Pages

Sabtu, 10 November 2012

(Bukan) Sekedar Cerita dari Jogja


Suasana acara deklarasi pelajar Jogja

Berawal dari SMS April (sahabat jauh yang saya kenal setelah mengikuti LMI Unmuh Malang 2012) pada suatu siang yang mengabarkan tentang info lomba film pendek, komik, fotografi, dan menulis bebas yang diselenggarakan oleh Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Tentu saja, saya tertarik dengan lomba menulis bebas. Bukan apa-apa, saya nggak bisa bikin film, sekalipun cuma film pendek. Nggak mahir fotografi. Nggak jago gambar. Well, yang paling klop dengan saya adalah cabang lomba menulis bebas. 

Saya dan April pun berencana akan mengikuti lomba tersebut dengan harapan kami bisa lolos tiga besar dan dapat bertemu di UGM nanti. Beberapa hari setelahnya, saya pun menanyakan tentang syarat dan ketentuan lomba tersebut. Sambil menunggu balasan SMS dari April, saya membuka netbook dan online. Saya memutuskan mencari info lomba tersebut sendiri. Saya telah menemukan info lomba tersebut dan menyalinnya ke Ms. Word ketika ternyata April pun telah menyalin semua info lomba tersebut dan mengirimkannya lewat pesan di akun FB saya. Waaah, makasi ya, April :))
Entah selang berapa hari, saya pun bertanya pada guru Bahasa Indonesia sekaligus pembimbing saya dalam menulis tentang apa itu menulis bebas. Karena jujur saja, waktu itu saya kurang paham menulis bebas itu seperti apa dan bagaimana. Apalagi di info lombanya tidak dijelaskan secara spesifik. Guru Bahasa Indonesia saya, Ibu Dra. Mihartini (yang lebih akrab disapa Bunda oleh siswa) pun memberikan penjelasan bahwa menulis bebas berarti tulisan itu bisa dalam bentuk esai, cerpen, puisi, esai, ataupun artikel.
Dari empat tema yang diberikan panitia, saya telah memutuskan untuk mengambil tema “A Letter to Friends”. Entah kenapa saya justru lebih tertarik dengan tema yang satu ini ketimbang tiga tema lainnya meskipun pada saat itu saya belum memiliki gambaran sama sekali akan menulis tentang apa dan untuk siapa, secara khusus. Deadline yang masih panjang membuat saya tak terlalu terburu-buru menulis naskah untuk lomba tersebut. Selain karena tugas-tugas dari sekolah yang tak pernah absen, kadangkala saya pun harus menunggu ide datang dulu sebelum menulis. Yak, maklum yaa masih pemula. :p
Menginjak beberapa hari sebelum deadline barulah saya bingung sendiri. Mau nulis apa belum ada bayangan. Oh my Goooddd! Dan ternyata April pun juga sama, belum dapat ide. Belum lagi waktu itu saya harus mengerjakan naskah LKTI Sejarah untuk Undiksha. Waaakkss. Panic mode on lah pokoknya! Gini nih, akibat suka nunda-nunda pekerjaan!
Emang dasar saya Miss Deadline, ide pun baru muncul di saat-saat terakhir pengumpulan naskah. Baru nulis dua paragraf udah buntu aja. Padahal kalo penulis profesional nulis berlembar-lembar dulu baru kena writer block. Lha saya? Baru dua paragraaaf, Cynnn! Nggak ada pilihan lain, naskah itu pun mengendap begitu saja. Sehari menjelang deadline, tepatnya tanggal 27 September malam, barulah saya kembali menyentuh naskah itu dan sibuk ketak-ketik depan layar. Kejar targeeet!
Sekitar satu setengah jam menjelang tengah malam, naskah tersebut pun berhasil saya selesaikan. Hanya tiga halaman saja. Saya tidak mampu menulis lebih panjang lagi. Syukur banget kalau 3 halaman pun sudah masuk batas minimal karya yang boleh diikutsertakan. Mengeditnya tidak membutuhkan waktu terlalu lama. Saya hanya perlu mengganti beberapa kalimat supaya terdengar lebih pas.
Masalah ada dalam penentuan judul. Bener-bener nggak bisa mikir judul apa yang pas untuk naskah kali ini. Kalau boleh saya bilang sih, kesulitan menentukan judul ini karena… uhm, tidak ada sesuatu yang baru yang saya angkat dalam tulisan tersebut. Cenderung klasik. Tentang kejenuhan dalam belajar, godaan-godaan yang dialami pelajar,  dan semangat untuk bangkit kembali. Yang membuat tulisan tersebut istimewa dan enak dibaca mungkin karena saya lebih banyak menggunakan permainan kata kiasan daripada menggambarkannya secara gamblang. Padahal mah isinya biasa-biasa aja, sekedar cerita yang terinspirasi dari kehidupan nyata.
Nggak ada pilihan lain, saya pun memberi judul “Semangat untuk Temanku”. Sempat bingung juga pas mau nulis kata ‘untuk’. Huruf ‘u’-nya kapital enggak ya? Akhirnya nanya ke grup CK Writing, dijawab sama Kak Nury Purwanti yang alhamdulillah banget masih melek, hihihi. Abis itu cus ke web CPMH UGM, ngisi angket, dapet formulirnya, isi formulirnya, lampirin ke e-mail, dan kiriiimmm… Lega. Tinggal berdoa dan nunggu pengumuman.
Di info lomba, pengumuman pemenang dilaksanakan tanggal 28 Oktober bersamaan dengan penganugerahan serta acara Deklarasi Sekolah Indonesia Sejahtera. Secara otomatis, pengumuman untuk pemenang yang lolos 3 besar pasti dihubungi terlebih dahulu karena nantinya mereka akan diminta datang ke Jogja untuk menghadiri acara tersebut. Saya bolak-balik cek e-mail, tiap pulang sekolah selalu cek HP, tapi tanda-tanda saya lolos 3 besar belum juga ada. Bukannya kabar gembira, saya justru shock parah sewaktu membaca e-mail panitia yang menanyakan apakah saya benar-benar masih duduk di bangku SMA karena katanya kartu pelajar saya menunjukkan saya seharusnya telah duduk di bangku kuliah dan untuk memastikan kebenarannya, saya diminta melampirkan surat keterangan dari sekolah. Dengan gemetar saya mencari kartu pelajar saya di dalam tas sekolah dan memeriksanya dengan teliti.
Alamaaak! Pantes aja panitianya nggak percaya! Ternyata di kartu pelajar saya tertulis saya masuk ke sekolah saya tahun 2009. Dan sekarang 2012, itu artinya saya teah lulus Juni 2012 lalu. Yang tambah bikin panik, panitia membatasi pengiriman surat keterangan dari sekolah itu tanggal 10 Oktober. Sementara ketika saya mengecek e-mail hari itu adalah tanggal… 10 Oktober! Panik tingkat tinggi! Berkali-kali telepon CP panitia nggak diangkat, padahal mau nanya kalau surat keterangan dari sekolahnya apa boleh baru dikirim besok karena saat itu juga sudah sore dan saya telat cek e-mailnya.
Masih dengan tubuh gemetar karena panik, akhirnya saya memilih lebih dulu menelepon Pak Edy, Waka Kesiswaan yang merangkap guru mapel Kinia di kelas saya. Saya ceritakan semuanya dari awal. Belum sempat saya mengatakan bahwa saya ingin meminta surat keterangan dari sekolah, beliau berkata lebih dulu, “Oh, kalau di kartu pelajarnya memang ada kesalahan, berarti nanti pake surat keterangan dari sekolah aja.” Sedikit lega.
Malamnya saya coba hubungi panitia lagi. Berkali-kali, dan tetep gak diangkat. Nyerah, saya pun coba tanya lewat SMS. Lama juga dibalesnya. Saya hampir pasrah karya saya didiskualifikasi karena tidak memenuhi persyaratan. Ya Allah, padahal pengen banget ke Jogja. Keesokan paginya, ketika baru bangun tidur saya mengecek HP. Ternyata ada SMS balasan dari panitia, saya boleh mengirimkan surat keterangannya di tanggal 11 Oktober.
Nggak sampai di situ, masalah juga datang saat saya akan melampirkan scan surat keterangan dari sekolah di e-mail. Lola parah. Berkali-kali dicoba, tetep gak mau terlampir. Ternyata file-nya kegedean, mana udah malem banget. akhirnya saya pun memutuskan mengirimnya keesokannya lagi karena mau nggak mau itu file harus diperkecil dulu. Dan keesokannya, setelah ukurannya diperkecil, e-mail pun sukses dikirim. Kendala-kendala tersebut berhasil menguji kesabaran saya, tapi toh akhirnya berhasil dilewati. Semuanya gak lepas dari kuasa Allah. Thank you, Allah. =))
Saking ingin dan terobsesinya menjadi juara, saya sempat bermimpi menghadiri acara penganugerahan juara lomba tersebut di Jogja sebanyak 3 kali. Parahnya salah satunya saya sempat memimpikannya ketika tidur siang. :DD Doa-doa dipanjatkan tanpa henti, juga dibantu doa orangtua. Rutinitas saya setiap pulang sekolah mengecek HP berlansung setiap hari. Tanda-tanda ada kontak dari panitia yang mengabarkan saya lolos 3 besar belum juga datang. Sampai suatu kali, saat pelajaran Sejarah, teman sebangku saya menunjuk kaver LKS Sejarah yang menampilkan latar Lapangan Serangan Oemoem 1 Maret. Saya tertegun, penganugerahan pemenang lomba kabarnya akan dilaksanakan di tempat itu. Hasrat saya menjadi juara pun semakin tinggi lagi.
“Pengen ke Jogjaaaa!” saya menyuarakan isi hati saya tiba-tiba. “Loh, katanya pengen ke Jepang?” teman saya menanggapi. “Ya pengen dua-duanya! S-1 di Jogja, S-2 di Jepang!” khayal saya. Pun sewaktu teman saya memainkan sepatu saya dan menendangnya ke sana kemari, saya spontan berseru, “Jangaaan, itu sepatunya mau dipake ke Jogja!”  Kata teman saya, “Kuliah masa pake sepatu gini (sepatu sekolah)?”  “Enggaaak, bukan buat kuliah. Kan buat acara sekolah!”
Semua pembicaraan itu terjadi tanpa sengaja. Saya juga tidak tahu kenapa tiba-tiba mengatakan bahwa saya ke Jogja untuk acara sekolah. Faktanya lagi, pembicaraan tersebut terjadi tepat pada hari terakhir sebelum libur Idul Adha atau H-2 acara peenganugerahan pemenang dan Deklarasi Pelajar di Jogja. Ditanya tentang rasa pesimis, tentu ada. Apalagi rasanya tidak mungkin panitia akan menghubungi pemenang di H-2 acara. Namun di sis lain saya pun tetap optimis. Seperti hari-hari sebelumnya, saya selalu mengecek HP ketika baru sampai di rumah. Masih dengan seragam lengkap dan tas di punggung. Lagi-lagi saya kecewa, tidak ada tanda-tanda panitia menghubungi saya dan mengatakan bahwa saya lolos 3 besar. Sebelum tidur siang, tanpa sadar saya menagih janji Allah dalam sebuah ucapan dalam hati, “Tuhan, kapan kabar baik itu datang?”
Antara sadar dan tidak sadar, saya merasa dibangunkan oleh bunyi sesuatu. Dan saya enggan untuk bangun. Tapi ada dorongan kuat yang menyuruh saya untuk bangun. Saya terkaget-kaget ketika mendapati ada 4 panggilan tak terjawab dari nomor asing. Itu artinya bunyi yang tadi sempat membuat tidur saya sedikit terganggu berasal dari lagu Separuh Aku yang saya pakai untuk ringtone HP. Saya gemetar. Kalau boleh dibilang, waktu itu saya merasa cukup yakin bahwa itu nomor panitia SIS CPMH. Entah keyakinan itu datang dari mana. Baru akan menelepon balik ke nomor tersebut, panggilan kelima datang. Dan ternyata benar!
Subhanallaah… Ini sesuatu. Akhirnya kabar baik itu datang. Bapak saya langsung menyuruh saya sujud syukur. Saya lalu mengirim SMS untuk April dan Fiya untuk mengetahui apakah mereka mendapat kabar yang sama. Ternyata tidak. Pengumuman sudah terpampang di web CPMH UGM ketika saya membukanya. Pun di sana tidak ada nama mereka. sayang sekali. Padahal kami sama-sama ingin bertemu, saya dan April. Dan ingin bertemu Fiya (lagi).
Jadi nggak enak hati sekaligus ingin mengucapkan rasa terima kasih yang amat besar buat April. Makasi April, udah ngasi tau info lombanya. Moga suatu saat bisa ketemu yaa. Aaamiin. Setelah itu datang ucapan selamat lewat telepon dari Fiya, it was something when I heard your voice again, Sista. Kemaren pas ketemu di UMM nggak sempat ngobrol banyak. Huhuhu.
Berhubung dihubungi panitianya mendadak, saya cukup panik juga. Mana besoknya sekolah libur. Telepon Pak Edy lagi, beliau meminta saya memberikan semua print out dari file tentang lomba tersebut. Mulai dari info lomba, naskah lomba, serta undangan dari Panitia SIS CPMH. Nantinya beliaulah yang akan membawa semua file itu ke rumah Kepala Sekolah. Pak Edy cukup yakin Kepala Sekolah akan memberikan persetujuan untuk kami berangkat ke Jogja. Dan ternyata benar. Sesuatunya lagi bisa berangkat bareng Bunda, meskipun rada nggak enak juga gara-gara saya acara Bunda sama anak  XII IPB jadi batal. =(( Tapi apa mau dikata, instruksi Kepsek sudah begitu.
Di pagi hari menjelang beberapa jam keberangkatan, saya mendapati akun @monaG_Marpaung bertengger di mention Twitter saya. Sampai bertemu di Jogja juga, katanya. Mona Galatia Marpaung ini adalah siswa SMA N 5 Kota Jambi yang namanya tepat berada di atas nama saya dalam pengumuman 3 nominator lomba Menulis Bebas SIS CMPH dengan judul karya “Kepala Sekolah Harus Seekstrem Ilmuwan”. Dari judulnya aja udah ‘wow’ banget yaaah.
Singkat cerita, sampe Jogja pagi sekitar jam 9 dijemput sama kakak kelas yang kuliah di Jogja, Kak Clarra dan Kak Anis. Sempat envy sama Mona yang bisa jalan-jalan ke kampus UGM. Tapi apa daya kitanya aja baru nyampeee. Padahal katanya kalo Minggu pagi di UGM ada SunMor yaa (Sunday Morning, semacam pasar gitu).
Sesuai instruksi panitia, para pemenang diminta hadir di tempat acara puku 12.30 WIB karena akan ada briefing terlebih dahulu. Dari kos Kak Clarra kita naik taksi, dan wew maceeet. Nggak heran juga sih, macetnya juga karena mau ada Deklarasi Pelajar Jogja di Km. 0 Malioboro. Di dalem mobil sempat SMS-an sama Mona juga yang nanyain saya udah sampe mana. Juga ada telepon dari Unai yang katanya nggak bisa ketemu. Sebelumnya ada SMS juga dari Liliz, tapi saya baru ngeh pas udah di rumah. Fuaaah. Nggak jadi ketemu Liliz sama Unai deh.
Nyampe di tempat acara, rame gilakkk. Panitianya keliatan sibuk. Pas lagi jalan, Mona manggil saya. Saya duduk paling depan, Mona ada di belakang saya. Ciieee, akhirnya ketemu, hahaha. Yang tambah bikin panitia panik tentu saja langit yang tiba-tiba mendung yang beberapa saat kemudian diiringi hujan. Tapi mereka tetp keliatan semangat lho. Saluuut. Acara pun dibuka dengan band SMA N 6 Yogyakarta, Sixteen (semoga gak salah) yang membawakan lagu-lagu yang berisikan semangat untuk pemuda (saya nggak tau judul lagunya :p). Suara vokalisnya bagus banget. kata Bunda kayak suara Vidi Aldiano, menurut saya hampir mirip suara Sammy Simorangkir. Setelah pembukaan, launching Koran Pelajar bareng Indosat, dan sambutan-sambutan, kita disuguhi banyak hiburan. Ada tari Jawa, pantomim dari SMA N 11 Yogyakarta yang asli gokil banget, dan yang sempat membuat airmata saya bercucuran yaitu penampilan dari mereka yang tunarungu dengan dance yang sumpah keerrreeennn banget. Mereka menari tanpa mendengar iringan musik yang sebenarnya ditujukan untuk mengiringi tarian mereka. luar biasa. Salut!
Airmata saya semakin bercucuran saat mendengar cerita dari pelatih mereka tentang salah satu dari mereka. terharu, hiksss. Pertunjukan selesai, semua penonton yang tadinya sibuk mengabadikan aksi mereka mengangkat tangan untuk memberikan tepuk tangan ala mereka. setelah itu para pemenang pun dipanggil untuk menerima hadiah ke pentas. Dimulai dari lomba fotografi, komik, film pendek, dan terakhir lomba menuli bebas. Well, saya cukup beruntung bisa meraih juara ketiga. Apa pun yang dapatkan saya merasa pantas mendapatkannya. Mona memegang juara dua, sementara Aliya (saya baru kenalan sama dia di atas pentas :D) dengan judul karya “Benahi Sekolah Kita, Benahi Indonesia” meraih juara pertama. Selain trofi, uang pembinaan, dan plakat, kami juga mendapat hadiah buku dari Gramedia yang menjadi sponsor.
Kita pun diminta untuk ikut menyebarkan isi “Ekspresi dan Deklarasi Sekolah Indonesia Sejahtera: Dari Pelajar Jogja untuk Indonesia” oleh panitia. Tapi sayangnya nggak ikutan. Saya sama Bunda dan Kak Clarra juga Kak Ismi langsung muter-muter Malioboro buat beli oleh-oleh. Mona juga langsung pulang, katanya mau ke Purwokerto.
Yang saya dengar acara ini diliput oleh berbagai media, seperti TV One, Metro TV, Hai Magazine, dan beberapa radio Jogja. Kereeeennn! Sayang beribu sayang juga nggak sempat mampir ke stand pameran karya dan liat flashmob-nya. Terlepas dari itu semua, saya tetap bersyukur dan bangga bisa menjadi bagian dari acara “Ekspresi dan Deklarasi Sekolah Indonesia Sejahtera: Dari Pelajar Jogja untuk Indonesia”. Ini videonya:

 



Akhir kata, terima kasih untuk Fakultas Psikologi UGM yang telah menyelenggarakan event keren ini, dewan juri lomba Menulis Bebas atas apresiasinya terhadap karya saya, jajaran panitia yang telah bekerja keras, daaan… salam hormat untuk seluruh pelajar Jogja! Kalian luar biasa! Saluuuuttt! ^^


4 komentar:

  1. kereeeeeeeeeeeeeeeeeeeen

    BalasHapus
  2. amiiinnnn...
    suatu hari pasti kita ketemu ntah dimana tempatnya itu semua Allah yang nentu'in

    waaah kayaknya seruuu bgd acaranya jadi pgn ikut juga nyaksi'in wakt itu hehehhe

    bsk mau kulia di jogja yak ?
    kalau iya
    moga adja aku jadi blh kul dan masuk disana ben bisa ketemu ma kamu dan berjuang di sana bersama...:)

    BalasHapus
  3. Kesempatan yang luar biasa, envy+ salut!! :D

    BalasHapus

Komen, yuuuk ;))