik aja di judulnya yang ‘patah’ untuk membacanya ya). Well, wish me
luck—(meski entah yang kutulis ini flasfiction
atau bukan, hehe).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komen, yuuuk ;))