Pages

Senin, 19 Januari 2015

[Book Review] Sepatu Dahlan: Visualisasi Jejak Masa Kecil Dahlan Iskan

taken from Goodreads
Judul: Sepatu Dahlan (Trilogi Novel Inspirasi Dahlan Iskan)
Penulis: Khrisna Pabichara
Penerbit: Noura Books
Terbit: Cetakan XII, Maret 2014
Tebal: 392 halaman
ISBN: 978-602-9498-24-0




“Hidup, bagi orang miskin, harus dijalani apa adanya.”
--halaman 322


Novel Sepatu Dahlan kutemukan secara tak sengaja di deretan rak sastra perpustakaan fakultas. Aku tahu novel ini sejak lama, tapi tak tahu kalau di dalamnya terkisah sebuah perjalanan hidup seorang tokoh sampai seseorang mengatakan kepadaku tentang buku ini. Karenanya, aku memutuskan untuk meminjam lalu membacanya di sela tugas-tugas ujian akhir.

Novel yang menggambarkan kisah perjalanan hidup Dahlan Iskan ini dibuka dengan cerita 18 jam kematian yang dialami Dahlan Iskan ketika harus menjalani operasi pencangkokan liver dan ditutup pula dengan mimpi baru setelah sukses menjalani operasi. Di bab-bab pertengahan kemudian diceritakan bagaimana Dahlan kecil dan keluarganya berjuang menghadapi hidupnya di tengah-tengah kemiskinan yang mendera. Iskan sendiri sebenarnya adalah nama dari sang ayah, yang kemudian menjadi nama belakang dari tokoh ini.

Dahlan kecil hidup dan tumbuh layaknya manusia biasa. Pada akhir ia menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat, dua angka merah bertengger di ijazahnya. Hal itu lantas membuat ayahnya kecewa. Dahlan yang berniat melanjutkan sekolah di SMP Magetan yang pada waktu itu amat terkenal harus mengubur impiannya dan mengikuti perintah ayahnya untuk menempuh pendidikan di Pesantren Sabilil Muttaqien di wilayah Takeran yang berkilo-kilo meter jauhnya dari rumah.

Di Pesantren Sabilil Muttaqien ia kembali bertemu Kadir, kawan seperjuangannya di Sekolah Rakyat. Selain itu ia juga memiliki tema-teman baru seperti Arif dan Imran yang hidupnya berkecukupan. Di sela-sela kesibukannya bersekolah, Dahlan, seperti anak-anak kampung lainnya juga bekerja untuk menyambung hidup. Tak hanya ngangon (menggembala) domba bersama adiknya, Zain, ia juga ikut nguli nyeset di ladang tebu di daerah itu serta menjadi pelatih tim voli anak-anak juragan tebu. Impiannya sederhana, memiliki sepatu dan sepeda.

Ayah Dahlan adalah seorang petani, yang sehari-harinya juga bisa mengambil pekerjaan apa saja untuk menghidupi keluarganya. Ibunya ikut menyokong biaya hidup keluarga dengan membatik. Sementara Dahlan dan adiknya tinggal bersama kedua orangtuanya, kedua kakak perempuannya merantau kuliah dan bekerja di kota. Dahlan dan keluarganya tak akrab dengan beras yang ditanak, tiwul lebih bersahabat dengan mereka. Tak jarang Dahlan dan adiknya menanggung perih rasa lapar, terutama ketika ibunya telah tiada.

Berlatar Kampung Kebon Dalem yang sepi dan jauh di pelosok, Dahlan kecil berusaha menaklukkan impian sederhanya untuk memiliki sepatu dan sepeda. Meski demikian, impian untuk memiliki sepeda tak setinggi impiannya untuk memiliki sepatu. Dengan memiliki sepatu, ia tak perlu menahan perih karena kakinya yang lecet-lecet berjalan berkilo-kilo meter ke sekolah. Dengan memiliki sepatu, ia bisa tampil sebagai kapten tim voli dalam pertandingan final voli melawan SMP Magetan yang dengan bangga semua pemainnya mengenakan sepatu dan kaos tim.

Novel ini begitu menguras emosi. Mengharukan di setiap bagiannya. Bagi kebanyakan orang, memiliki sepatu bukanlah sebuah impian, karena kita mampu mendapatkannya dengan mudah. Tapi bagi Dahlan kecil yang hidupnya untuk sesuap tiwul saja teramat susah, memilikinya perlu perjuangan yang amat keras. Sepatu pertamanya adalah sepatu bekas yang baru dimilikinya ketika kelas 3 SMA setelah sebelumnya ia menggunakan sepatu bekas pinjaman ketika pertandingan final voli yang ujungnya menampakkan jempol dan dipenuhi serabut karena saking rusaknya. Lalu, kapan kita pertama kali mengenakan sepatu? Ah, mungkin ketika dalam gendongan Ibu pun kita sudah bersepatu. :’)

Tidak seperti aku yang harus nyabit setiap pagi, domba Kadir belum terlalu banyak, jadi rumput yang dia sabit sore hari masih cukup hingga dia pulang sekolah. Ketika menuduk, menatap sepasang kakinya, ternyata Kadir masih senasib denganku. Nyeker. Tidak memakai sepatu. Merasa dipandagi sedemikian rupa, Kadir ikut menunduk. Sesaat kami berpandangan, lalu tertawa.

“Masih belum pake sepatu juga to ....”

“Duit dari mana,”sahut Kadir. “Yang belajar kan kita, bukan sepatu.”

Kami tertawa, menertawakan diri sendiri.

Kadir menunduk dan mengamati kakiku. “Kamu juga nyeker?”

“Suatu saat nanti, aku pasti punya sepatu.”

“Aku juga!”
Dialog Dahlan dan Kadir di hari pertama mereka belajar di Pesantren Sabilil Muttaqien, halaman 54

Selain mengaharukan di setiap bagiannya, novel ini juga tak lupa menghadirkan unsur kedaerahannya yang kental lewat perilaku-perilaku yang diperankan oleh setiap tokoh. Latar tahun 60-an digambarkan secara komplit dengan mengangkat tragedi Madiun dan Purwodadi, menggambarkan kekacauan yang terjadi di Indonesia pada masa itu.

Banyak pesan moral yang disisipkan dalam novel ini. Melalui karakter Dahlan kita diajarkan untuk tak pernah putus asa dan harus berjuang keras dalam meraih sebuah impian, tak peduli impian itu sebenarnya hanya sebuah keinginan yang sederhana. Di samping impian yang sederhana, ada sesuatu yang juga perlu diperjuangkan: cita-cita. Sosok Zain begitu menginspirasi kita untuk lebih sabar dalam menjalani hidup di tengah-tengah kemiskinan yang mencekik perut. Sosok Ibu yang yang murah hati, berusaha membesarkan harapan anak-anaknya untuk terus berjuang meraih apa yang mereka inginkan. Sosok Bapak, ah sosok pendiam ini tak kalah hebatnya dengan anak-anak dan istrinya. Dari pendidikan beliaulah tumbuh anak-anak yang mampu bertahan di tengah keputusasaan. Sosok Kiai Irsjad hadir dengan dua kata pamungkasnya: tawadhu dan tawakal. Sementara itu, yang tak kalah menginspirasinya adalah nasihat lembut dari Kakak Dahlan, "Kita boleh miskin harta, Dik, tapi kita ndak boleh miskin iman. Ingat, semiskin apa pun kita, Bapak dan Ibu ndak rela kalau kita meminta-minta belas kasihan tetangga, keluarga, atau siapa saja. Kita harus kuat, harus bisa menolong diri sendiri."

Well, it’s a must read. Gaya penceritaan penulis yang mengalir sangat asyik dan tidak membosankan untuk dibaca. Gara-gara membaca novel ini, aku jadi tertarik untuk menelusuri lagi kisah hidup Dahlan Iskan. :’)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen, yuuuk ;))