“Maaf, Pak. Sekali lagi, untuk yang
satu ini saya tidak bisa. Saya berharap Bapak bisa memahami alasan saya. Terima
kasih sebelumnya telah mempercayakan proyek ini kepada saya.”
Kudorong map berisi tumpukan berkas
itu ke arahnya.
Lelaki di seberangku itu menggeleng.
Tak percaya.
*
* *
Lelaki di sampingku ini kembali
mendesah. Entah untuk yang keberapa, aku bahkan tidak ingin menghitungnya.
Matanya menerawang, menatap samudera gelap yang membentang tanpa batas di atas
sana. Aku masih enggan bertanya, apa artinya ritual kami malam ini. Lebih
tepatnya, aku penasaran mengapa aku harus ikut serta. Hal semacam ini bukanlah
hal yang kusuka. Kalau tidak berarti apa-apa, aku jelas lebih memilih meringkuk
di kamar sambil membaca koleksi komik favoritku.
Angin malam berbisik, masuk
menelisiki kantong tidur kami.
“Kakak akan menunjukkan sesuatu,” katanya,
setelah keheningan yang cukup panjang.
Dia, lelaki yang tengah berbaring di
sampingku ini, kakakku. Saudara satu-satunya yang kupunya. Usia kami terpaut
amat jauh. Aku baru menginjak kelas 3 SD saat kakakku memasuki semester tiga di
universitasnya. Kami sangat dekat dan sering menghabiskan waktu bersama. Mungkin
karena dia yang selalu ada dan mengurusiku ketika Mama sibuk dengan urusan
pekerjaannya di kantor, sementara Papa telah meninggal dunia dalam sebuah
kecelakaan dua tahun yang lalu.
Kakakku suka memandangi langit.
Karenanya setiap pekerjaannya dilakukan di ruang terbuka di halaman belakang
rumah kami. Katanya langit itu sangat indah. Dengan awan yang berarak, matahari
keemasan di pagi dan sore hari, dan kerlip cahaya di atas sana yang seumpama
kilau berlian ketika malam tiba. Kadang-kadang aku ikut bersamanya, meski hanya
duduk dan sibuk dengan bacaanku. Tapi ketika malam, waktu yang paling
mengasyikkan untuk melihat langit, aku justru enggan untuk ikut. Kakak tidak
suka cahaya. Cahaya membuat apa yang ada di langit tidak terlihat. Sedang aku
butuh cahaya untuk membaca. Kalau sudah begitu, malam adalah waktu untuk kami
masing-masing. Mama dengan setumpuk tugas kantornya. Aku dengan komik-komikku.
Dan dia, dengan langit dan binokulernya.
Seperti malam ini. Bedanya, aku
turut serta.
Diarahkannya binokuler yang sedari
tadi terkalung di lehernya ke atas. Sesaat ia menggumam, lalu menyuruhku
melakukan hal serupa. Aku menurut saja. Meskipun ini bukan hal yang kusuka, aku
pernah sekali dua kali mencoba menggunakan binokulernya untuk melihat langit.
Penasaran sejauh mana binokuler itu bisa menampakkan apa yang ada di langit.
Hanya ada titik-titik cahaya. Kecil,
namun tampak hidup seperti mata yang mengedip. Selebihnya aku cukup hanya tahu
dan menurutku tidak ada yang menarik dengan itu.
“Tahu tidak? Titik-titik cahaya yang
kamu lihat itu sebenarnya membentuk sesuatu,” katanya, menoleh ke arahku ketika
aku menurunkan binokulernya dari mataku.
“Oh ya? Bagaimana bisa?”
“Itu seperti garis Khatulistiwa,
garis imajiner yang membagi belahan bumi menjadi dua, Utara dan Selatan. Juga
seperti garis Bujur, yang membagi bumi menjadi bujur Barat dan Timur. Orang-orang
dahulu mengelompokkan bintang-bintang yang kelihatannya berdekatan sehingga
membentuk yang namanya rasi bintang atau konstelasi. Coba lihat ke sana.” Aku
mengikuti telunjuknya ke arah selatan. “Titik cahaya di situ jika ditarik garis
satu sama lain akan membentuk sebuah konfigurasi khusus yang bernama Crux. Atau
dikenal juga dengan nama rasi bintang Pari di Indonesia. Orang-orang
menggunakan rasi ini sebagai petunjuk arah ketika tersesat di malam hari.
Dengan posisinya yang selalu menunjukkan arah Selatan, kamu bisa tahu arah
lainnya hanya dengan melihatnya.”
Ia lalu mengenalkanku pada berbagai
konstelasi yang bisa kami lihat malam itu. Aku terus mendengarkan sambil
sesekali bertanya ini dan itu.
Dan oke, kuakui aku mulai tertarik.
“Kamu sedang bersinar, Ga.”
Eh?
“Kita di sini untuk menyaksikanmu
bersinar,” ujarnya. “Auriga, nama kamu juga nama salah satu konstelasi di
langit.”
Aku mengerjap ke arahnya. Benarkah?
“Oke, coba lihat itu!” Ia menunjuk
ke arah utara. Tangannya mengayun di udara, menghubungkan titik-titik cahaya yang kulihat
menjadi garis-garis yang kemudian membentuk sebuah pola.
“That’s you. Auriga!”
serunya, membuatku tercekat. “Dan sebentar lagi kita akan melihat hujanan
meteor yang bersinar darimu.”
*
* *
Itu sudah lama sekali berlalu.
Tapi, masih jelas terbayang betapa excited-nya
aku waktu itu. Mengetahui bahwa namaku berasal dari salah satu konstelasi atau
rasi bintang yang ada di langit malam. Rasanya ajaib, menakjubkan, dan
entah—perasaan semacam itu yang aku tidak tahu apa namanya.
Malam itu, kami terjaga sampai
larut. Menyaksikan hujan meteor Aurigids, sebutan untuk hujan meteor yang
berasal dari konstelasi Auriga. Sembari awas menatap langit—takut kalau-kalau
ada satu atau dua meteor yang terlewatkan oleh kami—kakak memberitahuku banyak
hal. Tentang Auriga, tentang Orion (yeah, aku belum bilang ya kalau ini
nama kakakku?)—nama dua rasi bintang yang juga merupakan nama kami.
Dan juga tentang Papa.
“Meteor-meteor itu adalah sisa dari material
komet atau asteroid yang masuk ke dalam orbit bumi. Karena jumlahnya sangat
banyak, timbullah hujan meteor.”
Mengingat momen itu membuatku
teringat Papa, juga Kak Orion yang kini jauh berada di belahan bumi lainnya
sana. Kak Orion membangkitkan kenangan tentang Papa. Memberitahuku hal-hal yang
diceritakan Papa padanya ketika aku masih terlalu muda untuk mendengarnya
langsung. Papa adalah penggemar berat langit malam. Keinginannya untuk kuliah
di jurusan Astronomi ditentang Kakek habis-habisan. Karenanya, ia pun memilih
kuliah di Ekonomi Bisnis—dengan tetap tidak mengabaikan kecintaannya pada
langit.
Papa ingin menularkan kecintaannya
pada langit pada anak-anaknya. Karena itulah kami diberi nama Orion dan Auriga.
Orion karena rasi itu amat mudah dikenali hanya dengan melihat tiga bintang
sejajar yang ada padanya. Seperti Papa ingin kakak menjadi orang yang mudah
dikenal orang lain—entah itu karena kebaikannya, kepandaiannya, ataupun rasa
empatinya pada orang lain. Seorang pemburu kebaikan.
Aku, Auriga. Papa tidak memiliki
alasan yang begitu jelas mengenai pemilihan nama rasi bintang itu menjadi
namaku. Papa menamaiku Auriga hanya karena Mama amat menyukainya begitu Papa
menyebutkan nama itu, terlepas dari filosofi apa pun yang berkaitan dengan Auriga
dan mitologi-mitologinya yang beragam.
And it’s been years, sejak
aku jatuh cinta pada langit di malam hujan meteor Aurigids itu.
Sejak saat itu, aku merasa Papa
sangat dekat pada kami—terlepas di mana pun ia berada. Jiwa Papa telah lama
hidup pada diri Kak Orion, mengirimnya ke belahan bumi lainnya sana dengan
profesi yang diidamkan Papa sewaktu muda, Ahli Astronomi. Sementara aku
mewarisi hobi Papa lainnya, menggambar dan mendesain bangunan—meski itu hanya
sampingan di sela-sela kesibukannya sebagai salah satu petinggi di perusahaan
di kota kami.
“Bu Auriga.”
“Ya?” aku terperangah. Anto, satpam
di gedung tempatku bekerja, berdiri di depan kubikelku. “Ada apa?”
“Apakah ada pekerjaan yang belum
terselesaikan? Ini sudah pukul 9 malam, batas maksimal waktu lembur,” katanya
memperingatkan.
“Oh ya, baik. Sudah selesai kok,”
ujarku, bergegas menutup jendela Stellarium yang iseng-iseng kuinstal di
komputer kantor dan sesaat tadi membawaku pada kenangan Papa dan Kak Orion.
Aku melangkah dengan kaki berat.
“I hope you’re fine with that,
Ga,” April, sahabat baikku di kantor, menepuk bahuku pelan begitu kami keluar
dari lift menuju halaman parkir. Kami bersalaman dan saling memeluk, sebelum
akhirnya ia berkata, “You’ve made the right decision. So please don’t
regret it.”
Yeah, this is me. Auriga.
Gadis berusia 23 tahun. Bekerja di biro arsitektur ternama.
Dan aku baru saja menolak menangani
tender bernilai trilyunan rupiah yang dipercayakan kepadaku.
*
* *
Aku telah membuat keputusan yang
benar—tentu saja.
Aku masih ingat betapa sulitnya
memutuskan antara menangani proyek itu atau menolaknya. Di satu sisi, aku tidak
ingin mengabaikan kepercayaan yang telah diberikan kepadaku. Proyek besar itu
harus ditangani seseorang yang tepat,
karena keberhasilan ataupun kegagalannya akan menyangkut nama baik
perusahaan. Namun di sisi lain, aku punya prinsip tersendiri yang kubangun di
atas pekerjaanku. Semacam aturan pribadi yang aku tidak ingin melanggarnya.
Pada akhirnya, proyek bernilai
trilyunan rupiah itu pun beralih kepada rekan kerjaku lainnya di kantor,
setelah proses yang cukup panjang karena bosku amat berharap aku yang
menanganinya. Aku merasa tidak enak karena telah mengecewakan orang-orang yang
berharap banyak padaku, karenanya aku memilih untuk resign dan mengambil
pekerjaan sebagai kolumnis tetap di majalah arsitektur satu-satunya di
Indonesia.
Aku tidak menyesalinya. Hanya saja,
apa yang kulihat membuatku sedih.
Di kegelapan malam, mesin-mesin itu
masih bekerja. Mengaungkan bunyi yang dapat ditangkap dengan mudah dalam jarak cukup
jauh dari rumahku. Truk-truk kontainer bergiliran menurunkan material-material
berat sebgai bahan untuk pembangunan. Gesekan besi, alumunium, dan material
lainnya dengan pemotongnya menimbulkan percikan bunga api biru-oranye ke udara.
Sudah terlalu banyak pusat
perbelanjaan dan hiburan di kota kecil ini. Apa lagi yang sebenarnya
orang-orang kaya itu butuhkan dari kami?
Sebagian berteriak, tapi dibungkam
oleh sebagian lagi yang punya kuasa dan kepentingan.
Ketika aku memutuskan untuk menolak
menangani proyek itu—seberapa banyak pun bayaran yang dijanjikan—aku memikirkan
banyak hal. Tentang keharusan menjaga bumi. Tentang dampak yang akan
ditimbulkan. Aku hanya tidak bisa membayangkan bagaimana bumi ini menjadi
semakin rapuh, sementara generasi muda yang diharapkan menjadi penerus bangsa
tumbuh dalam jiwa hedonisme.
Aku tidak sedang berteori, tapi hal
ini telah jelas dampaknya. Seperti yang kau lihat di kota-kota lainnya di
negera ini.
Lebih jauh dari itu, aku melihat
diriku. Dan langit. Dan Kakak. Papa. Juga Mama.
Yang bisa kaulihat bukanlah langit
dengan titik-titik cahayanya, tapi lampu-lampu penerangan megah dan
karbonmonoksida yang terus mengepul ke udara.
“Itulah, Ga, kerusakan yang
ditimbulkan oleh tangan-tangan manusia sendiri,” ujar Kak Orion, jauh di
seberang sana. “Allah menciptakan alam ini untuk kita jaga. Bumi yang indah
dengan daratan dan lautan sebagai tempat manusia mencari rizki. Bintang-bintang
sebagai hiasan. Matahari sebagai sumber energi. Semuanya memiliki ketetapannya
masing-masing. Karenanya, kita harus selalu menjaga dan merawat apa yang telah
Allah anugerahkan kepada kita.”
“Ya ...” aku bersuara, lirih, dengan
air mata yang hampir jatuh. Tak kupedulikan angin malam yang menyergapku, membuat
gamis dan khimar-ku sedikit berkibar. Aku masih memandang, jauh ke arah
proyek itu tengah dikerjakan.
“Kak ...” panggilku. “Kakak sedang
bersinar.”
“Ya, kami sedang menyiapkan
tenda untuk camping di belakang rumah, Ga.” Kami—Kak Orion, Kak Rani, dan
ketiga keponakan kembarku yang baru menginjak usia lima tahun.
Rasanya seperti melihat diriku
sendiri. Dulu, ketika aku dikenalkan pada konstelasi Auriga. Sementara malam
ini, Kakak pasti akan menunjukkan pada anak-anaknya tentang nama mereka;
Alnitak, Alnilam, Mintaka—The Orion’s Belt.
Hujan meteor Orionids dan
ketiga bintang sejajarnya.
Aku ingin melihatnya, tapi tak bisa.
Tidak, dari kota yang kini penuh
gedung megah dan polusi ini.
*
* *
-- Juara 2 Lomba Cerpen Scientist Muslimah Event "Muslimah Pembangun Peradaban” Keluarga Muslim FMIPA UGM 2015
wah, lagi ikut lomba ya? kalau gitu semoga menang :D
BalasHapus