“You can travel the world and never leave your chair when you read a book.”--Sherry K. Plummer
Buatku pribadi, membaca itu ibarat sebuah perjalanan. Kamu
bisa pergi ke mana pun yang kamu mau, dan bahkan bisa lebih jauh dari yang kamu
bayangkan, hanya dengan membaca buku. Kamu bisa menjelajahi Kota Turki dengan
sejarahnya yang menawan lewat novel Api Tauhid karya Habiburrahman El
Shirazy. Kamu bahkan bisa menjelajahi dunia dengan kecanggihan teknologi yang
super lewat penggambaran dalam novel trilogi The Hunger Games. Atau,
kamu bisa mundur ke masa lalu, melihat bagaimana perjuangan Sultan Al Fatih
yang digambarkan sedikit dalam buku Beyond the Inspiration karya Ustadz
Felix Y. Siauw. Bisa dibilang, buku itu menyajikan kamu paket tour and
travel yang paling komplit. Jadi, kalo kamu ngaku anak “My Trip My
Adventure” yang suka travelling, harusnya kamu banyak membaca buku. :p
Nggak cuma itu, perjalanan membaca buku itu juga membuat kita
lebih bisa berpikir dewasa. Kita akan lebih memiliki sikap empati dan lebih
bijak dalam meghadapi suatu permasalahan karena otak kita telah terlatih
membentuk semacam ‘theory of mind’. Nggak percaya? Itu hasil riset loh, hehe.
Coba deh googling hasil risetnya. Dan ya, sejauh yang kualami memang
begitu sih. Kadang-kadang aku sendiri merasa apa yang kulakukan dipengaruhi
oleh buku-buku yang kubaca. Tapi, bukan berarti dengan kamu terlalu tekun
membaca, kamu jadi malas bersosialisasi loh ya. Bersosialisasi itu penting
untuk pengaplikasian apa yang telah kamu dapat ketika kamu membaca, jadi jangan
pelit-pelit bagi info kalau kamu menemukan sesuatu yang baru dari bacaanmu,
oke? :))
Dan yah, aku baca banyak buku di tahun 2015 kemarin (banyak
di sini adalah versiku sendiri, anyway XD). Lumayan banyak
peningkatannya dibanding tahun 2014 lalu. Kalau tahun 2014 aku sedikit sekali
membaca buku nonfiksi, tahun ini bacaan nonfiksiku meningkat, hehe. Aku selalu
belajar untuk menyeimbangkan bacaan antara fiksi dan nonfiksi, dan itu nggak
bisa instan. Sekarang ini lagi tahap belajar, termasuk untuk belajar menamatkan
satu kuliah. Ya masa iya selama jadi mahasiswa nggak pernah menamatkan satu
buku referensi mata kuliah sama sekali? Hehe.
Lalu, untuk pertama kalinya aku ikutan Goodreads Reading
Challenge. Just fyi, aku sign up di Goodreads itu
tahun 2012, zaman SMA dulu, tapi baru dimain-mainin ya sekitaran 2014-an gitu.
Awalnya cuma iseng aja, suka aja update apa yang lagi dibaca, yang udah
dibaca, dan pengen dibaca, termasuk juga kasih rating dan review.
It’s so much fun kalau kamu mau tahu. Jadi pada akhirnya ya sekalian aja
bikin tantangan atau target membaca buat setahun. dan hasilnya?
Yeay! 30 buku dalam setahun. Mungkin nggak ada apa-apanya
dibanding yang lain ya, karena aku lihat sendiri di Goodreads bahkan ada yang
baca 200 buku lebih dalam setahun. Tapi tetap saja, kita butuh mengapresiasi
diri kita sendiri, bukan?
Nah, ini list buku-buku yang berhasil kubaca selama
tahun 2015. Hanya sedikit sekali yang kutulis review-nya di blog
berhubung aku sibuk sekali, hehe. Kalau tidak sempat, biasanya aku mereviunya
langsung di Goodreads. Yang sudah di-review akan dihubungkan langsung ke
postingan yang ada di blog ya, jadi silakan teman-teman klik judulnya kalau mau
baca review-nya sekalian. :))
1. Hafalan
Shalat Delisa by Tere Liye
2. Assalamualaikum
Beijing by Asma Nadia
4. Heartsease
by Ghyna Amanda Putri
5. Jomblo
Sebelum Nikah by Ahmad Rifa’i Rif’an
6. Melbourne:
Rewind by Winna Efendi
7. Twivortiare
2 by Ika Natassa
9. Api Tauhid
by Habiburrahman El Shirazy
10. Salon
Kepribadian Muslimah by Asma Nadia
11. Maya Maia
by Devania Annesya
13. Memori by
Windry Ramadhina
15. Beyond the
Inspiration by Felix Y. Siauw
16. Rain Over
Me by Arini Putri
17. Head Games
– Cinta Online by Mariah Fredericks
18. Surat Cinta
untuk Kekasih Sejatiku by Ahmad Rifa’i Rifan
19. The Naked
Traveler: 1 Year Round The World #1 by Trinity
20. Intuisi:
Lot & Purple Hole by Baruna & The Purple
21. Mockingjay
(The Hunger Games #3) by Suzanne Collins
22. Rumah
Tangga by Fahd Pahdepie
23. Orang Jujur
Tidak Sekolah by Andri Rizki Putra
24. A Very
Yuppy Wedding by Ika Natassa
25. Wanita yang
Dirindukan Surga by M. Fauzi Rachman
26. Heaven’s
Will by Satoru Takamiya
27. Critical
Eleven by Ika Natassa
28. What If by
Morra Quatro
29. Man Shabara
Zhafira by Ahmad Rifa’i Rifan
30. How to
Master Your Habits by Felix Y. Siauw
Dari ketiga
puluh buku itu, yang paling tebal adalah Api Tauhid karya Habiburrahman
El Shirazy dengan tebal 531 halaman—termasuk yang paling lama menghabiskan
waktu untuk membacanya. Sebaliknya, buku Surat Cinta untuk Kekasih Sejatiku
dari Ahmad Rifa’i Rif’an adalah yang paling tipis, yaitu sekitar 96 halaman dan
membutuhkan waktu yang paling singkat buatku untuk membacanya karena isinya
hanya quotes yang meskipun sederhana tapi maknanya amat dalam. :’)
Menurutku
banyak sekali buku yang berkesan dari list di atas sewaktu aku
membacanya. Di antara yang paling berkesan adalah:
1. Api
Tauhid by Habiburrahman El Shirazy
Novel Kang Abik ini adalah yang
kesekian kalinya kubaca, setelah menamatkan KCB 1 & 2 waktu kelas 1 SMP
(yang notabene waktu itu lagi booming film AAC, sedangkan aku
baca AAC aja pas kelas 6 SD, haha :p). Ya, novel ini kental banget dengan
nuansa sejarahnya, mengangkat kisah hidup ulama Turki, Badiuzzaman Said Nursi.
Banyak banget pengetahuan sejarah yang kudapat dari buku ini. Selain itu aku
juga mendapat pelajaran tentang keteladanan dalam pola pendidikan anak,
kejujuran, cara menyikapi masalah, serta sikap dan logika pikir yang Islami
seperti yang dimiliki tokoh-tokohnya.
2. Salon
Kepribadian Muslimah by Asma Nadia
Menurutku isinya ‘nampar’ banget.
Buku ini menyajikan hal-hal atau kebiasaan yang masih banyak dilakukan muslimah
dan tanpa mereka—dan kita--sadari membuat banyak orang sebal sehingga dengannya
citra muslimah menjadi buruk. Buku ini semacam pengingat diri. Dilengkapi juga
dengan tips-tips keren untuk menjadi muslimah yang kece, syar’i, tapi nggak
nyebelin. Anyway, makasih Tuti sudah dipinjamkan buku ini. :’)
3. Forgiven
by Morra Quatro
Aku sudah menulis review
lengkap novel ini di sini, so just follow the link and you’ll know. :))
4. Memori
by Windry Ramadhina
Novel ini hangat, seperti kisah
keluarga yang dicritakan di dalamnya. Karakter utamanya adalah seorang arsitek
muda yang sangat idealis. Aku suka bagaimana penulis memawakan setiap tokohnya.
Karakter-karakternya sangat hidup. Penggambaran setting-nya juga sangat
detil, terutama ketika menggambarkan bentuk sebuah bangunan. Dan itu memang
keharusan, mengingat tokoh-tokoh yang bermain di dalamnya berprofesi sebagai
arsitek. Aku banyak belajar tentang istilah-istilah arsitektur di dalam buku
ini, jadi tahu tokoh-tokoh dalam bidang arsitektur. Jadi tahu tentang apa itu
gaya folkloric, mediteran, dan istilah lainnya yang tadinya
sangat asing tapi berhasil kuketahui setelah membaca novel ini. Aku tidak
pernah membayangkan kapan aku akan berpikiran untuk membaca buku-buku
arsitektur, tapi begitu membaca novel ini, aku medapat lebih daripada yang
kuharapkan.
5. Beyond
the Inspiration by Felix Y. Siauw
Buku ini juga ‘nampar’ banget. Aku
suka fakta-fakta ilmiah yang digandengkan dengan dalil dari Al-Qur’an dan
hadits. Apa yang digambarkan dalam buku ini persis seperti apa yang diceritakan
Ustadz Felix ketika beliau akhirnya memilih masuk Islam. Kita diajarkan untuk
memahami Islam secara hakiki, mencintai Allaha dengan sebenar-benar cinta, dan
mengaplikasikannya dalam kehidupan. Ini buku nonfiksi (which mean,
nggak ada kisah yang sengaja dibuat menghau biru seperti dalam buku-buku
fiksi), tapi berhasil membuatku menangis. Highly recommended!
Well, perjalanan membaca selalu
menyenangkan. Selalu ada perasaan yang tidak bisa digambarkan begitu
menyelesaikan suatu buku. Aku membaca buku apa pun yang ingin kubaca, tapi
dengan perspektifku sendiri aku menilai mana yang layak kuambil dan kujadikan
sebagai pelajaran. Jadi seorang pembaca memang harus begitu, bukan?
So,
let’s keep reading.
Membaca itu mendewasakanmu.:))

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komen, yuuuk ;))