Pages

Senin, 01 Juni 2015

Kita pada Hujan

Ada sesuatu antara kita pada hujan. Kita pada hujan adalah doa-doa.

Kita pada hujan... seperti lautan pada ombaknya.

Entah analogi macam apa lagi yang berusaha kamu sampaikan. Kamu terlalu asyik berceloteh; tentang gerimis yang menjadi hujan, hujan yang menjadi gerimis, dan sela di antara keduanya, sampai aku akhirnya menyerah untuk bertanya. Lautan lengkap karena riakan ombaknya yang tak pernah henti menyapa pesisir. Sedang katamu, hujan melengkapi kita.

Kamu tidak menjelaskan alasannya. Aku bahkan tidak pernah benar-benar tahu, tentang kita pada hujan, tentang hujan yang melengkapi kita, hingga semuanya terjawab ketika aku menulis ini. Banyak orang mengoceh tentang harapan dan doa pada malam ketika meteor melintasi atmosfer kita. Sedang kamu berbicara tentang doa dan harapan yang harus dibisikkan dalam buliran hujan.

“Aku membaca buku, saat hujan adalah salah satu waktu yang tepat untuk kita memanjatkan doa dan harapan.”

“Orang-orang selalu memanjatkan doa dan harapan mereka ketika melihat meteor memasuki langit kita. Make a wish, make a wish, begitu kata mereka,” timpalku, hanya mengatakan apa yang sejauh itu kuketahui.

“Aku menganggap itu bukan sesuatu yang benar. Sebaliknya, ada beberapa waktu yang sungguh sangat spesial untuk berdoa, seperti ketika sedang hujan, jeda antara adzan dan iqamah, dan waktu-waktu lainnya.”

Entah apa yang meyakinkanku, pada akhirnya aku mengikutimu. Berdoa dan memanjatkan harapan pada waktu-waktu spesial itu. Aku melihatmu sebagai seseorang yang teramat yakin pada keajaiban di waktu itu. Sepanjang aku melihatmu, kamu tak pernah meninggalkan kesempatan untuk berdoa kala hujan turun ataupun ketika jeda antara adzan dan iqamah. Tak peduli bagaimana keadaannya, entah membuatmu basah kuyup atau tidak, kamu berjalan menenteng sepatu sekolahmu dan mulai membisikkan doa-doa. Aku tidak pernah tahu apa tepatnya yang kamu harapkan. Mainan baru kah? Nilai yang bagus kah? Atau sesuatu yang lebih rumit daripada itu?

Doa adalah rahasiaku dengan Tuhanku. Kamu mengatakan itu bahkan saat aku tak ada maksud untuk bertanya langsung kepadamu waktu itu,” kataku sembari mengelus cangkir teh milikku. Di luar hujan turun dengan deras. Aku dan kamu sedang minum teh. Memandangi hujan sembari menunggu anak-anak pulang, setelah sebelumnya larut dalam doa masing-masing. “Jadi, apakah aku boleh tahu? Apa tepatnya harapanmu waktu itu?”

“Aku mengharapkanmu.”
* * *
Allahumma shayyiban naafi’aan. Jangan lupa berdoa, bahkan ketika hujan sekalipun.
Yogyakarta, 1 Juni 2015—selepas hujan sore


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen, yuuuk ;))