Pages

Senin, 27 Januari 2014

The Hunger Games: Pertarungan dan… Kita?



Prok prok prok! Tepuk tangan karena aku akhirnya membaca novel ini! Haha. Lebay? Mungkin iya, tapi—err—setelah membacanya aku lantas terus-menerus berujar, “Demi apa aku mengabaikan novel ini hampir dua tahun lamanya? Membuatnya teronggok manis tanpa meluangkan sedikit waktu pun untuk membacanya?”

Seenggaknya, membaca novel ini membuatku sadar bahwa masih ada paling tidak satu buku berkualitas yang bisa kubaca saat aku tiba-tiba merasa kering bacaan fantasi untuk mengisi liburan. Jadi, aku memutuskan untuk membaca novel ini karena belakangan sudah mabok baca yang pure romance. v^.^v

Dan ini mungkin review ter-absurd yang pernah ada, yang aku tulis dan dialihbahasakan oleh Katniss (baca: ditulis dari sudut pandang Katniss). Oke, Katniss, the time is yours! *ngomong sama buku*

***
Thanks, Effie~ uhm, maksudku, Evi! *sambil nangkep mic* *kedipin mata*

Hola! Aku Katniss, Katniss Everdeen. Tapi kalian cukup memanggilku Katniss saja. Aku tokoh utama dari novel ini. Sebelum kalian lebih banyak tahu kisah tentangku dalam novel ini, ada baiknya kalian mengetahui seluk-beluk (?) novelnya terlebih dahulu. Ini dia~ *muncul slideshow*



Judul: The Hunger Games
Penulis: Suzanne Collins
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Cetakan III, Maret 2012
Genre: Fantasy Romance
Tebal: 408 halaman
ISBN: 978-979-22-8210-8

Well, dari segi fisik novel ini cukup baik, Evi bilang begitu. Kertasnya wangi (selalu!), fontnya cukup enak untuk dibaca (tidak terlalu besar ataupun kecil), baik kertas maupun kavernya lentur, sangat nyaman untuk dipegang di tangan. Mau tak mau ia mengatakan bahwa banyak novel atau buku-buku yang memiliki kaver yang kaku sehingga terkadang itu menyulitkan pembaca dan membuat tidak nyaman karena pembaca harus menahan kuat-kuat si kaver ketika membaca agar buku tetap terbuka (pengecualian untuk hard cover).

Adapun novel ini menyajikan cerita tentang event tahunan yang diadakan di negaraku, Negara Panem, yaitu The Hunger Games. Jadi, karena suatu peristiwa yang terjadi di masa lalu—aku tidak akan membocorkannya di sini peristiwa apa itu—setiap tahunnya, dua belas distrik yang ada dalam wilayah Panem harus mengirimkan satu anak perempuan dan satu anak laki-laki untuk mengikuti permainan konyol itu.

Malangnya, di antara ribuan nama yang berada dalam kertas pemungutan suara itu, nama adikkulah yang muncul sebagai sebagai wakil anak perempuan dari distrikku, Distrik 12. Mau tak mau aku memaksa untuk menggantikannya karena aku sangat menyayanginya. Dari perwakilan laki-laki, terpilih Peeta Mellark—anak tukang roti yang menganggapku tak menyadarinya hidup sampai kami bertemu di hari pemungutan.

Dan ke sanalah kami, ke pusat kota Panem, Capitol, untuk mewakili Distrik 12 sebagai peserta The Hunger Games dengan mentor kami, Haymitch, yang beberapa puluh tahun lalu bertahan sebagai pemenang dari Distrik 12. Tim yang menangani Distrik 12 membuat aku dan Peeta berkilau dan mata penonton teralihkan pada kami sejak pertama kali kami muncul. Dan dimulailah sandiwara-sandiwara konyol yang harus kami lakukan untuk menarik sponsor yang akan membantu kami bertahan saat The Hunger Games berlangsung.

Peeta membuat The Hunger Games kali ini menjadi The Hunger Games yang tak terlupakan karena pernyataan konyolnya di hadapan layar kaca yang mengatakan bahwa ia tidak mungkin menjadi kekasih orang yang dicintainya karena orang itu datang bersamanya untuk mengikuti The Hunger Games. Tentu saja aku tahu orang yang dimaksud adalah aku. Yah, dua puluh empat peserta, dan sesuai peraturan, hanya ada satu orang yang akan tersisa sebagai pemenang.

Aku menganggap pernyataan Peeta adalah bagian dari sandiwara yang harus ia mainkan, atau… kami mainkan? Entahlah, tapi toh aku mengikutinya juga. Mengikutinya dengan setulus hati atau tidak, kau akan mendapat jawaban jika membaca novel ini. Hanya saja, aku dan Evi sempat membayangkan beberapa pertanyaan jika Peeta sungguh-sungguh dengan ucapannya: bagaimana perasaanmu jika orang yang kaucintai turut serta bersamamu dalam The Hunger Games dimana kau mau tak mau menyadari perasaanmu terluka ketika melihatnya terbunuh atau bahkan saat kau dihadapkan pada pilihan untuk membunuhnya? Sanggupkah kau menjadi seorang pemenang sementara orang yang kaukasihi terbunuh? Apakah perasaan masih menjadi hal penting sementara kau hanya punya satu pilihan: hidup atau mati?

Yah, tentu saja, Evi ataupun aku tidak akan memberi kalian jawaban semua pertanyaan itu di sini. Hanya saja, menurut Evi, awalnya dia pikir novel ini akan sangat membosankan dan penuh dengan pembunuhan-pembunuhan yang keji. Namun, bumbu romance yang ada di dalamnya menjadi cita rasa tersendiri, membuat kisah ini semakin hidup tapi tetap tidak mengabaikan sisi ‘gelap’nya saat kau bahkan tak punya pilihan selain hidup atau mati sementara di luar sana penonton sibuk menjadikanmu barang taruhan siapa yang akan keluar sebagai pemenang.

Evi berkata panjang lebar padaku, “Sebagai tokoh utama, kau digambarkan dengan karakter yang kuat, Katniss. Pemberani dan tangguh. Hanya saja mungkin akan lebih seru jika kau membunuh lebih banyak orang lagi. Tapi penulismu jenius, dia tidak menampilkanmu sebagai karakter kuat yang superhebat dan egois, melainkan Katniss yang di sisi lain tertatih untuk bertahan. Dan tokoh yang seperti itulah yang sejatinya kusukai, tokoh yang ditampilkan tak sempurna seperti manusia pada umumnya. Soal penggambaran setting sebenarnya tidak ada masalah, hanya saja aku mungkin akan mendapatkan penjelasan lebih detil pada buku kedua atau ketiga.”

Sebelum melontarkan kalimat terakhirnya, Evi mendehem pelan lalu melanjutkan, “Buku satu—The Hunger Games ini—membuatku penasaran apa yang terkisah dalam buku dua dan tiga. Itu artinya buku ini sanggup membuatku larut dalam kisahmu, Katniss. Tidak menjemukan membacanya karena kau tidak hanya akan menemukan cerita-cerita monoton mengenai pembunuhan karena permainan yang konyol. Jadi, kurasa kisahmu cukup menyenangkan untuk dibaca.”

Baiklah, hanya itu yang bisa kusampaikan. Evi melarangku bicara banyak hal karena itu bisa saja menjadi spoiler. Kuharap tidak banyak spoiler di sini. Sampai jumpaaa~ ^-^
* * *

Oke, terima kasih, Katniss, sudah mau menyampaikan review-ku mengenai novel yang memuat kisahmu dan… Peeta? Oh, tentu tidak! Yah, lebih tepatnya kisahmu dan The Hunger Games. Aku berharap orang-orang di luar sana tidak menganggap serius review ini karena sesungguhnya ini sangat subjektif dan bisa jadi apa yang mereka pikirkan berbeda dengan apa yang kupikirkan usai membaca kisahmu. Aku bukan reviewer jenius, kau harus tahu itu, Katniss. Tapi paling tidak, novel ini novel yang bagus untuk dibaca. :3 Dan, yeah, aku penasaran seperti apa filmnya karena aku bahkan melarang diriku menonton filmmu sebelum membaca kisahmu. Kuharap tidak mengecewakan yaa. ^o^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen, yuuuk ;))