Pages

Rabu, 27 Januari 2016

Seseorang dan Pikiran-pikiran yang Serupa

Have you ever looked at that person who wrote something and gone speechless like, “OMG, that's so me!”

Mungkin memang pikiranku yang lebih banyak ‘ke mana-mana’ akhir-akhir ini, tiba-tiba aku ingat blog seseorang. Langsung saja kuketik alamat blog seseorang itu di browser-ku. Dan ya, sudah ada banyak postingan sejak terakhir kali aku mengunjunginya.

Seorang penulis muda. Laki-laki. Novelnya baru ada 3. Sejak awal mengunjungi blognya aku dibuat kagum dengan tulisan-tulisannya. Entah, meski bisa dibilang sederhana, tapi selalu ditulis dengan menarik. Dengan cara yang aku suka

Aku terpaku.

I've found what I've been looking for.

Aku tidak pernah bisa memahami cara pikiran bekerja bagi setiap orang. Itulah mengapa kita tidak pernah bisa dengan mudah menebak apa yang ada dalam pikiran orang lain seberapa kuat pun kita berusaha. Pikiran memiliki cara kerjanya sendiri; dan ini bergantung pada kepribadian, visi dan misi hidup setiap orang, juga soal keyakinanannya akan Sang Pencipta.

Begitu membaca postingan-postingannya, seketika aku menggumam sendiri, that’s so me.

Entah mengapa rasanya kami (menurut versiku) memiliki kecocokan dalam banyak hal. Tak hanya soal pola pikir, tapi juga cara menyikapi sesuatu. Juga hobi. Yah, kami mungkin bisa jadi teman diskusi yang baik.

Aku jadi teringat beberapa tahun lalu. Kami sempat saling ‘menyapa’  (kalau tidak bisa dikatakan ‘mengobrol’) dalam satu ruang. Sayangnya responsku tidak begitu hangat. Yah, memangnya siapa yang bakal tahu orang itu akan menjadi penulis yang amat dikenal? Blogger yang banyak disukai postingan-nya? Pembaca buku yang selalu ditunggu review-nya? Lagi pula pertanyaannya waktu itu terasa sedikit ‘menodong’, aku tidak tahu harus berbicara apa. Jadi lebih baik kabur saja, hehe.

Selain itu, yang membuatku canggung juga, aku tidak tahu banyak tentang orang ini waktu itu. Kami hanya bertemu di sebuah ruang diskusi dan pernyataan-pernyataannya tentang apa pun bisa jadi sesuatu yang menarik untuk kuketahui. Jadi aku memutuskan untuk ... semacam mencari tahu; sapaan dalam sebuah ruang yang berakhir pada ucapannya yang berbunyi, “Oh, oke. Thanks. Semoga bisa jadi teman baik.” :))

Orang ini banyak berkembang, sejauh yang aku tahu. Sekitar 3 tahun lalu, aku membaca cerpennya dimuat di salah satu majalah nasional, lalu menyusul buku pertama, kedua, hingga kini sampai pada buku ketiga--yang kelihatannya lumayan sukses. Tulisannya memenuhi kriteria membuat candu; manis dan hangat pada saat yang sama, serta... aku tidak tahu apakah penggunaannya tepat atau tidak, menginspirasi. Ya, sesuatu semacam itu.

Orang ini menginspirasiku, meski tidak sangat. Aku dan dia memiliki kekhawatiran-kekhawatiran yang sama terhadap sesuatu. Pandangan-pandangan yang hampir sama (beberapa yang tidak sama mungkin karena ketidaktahuannya dan ia belum sampai pada tahap itu). Impian-impian yang sama persis, dan yah... mungkin cara menyikapi yang sama; betapa yang bisa mengendalikan sekaligus menjadi obat kadang hanya diri kita sendiri--dengan peran serta Allah tentunya. Thing that people named it “the power of inside”.

We do love reading and writing. Dan aku belajar cara menulis review buku yang menyenangkan dari blog-nya, sesuatu yang diam-diam kulakukan. Aku sangat mengapresiasi bagaimana ia menetapkan komitmen tentang tujuannya menulis. Dan itu kembali mengingatkanku bahwa seharusnya seperti itulah aku menulis.

Lalu, aku pernah membaca sebuah quote yang bunyinya begini: “When reading, we don't fall in love with the characters’ appearance. We fall in love with their words, their thoughts, and their hearts. We fall in love with their souls.” Ibarat fiksi, orang ini seperti karakter dalam novel. Kita akan jatuh cinta pada kata-katanya, pikiran-pikirannya, sampai dibuat menyatu dengan jiwanya seolah ia amat kita kenal di dunia nyata (hei, bukan jatuh cinta dalam arti yang itu loh ya :D).

Menurutku, sesuatu yang seperti ini justru penuh esensi. Kamu mempunyai dua mata yang bisa melihat kesempurnaan yang ada di hadapanmu, tapi kamu memilih untuk tidak menggunakannya hanya untuk sesuatu yang tampak begitu saja. Lebih jauh, kamu menggunakan hatimu untuk melihat sisi lain dari sesuatu yang tampak itu.

Itu sama seperti kita melihat atau menilai seseorang, juga ketika jatuh cinta pada seseorang. Jika kamu menyukai seseorang barangkali kamu harus banyak bertanya pada dirimu sendiri apa yang membuatmu menyukainya. Perkara kita bisa menyukai tanpa alasan, percayalah itu tidak benar. Kita hanya belum menemukannya saja atau bahkan terlalu sulit mengungkapkannya lewat kata-kata.

Well, menemukan seseorang yang sejalan denganku rasanya sungguh melegakan. Kita benar-benar jadi teman baik, Tuan (lagi-lagi ini menurut versiku sendiri :D). Aku menemukan beberapa jawaban dari pertanyaanku tentang suatu hal. It does help me to get through then.

Dan mungkin begitulah seharusnya kamu mencari, seseorang di masa depan sebaiknya adalah seseorang yang bisa membuatmu menemukan dirimu sendiri;  dengan persamaan sekaligus perbedaan yang bisa melengkapi.

---A note to myself

2 komentar:

  1. Orang yang nggak disangka berkembang pesat ya :) aku juga beberapa kali membaca tulisan seseorang dan merasa,"hey, he wrote about me." juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau begitu rasa-rasanya semua yang kita pikirkan sudah terwakili ya, dan fakta bahwa kita nggak sendirian :D

      Hapus

Komen, yuuuk ;))