Pages

Rabu, 20 Juli 2016

[Book Review] An Abundance of Katherines by John Green


Judul: An Abundance of Katherines (Tentang Katherine)
Penulis: John Green
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: 2014
Tebal: 320 halaman
ISBN: 978-602-03-0527-1

“Apa gunanya hidup jika tidak mencoba melakukan sesuatu yang hebat?”

Colin Singleton, suatu ketika, mendadak merasa hidupnya kacau balau. Ia berpikir dirinya bukan anak ajaib lagi, mantan manusia penuh potensi. Semua itu terjadi sejak negara api menyerang Katherine XIX mencampakkannya.

Bagaimanapun, Colin memiliki tipe gadis kesukaannya sendiri. Bukan dari segi fisik, tapi linguistik: gadis-gadis yang bernama Katherine. Dan bukan Katie atau Kat atau Kitty atau Cathy atau Rynn atau Trina atau Kay atau Kate atau Catherine, tapi demi Tuhan—KATHERINE.

Dicampakkan ke-19 kalinya oleh gadis-gadis bernama Katherine membuatnya Colin depresi berat. Ia pun jadi berkeyakinan bahwa dunia hanya terdiri dari dua jenis manusia: Pencampak dan Tercampak, yang digambarkannya dalam bentuk kurva lonceng. Bagi Colin, cinta—terutama hubungan asmaranya bersama 19 Katherine—bisa digambarkan dalam bentuk grafik. Bersama Hassan Harbish, sahabatnya yang Muslim Sunni dan bukan teroris (well, ini kata Hassan sendiri *lol), keduanya pun melakukan perjalanan untuk membuktikan kebenaran teori Colin.
“... hubungan cinta mudah ditebak, bukan? Yah, aku menemukan cara untuk menebak. Sebut saja dua orang dan bahkan mereka belum pernah bertemu, formulanya akan menunjukkan siapa yang akan mencampakkan siapa jika mereka berkencan, dan persisnya berapa lama hubungan mereka berlangsung.”

“Mustahil.”

“Tidak mustahil, karena kau bisa melihat masa depan kalau kau punya pemahaman dasar tentang bagaimana orang akan bersikap.”
—Colin to Hassan, halaman 63
That’s it.

Sukaaa banget sama buku ini. Entah yaa, meski menurutku alur ceritanya biasa aja dan absurd di beberapa bagian, tapi secara keseluruhan semua ke-absurd-an itu justru sesuai dengan karakter Colin yang absurd. Dan nerd. Dan weird. Dan alay (OMG! :v). But at the same point, Colin ini keliatan wow. Dan cool. Dan adorable. Dan lovable, tapi pastinya dia nggak suamiable *eh. Sorry, Col, I’m not good at annagramming—no, I CAN’T, jadi istilahnya beda-beda gitu nggak pa-pa ya? Wkwk.

Karakter Colin ini bener-bener kuat dan hidup. John Green oke banget ngebangun identitas Colin yang anak ajaib atau genius ini lewat ocehan-ocehannya yang dikit-dikit nyinggung fakta-fakta tertentu yang dihafalnya di luar kepala, matematika, sejarah, penguasaan Bahasa Asing (fyi, Colin pengen belajar Bahasa Sansekerta yang katanya tingkat kesulitannya berskala Pegunungan Everest *lol) atau apa pun yang bisa menunjukkan kalau dia beneran anak ajaib.

Dan hidup Colin ini jadi normal karena kehadiran Hassan. Karakter Hassan di sini juga menarik. Tipe periang, santai, gokil, dan jadi penyeimbang buat hidup Colin. Ketimbang ketika dikisahkan kronologis hubungan Colin bersama Katherine I sampai XIX, aku sendiri lebih suka di bagian mana pun yang ada Hassan dan Colin-nya. Lucu dan bikin gemes. Mereka, tanpa sadar, keliatan sering banget memperdebatkan hal-hal konyol, ngelakuin hal-hal konyol, atau ngomongin istilah-istilah ilmiah yang menurut Hassan nggak ada menarik-menariknya sama sekali (sfingter pupil, fetor hepaticus, dan lain-lain).

Salah satu adegan Colin-Hassan favoritku adalah sewaktu mereka diajak berburu babi liar (Hassan, meski tidak religius, tetap mengatakan babi haram ^^) oleh Lindsey, Colin Satu Lagi, dua teman Colin Satu Lagi, dan Mr Lyford. Keduanya terjebak pada situasi babi liar itu mengamuk dan akan menyerang mereka. Dan itu asli konyol juga idenya Colin, haha (halaman 236).

Meski poin utama dari novel ini adalah tentang pencarian Colin akan teori Matematika yang berkaitan dengan kisah cintanya, tapi semua itu berangkat dari isu-isu penting yang berkaitan dengan hidup Colin. Tentang keinginan Colin untuk menjadi berarti. Tentang betapa orang yang kadang seharusnya menjadi tempat kita belajar dianggap culun atau nggak keren hanya karena dia kutu buku. Juga tentang masalah ‘kesehatan sosilogis’ bagi mereka anak genius yang cenderung jarang memiliki banyak teman. Dan segala hal tersebut diperankan dengan baik oleh Hassan demi membuat hidup Colin terlihat normal (termasuk memaksa Colin untuk pindah keyakinan, lanjutkan! XD~).

Kalau ditanya satu hal yang mengganjal, maka itu adalah ketidakkonsistenan Hassan di beberapa bab menjelang akhir (cari tau sendiri di bukunya ya :v). Ini mengecewakan sih, asli. Padahal kalau Hassan ini dibikin istiqamah aja, bakal lebih bagus. Daaan, novel ini beda banget dengan novel-novel lainnya. Banyak sisi keunikan mulai dari tokoh, perilaku tokoh, sampai embel-embel yang mendukung cerita ini jadi sempurna. Meskipun sederhana, tapi bacanya butuh mikir juga. Haha. Ini jauh dari sekadar baca makalah atau jurnal matematika, kalo kamu tipe orang yang tertarik dengan sesuatu yang baru. It’s entertaining, seriusan, meski banyak footnote. Kurva-kurva. Rumus bertebaran, dan... seolah-olah itu belum cukup, ada kejutan yang wow banget di bagian akhirnya, yang membuktikan nggak main-main John Green mengerjakan novel ini. Penasaran? Just read the book.

Sekian review-nya. Jadi tertarik baca karya John Green yang lain. Dan btw, menurutku ini lebih kece dari The Fault in Our Stars *imho. ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen, yuuuk ;))