![]() |
| Sumber: Grup WA OWOP :D |
Aku menggeliat. Tatapanku awas pada rombongan pejalan kaki
yang berlalu-lalang di hadapanku. Seperti pagi di mana pun, pagi di ibukota ini
terlihat sangat sibuk. Orang-orang terlihat begitu terburu-buru.
Langkah-langkah cepatnya berirama dalam hentak sepatu-sepatu keluaran terbaru
dari brand ternama atau sandal-sandal lapuk yang hampir habis dimakan
usia.
Mereka adalah para pelajar, orang-orang kantor, kuli pasar,
sampai pengangguran yang bersiap melakukan aksi minta-minta di lampu merah.
Sementara kebanyakan sibuk berlari mengejar rezeki pertama yang hinggap di
sudut-sudut keramaian, beberapa yang berpakaian rapi dan necis justru
memanfaatkan waktu perjalanan sambil mengunyah berlapis-lapis roti tawar yang
dibubuhi susu atau selai.
Wush! Sebungkus plastik melayang, berputar-berputar, dan jatuh tepat di
sampingku. Prang! Kaleng bekas minuman menggelinding ke sisi trotoar. Prang,
kaleng kedua. Prang, kaleng ketiga. Juga bungkus makanan kedua, kelima,
keduapuluh satu, sampai keseratus tigabelas. Bahkan ketika matahari belum genap
di atas kepala, sampah-sampah sudah berserakan di sekelilingku.
Sejak hari pertama hingga detik ini aku ditempatkan, aku
hanya punya satu hal untuk ditanyakan, yang sayangnya tak pernah terjawab oleh
siapa pun: apakah mereka tidak melihatku?
***
Buanglah sampah pada tempatnya!
Peringatan itu ditulis besar-besar, di atas sebuah plang yang
baru saja dipasang di sampingku. Aku mengamati betapa petugas-petugas itu harus
bekerja susah payah untuk membuat orang-orang patuh pada peringatan yang
berkaitan dengan kesadaran membuang sampah.
Aku begitu sibuk memerhatikan petugas-petugas itu hingga tak
menyadari kehadirannya. Ia tersenyum kepadaku sembari menyapa, “Hai, aku
temanmu di sini.”
Ia bahkan sudah mendeklarasikan itu di hari pertama, bahwa ia
adalah temanku.
Jika aku adalah si Oranye, maka ia adalah si Biru. Fakta
bahwa aku tak lagi sendirian di pinggir ruas jalan paling padat di ibukota ini
membuatku senang. Lagi pula Biru sangat cantik. Bola matanya besar dan hitam
sekali, berbanding terbalik dengan pakaian yang dikenakannya, yang
mengingatkanku setidaknya pada dua hal: langit dan lautan yang dalam.
Sore itu, saat orang-orang kembali ramai memadati jalan dan
trotoar, dan sampah-sampah yang terus berserakan, akhirnya aku memiliki teman
untuk berbagi. Tentang orang-orang dan sampah-sampah yang mereka buang
sembarangan, polusi yang semakin hari semakin membuat sesak, atau
pengemis-pengemis tua yang berjalan terseok-seok. Kami menyaksikan itu semua,
dan betapa itu menjadi sebuah ironi berkepanjangan.
***
Aku terbangun tiba-tiba dini hari itu. Setengah mengantuk aku
mengucek mata, dan menajamkan telinga untuk memastikan bahwa suara tangis yang
kudengar bukan berasal dari alam bawah sadarku.
Aku menoleh ke sampingku dan betapa kagetnya begitu
mengetahui bahwa itu suara tangis Biru.
“Hei, kenapa menangis?” Parau, aku bertanya.
Alih-alih menjawab, Biru justru makin terisak.
“Ada apa? Kau mimpi buruk?”
Biru menggeleng. Aku bingung, ada apa dengan gadis ini?
Perlahan kugeser diriku mendekat ke arahnya. Tak berani melakukan apa pun, aku
hanya menatap sedih ke arahnya dan menunggu.
Aku membiarkannya menangis, mengeluarkan semua yang
dirasakannya, dan sibuk berspekulasi tentang hal-hal yang bisa membuat
perempuan menangis. Jika keadaannya seperti ini, di dini hari yang seharusnya
kami tertidur lelap, mimpi buruk adalah sebab paling masuk akal. Tapi jelas
bukan karena itu.
Ia terus menangis dan menangis. Melihatku sabar menunggu, ia
berusaha mengucapkan sesuatu, yang pada akhirnya gagal. Sampai akhirnya ia
mengisyaratkan sesuatu dan aku melihat ke dalam dirinya—yang kemudian membuatku
tergugu bahwa ia bahkan harus menanggung semua kebejatan dari ‘perbuatan
sampah’ itu di hari pertamanya;
ketika seonggok manusia kecil menepi, pulas, dan amat
merah.
#MalamNarasiOWOP

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komen, yuuuk ;))