Sedari dulu yang kuingat
tentang membaca adalah selalu perasaan menyenangkan. Belajar juga demikian,
terutama jika itu berkaitan dengan sesuatu yang aku memiliki ketertarikan tersendiri
untuk mengetahuinya (bukan berarti aku hobi belajar lho ya, hehe). Tetapi
belakangan ini, aku seringkali ketakutan setiap kali menutup buku, pulang dari
majelis ilmu, atau usai menonton atau mendengar rekaman kajian.
Itu hal-hal menyenangkan yang seharusnya tak membuat banyak orang ketakutan, bukan? Namun yang terjadi padaku justru sebaliknya.
Ketakutan itu muncul tiba-tiba,
bahkan saat buku itu tengah terbuka di hadapanku. Saat itu aku begitu menikmati
bacaanku, begitu takjub bahwa dari apa yang kubaca diri ini tidaklah ada
apa-apanya. Semakin membaca semakin merasa bahwa banyak sekali hal penting di
dunia ini yang belum kuketahui; masih banyak yang harus dipelajari. Mahasuci
Allah yang ilmu-Nya melampaui langit dan bumi, yang jika lautan sebagai
tintanya tidak akan pernah cukup untuk menuliskan kalimat-kalimat-Nya, bahkan
jika ditambahkan dengan yang semisalnya pun (QS. Al-Kahfi: 109).
Kemudian, dalam jeda ketakjuban
itu, tersuarakan begitu saja dari dalam hati, “Yaa Allaah, apakah ini akan
berhenti sampai padaku saja? Sesungguhnya aku takut ilmuku bertambah, tapi
hanya untuk diriku sendiri. Sesungguhnya aku takut kebaikanku bertambah, tapi
itu tidak menyelamatkan apa pun dan siapa pun.” :((
Jadi sejak itu aku merasa
bertanggung jawab terhadap semua yang kubaca, semua yang kupelajari, semua yang
kutonton. Bahwa apa pun, jika itu bernilai kebaikan, maka sudah seharusnya aku
membaginya juga untuk orang lain. Katakan benar jika benar, katakan salah jika
salah. Mengajak, menasihati dalam kebaikan. Dan terhadap semua kebatilan yang
terjadi, kita harus mengingkarinya.
Masalahnya adalah sepertinya syaithan
tak tinggal diam. Ia selalu berusaha menerbitkan keraguan sehingga muncul
pemikiran-pemikiran seperti:
Apakah kamu sanggup
melakukannya?
“Bagaimana jika suatu ketika
kamu melakukan kesalahan, lalu orang-orang justru mencelamu? Seperti, “Ah, dia
mah jago ngomong doang. Buktinya tuh sekarang, ...” Dan sebagainya sampai
dikeluarkan dalil, kaburo maqtan ‘indallaahi an taquuluu maa laa taf’aluun,
sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu
kerjakan (QS. Ash-Shaff: 3). Nah lho~
Apakah harus kamu yang
melakukannya?
“Udahlaaah, kan masih ada orang
lain. Ada Ustadz itu tuh yang ahli banget kalo ngomongin tentang pergaulan
remaja Islam dalam syariat. Ada Ustadz anu juga kan, waah beliau mah ilmu
tafsir, fiqih, muamalah, semuanya jago. Trus ada Ustadzah itu juga, yang maa
syaa Allah keilmuannya luar biasa. Ntar kalo kamu yang ngomong, salah-salah
lagi. Kamu mah apa, butiran debu, keliatan juga nggak. Alih-alih ntar dibilang
sok alim, riya’, dan sebagainya. Ya kan?”
Apakah harus sekarang?
“Sekarang banget nih? Yakin
udah ada ilmunya? Coba deh direnungkan dulu, kali lain kali bisa lebih cetar
penyampaiannya. Kan bisa lebih ngena juga ke orang-orang yang kita pengen
mereka dengar apa yang kita sampaikan.”
Well, ada yang
pernah mengalami hal yang demikian? Hm, bagiku itu sesuatu yang dilematis, di
satu sisi ingin bertanggung jawab dengan sedikit ilmu yang kudapat, di sisi
lain aku merasa belum cukup mampu dan tidak pantas menyampaikannya karena ada
yang lebih ahli. Juga masalah waktu. Ketika mengalami keraguan itu, aku
berusaha berpikir lebih keras; ini aku yang memang belum mampu karena baru
hanya sekadar bisa memahami untuk diri sendiri dan timing-nya yang belum
pas atau syaithan yang seolah-olah membuatnya terasa demikian?
Memang terasa rumit, ketika
kita tidak berpikir dengan jernih dan menyertakan Allah dalam segala prosesnya.
Jadi mohonlah petunjuk dari Allah, mana yang sebenarnya yang tepat untuk kamu
lakukan.
Lepas dari apa pun, ketika
kamu merasa belum cukup mampu untuk menyampaikan suatu kebaikan atau ilmu yang
kamu punya, maka tugas kamu adalah terus belajar. Jangan hanya karena
merasa kamu bertanggung jawab terhadap semua hal yang ada pada dirimu, kamu
lantas berhenti, takut jika tanggung jawab itu menjadi semakin besar.
Dan kalau belum-belum saja
kamu sudah berpikiran macam-macam, takut di-bully, dikatain sok alim,
maka sadarilah bahwa saat itu juga kamu tengah memprasangkakan sesuatu yang
buruk dan belum tentu terjadi terhadap dirimu sendiri. Jangan berpikiran
kalau kamu takut dicela jika suatu saat melakukan kesalahan, ingat kita
bukanlah malaikat. Manusia tempatnya salah dan lupa. Tapi bukan berarti juga
itu jadi alibi terus tanpa ada usaha memperbaiki diri, ya kan nggak gitu juga
keleuss. Karena tugas kita setelah mencari ilmu, mengkaji Islam, adalah mewujudkankannya
dalam setiap perilaku kita.
Ingatkah kita tentang perkataan
Bunda Aisyah ra mengenai akhlak Rasulullah saw.? Akhlak Rasulullah seperti
Al-Qur’an. Itu karena Al-Qur'an tak hanya ada dalam dada beliau saw, tapi juga
termanifestasikan dalam segala bentuk perilaku beliau dalam kehidupan
sehari-hari.
Lalu, ketika kamu merasa
masih ada orang lain yang bisa menyampaikannya tanpa harus ikut serta,
ketahuilah bahwa cuma jadi penonton aja sama sekali nggak keren. Sudah
saatnya kamu ikut dalam perjuangan, sudah saatnya kamu ambil bagian. Ingat,
syurga itu tidak bisa diraih dengan cara biasa-biasa saja. Ah yang penting udah
shalat, udah menutup aurat, udah berbuat baik. Duh, padahal siapa yang bisa
menjamin apa yang kita anggap ‘cukup’ dan ‘telah baik’ di mata kita itu telah
cukup dan baik juga di mata Allah swt.? :(
Padahal Allah swt. berfirman:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ
تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ
بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ
الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
Artinya: Kalian (umat Islam)
adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh
kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.
Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara
mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS.
‘Ali Imran: 110)
Bahwa manusia disebut sebagai
umat terbaik ketika ia: menyeru kepada kebaikan, mencegah kepada yang
mungkar, dan syarat yang paling penting tentu harus beriman. Tanpa keimanan
kepada Allah, maka akan gugurlah semua kebaikan itu. Dan tentu keimanan ini
juga mengandung konsekuensi mematuhi perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya. :))
Dan yang namanya mengajak kebaikan,
itu sungguh tidak mudah. Apalagi dalam mencegah kemungkaran, sampai-sampai
dalam sebuah haditsnya Rasulullah saw. bersabda: “Barang siapa di antara
kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya.
Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu
lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.” (HR.
Muslim)
Nah kan, kalau tidak mampu
dengan tangan atau kekuasaan, maka dengan lisan, kalau tidak mampu dengan
lisan, maka dengan hati. Dan cukuplah pilihan terakhir menunjukkan betapa
lemahnya iman kita. Bukan kita tidak mampu, tapi tidak ada usaha. Jangan
merasa nggak pede, takut dibilang riya’, atau merendahkan dirimu sendiri padahal
kamu mampu melakukannya. Riya’ itu ketika kamu melakukan sesuatu karena orang
lain dan tidak melakukan sesuatu karena orang lain, bukan karena Allah swt.
Jadi kalaupun tiba-tiba muncul ada rasa bangga, ingin dipuji, buru-buru
istighfar dan luruskan niat, oke? Kadang-kadang memang harus dipaksa dulu
supaya terbiasa, ya kan?
Setelah itu, jangan
menunda-nunda untuk menyampaikan kebaikan ataupun mencegah kemungkaran,
syaithan itu nggak mau aja kalau kamu berbuat baik. Jadi kalau sekarang
syaithan membuatmu ragu dengan waktunya, besok-besok ia akan membuatmu lupa
dengan semua itu. Kan nggak lucu juga sekalinya udah ingat, tapi di dalam
kubur, naudzubillaahi min dzaalik. :(( Sekali lagi, dalam hal ini, mintalah
petunjuk dari Allah. Juga ikhtiarnya jangan lupa (dengan menambah ilmu tadi),
serta tunjukkan akhlak baik kita sebagaimana yang Rasulullah saw. ajarkan.
Kalau memang sudah saatnya, maka Allah yang akan memampukan. Bukankah Allah
mahakuasa terhadap segala sesuatu?
Dan ketahuilah, jalan dakwah
adalah jalannya para Nabi dan Rasul. Mereka berdakwah dengan cinta, dengan
penuh kelembutan, namun juga tegas pada kemungkaran. Sekecil apa pun, jika
disertai dengan keikhlasan, maka akan bernilai di sisi Allah swt. Terakhir,
izinkan aku mengutipkan potongan sajak dari Rumi dalam buku Serial Cinta
karya Anis Matta yang sedang kubaca, yang entah kenapa kemudian menjadi
inspirasi awal tulisan ini:
Well, keep
hamasah, Anak-anak Cinta! Jangan takut lagi ya. :))

Demi pena.... Mari kita semangat menulis ✊✊✊
BalasHapus