Pages

Minggu, 10 Mei 2015

Di Balik Sebuah Kegagalan

I owe the picture here

Lulus SNMPTN sudah pasti menjadi impian setiap siswa yang berniat melanjutkan ke Perguruan Tinggi Negeri. Dan itulah yang saya alami, kemarin. Kemarin? Iya, kemarin, sebelum saya dinyatakan ‘TIDAK LULUS’ SNMPTN 2013. Kalau saya tidak berbesar hati ataupun siap mental, mungkin saya tidak akan menulis tulisan ini. Mungkin saya akan mengurung diri di kamar, menangis sambil menyalahkan Tuhan. Tapi tidak, siapa kita yang sok-sokan menyalahkan Tuhan?

Perjuangan saya bukanlah perjuangan yang instan. Perjuangan saya dimulai ketika saya telah menginjak bangku SMA. Saya ingat, waktu itu saya menolak ketika diajukan untuk mengikuti seleksi menjadi pengurus OSIS di sekolah. Alasan saya sederhana, ingin lebih fokus belajar karena masa SMA adalah masa yang berat dan sangat menentukan sebagai persiapan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.
Tulisan di atas adalah tulisan saya 2 tahun yang lalu, tepat pada tanggal 27 Mei 2013, sesaat setelah pengumuman SNMPTN dan saya dinyatakan tidak lulus. Saya memberinya judul “Menarik Hikmah dari SNMPTN 2013”. Saya sengaja mencari draft tulisan tersebut yang untungnya masih tersimpan rapi dalam folder di notebook saya. Saya mencarinya karena saya tahu tulisan itu tidak pernah selesai. Dan saat ini saya berniat melanjutkannya, di momen yang sama karena hari ini, 9 Mei, pengumuman SNMPTN 2015 dilaksanakan.

Masih teringat jelas di dalam kepala saya bagaimana perasaan saya waktu itu. Hancur, kecewa, dan ingin protes pada Tuhan, “Ya Allah, kenapa aku nggak lulus?” begitu melihat pengumuman yang tertera di layar. Sesaat saya berusaha menguasai diri, namun air mata saya tetap keluar juga. Jadilah saya menulis tulisan yang bercetak miring di atas dalam rangka ‘menegarkan’ diri sambil sesekali menahan air mata yang terus menerus ingin tumpah. Hati kecil saya berusaha menyangkal pikiran-pikiran negatif yang muncul waktu itu; hei, Evi, memangnya kamu siapa sehingga kamu berhak menyalahkan Tuhan? Sudahlah, terima saja. Toh itu bukan jalan satu-satunya. Masih ada jalan yang lain, kan? Teman-temanmu juga banyak yang nggak lulus kok.

Yah, meskipun pada akhirnya tulisan itu tak selesai, saya sedikit banyak mampu menguasai diri. Sejujurnya, faktor yang paling dominan yang mampu membuat saya berbesar hati adalah karena banyak teman-teman sekolah saya yang juga tidak lulus (jadi nggak merasa sendiri karena ada yang senasib juga, hehe). Sempat heran juga, malah yang sebenarnya harapan lulusnya sangat kecil ternyata bisa lulus, di jurusan dan universitas yang bergengsi pula! Saat itulah saya tahu keberuntungan dan keajaiban itu ‘bekerja’.

Demi impian masuk PTN, saya pun mendaftar jalur SBMPTN. Waktu itu saya mengambil program IPS. Bisa dibilang kesasar, karena pas SMA saya adalah anak IPA. Mungkin lebih tepatnya anak IPA yang mampu di eksakta tetapi berjiwa sastra. Bingung? Hehe, jadi begini, singkatnya adalah saya merupakan orang yang sejak SD rutin mengikuti Olimpiade, khususnya dalam bidang IPA (IPA Terpadu, Astronomi, Geosains) dan beberapa kali sempat menjadi juara, baik tingkat kecamatan maupun kabupaten (provinsi hanya sampai pada ajang kompetisinya saja, hehe). Di sisi lain, saya juga hobi membaca, dan karena membaca itulah timbul hobi selanjutnya, menulis. Saya mulai aktif menulis di SMA dan mengikuti ajang-ajang kompetisi yang beberapa alhamdulillah tidak berakhir sia-sia.

Obsesi saya ketika telah masuk SMA adalah fokus belajar dan berprestasi karena itu adalah jalan yang akan memudahkan saya untuk masuk PTN dengan jalur seleksi tanpa tes, yaitu dengan melampirkan bukti prestasi atau piagam. Saya sengaja menolak ketika dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam daftar anggota calon pengurus OSIS. Saya dan teman-teman yang sepakat untuk tidak masuk organisasi apa pun (kecuali organisasi kelas, itu pun cuma jadi Seksi Kekeluargaan :D) terpaksa kabur karena kakak-kakak itu memaksa kami untuk mencoba melakukan tes terlebih dahulu (yang ini jangan dicontoh ya).

Saya sempat bingung menjelang penjurusan. Sempat ingin masuk kelas Bahasa hanya karena di sana ada mata pelajaran Bahasa Jepang. Tetapi berdasarkan rekomendasi, saya disarankan masuk IPA saja. Nah, yang membuat saya kewalahan adalah program SBMPTN yang saya ambil memuat mata pelajaran yang tidak diajarkan di kelas IPA, seperti Sosiologi dan Ekonomi. Untuk Geografi dan Sejarah alhamdulillah sedikit banyak saya tahu. Saya mengambil jalur IPS/Sosial Humaniora karena di sanalah jurusan Sastra bernaung, hehe. Segala yang berhubungan dengan Sastra; sastra murni ataupun pendidikan. Satu lagi yang menjadi kandidat jurusan saya adalah Psikologi, yang juga bernaung di bawah jalur IPS/SosHum.

Menjelang SBMPTN, saya pun mengumpulkan buku-buku IPS dan terpaksa mengurung buku-buku IPA yang beberapa bulan terakhir rutin menemani saya menjelang UN. Ekonomi adalah tantangan terberat; harus hafal teori, hafal rumus, hafal istilah. Singkat cerita saya mendadak berubah menjadi seseorang yang pikirannya dipenuhi teori-teori sosial.

SBMPTN justru lebih mendebarkan lagi. Rasanya tidak ingin gagal untuk yang kedua kali. Saya mati-matian ingin kuliah di UGM. Saya percaya ketidakmungkinan itu ada karena karena adanya kemungkinan. Hamba maunya UGM, Yaa Allah. Hamba mohon, kalaupun UGM bukan yang terbaik untuk hamba, Engkau sungguh Mahakuasa menjadikannya yang terbaik untuk hamba. Hasilnya? Gagal!

Oke, kegagalan di SBMPTN menjadi titik terberat dalam hidup saya. Saya mengurung diri di kamar; belajar, belajar, dan terus belajar. Saya mengingat semasa SMA, bertanya kepada Allah kenapa saya harus gagal lagi padahal saya sudah berusaha keras. Usaha saya untuk mengumpulkan bukti prestasi terasa sia-sia karena toh pada akhirnya itu tidak bisa membuat saya masuk PTN yang saya inginkan. Saya mendadak ingin protes, di saat saya telah taat pada-Nya dengan berbuat jujur sewaktu UN kenapa Allah justru tidak mengabulkan ketika saya meminta. Sejujurnya, UN SMA adalah UN terjujur dalam hidup saya. Sungguh berat karena saya harus menghafal berbagai macam teori dan rumus di luar kepala, ditambah pelaksanaan UN waktu itu merupakan UN yang paling amburadul karena pertama kalinya diterapkan UN sistem 20 paket dengan lembar jawaban menggunakan barcode.

Selain karena gagal untuk yang kedua kali, banyak teman-teman yang kemudian lulus SBMPTN, sementara saya tidak. Saya merasa seorang diri. Saat teman-teman yang lain sibuk registrasi di PTN A, B, dan C, saya masih harus bolak-balik Bali-Malang untuk tes mandiri UM, lalu Bali-Jogja untuk tes mandiri UNY. Kesabaran saya benar-benar teruji di situ. Pagi hari menjelang tes mandiri UNY adalah pengumuman hasil tes mandiri UM. Saya ingin melihat pengumuman di internet, tapi saya takut jika hasilnya justru akan mengecewakan dan itu lantas akan berpengaruh pada kondisi psikis saya karena saya masih harus mengikuti tes mandiri UNY pagi itu juga. Bismillah, dengan sedikit keberanian saya pun membukanya. Hasilnya? Kembali gagal!

Seperti pertarungan antara hidup dan mati ketika saya mengerjakan soal-soal tes mandiri UNY. Ya Allah, tinggal ini harapan hamba satu-satunya, saya berkata lirih dalam hati setiap akan melingkari lembar jawaban. Dan ternyata kegagalan tidak puas datang tiga kali. Saya kembali gagal masuk UNY. Saat itu rasanya saya benar-benar hancur. Tidak tahu harus bagaimana lagi. Saya sudah lelah kalau disuruh ikut tes apa pun. Akhirnya sampailah pada sebuah pilihan yang diutarakan Bapak saya, “Kalau mau berhenti satu tahun ambil bimbel biar masuk UGM, nggak apa-apa. Tapi untuk sekarang, coba kirim berkas ke UMY.”

Oke, saya menyanggupinya. Tapi...

“Kenapa harus KKI? Kenapa harus di Fakultas Agama Islam?” saya protes, karena waktu itu saya inginnya Ilmu Komunikasi.

Jawaban bapak sangat sederhana, “Karena Ilmu Agama nggak hanya berlaku untuk di dunia saja, tetapi juga untuk kita ke akhirat.” Kaku sekali, begitu pikir saya waktu itu. Saya kembali ingin protes, tapi... ah ya sudahlah.

Singkat cerita, saya pun diterima di KKI (Komunikasi Konseling Islam, konsentrasi dari Komunikasi dan Penyiaran Islam) UMY. Saya terkagum-kagum dengan jargon yang didengungkan mengenai universitas saya sewaktu mataf (masa taaruf alias ospek), “Selamat datang di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta; Unggul dan Islami, Muda Mendunia.” Maasyaa Allah, terlebih lagi setelah tahu bahwa semua mahasiswinya wajib mengenakan jilbab. Di kelas, saya bertemu teman-teman baru yang hangat. Dosen-dosen yang luar biasa menginspirasi dan tidak pernah lelah memotivasi mahasiswanya. Saya banyak belajar dan perlahan merasa nyaman. Nyaman sekali sampai akhirnya saya menyadari arti di balik kegagalan saya selama ini. Bahwa pilihan Allah tidak pernah salah. Bahwa Allah sangat mencintai saya sehingga ia mendekatkan saya pada jalan yang dikatakan orangtua saya akan membawa saya pada kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Saya meyakini bahwa sesuatu terjadi karena beberapa alasan. Everything happens for reasons. Dan terkadang alasan-alasan itu tak bisa kita ketahui secara langsung. Saya butuh beberapa bulan untuk mengetahui kenapa saya harus gagal berkali-kali dan berujung masuk PTS. Ketika saya tahu, maka tak ada yang tak patut disyukuri. Beberapa alasan sangat personal, dan memang Allah Mahatahu apa yang tampak dan tersembunyi. Saya mantap menolak ketika disarankan mengikuti tes apa pun untuk masuk PTN. Semua itu karena dua hal: 1) saya yakin ini in syaa Allah akan menjadi yang terbaik untuk saya, 2) saya bukan lagi orang yang patah hati karena tidak lulus UGM (waktu itu saya patah hati berat karena kehilangan kesempatan masuk UGM, hehe), 3) banyak hikmah yang saya dapat dan beberapa alasan sangat personal.

Saya sampai pada suatu kesimpulan bahwa setiap kegagalan menyimpan sebuah pelajaran berharga. Kalaupun seandainya saya tetap memaksa lulus di UGM, itu akan terasa sangat berat dan mungkin saya tidak akan pernah sampai ke diri saya yang sekarang. Allah knows the best for us.

“... Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki.”
(QS. Al-Baqarah: 255)

Saya tahu, banyak orang di luar yang mengalami hal-hal yang mungkin lebih berat dari yang saya alami waktu itu. Bisa jadi apa yang saya tulis tidak ada apa-apanya dibanding apa yang terjadi pada mereka. Lalu, terima kasih untuk orang-orang yang saat itu menguatkan saya dan membantu saya bangkit dari titik nadhir. ^^ Untuk adik-adik yang tahun ini tidak lulus SNMPTN (ataupun SBMPTN ke depan dan tes lainnya), jangan berkecil hati. Terus berikhtiar, in syaa Allah akan selalu ada jalan untuk orang-orang yang mau berusaha. ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen, yuuuk ;))