Pages

Senin, 03 November 2014

Catatan Sang Jemari


I owe this picture here





Jemari itu tengah bertumpu. Pada sederet huruf yang telah dirapalnya ratusan kali, ribuan kali, jutaan kali. Entah telah berapa kali ratusan kali, ribuan, atau jutaan kali, tak ada yang sanggup menghitungnya. Ia sungguh tak punya waktu untuk menghitung hal-hal semacam itu. Lagi pula untuk apa? Toh sia-sia saja. Setiap kali menumpukan dirinya, seolah itulah pertama kali ia mengalaminya.

Kali ini, sekelebat rasa yang tiba-tiba menyeruak ke sisinya membuat kemulai tubuhnya kembali menari. Mencoba menafsirkan rasa abstrak yang dikirim sang benak. Ia tahu betul ia bisa menuliskan apa yang diinginkan sang benak, meski semua itu tak sepenuhnya dapat mewakili. Namun jemari bahagia, karena rasa itu ada ia kini mampu bercerita. Tak boleh terlalu gamblang, itu yang benak minta. Ungkapkanlah hanya satu kata, katanya lagi.

Jemari pun mengangguki titah sang benak. Dalam sekejap, tumpuannya bergulir dalam baris-baris alinea yang sengaja dibuat kacau makna. Siapa peduli yang membaca mengerti atau tidak? Bukan tugasnya memberi penjelasan atas setiap kata. Bukankah terka kepala membuat semuanya akan jadi berbeda?

Itulah sejatinya yang dia inginkan. Setiap jiwa memainkan kartu terka yang sama sekali tak berisiko terhadap kehilangan nyawa. Bersikukuh begitu karena ia sendiri tahu, siapa pun pasti pernah merasa. Rasa yang akan membuat siapa pun ingin berlari menghampiri benak lainnya, tak peduli sejauh apa. Ia—rasa itu—terlalu menyesakkan ketika tak ada cukup mantra yang menjadi pusaka. Seperti larut dalam aliran darah setiap sel dalam tubuh. Semuanya akan terasa begitu cepat, tanpa aba-aba, lalu tahu-tahu menjadi kuasa.

Menyedihkan, memang. Tetapi jemari itu mencoba mengarahkan sang benak untuk terbiasa, seperti sebelum-sebelumnya ketika ‘serangan’ itu muncul tiba-tiba. Apa pun itu, jemari tengah berusaha membantu supaya rasa itu turut reda, meskipun ia tahu di satu sisi ia dan benak terkadang menikmatinya juga. Merasa bahagia atas parsel yang dikirim Tuhan secara tak terduga dan berusaha memaknainya, itu saja.

Kisahnya hampir usai. Jemari dipenuhi kebimbangan dalam pikirnya. Bagaimana mungkin ia membiarkan pembaca hanya mengandalkan terka? Ah, mungkin tidak apa-apa jika ia menuliskan satu kata saja seperti yang disarankan sang benak, meski ia sendiri lebih suka melihat pembaca dengan gelengan kepala tanda tak paham makna.

Jemari menghitung mundur, bersiap menuliskan kata pamungkas yang tak lekang dalam rapalannya.

Rindu.
           
Kepada siapa, mungkin ada yang bertanya? Ah, bukankah tak penting bagimu kepada siapa? Sudah cukup, satu kata saja. Selebihnya sila diterka.



 Jemari Evnaya Sofia di 26 Oktober 2014

Kamis, 30 Oktober 2014

Kepada Hujan Pertama



taken from here



“Ada banyak awan, tapi mengapa hujan tidak juga datang?” ia menggumam dengan kepala menengadah ke langit.
            Aku lantas mengangkat kepala, menatap pekat dengan ikon bulan separuh kuning telur di atas sana sambil berujar asal-asalan, yang sebenarnya lebih terdengar seperti pertanyaan, “Mungkin awan perlu menabung lebih banyak lagi?”
* * *

Kepada hujan,
            Dialog kecil semalam tadi, apakah kau mendengarnya? Aku seolah bisa membaca isyarat darimu bahwa kau mendengarnya. Bukankah konyol jika aku mengatakan kau perlu ‘menabung’ lebih banyak awan lagi sebelum turun sebagai hujan? Ah ya, terkadang sulit mengendalikan pikiran-pikiran liar yang tiba-tiba saja muncul di benakku lalu tanpa kusadari terucap oleh mulutku sendiri. Aku maupun teman dialogku tak pernah bisa menebak kapan kau akan datang. Namun di luar dugaanku, kau datang begitu cepat dan aku bahkan tak sempat menyambut kedatanganmu.
Di detik kuterjaga di penghujung malam tadi, aku mendadak merasa dingin menyergapku. Saat itulah aku mendengar kau datang. Aku tidak tahu sudah berapa syair yang kaunyanyikan sampai akhirnya aku terjaga. Lama aku menatap langit-langit kamar sembari mendengar iramamu. Betapa menenangkannya, hujan. Aku seolah memilikimu seutuhnya, hanya ada kita, Tuhan, dan malam di batas persimpangan. Aku tak sepenuhnya sadar, tapi mengetahui kau datang sudah cukup membuatku bahagia.
Aku benar-benar menikmati sela waktu yang diberikan Tuhan untuk kita. Membiarkanmu bercerita lewat bahasa yang sama sekali tak kumengerti apa maknanya. Aku merasa damai, itu saja. Hingga tanpa sadar--entah di detik ke berapa--aku kembali lelap. Ritual yang ingin untuk kulaksanakan terabai begitu saja. Bukan, bukan karena dirimu yang memelukku terlalu erat, tapi karena sesuatu yang tanpa sadar tidak bisa kukendalikan.
Masih buta malam ketika aku kembali terjaga. Aku bersyukur, tiga puluh menit setelah panggilan itu. Sejenak aku merasa sedih, ke mana kau? Sudah pulang? Bukankah ceritamu belum usai, hujan? Harusnya banyak yang bisa kaukisahkan, setelah lama tidak datang. Meski aku sendiri tidak paham, rasanya bahagia saja bisa mendengarmu. Seperti yang orang-orang sering katakan, bahagia bisa saja berasal dari hal-hal sederhana. Dan salah satu hal sederhana yang membahagiakan itu adalah adanya kau.
Mungkin kau memang tak sempat berpamitan denganku, tapi aku tahu, kau bukan tipe yang datang dan pergi sesuka hati. Ada jejak yang kaugoreskan pada sehampar bagian bumi. Aku menciumnya, hujan. Ya, aroma yang kautitipkan itu. Rasanya sama wangi dengan ketika aku mencium wangi kertas novel-novel kesayanganku, membuat candu.
Ah.
Kapan kau datang lagi?
* * *

            “Ternyata semalam dia datang, sama sekali tak terduga.”
            “Ah ya, benar. Apakah kau berpikir dia mendengar dialog kita?”




--mengenang hujan dini hari di tanggal 30 Oktober 2014