Kita pada hujan... seperti lautan
pada ombaknya.
Entah analogi macam apa lagi yang
berusaha kamu sampaikan. Kamu terlalu asyik berceloteh; tentang gerimis yang
menjadi hujan, hujan yang menjadi gerimis, dan sela di antara keduanya, sampai
aku akhirnya menyerah untuk bertanya. Lautan lengkap karena riakan ombaknya
yang tak pernah henti menyapa pesisir. Sedang katamu, hujan melengkapi kita.
Kamu tidak menjelaskan alasannya.
Aku bahkan tidak pernah benar-benar tahu, tentang kita pada hujan, tentang
hujan yang melengkapi kita, hingga semuanya terjawab ketika aku menulis ini.
Banyak orang mengoceh tentang harapan dan doa pada malam ketika meteor melintasi
atmosfer kita. Sedang kamu berbicara tentang doa dan harapan yang harus
dibisikkan dalam buliran hujan.
“Aku membaca buku, saat hujan adalah
salah satu waktu yang tepat untuk kita memanjatkan doa dan harapan.”
“Orang-orang selalu memanjatkan
doa dan harapan mereka ketika melihat meteor memasuki langit kita. Make a wish,
make a wish, begitu kata mereka,” timpalku, hanya mengatakan apa yang
sejauh itu kuketahui.
“Aku menganggap itu bukan sesuatu
yang benar. Sebaliknya, ada beberapa waktu yang sungguh sangat spesial untuk
berdoa, seperti ketika sedang hujan, jeda antara adzan dan iqamah, dan
waktu-waktu lainnya.”
Entah apa yang meyakinkanku, pada
akhirnya aku mengikutimu. Berdoa dan memanjatkan harapan pada waktu-waktu
spesial itu. Aku melihatmu sebagai seseorang yang teramat yakin pada keajaiban
di waktu itu. Sepanjang aku melihatmu, kamu tak pernah meninggalkan kesempatan
untuk berdoa kala hujan turun ataupun ketika jeda antara adzan dan iqamah. Tak peduli
bagaimana keadaannya, entah membuatmu basah kuyup atau tidak, kamu berjalan
menenteng sepatu sekolahmu dan mulai membisikkan doa-doa. Aku tidak pernah tahu
apa tepatnya yang kamu harapkan. Mainan baru kah? Nilai yang bagus kah? Atau sesuatu
yang lebih rumit daripada itu?
“Doa adalah rahasiaku dengan
Tuhanku. Kamu mengatakan itu bahkan saat aku tak ada maksud untuk bertanya
langsung kepadamu waktu itu,” kataku sembari mengelus cangkir teh milikku. Di luar
hujan turun dengan deras. Aku dan kamu sedang minum teh. Memandangi hujan
sembari menunggu anak-anak pulang, setelah sebelumnya larut dalam doa masing-masing.
“Jadi, apakah aku boleh tahu? Apa tepatnya harapanmu waktu itu?”
“Aku mengharapkanmu.”
* * *
Allahumma shayyiban
naafi’aan. Jangan lupa berdoa, bahkan ketika hujan sekalipun.
Yogyakarta, 1 Juni 2015—selepas
hujan sore
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komen, yuuuk ;))