Ini adalah Story Blog Tour 1, salah satu program kece
OneWeekOnePaper. Dan saya, Evnaya, mendapat giliran keempat untuk membawakan
cerita. Nah, untuk memahami jalan ceritanya, sila mapir ke episode sebelumnya
ya~
Dan inilah
episode 4~ *drumroll*
SEBUAH
INSIDEN
Lapangan basket
kampus kami adalah lapangan terbuka, dengan anak tangga kecil-kecil yang
menjulang di sekelilingnya—kalau itu tidak bisa dikatakan tribun. Letaknya tidak
strategis, di belakang gedung-gedung perkuliahan yang di sekelilingnya banyak
tumbuh pepohonan; membuat lapangan tak beratap ini tak terlalu terik pada saat
siang hari. Bisa dihitung berapa kali aku ke sini meski aku tahu betul frekuensi
kehadiran Ardit di sini jauh lebih banyak dari bagian kampus mana pun. Kalau
aku ngikutin dia ke mana-mana, jadinya bukan pengagum rahasia lagi kan?
“Duduk, Ran!”
Tala menarik-narik tanganku. Aku menurunkan bahu dan mengambil tempat di
sebelahnya. Beberapa meter di bawahku, tampak Ardit yang dengan enerjik
mendribel bola sana-sini. Juga gadis berwajah oriental tadi yang bersorak penuh
semangat begitu laki-laki itu melakukan gerakan-gerakan yang mampu mengecoh
lawan. Baket? Itu spealisasi Ardit. Jelas saja, dia Ketua UKM tahun lalu. Prestasinya
dan klub beberapa kali membawa harum nama kampus.
“Itu?
Pacarnya Ardit? Ya gak mungkinlah, dia kan ikhwan banget!”
“Bisa aja
kan? Banyak kok yang keliatannya ikhwan banget tapi juga pacaran. Apalagi dia
sempat vakum juga kan dari rohis sewaktu ngejabat.”
“Iya sih,
tapi kan...”
EHEM!
Eh?
Itu suara Tala, berusaha menghentikan obrolan dua gadis di belakang kami--yang sukse
membuat mereka diam pada akhirnya. Meski begitu, si Tala yang berisik ini malah melanjutkan
aksinya, “Duh, tenggorokan aku kering nih. Ehem! Ehem! Ehem!”
Aku terkikik.
Tala melotot. Well played, Tal. But it doesnt’t work, untuk
hatiku yang sudah kacau sejak kemarin. Tala seketika menangkap sorot kegelisahanku,
lantas memandang ke arah Ardit yang tengah berlari kecil sambil sesekali
mengusap keringat yang jatuh di sepanjang wajahnya.
Suasana lapangan
memang tidak begitu ramai, terutama di akhir minggu semacam ini. Hanya saja, berada
di tengah-tengah kerumunan orang yang hobi basket dan sibuk berteriak sana sini
untuk menyemangati teman-teman mereka, aku merasa asing. Jelas saja, tujuanku
ke sini kan untuk melihat gadis itu. Uhm, gadis yang kata dua gadis yang
kini memilih duduk menjauh dari aku dan Tala sebagai pacar Ardit. Seolah itu
belum cukup, Tala yang biasanya selalu berisik di mana pun mendadak tak bisa
berbuat apa-apa.
“Balik aja
yuk, Tal,” ajakku, lemas. Misiku sudah selesai, jadi untuk apa juga aku bertahan
di sini?
“Eh? Sekarang
banget?”
“Harus nanti?
Nggak ada apa-apa lagi kan. Jadi—”
“Rana! Awas!”
Tala seketika menarik tanganku. Badanku oleng ke arahnya. Lalu... Buk! Bola
basket itu sukses mengikuti arah gerak kepalaku yang hampir jatuh ke bahu Tala.
Gadis itu ikut terdorong ke belakang. Aku mendengar suara Tala menjerit sesaat
sebelum semuanya mendadak gelap.
* * *
“Ardit?!” aku
terperangah. Ya Tuhan, kenapa orang ini yang harus kulihat begitu aku terjaga? Aku
berusaha untuk menegakkan punggung. Aroma poliklinik yang khas seketika
tercium. Ah ya, kampus kami memiliki poliklinik khusus mahasiswa. Mirip UKS di
sekolah-sekolah, hanya saja bedanya pihak kampus memanfaatkan mahasiswa
Kedokteran untuk turut melakukan praktek di sini.
“Rana? Sudah
sadar? Alhamdulilaah,”
“Uhm, iya.
Tala mana ya?” Bola mataku mengitari seisi ruangan dan tidak menemukan Tala,
justru... dia di situ. Gadis berwajah oriental itu. Ah ya, tidak mungkin
juga aku hanya ditinggal berdua dalam ruangan ini.
“Oh, Tala
tadi—”
“Hei, Rana! Udah
sadar aja.” Tala muncul dari pintu, mengoceh dengan berisiknya menghampiriku. “Aku
tuh nggak tau deh tadi harus ngapain, hmm. Untung aja ada anak PMI, trus kamu
ditandu deh. Ya ampuun kamu ternyata berat juga ya, aku juga ikutan pegang tandu
tadi!”
Oh, c’mon!
Ngomong yang begituan di depan Ardit? Dan cewek yang dia bawa-bawa juga masuk
ke sini? Sadar Tala! Rasanya aku ingin menimpuk cewek ini dengan diktat-diktat
tebalku yang lagi nganggur di atas meja.
“Ran, kami
kayaknya mau pamit nih,” sela Ardit. “Eh iya, hampir lupa. Kenalin deh, ini
Karissa.” Gadis itu tersenyum, menjabat tanganku sembari menyebutkan namanya. Aku
melakukan hal yang sama.
“Mereka
kenapa bisa ikutan ada di sini sih?”
“Ya kali ga
ikutan, yang pertama kali lari ngehampirin kamu tuh justru si Ardit!”
“Gitu?” Aku
pura-pura tidak tertarik, meski hatiku sedikit bergetar juga.
“Dia juga sih
yang manggil temennya anak PMI trus balik-balik bawa tandu.”
“Gitu?”
“Ya udah deh
dia ikutan sampe sini. Begitu pun Karissa.”
“Hm, jadi
gitu.”
“Rana ih!”
Tala setengah merajuk, gemas. Aku tertawa. “Ya udah yuk, pulang. Kamu nggak pa-pa
kan? Tadi Mbak Anin yang meriksa, katanya kamu cuma pingsan biasa.”
“Iya, nggak
pa-pa kok. Efek lemas sama kaget aja kayaknya.”
Aku pun beranjak
turun dari ranjang, memakai sepatu, dan mengambil tumpukan diktatku di atas meja.
“Tal, buku
yang satunya mana lagi?” aku panik, kemudian mengorek-orek tas selempang yang
kukenakan.
“Buku yang
mana lagi? Itu udah semua kali, Tal. Tas kamu kan ada resletingnya, jadi yang
jatuh tadi cuma diktat doang.”
“Iya, tapi di
dalam diktat itu ada buku itu, Tal! Buku itu!”
“Hah?” Tala
belum juga konek. “Eh, wait! Maksud kamu, buku penelitian biru?!”
Aku
mengangguk. Lemas.
* * *
BERSAMBUNG
...
~Cerita
selanjutnya akan dibawakan kembali oleh Kak Emi.
[Update] Episode 5: Rahasia di Ujung Tanduk - Helmi Yani
[Update] Episode 5: Rahasia di Ujung Tanduk - Helmi Yani
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komen, yuuuk ;))