Rabu, 10 Februari 2016, untuk pertama kalinya aku bertemu
Kang Abik atau yang dikenal juga dengan Ustadz Habiburrahman El Shirazy. Tentu
nama tersebut bukan lagi nama yang asing bagi masyarakat Indonesia, terutama
bagi mereka yang selalu menunggu karya-karya fenomenal dari beliau.
Aku sendiri mengenal nama beliau sewaktu kelas 6 SD. Waktu
itu kakakku pulang membawa novel Ayat-ayat Cinta. Aku membaca kaver
belakangnya ada banyak sekali komentar positif mengenai novel tersebut. Pada
awalnya aku tidak tertarik, karena waktu itu bacaanku adalah Majalah Bobo dan
novel anak-anak terbitan Tiga Serangkai. Berhubung aku punya 3 kakak perempuan
yang sering heboh satu sama lain setiap usai membaca bab-bab dalam novel itu,
aku jadi penasaran, hehe. Kata mereka aku nggak boleh baca novel itu, karena
itu novel untuk orang dewasa dan aku masih belum cukup umur. Berhubung aku
sangat penasaran, jadilah di sela-sela persiapan UN SD waktu itu aku diam-diam
membaca novel itu, hehhe.
Di sisi lain, novel tersebut kemudian dipinjamkan ke
teman-teman mereka. Jadi aku harus menunggu sampai novel itu dikembalikan untuk
bisa melanjutkan membaca. Tetapi akhirnya aku berhasil menyelesaikannya. Dan
WOW! Aku takjub. Novelnya keren banget. Kalau sebelumnya aku sudah menamatkan
novel anak-anak terbitan Tiga Serangkai yang isinya kebanyakan tentang
perjuangan seorang anak untuk meraih mimpinya, berjuang di tengah kemiskinan,
menjadi juara di sekolah, sekarang aku membaca novel romansa dewasa. Suatu
loncatan yang sangat tajam, mengingat aku masih berstatus anak SD, hehe.
Tetapi, yang kusyukuri sekali setelah banyak mengingat
masa-masa setelah aku lulus SD sampai akhirnya jadi remaja adalah bahwa tanpa
sadar apa yang kubaca itu mempengaruhi masa remajaku. Aku bersyukur sekali
novel romansa pertama yang kubaca adalah novel yang sangat kental dengan
nilai-nilai Islam. Aku merasa lebih terjaga dan ‘aman’ dalam menghadapi
masa-masa remaja yang labil itu. Jadi, kalau ada yang bilang ‘kamu adalah apa
yang kamu baca’ alias you are what you read itu barangkali benar, karena
sedikit banyak aku mengalaminya. :))
Yah, itu sekilas bagaimana awalnya aku mengenal Kang Abik.
Maaf kalo kepanjangan, hehe. Kembali ke topik awal, jadi aku ketemu Kang Abik
itu di acara Syariah Fest 2016 di UGM. Tempat acaranya tadinya adalah di
panggung utama di area masjid kampus. Berhubung siang itu hujan dan kondisi
tempat yang tidak memungkinkan, akhirnya acara dipindahkan ke lantai dasar
masjid.
Acara tersebut sebenarnya adalah acara bedah buku Ayat-ayat
Cinta 2, tetapi dalam kesempatan itu juga Kang Abik memberikan tips-tips
dan motivasi untuk terus menulis. di antaranya:
Kejenuhan dalam menulis, bisa dipegaruhi oleh kondisi dan situasi tempat kita
menulis. ciptakanlah suasana yang nyaman, dan menulislah di tempat lain jika
kamu bosan di ruangan itu. Misalnya saja di masjid, di bandara ketika menunggu
pesawat, dan lain-lain. Selain itu juga konsep yang cerita yang belum utuh, itu
membuat kita mandeg atau buntu di tengah jalan. Atau barangkali memang
pada dasarnya kita butuh refresh pikiran, dan ketika itu terjadi, maka
lakukan saja. Beralih dari satu tulisan ke tulisan lain juga bisa menjadi
solusi alternatif, karena Kang Abik sendiri, dalam waktu yang sama kadang
menulis lebih dari satu novel.
Menulis itu adalah skill, bukan knowledge. Jadi siapa
pun yang memang berniat bisa menulis, maka ia harus sungguh-sungguh berlatih.
Menulis adalah pekerjaan yang bisa dilakukan siapa saja, kapan saja, dan di
mana saja. Tapi tentu saja, sebelum memulai paling tidak kita juga harus tahu
teorinya.
Dalam menciptakan seorang tokoh dalam novel, maka
tuliskan secara detil ciri-ciri dari tokoh tersebut. Karakternya, warna
kulitnya, rambutna, usianya, pandangan hidup si tokoh, dan segala hal yang
berkaitan dengannya. Kang Abik sendiri dalam menciptakan tokoh Fahri sampai
membayangkan wajahnya. Hal itulah yang nantinya akan membuat tokoh kita
benar-benar hidup dalam cerita yang kita buat. Selain itu, setiap kali
menceritakan si tokoh, masuklah ke dalam jiwanya. Miliki perasaan dan
pikiran-pikirannya. Bahkan Kang Abik pun kadang menangis sendiri ketika
menuliskan adegan-adegan yang ada dalam cerita. Beliau membayangkan bagaimana
cemburunya Aisha ketika Fahri harus menikahi Maria.
Dramatisasi itu penting, agar pembaca bisa menghayati betul apa yang
dialami tokoh-tokohnya. Dramatisasi ini menjadikan tulisan kita indah dan
mengena di hati pembaca. Lalu, apakah orang-orang yang cenderung ke eksak,
tidak memiliki basis sastra, dan lebih banyak berkecimpung dengan hal-hal yang
bernilai pasti juga bisa menulis sastra dan membuat tulisan memiliki sisi
dramatis? Kang Abik menjawab, tentu saja. Karena setiap orang memiliki perasaan
dan pernah merasakan. Hanya saja mungkin terlalu susah untuk mengungkapkannya,
karena itu... perbanyaklah kosakata dengan membaca.
Ide menulis bisa didapatkan dari mana saja. dari berita yang kemudian kita
modifikasi, dari peristiwa yang terjadi di sekitar kita, atau dari
cerita-cerita atau curhatan orang lain kepada kita. Semua itu bisa menjadi ide
dasar yang bisa kita kembangkan. Ide harus dicari dan kita tidak bisa hanya
menunggu.
Dalam menulis novel, kita harus banyak membaca referensi
agar karya yang kita hasilkan berkualitas. Kang Abik sendiri banyak membaca
kitab-kitab para ulama dalam bekalnya menulis AAC. Materi-materi keislaman itu
kemudian disampaikan dalam dialog para tokohnya. Agar mudah dipahami pembaca,
maka dialog-dialog tersebut harus dibuat sedemikian rupa dan masuk akal. Tentu
kita tidak bisa membahasakan bahasa buku secara llangsung ke dalam dialog.
Well, hanya itu sih yang kuingat tentang tips menulis yang sempat dipaparkan
Kang Abik mengingat aku tidak mencatat dan lebih memilih fokus mendengarkan.
Hehe. Selain pelajaran berharga mengenai tips menulis di atas, ada beberapa pemaparan
beliau yang menurutku sangat berarti. Kang Abik sempat mengatakan yang intinya
kira-kira begini: “Untuk berdakwah, cukup berprestasi di bidang Anda!”
Dan itulah yang selama ini beliau lakukan. Berdakwah melalui
karya. Karya-karya yang tak hanya dikenal Indonesia, tapi juga dunia. Beliau pun
bererita tentang temannya yang merupakan seorang dokter di Jepang. Ketika dunia
geger oleh perilaku oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dengan dalih jihad
dan Islam menjadi tertuduh, banyak pertanyaan yang harus dijawab dokter
tersebut ketika bekerja di negara yang notabene sebagian besar penduduknya
bukan Muslim. Untuk menjauhkan Islam dari tuduhan, banyak pula yang harus
dijelaskan dokter tersebut. Tapi semua berbalik ketika ada konferensi dokter di
negara itu, dengan menghadirkan seorang dokter yang sangat ahli di bidangnya
menjadi pembicara. Semua pertanyaan dan tuduhan itu seolah lenyap seketika, hanya
karena dia seorang Muslim. Yes, because he is a Moslem. Dan itu menurut
Kang Abik sudah menjadi dakwah yang luar biasa; dengan menunjukkan bahwa
seorang Muslim mampu berprestasi.
Mungkin pernyataan tersebut sudah sering kita dengar dari
siapa saja. Tapi bagiku pribadi, rasanya sangat berbeda ketika yang
menyampaikan adalah Kang Abik. Mengapa? Karena aku suka menulis, dan ingin
menjadi penulis. Sementara, Kang Abik adalah seorang penulis. Berprestasi pula.
Dari situ aku paham betul, kelahiran karya-karya Kang Abik bukan saja karena
beliau suka menulis dan seorang penulis, tetapi lebih jauh lagi... menulis
untuk tujuan dakwah.
Mungkin begitulah seharusnya aku menulis, kita menulis.
Karenanya kita harus terus belajar; aku ingin terus belajar. Hal sederhana
seperti yang dipaparkan Kang Abik itu, paling tidak, sudah menjawab dan
membantu meyakinkanku atas pertanyaan yang selama ini belum kuyakini sepenuhnya
jawabannya. Terima kasih. :’)
![]() |
| Ketutupan ikhwan, Kang Abiknya nggak keliatan deh, hehe. Maafkan. :) |

Aku tunggu tulisan selanjutnya...
BalasHapusMakasih tipsnya,,,, aku tunggu novel pertamanya....
BalasHapusSama-sama ^^
HapusTerima kasih, semoga segera bisa nulis. Aamiin.