Pages

Minggu, 22 Mei 2016

[STORY BLOG TOUR #1] Episode 4: Sebuah Insiden

Hai, semuanya. ^^

Ini adalah Story Blog Tour 1, salah satu program kece OneWeekOnePaper. Dan saya, Evnaya, mendapat giliran keempat untuk membawakan cerita. Nah, untuk memahami jalan ceritanya, sila mapir ke episode sebelumnya ya~
Dan inilah episode 4~ *drumroll*
SEBUAH INSIDEN

Lapangan basket kampus kami adalah lapangan terbuka, dengan anak tangga kecil-kecil yang menjulang di sekelilingnya—kalau itu tidak bisa dikatakan tribun. Letaknya tidak strategis, di belakang gedung-gedung perkuliahan yang di sekelilingnya banyak tumbuh pepohonan; membuat lapangan tak beratap ini tak terlalu terik pada saat siang hari. Bisa dihitung berapa kali aku ke sini meski aku tahu betul frekuensi kehadiran Ardit di sini jauh lebih banyak dari bagian kampus mana pun. Kalau aku ngikutin dia ke mana-mana, jadinya bukan pengagum rahasia lagi kan?
“Duduk, Ran!” Tala menarik-narik tanganku. Aku menurunkan bahu dan mengambil tempat di sebelahnya. Beberapa meter di bawahku, tampak Ardit yang dengan enerjik mendribel bola sana-sini. Juga gadis berwajah oriental tadi yang bersorak penuh semangat begitu laki-laki itu melakukan gerakan-gerakan yang mampu mengecoh lawan. Baket? Itu spealisasi Ardit. Jelas saja, dia Ketua UKM tahun lalu. Prestasinya dan klub beberapa kali membawa harum nama kampus.
“Itu? Pacarnya Ardit? Ya gak mungkinlah, dia kan ikhwan banget!”
“Bisa aja kan? Banyak kok yang keliatannya ikhwan banget tapi juga pacaran. Apalagi dia sempat vakum juga kan dari rohis sewaktu ngejabat.”
“Iya sih, tapi kan...”
EHEM!
Eh? Itu suara Tala, berusaha menghentikan obrolan dua gadis di belakang kami--yang sukse membuat mereka diam pada akhirnya. Meski begitu, si  Tala yang berisik ini malah melanjutkan aksinya, “Duh, tenggorokan aku kering nih. Ehem! Ehem! Ehem!”
Aku terkikik. Tala melotot. Well played, Tal. But it doesnt’t work, untuk hatiku yang sudah kacau sejak kemarin. Tala seketika menangkap sorot kegelisahanku, lantas memandang ke arah Ardit yang tengah berlari kecil sambil sesekali mengusap keringat yang jatuh di sepanjang wajahnya.
Suasana lapangan memang tidak begitu ramai, terutama di akhir minggu semacam ini. Hanya saja, berada di tengah-tengah kerumunan orang yang hobi basket dan sibuk berteriak sana sini untuk menyemangati teman-teman mereka, aku merasa asing. Jelas saja, tujuanku ke sini kan untuk melihat gadis itu. Uhm, gadis yang kata dua gadis yang kini memilih duduk menjauh dari aku dan Tala sebagai pacar Ardit. Seolah itu belum cukup, Tala yang biasanya selalu berisik di mana pun mendadak tak bisa berbuat apa-apa.
“Balik aja yuk, Tal,” ajakku, lemas. Misiku sudah selesai, jadi untuk apa juga aku bertahan di sini?
“Eh? Sekarang banget?”
“Harus nanti? Nggak ada apa-apa lagi kan. Jadi—”
“Rana! Awas!” Tala seketika menarik tanganku. Badanku oleng ke arahnya. Lalu... Buk! Bola basket itu sukses mengikuti arah gerak kepalaku yang hampir jatuh ke bahu Tala. Gadis itu ikut terdorong ke belakang. Aku mendengar suara Tala menjerit sesaat sebelum semuanya mendadak gelap.
* * *
“Ardit?!” aku terperangah. Ya Tuhan, kenapa orang ini yang harus kulihat begitu aku terjaga? Aku berusaha untuk menegakkan punggung. Aroma poliklinik yang khas seketika tercium. Ah ya, kampus kami memiliki poliklinik khusus mahasiswa. Mirip UKS di sekolah-sekolah, hanya saja bedanya pihak kampus memanfaatkan mahasiswa Kedokteran untuk turut melakukan praktek di sini.
“Rana? Sudah sadar? Alhamdulilaah,”
“Uhm, iya. Tala mana ya?” Bola mataku mengitari seisi ruangan dan tidak menemukan Tala, justru... dia di situ. Gadis berwajah oriental itu. Ah ya, tidak mungkin juga aku hanya ditinggal berdua dalam ruangan ini.
“Oh, Tala tadi—”
“Hei, Rana! Udah sadar aja.” Tala muncul dari pintu, mengoceh dengan berisiknya menghampiriku. “Aku tuh nggak tau deh tadi harus ngapain, hmm. Untung aja ada anak PMI, trus kamu ditandu deh. Ya ampuun kamu ternyata berat juga ya, aku juga ikutan pegang tandu tadi!”
Oh, c’mon! Ngomong yang begituan di depan Ardit? Dan cewek yang dia bawa-bawa juga masuk ke sini? Sadar Tala! Rasanya aku ingin menimpuk cewek ini dengan diktat-diktat tebalku yang lagi nganggur di atas meja.
“Ran, kami kayaknya mau pamit nih,” sela Ardit. “Eh iya, hampir lupa. Kenalin deh, ini Karissa.” Gadis itu tersenyum, menjabat tanganku sembari menyebutkan namanya. Aku melakukan hal yang sama.
“Mereka kenapa bisa ikutan ada di sini sih?”
“Ya kali ga ikutan, yang pertama kali lari ngehampirin kamu tuh justru si Ardit!”
“Gitu?” Aku pura-pura tidak tertarik, meski hatiku sedikit bergetar juga.
“Dia juga sih yang manggil temennya anak PMI trus balik-balik bawa tandu.”
“Gitu?”
“Ya udah deh dia ikutan sampe sini. Begitu pun Karissa.”
“Hm, jadi gitu.”
“Rana ih!” Tala setengah merajuk, gemas. Aku tertawa. “Ya udah yuk, pulang. Kamu nggak pa-pa kan? Tadi Mbak Anin yang meriksa, katanya kamu cuma pingsan biasa.”
“Iya, nggak pa-pa kok. Efek lemas sama kaget aja kayaknya.”
Aku pun beranjak turun dari ranjang, memakai sepatu, dan mengambil tumpukan diktatku di atas meja.
“Tal, buku yang satunya mana lagi?” aku panik, kemudian mengorek-orek tas selempang yang kukenakan.
“Buku yang mana lagi? Itu udah semua kali, Tal. Tas kamu kan ada resletingnya, jadi yang jatuh tadi cuma diktat doang.”
“Iya, tapi di dalam diktat itu ada buku itu, Tal! Buku itu!”
“Hah?” Tala belum juga konek. “Eh, wait! Maksud kamu, buku penelitian biru?!”
Aku mengangguk. Lemas.
* * *
BERSAMBUNG ...
~Cerita selanjutnya akan dibawakan kembali oleh Kak Emi.
[Update] Episode 5: Rahasia di Ujung Tanduk - Helmi Yani

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen, yuuuk ;))